Benarkah Orang-orang Murtad Tidak Boleh Dihukum Mati?

            Sebagian orang menolak hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, dengan alasan Nabi Mohammad saw tidak pernah mengeksekusi sendiri orang-orang yang murtad dari Islam, atau mengaku dirinya Nabi dan Rasul.   Mereka juga mengetengahkan kenyataan bahwa, Nabi Mohammad saw tidak menghukum mati suami Ummu Habibah yang murtad dari Islam, dan beliau juga tidak mengeksekusi Muzailamah al-Kadzab yang mengaku dirinya Nabi dan Rasul.  Berdasarkan realitas ini, mereka berpendapat bahwa orang-orang murtad tidak boleh dihukum mati, karena Nabi saw tidak mengeksekusi orang-orang yang telah murtad dari agama Islam.  Benarkah pendapat seperti ini?  Jawabnya adalah sebagai berikut; Baca lebih lanjut

SYARIAT DAN KEMASHLAHATAN

          Di tengah semakin menguatnya mainstream ”penegakkan syariah dan Khilafah”, muncul ”propaganda-propaganda aneh” yang tidak pernah dikenal oleh kaum Muslim sebelumnya.  Propaganda-proganda busuk itu sengaja disebarkan ke tengah-tengah kaum Muslim untuk memalingkan umat Islam dari penerapan syariat Islam yang benar, sekaligus untuk menjustifikasi realitas rusak yang telah menyimpang dari syariat Islam.  Salah satu propaganda busuk itu adalah ”di dalam al-Quran dan sunnah, syariat tidak ekplisit dimaknai dengan hukum; syariat itu adalah merealisasikan kemashlahatan, dimana ada mashlahat di situ ada syariat”. Baca lebih lanjut

KAPAN PENGUASA TIDAK BOLEH DITAATI?

Taat Kepada Penguasa

          Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim.  Allah swt berfirman:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

          “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian.  Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.  Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”[al-Nisaa’:59]

Ketika menafsirkan surat al-Nisa’:59, Imam Nasafiy menyatakan:

 

ولما أمر الولاة بأداء الأمانات والحكم بالعدل أمر الناس بأن يطيعوهم بقوله { ياأيها الذين ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ الله وَأَطِيعُواْ الرسول وَأُوْلِي الأمر مِنْكُمْ } أي الولاة أو العلماء لأن أمرهم ينفذ على الأمر { فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَيْءٍ } فإن اختلفتم أنتم وأولو الأمر في شيء من أمور الدين { فَرُدُّوهُ إِلَى الله والرسول } أي ارجعوا فيه إلى الكتاب والسنة { إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بالله واليوم الآخر } أي إن الإيمان يوجب الطاعة دون العصيان ، ودلت الآية على أن طاعة الأمراء واجبة إذا وافقوا الحق فإذا خالفوه فلا طاعة لهم لقوله عليه السلام ” لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق ” . وحكي أن مسلمة بن عبد الملك بن مروان قال لأبي حازم : ألستم أمرتم بطاعتنا بقوله : و«أولي الأمر منكم»؟ فقال أبو حازم : أليس قد نزعت الطاعة عنكم إذا خالفتم الحق . بقوله «فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله» أي القرآن و«الرسول» في حياته وإلى أحاديثه بعد وفاته { ذلك } إشارة إلى الرد أي الرد إلى الكتاب والسنة

Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran.  Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka.  Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”[HR. Ahmad].  Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..”  Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah, “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada  Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..” Baca lebih lanjut

POSISI HIZB ISLAM (KELOMPOK ISLAM) DALAM KONTEKS HADITS HUDZAIFAH AL-YAMANIY RA

Apakah Kelompok, Partai, atau Harakah Islam Yang Ada di Negeri-negeri Islam Sekarang Termasuk Firqah yang Harus Dijauhi?
Ada sebagian kaum Muslim memahami bahwa keberadaan partai, jama’ah, kelompok, atau organisasi-organisasi Islam yang berdiri di tengah-tengah kaum Muslim termasuk firqah yang harus dijauhi oleh seluruh kaum Muslim.  Mereka beralasan; (1) ada perintah dari Nabi Mohammad saw kepada kaum Muslim untuk mengikatkan diri dengan jama’ah al-Muslimin dan meninggalkan firqah-firqah; (2) kelompok-kelompok ini telah menyebabkan kaum Muslim terpecah belah dalam partai-partai dan kelompok-kelompok; (3) masing-masing kelompok fanatik dengan kelompoknya sendiri.  Berdasarkan alasan-alasan ini, lalu mereka mengharamkan semua kutlah (kelompok, gerakan, partai, organisasi, jama’ah), walaupun kelompok (hizb) itu memperjuangkan Islam. Baca lebih lanjut

SYARIAT ISLAM MENGAKOMODASI KERAGAMAN DAN KEBHINEKAAN

 

 

Upaya penerapan syariat Islam dalam koridor Negara seringkali dikonfrontasikan dengan keragaman agama, budaya, dan keyakinan (pluralitas). Meskipun ini bertentangan dengan realitas masyarakat Islam dan nash-nash syariat, akan tetapi isyu uniformisasi jika syariat Islam diterapkan justru telah menduduki mainstream utama. Akibatnya, formalisasi syariat Islam dianggap sebagai ancaman bagi keragaman, keberagamaan, dan kebhinekaan. Padahal, isyu uniformisasi ini disebarluaskan dan dipropagandakan secara tidak bertanggungjawab, disandarkan pada epistemology yang rapuh, a historis, dan ditengarai sarat dengan agenda politik culas; yakni mencegah formalisasi syariat Islam. Baca lebih lanjut

APAKAH NON MUSIM MEMILIKI KANS MASUK SURGA? (Makna Surat al-Maidah : 69 dan Surat al-Baqarah: 62)

 

 

 

Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum pluralis untuk membenarkan paham pluralisme. Mereka menyatakan, bahwa dua ayat ini menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt. Baca lebih lanjut

Benarkah Orang-orang Murtad Tidak Boleh Dihukum Mati?

Sebagian orang menolak hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, dengan alasan Nabi Mohammad saw tidak pernah mengeksekusi sendiri orang-orang yang murtad dari Islam, atau mengaku dirinya Nabi dan Rasul. Mereka juga mengetengahkan kenyataan bahwa, Nabi Mohammad saw tidak menghukum mati suami Ummu Habibah yang murtad dari Islam, dan beliau juga tidak mengeksekusi Muzailamah al-Kadzab yang mengaku dirinya Nabi dan Rasul. Berdasarkan realitas ini, mereka berpendapat bahwa orang-orang murtad tidak boleh dihukum mati, karena Nabi saw tidak mengeksekusi orang-orang yang telah murtad dari agama Islam. Benarkah pendapat seperti ini? Jawabnya adalah sebagai berikut Baca lebih lanjut