URGENSI MEMAHAMI FIKIH ISLAM

Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari mengatakan, “Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan, berdasarkan firman Allah swt, “fa’lam annahu la Ilaha Illa al-Allah” (ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) kecuali Allah).  Selain itu, para ‘ulama adalah pewaris para Nabi, dan mereka (para ‘ulama) mewariskan ilmu kepada orang yang mau mencerap ilmu sebanyak-banyaknya. Siapa saja yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan bagi dirinya jalan menuju surga. Allah swt berfirman, “Innamaa yakhsha al-Allah min ‘ibaadihi al-‘ulama`.” (sesungguhnya, diantara hamba-hambaNya yang takut kepada Allah adalah para ‘ulama). Allah juga berfirman, “Wa maa ya`qiluha illa al-‘alimuun”, (tidak akan memahaminya kecuali orang-orang yang ‘alim). Dan mereka (para penghuni neraka) berkata, “Seandainya kami mendengar dan memahami, tentunya kami tidak termasuk ke dalam penghuni neraka”. Allah swt juga berfirman, “Apakah sama, orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” Nabi saw bersabda, “Siapa saja yang Allah menghendaki kebaikan pada dirinya, maka ia akan difaqihkan dalam masalah agama, sedangkan ilmu hanya bisa diraih dengan belajar.” [Imam Bukhari, dalam Shahih Bukhari]
Secara literal, fikih bermakna al-fahm dan al-ilm. Sedangkan menurut istilah, fikih didefinisikan dengan ilmu tentang hukum-hukum syariat yang digali (diistinbathkan) dari dalil-dalil yang bersifat rinci. [Lihat Imam al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila Tahqiiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushuul, hal.3; lihat juga pada Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 509]
Imam al-Amidiy berpendapat, bahwa fikih adalah ilmu yang dihasilkan dari sejumlah hukum syariat yang bersifat cabang (ahkaam al-furuu’) dengan cara penelitian dan istidlal. [Imam al-Amidiy, Al-Ihkam fi Ushuul al-Ahkam, juz 1, hal. 9]
Menurut Imam al-Ghazali, dalam pandangan para ulama, fikih didefinisikan dengan,”Ilmu tentang hukum-hukum syariat yang ditetapkan bagi perbuatan seorang mukallaf. [Imam al-Ghazali, al-Mustashfa fi al-Ushul, hal. 5]

Pentingnya Memahami Fikih
Hukum mempelajari hukum syariat (fikih) yang berhubungan dengan perbuatan seorang hamba adalah fardlu ‘ain, bukan fardlu kifayah.   Adapun belajar ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kehidupan kemasyarakatan, misalnya kedokteran, fisika, kimia, ekonomi, geofisika, dan sebagainya adalah fardlu kifayah.  Artinya, jika sudah ada sebagian kaum muslim yang mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu tersebut, maka gugurlah kewajiban tersebut bagi kaum muslim seluruhnya.[Lihat Imam Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum al-Diin, bab ‘Ilm]
Adapun pentingnya memahami fikih Islam bagi seorang Muslim, didasarkan pada alasan-alasan berikut ini:
1.    Belajar fikih merupakan refleksi keimanan kepada Allah swt.
2.    Belajar fikih adalah sarana untuk mewujudkan amal sholeh
3.    Belajar fikih merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan syafa’at dan perjumpaan dengan Allah swt.

Belajar Fikih Merupakan Wujud Keimanan Kepada Allah swt.
Keimanan kepada Allah swt harus dibuktikan dengan cara mentauhidkan Allah swt, tidak hanya dalam aspek rububiyyah, asma dan shifat belaka, akan tetapi juga dalam aspek uluhiyyah (penyembahan).   Adapun yang dimaksud dengan tauhid uluhiyyah adalah pengeesaan Allah dalam hal sesembahan.   Artinya, seorang Muslim diwajibkan untuk menyakini bahwa syariat Allah adalah satu-satunya syariat yang mengatur kehidupannya.  Seseorang baru disebut memiliki tauhid uluhiyyah yang kuat, tatkala amal perbuatannya selalu sejalan dengan syariat Allah swt, dan di dalam hatinya telah terpatri sebuah keyakinan bahwa hukum Allah adalah hukum terbaik bagi dirinya dan seluruh umat manusia.
Jalan satu-satunya agar amal perbuatan kita sejalan dengan syariat Allah adalah dengan belajar fikih.   Tanpa belajar fikih, tentu saja kita tidak mengetahui, apakah perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya, ataukah belum.   Tanpa belajar fikih, tidak akan ada keterikatan dengan aturan Allah.  Sebab, bagaimana ia bisa dikatakan berbuat sesuai dengan aturan Allah, sedangkan dirinya tidak memahami aturan-aturan  Allah?   Jikalau seseorang tidak terikat dengan aturan Allah, baik sengaja atau tidak, maka tauhid uluhiyyahnya telah ternoda.   Untuk itu, belajar fikih (syariat Islam) menjadi sangat penting demi kelestarian dan keselamatan tauhid kita, terutama tauhid uluhiyyah.
Dalam masalah ini, Allah swt telah menerangkan dengan sangat gamblang di dalam banyak ayat; diantaranya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا(60)وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”[al-Nisaa’:60-61]
Imam Ibnu al-‘Arabiy menjelaskan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perselisihan antara orang Yahudi dengan orang Munafiq. Orang Yahudi dan Munafiq menyampaikan masalah mereka kepada Rasulullah saw.  Perkara itu diputuskan oleh Rasulullah saw.  Akan tetapi, orang munafiq tidak rela. Selanjutnya, mereka mengajukan perkara mereka kepada Abu Bakar, namun orang munafiq itu juga tidak rela.  Lalu, mereka mengajukan perkara mereka kepada ‘Umar.  Umar masuk ke dalam rumah dan mengambil pedangnya.  Orang munafiq itu dipenggal kepalanya hingga mati.  Keluarga orang munafiq itu melaporkan perkara itu kepada Rasulullah saw.  ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, ia telah menolak keputusanmu.  Rasulullah menjawab, “Engkau adalah al-Faruuq”  Lalu, turunlah firman Allah swt, surat al-Nisaa’:65 [Ibnu al-’Arabiy, Ahkaam al-Quraan, Juz I, ed.I, Daar al-Fikr, 1988, hal.577.  Lihat juga pada Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, juz II, hal.97; Ibnu Hajar, al-Kaaf al-Syaaf, hal.45]
Thaghut di sini bermakna, semua aturan atau hukum selain hukum Allah swt. [Imam “Abdurrahman  Nashir al-Sa’diy, Taisiir al-Kariim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Manaan,  hal.90.] Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-‘Arabiy menyatakan, thaghut adalah semua hal selain Allah yang disembah manusia.  Misalnya, berhala, pendeta, ahli sihir, atau semua hal yang menyebabkan syirik.” [Ibnu al-’Arabiy, Ahkaam al-Quraan, Juz I, ed.I, Daar al-Fikr, 1988, hal. 578]
Di tempat lain, al-Quran juga menyatakan hal ini dengan sangat jelas dan tegas.  Alah swt berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[al-Nisaa’:65]
Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam al-Sa’diy, menyatakan,”Allah swt telah bersumpah atas nama dirinya, sesungguhnya mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim yang akan memutuskan perkara-perkara yang mereka perselisihkan…..Akan tetapi, mereka tidak cukup hanya bertahkim kepada Rasul saja, akan tetapi, mereka harus menghilangkan keraguan, perasaan sempit, dan kesamaran di dalam hati mereka tatkala bertahkim kepada Rasulullah saw…Barangsiapa menolak untuk berhukum kepada Rasulullah saw dan tidak mau terikat dengan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw, maka ia telah kafir. [Imam “Abdurrahman  Nashir al-Sa’diy, Taisiir al-Kariim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Manaan,  hal.93-94]

Belajar Fikih Adalah Sarana Untuk Mewujudkan Amal Sholeh
Perbuatan seorang Muslim tidak akan diterima oleh Allah swt, dan tidak akan pernah mendapatkan keridloanNya, jika perbuatannya tidak berujud amal sholeh (‘amal sholeh atau ihsan al-‘amal).
Imam Fudlail bin ‘Iyadl tatkala ditanya tentang ihsaan al-‘amal, beliau menyatakan, “Sebuah amal baru bisa dikatakan sebagai amal yang ihsan, tatkala amal tersebut memenuhi dua prasyarat.  Pertama, ikhlash. Kedua, benar.
Pertama, ikhlash.  Ikhlash adalah, berbuat semata-mata mencari ridla Allah swt.  Banyak ayat yang memerintahkan seorang Muslim untuk berbuat hanya untuk mendapatkan ridlo Allah swt, alias ikhlash.  Diantaranya adalah firman Allah swt, sebagai berikut:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. [al-Bayyinah:5]
Rasulullah saw bersabda, artinya, “Sesunggguhnya amal itu tergantung dengan niatnya.”[muttafaq ‘alaih].
Kedua,  benar.  Prasyarat berikutnya adalah benar.  Imam Fudlail bin ‘Iyyadl menyatakan bahwa benar di sini adalah berbuat sesuai dengan al-Quran dan Sunnah.   Allah swt berfirman:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.[al-Hasyr:7]
Perbuatan seorang muslim tidak akan diterima oleh Allah swt, bila tidak memenuhi dua prasyarat di atas.   Kedua-duanya harus ada tatkala seseorang mengerjakan sebuah amal.   Meskipun seorang muslim ikhlash dalam beramal, akan tetapi amalnya tersebut tidak sesuai dengan hukum-hukum Islam, maka amal tersebut tertolak.  Sebaliknya, meskipun amal perbuatannya sesuai dengan al-Quran dan Sunnah, namun tidak dilandasi dengan keikhlasan kepada Allah, maka perbuatannya juga tertolak.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخَدِيعَةُ فِي النَّارِ وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Nabi saw bersabda, “Orang yang melakukan penipuan akan dimasukkan ke dalam api neraka, dan barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak diperintahkan kami, maka perbuatan itu tertolak.”[HR. Bukhari]
Di dalam riwayat lain, juga dituturkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَعَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَبِي عَوْنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ
“Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,” Siapa saja yang membuat-buat perkara baru dalam urusan kami, padahal urusan itu tidak diperintahkan, maka perkara itu tertolak.” [HR. Bukhari; hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ja’far al-Makhramiy, ‘Abdul Wahid bin Abi Aun, dari Sa’id bin Ibrahim]; dan masih banyak hadits-hadits lain yang menerangkan masalah ini.
Agar perbuatan memenuhi syarat yang kedua, yakni benar, maka sudah seharusnya bagi kita untuk belajar ketentuan-ketentuan Allah swt (syariat Allah).   Tanpa belajar fikih mustahil bagi kita untuk bisa berbuat benar (sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya).    Dari sini bisa disimpulkan, bahwa belajar fikih (syariat Islam) yang berhubungan erat dengan amal perbuatan kita, adalah aktivitas yang sangat urgen.   Tanpa belajar fikih kita tidak bisa menilai apakah perbuatan yang kita lakukan telah sesuai dengan syariat atau belum.  Padahal, benar dalam beramal –sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Sunnah— merupakan salah satu syarat agar amal kita diterima oleh Allah swt.
Zaid bin Zubeir berkata, “Tidaklah diterima suatu perkataan melainkan diiringi dengan perbuatan, dan tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali dengan niat; dan tidak akan diterima perkataan, amal, dan niat kecuali sesuai dengan sunnah Nabi saw.”[Fauziy Sanqarith, Taqarrub ila al-Allah, bab Ihsaan al-‘Amal]
Imam Malik pernah berkata, “Sunnah adalah perahu Nabi Nuh.  Barangsiapa yang menumpanginya, maka ia akan selamat, dan barangsiapa yang tidak menumpanginya akan tenggelam.”[ibid, bab Ihsaan al-‘Amal]

Belajar Fikih;  Salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Syafa’at dan Perjumpaan dengan Allah swt.
Seringkali, karena awamnya terhadap Islam, seseorang menyepelekan belajar fikih atau syariat Islam.   Alasannya, fikih hanya mengatur masalah dzahir, tidak mengatur masalah bathin.   Bahkan tidak jarang pula, ada yang meninggalkan syariat untuk menggapai kecintaan dan makrifat kepada Allah.  Padahal, perjumpaan, syafa’at dan doa dari Rasulullah saw kelak di hari akhir akan diberikan kepada siapa saja yang beriman dan beramal sholeh.  Belajar fikih adalah sarana agar amal perbuatan kita benar-benar dimasukkan ke dalam perbuatan yang sholeh (amal sholeh).  Tanpa belajar fikih, kita tidak akan memahami halal dan haram.  Kita juga tidak akan mengetahui apakah amal perbuatan kita sesuai dengan perintah Allah, atau tidak.  Oleh karena itu, tatkala kita belajar fikih Islam, sesungguhnya kita sedang membuat jalan untuk meraih syafa’at, doa, dan perjumpaan dengan Allah swt.
Betapa banyak orang merasa dekat dengan Allah, dicintai Allah, bahkan merasa akan memperoleh curahan syafa’at dari Rasulullah, namun perbuatannya menyimpang jauh dari perintah Allah dan RasulNya.  Lalu, bagaimana ini akan mendapatkan syafa’at Allah, pertolongan Allah, dan doa dari Rasulullah saw kelak di hari akhir, jika dirinya selalu menyimpang dari tuntunan Allah, bahkan membuat-buat peribadatan baru?  Sesungguhnya, orang-orang semacam ini telah ditipu dengan perasaannya sendiri.  Ia merasa dicintai Allah, tetapi sesungguhnya ia adalah orang yang paling dibenci oleh Allah swt.
Dalam hal ini, Allah swt telah menjelaskan kepada kita dengan sangat jelas dan gamblang.   Allah swt berfirman:

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do`a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[al-Taubah:99]

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”[al-Israa’:57]

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ ءَامِنُونَ
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” [Saba`:37]
Ayat-ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan syafa’at Nabi saw kelak di hari akhir adalah dengan cara beriman dan beramal sholeh.    Tanpa iman dan amal sholeh, mustahil seseorang bisa mendapatkan jalan (wasilah) untuk mendekatkan diri kepadaNya, meraih ridloNya, dan mendapatkan doa dari Rasulullah saw.  Tanpa iman dan amal sholeh (amal yang memiliki dua syarat, ikhlash dan benar) seseorang pasti akan tersesat dan tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah dan RasulNya.
Adapun mengenai perjumpaan dengan Allah; Al-Quran telah menjelaskan syarat-syarat untuk berjumpa dengan Allah swt di ayat terakhir surat al-Kahfi. Allah swt berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. [al-Kahfi:110]
Ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa syarat untuk berjumpa dengan Allah, adalah dengan beramal shaleh dan tidak menyekutukan Allah swt dengan sesuatu apapun. Oleh karena itu, belajar fikih sebagai sarana untuk beramal sholeh merupakan perkara penting yang tidak boleh disepelekan lagi. Sebab, benar atau tidaknya perbuatan seseorang sangat tergantung dari pengetahuan dan pemahamannya terhadap syariat Allah swt.

Kesimpulan
Allah swt hanya melihat dan menerima perbuatan yang ihsan (amal sholeh). Perbuatan baru bisa disebut perbuatan yang sholeh, jika memenuhi dua faktor, yakni ikhlash dan benar sesuai tuntunan Islam. Cara untuk mengetahui apakah perbuatan kita sudah benar, atau sesuai dengan syariat, adalah mempelajari fikih (tuntunan Islam yang bersifat praktis).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: