Perkataan Yang Paling Utama Di Dalam Tauhid

Ketahuilah, semoga Allah swt selalu meridloi diri saya dan diri anda, atas apa yang diridloiNya. Sesungguhnya kebenaran iman itu mensyaratkan kebenaran aqidah; yakni agar kita menyakini Allah swt itu Maha Hidup, Maha Mengetahui, dan Maha Berkuasa. Ia Mendengar tanpa telinga dan Melihat tanpa mata dan kedua pelupukNya; Berbicara tanpa mulut dan lidah; dan Mengatur seluruh eksistensi beserta rahasia-rahasianya.   Apa yang dikehendakiNya pasti akan terwujud, dan apa yang tidak dikehendakinya niscaya tidak akan terwujud.  Maha Suci Allah swt dari semua batasan; dari dimensi atas yang meninggikanNya, dimensi bawah yang menurunkanNya, atas ‘Arsy yang meyanggaNya, langit yang menyatirNya, awan yang membayangiNya;  dimensi arah yang membatasiNya; maupun dari dimensi tempat yang membatasiNya.  Ketika ditanya tentang firman Allah swt, “Al-Rahmaan ‘ala ‘Arsyistawa”, Imam Abu Hanifah berkata, “Siapa saja yang membatasi Allah swt dalam dimensi atas dan bawah, sesungguhnya orang itu telah terjatuh ke dalam kekafiran”.  Imam Malik berkata, “Istiwa’nya Allah swt adalah perkara yang telah dimaklumi, sedangkan bagaimana caraNya istiwa’ (bersemayam) adalah sesuatu yang tidak diketahui.  Menanyakan masalah ini (bagaimana tatacara Allah bersemayam di ‘Arsy) adalah bid’ah”.  Imam Syafi’iy , tatkala ditanya masalah tersebut, beliau berkata, “Saya beriman terhadap masalah ini (istiwa’nya Allah) tanpa ada syubhat sedikitpun, dan saya membenarkannya tanpa keraguan”.  Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Allah itu bersemayam sebagaimana Allah Berfirman, tidak seperti yang dibayangkan orang”.   Syaikh Junaid berkata, “Seutama-utama perkataan di dalam tauhid adalah apa yang diucapkan Abu Bakar ra, “Tidak ada jalan bagi makhluk untuk makrifat kepada DzatNya, kecuali pasti ia tidak mampu untuk mengetahui Dzatnya”.   Syaikh Abu Manshur al-Baghdadiy berkata, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa makna istiwaa’ adalah al-qahr wa al-ghalabah (menundukkan dan menguasai); artinya, al-Rahman (Allah swt) menguasai ‘Arsy dan menundukkannya.  Adapun mengapa yang disebutkan hanya ‘Arsy saja; sebab, ‘Arsy termasuk makhluk Allah swt yang paling agung”.  Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Siapa saja yang menyakini Allah berada dalam, bagian, atau di atas sesuatu, maka ia telah menyekutukanNya.  Sebab, seandainya Allah swt berada di atas sesuatu, berarti Ia dibebani sesuatu; dan jika Ia bagian dari sesuatu, berarti Ia muhdats (diciptakan baru); dan jika ia berada dalam sesuatu, berarti Ia dibatasi.  Maha Suci Allah dari semua itu”. [Dinukil dari Kitab Nazhat al-Majaalis wa Muntakhib al-Nafaais, karya Shafwariy]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: