MEMBUMIKAN AL-QURAN DENGAN FORMALISASI SYARIAH

Istilah “membumikan al-Quran” seringkali diartikan secara berbeda oleh kelompok pro penerapan syariah dan kelompok liberal.   Kelompok pertama mengartikan “membumikan al-Quran” dengan formalisasi seluruh kandungan al-Quran dalam koridor Negara.  Sedangkan kelompok kedua (Islam liberal) memaknai “membumikan al-Quran” dengan aktualisasi al-Quran.  Artinya, kandungan al-Quran harus diinterpretasi sedemikian rupa hingga sejalan dengan realitas actual. 
Lalu, mana yang seharusnya dipilih; aktualisasi atau formalisasi “al-Quran”?

Upaya-upaya Mereduksi Al-Quran : Pandangan Keliru Terhadap Al-Quran
Salah satu isyu penting yang diusung oleh kelompok plural-liberalis adalah reaktualisasi al-Quran.  Meskipun sudah diusung sejak lama, namun gagasan ini terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan.  Reaktualisasi tidak lagi ditujukan sekedar menginterpretasikan al-Quran agar sesuai dengan realita actual, akan tetapi, lebih jauh dari itu, reaktualisasi al-Quran telah masuk ke ruang yang lebih dalam, yakni upaya untuk meletakkan metode penafsiran baru terhadap al-Quran -–hermeneutika–, hingga kajian histories yang ditujukan untuk mengkritisi keontentikan al-Quran.    Dengan demikian, reaktualisasi telah masuk ke wilayah paling vital yang tentunya akan menimbulkan dampak sangat serius bagi wacana Islam ke depan.   Sebab, dua upaya terakhir ini, ujung-ujungnya jelas-jelas akan meletakkan al-Quran sebagai kitab suci yang tidak lagi otentik –alias sama dengan kitab-kitab suci Yahudi dan Kristen–, sekaligus mengenalkan metode penafsiran baru yang justru membuka jalan selebar-lebarnya bagi penafsiran-penafsiran liberal dan menyimpang.
Untuk itu, dua isyu utama yang terus digulirkan oleh kelompok liberal, yakni, (1) isyu ketidakotentikan al-Quran, dan (2) metode penafsiran baru al-Quran (hermeneutika), harus dilihat secara cermat, tidak hanya dari perspektif obyektif-ilmiah belaka, akan tetapi harus dilihat juga dari sisi politis-ideologis.  Sebab, kajian-kajian kaum orientalis mengenai keotentikan al-Quran –yang kemudian diadopsi oleh kelompok Islam liberal—jelas-jelas tendensius, timpang, dan tidak jujur.
Mengenai gugatan terhadap keotentikan al-Quran, kita bisa memulai dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Arthur Jefrey  (1959), seorang orientalis Inggris, mengenai sejarah al-Quran.  Penelitian Arthur Jefrey sendiri, sebenarnya berasal dari Pendeta Edward Sell (1932).  Sedangkan karya Edward Sell yang kemudian dikembangkan oleh Arthur Jefry, The Historical Development of The Qura’an, merupakan ringkasan dari karya Noldeke (1836-1930), Geschichte des Qorans (sejarah al-Quran) yang terbit pertama kali di Gottingen, tahun 1860.   Di dalam penelitian itu, Arthur Jefrey menyimpulkan bahwa al-Quran mushhaf Utsmaniy merupakan teks standar diantara berbagai macam versi mushhaf al-Quran yang dimiliki shahabat.  Ia menolak keberadaan mushhaf Utsmani sebagai mushhaf al-Quran yang lengkap, dan sudah ada sejak masa Rasulullah saw.  Oleh karena itu, al-Quran –menurut Jefrey— tak ubahnya dengan kitab Injil, yang karena banyak versi akhirnya harus dilakukan proses standarisasi.   Untuk mendukung pendapatnya ini, ia mengetengahkan sejumlah riwayat yang bertutur seputar sejarah kodifikasi al-Quran, hingga mushhaf-mushhaf syang dimiliki oleh para shahabat; misalnya mushhaf Ubay bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Aisyah, dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu saja, ia juga berusaha keras membuktikkan bahwa al-Quran bukanlah wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Mohammad saw melalui malaikat Jibril; akan tetapi buatan Nabi Mohammad saw yang menjiplak dan mengadopsi dari kitab-kitab Suci lain.   Untuk memperkuat pendapatnya, Jefrey mengetengahkan adanya lafadz-lafadz asing di dalam al-Quran, seraya menyatakan, bahwa bahasa asli al-Quran adalah Syiria-Aramaik.   Sesungguhnya, Arthur Jefrey bukanlah satu-satunya orientalis yang berusaha menghancurkan keyakinan kaum Muslim atas keotentikan al-Quran, serta untuk meruntuhkan metode penafsiran yang telah digagas oleh para ulama tafsir dan ulumul Quran.  Sederet peneliti al-Quran dari kalangan orientalis, pendeta, hingga rahib,  telah melakukan penelitian, bahkan jauh hari, sebelum Arthur Jefrey.   Misalnya, Noldeke, Abraham Geiger, F Schwally, Hartwig Hirschfeld, dan lain sebagainya. Kajian mereka tidak hanya terfokus pada historisitas al-Quran belaka, namun, juga mencakup aspek filologisnya.
Selanjutnya, kajian-kajian kaum orientalis terhadap al-Quran ini, diadopsi oleh kelompok Islam liberal untuk menyerang keotentikan al-Quran, maupun untuk memaksakan model penafsiran baru (hermeneutika).  Padahal, penelitian kaum orientalis terhadap keotentikan al-Quran maupun hermeneutika, masih jauh dari “obyektivitas dan netralitas”.    Sejumlah riwayat ahad yang diketengahkan oieh kaum orientalis untuk menyerang keotentikan al-Quran, sebenarnya juga telah diketahui oleh para ulama tafsir, hadits, maupun ulumul Quran.  Para ulama kaum Muslim ini juga telah membahas riwayat-riwayat ini di dalam kitab-kitab mereka.  Namun, mereka tidak pernah berkesimpulan sebagaimana kesimpulan para orientalis (al-Quran tidak lagi otentik).   Semua riwayat yang ditujukan untuk menyerang keotentikan al-Quran bukanlah data histories yang tidak diketahui, atau luput dari pembahasan para ulama Islam, khususnya ulama hadits, tafsir, dan ulumul Quran.  Hanya saja, mengapa kesimpulannya bisa berbeda?   Jawabnya mudah saja, para ulama kaum Muslim mengkaji riwayat-riwayat ini dalam kerangka iman dan taqwa, dan terbebas dari tendensi-tendensi jahat untuk meruntuhkan ajaran Islam.  Sedangkan kaum orientalis melakukan kajian tidak dalam kerangka imam dan taqwa, dan penuh dengan tujuan jahat untuk menghancurkan pondasi agama Islam.    Atas dasar itu, kajian yang dilakukan kaum orientalis terkesan tidak jujur, serampangan dalam membuat kesimpulan, dan jauh dari nilai obyektifitas.
Perhatikan penuturan al-Hafidz al-Suyuthiy dalam kitab al-Itqaan fi ‘Uluum al-Quran, “Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa semua bagian dari al-Quran harus (wajib) mutawatir, baik dari sisi pokoknya, bagian-bagiannya, tempatnya,  topiknya dan  urut-urutannya. Kalangan pentahqiq ahlu sunnah juga berpendapat bahwa al-Quran harus diriwayatkan secara qath’iy (mutawatir).  Sebab, biasanya sesuatu yang menghasilkan kepastian harus mutawatir.  Sebab, al-Quran adalah mukjizat agung yang menjadi pokok agama yang lurus (ashl al-diin al-qawiim). Ia juga sebagai shirath al-mustaqim (jalan yang lurus), baik pada aspek global, maupun terperincinya.   Adapun, riwayat yang diriwayatkan secara ahad dan tidak mutawatir , maka secara qath’iy ia bukan merupakan bagian dari al-Quran. Sebagian besar kalangan ushuliyyin berpendapat bahwa mutawatir merupakan syarat penetapan  apakah riwayat tersebut termasuk al-Quran.“
Atas dasar itu, keberadaan riwayat-riwayat ahad yang diklaim sebagai bagian al-Quran –-yang kemudian digunakan dasar kaum orientalis untuk menyerang keotentikan al-Quran— sama sekali tidak menggoyahkan keyakinan ulama kaum Muslim atas keotentikan al-Quran, meskipun mereka juga mengetengahkan dan mengkaji riwayat-riwayat tersebut di dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum orientalis.
Adapun kajian filologis terhadap al-Quran yang dilakukan oleh kaum orientalis, hingga disimpulkan, bahwa al-Quran adalah bikinan Mohammad (bukan wahyu dari Allah swt) dan bahasa asli al-Quran adalah Syiria Aramaik, sesungguhnya kajian ini juga sarat dengan tendensi-tendensi jahat untuk menghancurkan al-Quran.   Sebab, kajian mereka terhadap keragaman qiraat, dan penelitian terhadap lafadz-lafadz asing di dalam al-Quran yang diadopsi dari bahasa non Arab (A’jam), terkesan hanya untuk membenarkan kesimpulan yang telah mereka tetapkan sebelumnya, yakni menghancurkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran itu adalah kalamullah yang dituturkan melalui malaikat Jibril as.   Sesungguhnya, lafadz-lafadz asing yang ada di dalam al-Quran, tidak tepat dinyatakan sebagai lafadz a’jam.  Sebab, lafadz-lafadz asing tersebut telah mengalami proses ‘Arabisasi (ta’rib), sehingga lafadz itu memiliki huruf dan wazan bahasa Arab.   Dalam kondisi semacam ini, lafadz-lafadz tersebut telah menjadi lafadz bahasa Arab, bukan lagi lafadz asing.  Selain itu, al-Quran juga menolak anggapan adanya lafadz asing (a’jam), akan tetapi semuanya adalah lafadz bahasa Arab.
Ironisnya, kajian-kajian berat sebelah yang dilakukan oleh kaum orientalis ini –baik kajian terhadap sejarah maupun filologis al-Quran—justru dipuja-puja bahkan diusung dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi oleh kelompok Islam Liberal.   Misalnya, Arkoun, ia mengarang sebuah buku yang berjudul al-Fikr al-Islaamiy, yang di dalamnya memuat kajian filologis al-Quran, dan kaedah-kaedah dasar penafsiran hermeneutika.  Tidak ada hal baru dalam pemikiran Arkoun, kecuali sekedar mengadopsi sejumlah penelitian yang dilakukan oleh kaum orientalis sebelumnya.
Mengenai hermeneutika, sesungguhnya model penafsiran ini bukanlah model penafsiran universal dan bebas nilai, sehingga bisa diterapkan pada semua teks, termasuk teks-teks al-Quran.    Hermeneutika bukanlah bidang ilmu science universal dan netral, layaknya matematika, kimia, dan fisika. Ini bisa dimengerti karena, kemunculan hermeneutika berasal dari problem kitab suci Injil yang tidak lagi otentik dan orisinal.   Sedangkan Al-Quran adalah kitab suci yang tidak memiliki problem keotentikan dan keorisinalan.   Al-Quran juga telah terbukti sebagai kalamullah (tuturan Allah), dan disampaikan kepada Nabi Mohammad saw melalui malaikat Jibril as.   Jika al-Quran adalah tuturan Allah swt, yang kemudian juga dijelaskan maknanya  oleh sabda dan praktek keagamaan  Nabi saw, maka al-Quran tidak membutuhkan lagi ” hermeneutika” untuk mengetahui “makna tersiratnya”.    Selain itu, jika hermeneutika muncul karena permasalahan “bahasa” yang diasumsikan tidak bisa menjelaskan “semua gagasan penutur”, sesungguhnya, semua itu sudah teratasi dengan adanya sejumlah ilmi-ilmu yang digunakan untuk melengkapi penafsiran al-Quran; misalnya asbaab nuzuul, muhkam, mutasyabihat, nasikh mansukh, makiy madaniy, ‘arudl, ma’aaniy, bayaan, dan lain sebagainya.   Walhasil, metode penafsiran al-Quran dan seperangkat ilmu yang dibuat para mufassir jauh lebih memadai dibandingkan “hermeneutika”.   Lantas, dengan alasan kelompok Islam liberal justru mengusung dan menjajakan “hermeneutika” kepada kaum Muslim?   Benarkah, mereka ingin mengungkap “makna sesungguhnya” di balik teks-teks al-Quran? Jawabnya sederhana saja; gagasan ini mereka jajakan untuk memuluskan liberalisasi penafsiran nash-nash al-Quran, yang ujung-ujungnya hendak menjerumuskan umat kepada penafsiran allegories yang ujung-ujungnya justru untuk menolak formalisasi syariat Islam.  Sebab, kondisi psikologis dan sosiologis kaum orientalis dan kelompok Islam liberal, jelas-jelas jauh dari spirit iman dan taqwa; akan tetapi justru dekat dengan spirit liberal dan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim.   Oleh karena itu, penafsiran mereka terhadap al-Quran pasti dipengaruhi oleh suasana psikologis dan sosiologis semacam ini.
Atas dasar itu, dua kajian utama kaum orientalis untuk menghancurkan fondasi pokok Islam, telah gugur dan jauh dari obyektivitas dan universalitas.   Sebab, al-Quran jelas-jelas terbukti otentik berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir, dan penuturan runtut mulai dari jaman Nabi saw hingga akhir jaman.   Keotentikan al-Quran sebagai wahyu Allah swt yang dituturkan kepada Nabi Mohammad saw, dan datangnya penjelasan isi al-Quran dari Nabi saw yang termaktub di dalam hadits-hadits shahih, secara otomatis telah menutup kemungkinan diterimanya “hermeneutika” sebagai metode untuk menafsirkan al-Quran.   Selain itu, metode penafsiran al-Quran yang telah digagas mufassirin [bi al-ma’tsur dan bi al-ra’yi (bahasa Arab)] jauh lebih memadai dibandingkan dengan “hermeneutika”.  Lebih-lebih lagi, mufassirin juga telah mensyaratkan bagi orang yang hendak menafsirkan al-Quran agar menguasai sejumlah disiplin ilmu; misalnya ulumul quran, ulumul hadits, balaghah, ma’aaniy, bayan, ‘arudl, asbaab nuzul, nasikh mansukh, dan lain sebagainya.  Ini ditujukan agar penafsiran al-Quran tidak liar, dan menyimpang dari konteks sebenarnya –seperti yang dikehendaki kaum liberalis.

Menelusur Akar Masalah Sebenarnya
Pada dasarnya, masalah penting yang dihadapi umat Islam sekarang adalah mendudukkan kembali al-Quran pada kedudukan dan fungsi sebenarnya; dan sama sekali bukan mengaktualisasikan al-Quran agar sesuai dengan realitas sekarang.  Sebab, realitas sekarang –yang disangga oleh system kapitalis— jelas-jelas rusak dan bertentangan dengan kandungan al-Quran.  Lalu, bagaimana mungkin, al-Quran harus ditundukkan di bawah realitas rusak dan menyimpang –akibat diterapkannya system kapitalis, sedangkan al-Quran justru turun untuk mengalahkan semua agama, system, dan keyakinan yang ada?
Kedudukan utama al-Quran adalah sumber segala sumber hukum yang menjiwai seluruh konstitusi dan perundangan-undangan. Seluruh keyakinan, aturan, norma, pandangan hidup,  dan cara berfikir seorang Muslim, semuanya harus bersumber dari al-Quran.  Tidak hanya itu saja, al-Quran juga berkedudukan sebagai standarisasi untuk menilai baik, buruk, terpuji dan tercela.   Kedudukan al-Quran seperti ini, mengharuskan kita untuk menjadikan al-Quran sebagai sumber hukum, norma, dan keyakinan, tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga dalam ranah Negara dan masyarakat.   Sebab, seluruh aturan, keyakinan, dan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat dan Negara harus bersumber dari al-Quran.   Kenyataan ini secara otomatis mengharuskan pula adanya formalisasi al-Quran dalam koridor Negara; dan mengharuskan pula adanya kerja keras untuk mengubah system kapitalistik sekarang, kemudian diubah menjadi system yang Islamiy.   Bukan malah sebaliknya, melakukan interpretasi ulang terhadap al-Quran agar sejalan dengan aturan, keyakinan, norma kapitalistik.
Sedangkan fungsi utama al-Quran adalah sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh umat manusia.   Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa al-Quran memuat system kehidupan lengkap yang memberikan panduan multidimensional kepada umat manusia agar mereka mendapatkan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun akherat.  Sayangnya, fungsi al-Quran sebagai petunjuk hidup ini, telah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: