KESALAHAN-KESALAHAN DI DALAM BUKU WAMY

1. Orang Kafir diperbolehkan menjadi anggota Hizb dan wanita diperbolehkan menjadi anggota Majelis Syura
Statement ini merupakan kedustaan yang ditikamkan kepada Hizbut Tahrir.  Pasalnya, Hizbut Tahrir telah melarang orang kafir menjadi anggotanya.  Pendirian Hizbut Tahrir seperti ini didasarkan pada firman Allah swt;

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. [TQS Ali Imron (3):104]
Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Maksud ayat ini adalah, hendaknya ada kelompok (firqah) dari umat ini (umat Islam) yang siap sedia menjalankan tugas tersebut (dakwah menuju Islam dan amar makruf nahi ‘anil mungkar), walaupun (dakwah menuju Islam dan amar makruf nahi ‘anil mungkar) juga kewajiban setiap individu umat ini; sebagaimana telah ditetapkan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “

“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ”. وفي رواية: “وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ” .
“Siapa saja diantara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya.  Jika ia tidak mampu (mengubah dengan tangan) hendaknya dengan lisannya.  Dan jika ia tidak mampu (mengubah dengan lisannya), hendaknya dengan hatinya”.  Di dalam riwayat lain dituturkan, ”Setelah itu tidak ada keimanan seberat biji gandum pun”.[HR. Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy]
Di dalam Tafsir al-Thabariy disebutkan, ”Abu Ja’far menyatakan, ”..yakni adanya jamaa’ah (kelompok) yang menyeru manusia menuju kebaikan, yakni Islam dan syariat Islam yang telah disyariatkan Allah atas hambaNya; dan melakukan amar ma’ruf nahi ’anil mungkar; yakni memerintahkan manusia untuk mengikuti Nabi Mohammad saw, dan agamanya yang berasal dari sisi Allah swt; dan mencegah kemungkaran; yakni mereka mencegah dari ingkar kepada Allah, serta (mencegah) mendustakan Nabi Mohammad saw dan ajaran yang dibawanya dari sisi Allah….”
Imam Ali Al-Shabuniy menyatakan, ”Maksudnya, hendaknya dirikanlah kelompok (thaaifah) dari kalian (umat Islam) untuk berdakwah menuju Allah, dan untuk mengajak kepada setiap kebajikan dan mencegah dari setiap kemungkaran”.
Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah disimpulkan, bahwa jama’ah atau kelompok yang bertugas menyeru kepada Islam dan melakukan amar makruf nahi ’anil mungkar adalah ”jama’ah” atau ”kelompok” yang berasal dari kaum Muslim, bukan dari kaum kafir.  Frase ”minkum” pada ayat di atas merujuk kepada kaum Muslim, bukan merujuk kepada non Muslim.  Semua ini menunjukkan bahwa ”jama’ah” tersebut harus beranggotakan orang-orang Muslim, bukan orang-orang kafir.  Dengan demikian, gerakan, partai, atau kelompok Islam tidak boleh (haram) menerima orang-orang kafir sebagai anggotanya.
Selain itu, tugas utama dari gerakan tersebut adalah ”menyeru kepada Islam dan melakukan amar makruf nahi ’anil mungkar”.  Tugas semacam ini, tentunya, tidak mungkin dipikul oleh orang-orang kafir yang justru menjadi ”obyek” yang diseru dakwah Islam.  Oleh karena itu, keanggotaan orang-orang kafir di dalam ”gerakan atau partai Islam” bertentangan dengan esensi dan tugas dari gerakan Islam yang telah digariskan oleh Allah swt dalam surat Ali Imron ayat 104.

Wanita Diperbolehkan Menjadi Anggota Syura
Hizbut Tahrir memang berpendapat bahwa seorang wanita boleh menjadi anggota majelis syura.  Pasalnya, aktivitas majelis syura tidak termasuk ke dalam aktivitas kekuasaan (al-hukm), di mana wanita dilarang menduduki jabatan tersebut.  Majelis syura hanyalah representasi dari tugas syura (musyawarah) dan muhasabah (koreksi).   Laki-laki dan wanita berhak menjalankan tugas ini (syura dan muhasabah).  Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ka’ab bin Malik; bahwasanya Nabi saw didatangi 75 orang, 73 laki-laki dan 2 orang perempuan.  Lalu, mereka membai’at Nabi saw pada Bai’at ’Aqabah II.  Bai’at ’Aqabah II ini disebut juga dengan bai’at perang. Setelah mereka selesai berbai’at, Nabi saw bersabda kepada mereka, ”Pilihlah untukku 12 orang wakil dari kalian, dan mereka akan menjadi bertanggungjawab atas kaumnya”.   Sabda Nabi saw ini merupakan perintah kepada semua orang yang hadir di situ, baik laki-laki maupun wanita, agar mereka memiliki wakil dari kaumnya.  Beliau tidak mengkhususkan perintahnya hanya untuk kaum laki-laki saja.  Perintah ini menunjukkan bahwa wanita diberi hak oleh Nabi saw untuk memilih wakil dari kaumnya.   Jika seorang wanita diberi hak menyampaikan pendapat dan aspirasinya, tentunya ia juga berhak mengangkat seseorang untuk mewakili aspirasi-aspirasinya dalam urusan pemerintahan maupun non pemerintahan.
Di samping itu al-Quran juga menuturkan bai’atnya wanita-wanita Mukminat kepada Nabi saw.  Peristiwa ini menunjukkan bahwa wanita memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi-aspirasinya dalam persoalan pemerintahan.  Allah swt berfirman;

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[TQS Al Mumtahanah (60):12]
Dituturkan juga dari Umar bin Khaththab ra, bahwasanya, tatkala beliau tertimpa suatu masalah  –baik yang berhubungan dengan hukum syariat, masalah pemerintahan, atau tugas-tugas kenegaraan–, beliau mengundang kaum Muslim, baik laki-laki maupun wanita, ke dalam masjid.  Beliau ra meminta pendapat dari orang-orang yang hadir di situ.  Suatu saat, beliau ra menganulir pendapatnya ketika ada seorang wanita menolak pendapatnya mengenai pembatasan mahar.   Riwayat ini semakin menegaskan bahwa wanita Muslimah boleh menyampaikan pendapat dan aspirasinya dalam masalah hukum syariat, pemerintahan, maupun urusan-urusan kenegaraan lainnya.  Mereka juga berhak mengangkat wakil untuk menyuarakan aspirasi dan pendapatnya.  Sebab, wakalah boleh dilakukan dalam hal aspirasi dan pendapat.
Orang-orang kafir juga berhak menjadi anggota majelis umat sebagaimana kaum Muslim, untuk mewakili orang-orang yang memilihnya.  Akan tetapi, hak mereka dibatasi.  Mereka hanya diperbolehkan menyampaikan keluhan-keluhan yang berkaitan dengan buruknya penerapan Islam kepada mereka, atau tindakan-tindakan dzalim yang dilakukan oleh penguasa Islam.  Umar bin Khaththab pernah menerima pengaduan yang dilakukan oleh orang kafir yang dianiaya dan dirampas tanahnya oleh pejabat kaum muslim. Pengaduan ini diterima oleh Umar dan beliau ra segera mengambil tindakan tegas terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh pejabatnya.  Orang kafir tidak memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan aspirasinya dalam masalah hukum syariat.  Pasalnya, mereka adalah orang-orang kafir yang belum memeluk agama Islam, sehingga dilarang menyampaikan pendapat dan aspirasinya dalam masalah tersebut (hukum syariat).  Mereka juga tidak memiliki hak memilih dan mencalonkan seseorang menjadi khalifah.  Sebab, Allah swt melarang kaum Muslim memberi jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Muslim.  Allah swt berfirman;

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
”..dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”. [TQS An Nisaa’ (4):141]

2. Boleh Memandang Gambar-gambar Porno
Hizbut Tahrir tidak pernah mentabanniy (melegalisasi) pendapat semacam ini.  Sebaliknya, di dalam Kitab al-Muqawwimat –kitab mutabannat–, Hizbut Tahrir mendorong dan menganjurkan anggotanya untuk menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia; salah satunya adalah malu, wara’ dan meninggalkan perkara syubhat. [Hizbut Tahrir, Min Muqawwimaat al-Nafsiyyah al-Islaamiyyah, cet ke 1, 14266 H (2004 M), hal. 119, 127]

3. Boleh Berciuman Dengan Wanita Asing (bukan isteri), baik dengan disertai nafsu maupun tidak.  Demikian pula bersalaman antara laki-laki dan wanita bukan isterinya
Berkaitan dengan masalah ciuman, informasi yang menyatakan bahwa Hizbut Tahrir membolehkan seorang Muslim mencium wanita asing baik dengan disertai nafsu atau tidak, jelas merupakan kedustaan. Di dalam Kitab al-Nidzam al-Ijtimaa’iy –Kitab Mutabannat–, Hizbut Tahrir dengan tegas melarang seorang laki-laki mencium wanita asing baik disertai dengan nafsu atau tidak.  Syaikh Taqiyuddin rahimahu al-Allah berkata,”Ini berbeda dengan ciuman, ciuman seorang laki laki terhadap wanita asing yang diinginkannya, atau sebaliknya, adalah ciuman yang diharamkan. Sebab ciuman semacam ini termasuk pembukaan dari zina. Sebab ciuman pada umumnya adalah pembukaan menuju aktivitas zina, meskipun dilakukan tanpa syahwat.” [Syaikh Taqiyyuddin An Nabhaniy, al-Nidzaam al-Ijtimaa’iy fi al-Islaam, ed.III, hal.58]
Tentang masalah mushafahah, Hizbut Tahrir berpandangan bahwa mushafahah dengan wanita ajnabiyyah termasuk perbuatan mubah jika tidak disertai dengan syahwat.
Kebolehan mushafahah antara laki-laki dan wanita didasarkan argumentasi berikut ini.
Pertama, riwayat yang dituturkan oleh Imam Bukhari dari ‘Ummu ‘Athiyyah.  ‘Ummu ‘Athiyyah menyatakan:
“Kami telah membaiat Nabi saw.  Beliau kemudian menyatakan kepada kamu untuk tidak menyekutukan Allah dan tidak akan meratap.  Lalu, seorang wanita diantara kami menarik kembali tangannya.”[HR. Bukhari]
Di dalam hadits ini dituturkan bahwasanya bai’at dilakukan dengan cara berjabat tangan.  Sedangkan kata,”qabadlat imraatun yadaaha” (menarik kembali tangannya), bermakna bahwa wanita tersebut telah menarik tangannya setelah benar-benar ingin membaiat Rasulullah saw dengan cara berjabat tangan.   Artinya, wanita tersebut benar-benar ingin berjabat tangan dengan Rasulullah saw, akan tetapi ia menarik tangannya.  Walhasil, redaksi hadits di atas ,” seorang wanita diantara kami menarik kembali tangannya,” bermakna bahwa, wanita-wanita lain selain wanita tersebut telah membaiat Rasulullah saw dengan cara berjabat tangan dan tidak menarik tangannya.   Berdasarkan mafhum hadits ini, dapat disimpulkan; hukum mushafahah adalah mubah.
Kedua. Dalil lain yang membuktikan bahwa hukum mushafahah adalah mubah adalah mafhum dari firman Allah swt, artinya;
“..atau kalian menyentuh perempuan…”[QS. Al-Nisaa’:43]
Ayat ini merupakan perintah bagi seorang laki-laki untuk mengambil air wudlu kembali jika ia menyentuh wanita.  Wanita yang ditunjuk oleh ayat itu bersifat umum, mencakup seluruh wanita, baik mahram maupun bukan.  Dengan kata lain, bersentuhan tangan dengan wanita bisa menyebabkan batalnya wudlu, namun bukan perbuatan yang diharamkan.  Sebab, ayat tersebut sebatas menjelaskan batalnya wudlu karena menyentuh wanita, bukan pengharaman menyentuh wanita.   Oleh karena itu, menyentuh tangan wanita –tanpa diiringi dengan syahwat—bukanlah sesuatu yang diharamkan, alias mubah.
Berdasarkan mafhum isyarah ayat di atas, dapat disimpulkan, bahwa hukum mushafahah adalah mubah.
Namun, ada yang menyatakan bahwa hadits Ummu ‘Athiyyah bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Ahmad, Nasaiy, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban yang menyatakan, ”“Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita diantara kami.”
“Aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita, sesungguhnya ucapanku untuk seratus wanita, sama halnya dengan ucapanku yang ditujukan untuk seorang wanita.”
Jawaban atas sanggahan ini sebagai berikut;
Sesungguhnya ada sebuah kaedah ushul yang menyatakan bahwa ,”inna ‘adam fi’l al-rasuul lisyain laisa daliilan syar’iyyan”.  Artinya,”Sebenarnya perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah saw bukanlah dalil syara’.   Yang bisa dijadikan dalil syara’ adalah perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
Atas dasar itu, perkataan, ““Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita diantara kami.” “Aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita”, bukanlah dalil yang melarang mushafahah. Akan tetapi, hadits ini harus dipahami bahwa Rasulullah saw ada kalanya menjauhi dan tidak pernah mengerjakan sama sekali perbuatan-perbuatan yang berhukum mubah.  Misalnya, Rasulullah saw selalu menjauhi dan tidak pernah menyimpan dirham dan dinar di rumahnya.  Rasulullah saw juga menjauhi untuk memakan daging biawak.  Padahal, perbuatan-perbuatan semacam ini –menyimpan dinar, memakan daging biawak– bukanlah perbuatan yang dilarang bagi kaum Muslim.  Artinya, meskipun Rasulullah saw tidak pernah mengerjakan perbuatan tersebut, bukan berarti beliau mengharamkan atau melarang perbuatan tersebut bagi umatnya.
Demikian juga dengan kasus mushafahah.   Meskipun Rasulullah saw tidak pernah melakukan mushafahah, bukan berarti mushafahah itu dilarang bagi kaum muslim.   Seperti halnya menyimpan dirham dan dinar bukanlah perkara terlarang, meskipun Rasulullah saw tidak pernah mengerjakannya. Walhasil, apa yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah saw tidak mesti dipahami bahwa perbuatan itu berhukum haram.
Dalam kasus mushafahah ini, memang ada perbedaan riwayat.  Sebagian riwayat menyatakan bahwa Rasulullah saw seakan-akan melarang mushafahah, sedangkan dalam riwayat yang lain tidak.   Namun, jika seluruh riwayat tadi dikumpulkan kita pasti akan berkesimpulan bahwa hukum mushafahah adalah ibahah.
Ketiga. Adanya riwayat-riwayat yang membolehkan mushafahah adalah sebagai berikut.
Imam al-Raziy dalam al-Tafsir al-Kabiir, juz 8 hal 137 menuturkan sebuah riwayat bahwa ‘Umar ra telah berjabat tangan dengan para wanita dalam bait, sebagai pengganti dari Rasulullah saw.”
Diriwayatkan oleh Imam Thabaraniy bahwa Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan para wanita sebagai pengganti dari Rasulullah saw.”
Imam Qurthubiy di dalam al-Jaami’ al-Ahkaam al-Quran juz 18/71, juga mengetengahkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw mengambil baiat dari kalangan wanita.  Diantara tangan Rasulullah saw dan tangan wanita-wanita itu ada sebuah kain. Kemudian Rasulullah saw mengambil sumpah wanita-wanita tersebut.”  Dituturkan pula bahwa setelah Rasulullah saw selesai membaiat kaum laki-laki Rasulullah saw duduk di shofa bersama dengan Umar bin Khaththab yang tempatnya lebih rendah.  Lalu, Rasulullah saw membaiat para wanita itu dengan bertabirkan sebuah kain, sedangkan Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan wanita-wanita itu.
Riwayat-riwayat ini merupakan dalil kebolehan mushafahah.  Sebab, ada taqrir dari Rasulullah saw terhadap perbuatan Umar bin Khaththab.  Taqrir dari Rasulullah saw merupakan hujjah yang sangat kuat atas bolehnya melakukan mushafahah.  Seandainya mushafahah dengan wanita asing (ajnabiyyah) adalah perbuatan haram, tentunya Rasulullah saw tidak akan mewakilkan kepada Umar bin Khaththab, dan beliau saw pasti akan melarangnya.
Adapun kritik yang dikemukakan oleh Ibnu al-‘Arabiy terhadap keshahihan riwayat-riwayat Umar bin Khaththab  bisa ditangkis dari kenyataan bahwa hadits-hadits yang bertutur tentang mushafahahnya Umar bin Khaththab dicantumkan di dalam kitab Fath al-Baariy karya al-hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaniy [juz 8/636], dan beliau tidak berkomentar terhadap riwayat ini.  Ini menunjukkan bahwa Ibnu Hajar telah mengakui keshahihan riwayat ini.  Al-Hafidz sendiri adalah seorang muhadits yang sangat termasyhur dan kitabnya Fath al-Baariy, diakui sebagai kitab syarah terbaik dan karya ilmiah yang dijadikan rujukan para ‘ulama fiqh dan hadits. Atas dasar itu, riwayat-riwayat yang menuturkan mushafahnya Umar bin Khaththab dengan kaum wanita absah dijadikan sebagai hujjah.

4. Wanita diperbolehkan memakai cemara (wig) dan celana panjang.  Jika seorang isteri tidak menaati suaminya untuk berpakaian seperti itu, ia tidak termasuk wanita jalang
Sesungguhnya, Hizbut Tahrir tidak mengadopsi pendapat semacam ini di dalam kitab-kitab mutabannatnya.  Hanya saja, perlu dijelaskan di sini, bahwa masalah ketidakbolehan wanita menyambung rambut atau mengenakan rambut palsu merupakan perkara yang sudah ma’lum dan masyhur di kalangan kaum Muslim.  Seorang Muslim wajib terikat dengan ketentuan syariat tersebut, dan tidak boleh mengingkarinya.  Ini juga merupakan kedustaan yang dialamatkan kepada Hizbut Tahrir.
Adapun hukum wanita mengenakan celana panjang; hal ini perlu dirinci lebih mendalam.  Di dalam Kitab al-Nidzam al-Ijtimaa’iy fi al-Islaam, kehidupan wanita dibagi menjadi dua, yakni kehidupan khusus dan kehidupan umum.  Kehidupan khusus adalah kehidupan di dalam rumah, sedangkan kehidupan umum adalah kehidupan di luar rumah.
Di dalam kehidupan khusus, seorang wanita tidak wajib mengenakan kerudung (khimar) dan jilbab.  Seorang wanita diperbolehkan mengenakan pakaian sehari-hari (tsiyaab al-mihnah), ketika berada di dalam rumahnya; sehingga tampak sebagian dari auratnya.  Syariat Islam tidak menentukan bentuk spesifik dari tsiyaab al-mihnah tersebut (pakaian sehari-hari).  Oleh karena itu, seorang wanita Muslimah diperbolehkan mengenakan blus, daster, celana panjang, dan lain sebagainya ketika ia sedang berada  di dalam kehidupan khusus (rumah).   Pasalnya, di dalam rumah biasanya dihuni oleh para mahram, yang mana, seorang wanita diperkenankan menampakkan perhiasannya (lebih dari muka dan telapak tangan) kepada mereka.  Allah swt berfirman;

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”[al-Nuur:31]
Menurut Imam Thabariy, makna yang lebih tepat untuk “perhiasan yang biasa tampak” adalah muka dan telapak tangan.  Keduanya –muka dan kedua telapak tangan– bukanlah aurat, dan boleh ditampakkan di kehidupan umum.  Sedangkan selain muka dan telapak tangan adalah aurat dan tidak boleh ditampakkan kepada laki-laki asing, kecuali suami dan mahram.  Adapun ketika wanita di dalam rumah, maka ia boleh menampakkan lebih dari muka dan telapak tangannya di hadapan suami dan mahramnya.  Dengan demikian, seorang wanita diperbolehkan mengenakan celana panjang ketika berada di dalam rumah.
Adapun di kehidupan umum (di luar rumah), syariat Islam telah mewajibkan wanita menutup aurat dan mengenakan pakaian khusus yang telah ditetapkan oleh syariat, yakni jilbab dan khimar (kerudung).  Ketentuan menutup aurat bagi wanita ketika berada di luar rumah didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan oleh ’Aisyah ra, bahwasanya ia menceritakan; Asma binti Abu Bakar masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah saw. pun berpaling seraya berkata;

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
“Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini,  sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.”[HR. Muslim]
Adapun kewajiban mengenakan kerudung (khimar) bagi wanita Muslimah ketika ia keluar di kehidupan umum ditunjukkan oleh firman Allah swt;

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..”[al-Nuur:31]
Ayat ini merupakan  perintah agar wanita mengenakan khimar (kerudung), yang bisa menutup kepala, leher, dan dada. Imam Ibnu Mandzur di dalam kitab Lisaan al-‘Arab menuturkan; al-khimaar  li al-mar`ah : al-nashiif  (khimar bagi perempuan adalah al-nashiif (penutup kepala).  Ada pula yang menyatakan; khimaar adalah kain penutup yang digunakan wanita untuk menutup kepalanya.  Bentuk pluralnya adalah akhmirah, khumr atau khumur.
Ibnu al-‘Arabiy di dalam kitab Ahkaam al-Quran menyatakan, “Jaib” adalah kerah baju, dan khimar adalah penutup kepala .  Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, bahwasanya ia berkata, “Semoga Allah mengasihi wanita-wanita Muhajir yang pertama.  Ketika diturunkan firman Allah swt “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka”, mereka membelah kain selendang mereka”. Di dalam riwayat yang lain disebutkan, “Mereka membelah kain mereka, lalu berkerudung dengan kain itu, seakan-akan siapa saja yang memiliki selendang, dia akan membelahnya selendangnya, dan siapa saja yang mempunyai kain, ia akan membelah kainnya.”  Ini menunjukkan, bahwa leher dan dada ditutupi dengan kain yang mereka miliki.”
Adapun dalil yang menunjukkan kewajiban mengenakan jilbab adalah firman Allah swt;:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.[al-Ahzab:59]
Ayat ini merupakan perintah yang sangat jelas kepada wanita-wanita Mukminat untuk mengenakan jilbab.  Adapun yang dimaksud dengan jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit).  Di dalam kamus al-Muhith dinyatakan, bahwa jilbab itu seperti sirdaab (terowongan) atau sinmaar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.”[Kamus al-Muhith].  Sedangkan dalam kamus al-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula’ah (baju kurung).”[Kamus al-Shahhah, al-Jauhariy]
Ayat-ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa seorang wanita Mukminat wajib mengenakan kerudung (khimar) dan jilbab ketika ia berada di kehidupan umum (di luar rumah).  Jilbab adalah pakaian luar yang dikenkan di atas pakaian sehari-hari.  Sedangkan khimar (kerudung) adalah penutup kepala yang bisa menutup hingga dada wanita.
Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa seorang wanita boleh mengenakan pakaian sehari-hari yang biasa ia kenakan tatkala ia berada di dalam kehidupan khusus (rumah), misalnya rok, kaos, daster, maupun celana panjang.
Sedangkan ketika berada di kehidupan umum, seorang wanita Muslimah wajib mengenakan kerudung (khimar) dan jilbab, dan dilarang mengenakan celana panjang, blus, maupun daster.

5. Orang kafir diperbolehkan menjadi panglima di sebuah negara Islam
Informasi semacam ini juga merupakan pendustaan terhadap Hizbut  Tahrir.  Hizbut Tahrir melarang orang kafir menjadi panglima perang yang bisa mengendalikan pasukan dan tentara.   Pasalnya, keberadaan pasukan dan tentara di dalam Daulah Islamiyyah merupakan instrumen untuk melakukan jihad fi sabilillah.  Sedangkan jihad fi sabilillah hanya dibebankan kepada orang Mukmin saja, tidak dibebankan kepada orang kafir.  Selain itu, jihad fi sabilillah adalah berperang melawan orang-orang kafir, dan mesti dipimpin oleh seorang Mukmin.   Selain itu, kepemimpinan orang kafir dalam pasukan dan tentara bisa menjadi wasilah untuk menguasai kaum Muslim.  Hal ini tentu membahayakan eksistensi Daulah Islamiyyah dan kaum Muslim; sedangkan bahaya (dlarar) harus dilenyapkan.
Larangan menjadikan orang kafir menjadi panglima perang juga berkaitan dengan larangan bermuwalah dengan kaum kafir, yakni mengangkat mereka sebagai pemimpin atas kaum Muslim.  Allah swt berfirman;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”.[TQS Ali Imron (3):118]

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
”dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”.[TQS An Nisaa’ (4):141]
Namun, jika ada seorang kafir ikut serta dalam peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslim, dan ia berada di bawah bendera dan kepemimpinan kaum Muslim; maka ia diperbolehkan ikut serta dalam peperangan.  Pendapat semacam ini juga dipegang oleh madzhab Syafi’y [lihat Imam Syafi’iy, al-Umm, juz 4, hal. 166-167] dan Hanafiy (Hasyiyah Ibnu ’Abidin, juz 3, hal.363).  Namun, jika keikutsertaan pasukan kafir dalam peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslim tersebut independen (berdiri sendiri) dan tidak berada di bawah bendera dan kendali pasukan Islam; hukumnya haram.  Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Thabariy di dalam Kitab Tarikhnya, bahwasanya Qazman telah ikut serta berperang dengan shahabat Rasulullah saw pada saat perang Uhud.  Padahal, ia adalah orang musyrik.  Qazman berhasil membunuh tiga orang dari Bani ’Abd al-Daar yang bertugas membawa panji kaum Musyrik; hingga Nabi Mohammad saw bersabda, ”Sungguh, Allah swt akan memenangkan agama ini dengan seorang laki-laki fajir”.[HR. Imam Thabariy dalam Tarikh al-Thabariy]   Imam Ahmad juga menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya, Kabilah Khuza’ah telah keluar bersama Nabi saw pada saat hari Futuh Mekah untuk memerangi Quraisy.  Sedangkan kabilah Khuza’ah tetap berada dalam kemusyrikan, sampai-sampai Nabi Mohammad saw berkata kepada mereka,”Wahai kaum Khuza’ah, hentikanlah kedua tangan kalian dari pembunuhan, sesungguhny telah terjadi banyak pembunuhan.”[HR. Imam Ahmad]
Hadits-hadits shahih di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa orang kafir boleh ikut serta dalam peperangan kaum Muslim; dengan syarat, ia berada di bawah bendera dan kendali kaum Muslim, dan tidak berdiri sendiri (independen).
Akan tetapi, orang kafir tidak dipaksa untuk ikut serta jihad bersama pasukan kaum Muslim.  Sebab, jihad hanya dibebankan dan diwajibkan kepada kaum Muslim, bukan kepada orang kafir.   Untuk itu, orang kafir yang turut serta bersama kaum Muslim, tidak boleh mengambil ghanimah (rampasan perang), namun mereka berhak mendapatkan kompensasi.
Adapun dalil yang melarang kaum Muslim bersekutu dengan orang-orang kafir dalam peperangan, jika mereka berperang tidak di bawah kendali pasukan kaum Muslim, namun di bawah panji dan kontrol negara mereka sendiri adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam An Nasaaiy.    Imam Ahmad dan Nasa’i menuturkan sebuah riwayat dari Anas ra, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda,“Janganlah kalian mencari penerangan dengan api orang-orang musyrik.”    Api di dalam hadits ini merupakan kinayah (kiasan) dari keberadaan mereka yang independen atau terpisah dari kendali kaum Muslim.
Imam Baihaqi berkata, ”Ada sebuah hadits shahih yang dituturkan kepada kami oleh Hafidz Abu Abdullah Fassaq dengan sanad bersambung kepada Abu Hamid As-Sa’idi, bahwasanya ia berkata, ”Rasulullah saw tengah berjalan hingga meninggalkan kelokan bukit Wada’ di belakang beliau, tiba-tiba ada sebuah katibah (sekelompok pasukan). Beliau berkata, “Siapa mereka?” Para sahabat berkata, “ Bani Qainuqa’, yakni kelompok Abdullah bin Salam. Beliau berkata, “Apakah mereka telah masuk Islam?” Para sahabat menjawab, “ Belum. Mereka tetap pada agama mereka.” Beliau berkata, ”Katakan kepada mereka agar mereka kembali. Sebab, sesungguhnya kita tidak meminta bantuan orang-orang musyrik.”
Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir dilarang ikut serta, atau membantu pasukan kaum Muslim jika mereka dalam posisi independen, dan tidak berada di dalam kendali pasukan kaum Muslim.

6. Diperbolehkan berperang di bawah bendera seorang agen negara kafir selama peperangan tersebut melawan orang kafir
Hizbut Tahrir tidak pernah mengeluarkan pendapat seperti ini di dalam kitab-kitab mutabannatnya; sehingga tidak boleh dinyatakan bahwa ini adalah pendapat atau pemikiran yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir.

7. Seorang astronot Muslim digugurkan dari kewajiban sholat
Hizbut Tahrir tidak pernah mengadopsi pendapat-pendapat semacam ini di dalam kitab-kitab Mutabannatnya, sehingga tidaklah benar jika dikatakan bahwa Hizbut Tahrir memiliki pandangan dan pemikiran seperti ini.

8. Penduduk Kutub Utara dan Kutub Selatan digugurkan dari kewajiban sholat dan shaum

Hizbut Tahrir tidak pernah mengadopsi pendapat-pendapat semacam ini di dalam kitab-kitab Mutabannatnya, sehingga tidaklah benar jika dikatakan bahwa Hizbut Tahrir memiliki pandangan dan pemikiran seperti ini.  Sebagian syabab Hizbut Tahrir, semacam Mahmud Lathif al-’Uwaidlah telah menjelaskan bagaimana menentukan waktu sholat lima di daerah Kutub Utara dan Kutub Selatan. [Lihat Mahmud ’Abdul Lathif al-’Uwaidlah, al-Jaami’ li al-Ahkaam al-Shaalah, bab Mawaaqiit al-Shalaah fi al-Daairah al-Quthbiyyah (waktu-waktu sholat di wilayah kutub].  Hanya saja, pendapat ini tidak diadopsi oleh Hizbut Tahrir.

9. Seorang laki-laki perempuan yang menikah dengan salah seorang muhrimnya harus dipenjara selama 10 tahun
Pendapat semacam ini bukanlah pendapat Hizbut Tahrir, sehingga tidak benar dan dusta jika dinyatakan bahwa Hizbut Tahrir berpendapat semacam ini.  Hanya saja, pendapat ini dikemukakan oleh Dr. Abdurrahman al-Malikiy di dalam Kitab Nidzam al-’Uquubat fi al-Islaam.  Pasalnya fakta ”menikahi” mahram abadiy, berbeda dengan fakta ”berzina” dengan mahram abadiy.  Kasus zina dengan mahram abadiy termasuk dalam bab hudud, sehingga harus dikenai had zina.  Sedangkan kasus menikahi mahram abadiy, menurut Dr. Abdurrahman al-Malikiy tidak termasuk dalam hudud, tapi ta’zir.
Al-Mukarram ‘Abdurrahman al-Malikiy berpendapat bahwa orang yang menikahi mahramnya yang abadi tidak boleh dikenai had zina, sebab masih ada syubhat akad yang menghalalkan farji seseorang, meskipun akad nikah itu fasid. Pendapat ‘Abdurahman al-Maliki semacam ini senada dengan pendapat ulama Hanafiyyah. ‘Abdul Qadir al-Audah dalam kitabnya (al-Tasyrii’ al-Janaaiy al-Islaamiy, juz II, hal. 363), yang menyatakan“, Akan tetapi Abu Hanifah sendiri berpendapat, orang yang menikahi ibunya, anak perempuannya, bibi, (mahram abadi), kemudian menyetubuhinya, maka untuk kasus ini tidak dikenai had zina, meskipun mereka mengaku, bahwa mereka mengetahui hal itu adalah tindakan haram. Untuk kasus semacam ini cukup dikenai hukuman ta’zir.” Ia melanjutkan, “Imam Abu Hanifah tidak menjatuhkan had untuk kasus semacam ini karena ada syubhat.” Pendapat Abu Hanifah ini diadopsi oleh Dr. ‘Abdurrahman al-Malikiy dalam kitab Nidzam al-‘Uqubat. Oleh karena itu, apa yang dinyatakan oleh Dr. ‘Abdurrahman al-Malikiy dalam kitab Nidzam al-‘Uqubat itu bukanlah pendapat ang menyimpang. Bahkan, pendapat ini erupakan pendapat tangguh yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah.

10. Lalu lintas air, termasuk terusan Suez adalah lalu lintas umum.  Karena itu, Hizb tidak membenarkan adanya larangan kendaraan air manapun yang akan melewatinya
Pada dasarnya, Hizbut Tahrir mentabanniy pendapat yang menyatakan bahwa harta kepemilikan umum tidak boleh dikuasai, atau dialihkan kepemilikannya kepada individu-individu tertentu.  Harta kepemilikan umum dibagi menjadi tiga kategori; (1) sarana umum yang diperlukan oleh seluruh kaum Muslim dalam kehidupan sehari-hari; (2) harta-harta yang keadaan asalnya terlarang bagi individu tertentu untuk memilikinya; (3) barang tambang yang jumlahnya tak terbatas.
Laut, sungai, danau, selat, terusan milik umum (seperti terusan Suez), lapangan umum, masjid-masjid adalah milik umum kategori kedua, yakni tabiat asalnya melarang individu untuk menguasainya.  Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi saw, ”Mina adalah milik bagi siapa yang sampai lebih dahulu di sana”.[HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad]
Hadits ini menyatakan bahwa tanah Mina adalah milik seluruh kaum Muslim, dan tidak boleh seorang pun menguasai daerah itu, atau melarang seseorang menginap dan melintasi daerah itu.   Maksud bahwa ”Mina adalah milik bagi siapa yang sampai lebih dahulu di sana” adalah jika seseorang telah sampai terlebih dahulu di daerah Mina (untuk prosesi ibadah Haji) maka ia berhak menginap di tempat itu, dan tak seorang pun boleh mengusirnya.  Ini menunjukkan bahwa Mina adalah milik umum yang tabiatnya menghalangi seseorang untuk menguasainya.  Hukum seperti ini juga berlaku untuk sungai, laut, terusan, dan lain sebagainya.  Harta-harta semacam ini adalah harta milik umum, dikarenakan tabiatnya yang menghalangi seseorang untuk menguasainya.

11. Mengendai sarana angkutan (laut, udara, dan darat) milik perushaan asing diperbolehkan.  Sedangkan kalau sarana angkutan tersebut milik perusahaan (syarikah) seorang Muslim, maka haram mengendarainya.  Sebab, kata Hizb, tidak memenuhi syarat ta’aqud
Pada dasarnya, statement seperti ini tidak pernah dicantumkan dalam kitab-kitab Mutabannat, sehingga tidak mewakili pendapat dari Hizbut Tahrir.  Oleh karena itu, sangat salah kalau statement semacam ini dialamatkan kepada Hizbut Tahrir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: