KHILAFAH ISLAMIYYAH DAN KEGAGALAN NEGARA BANGSA

Sistem Dunia
Pada dasarnya,  keinginan untuk hidup berdampingan, saling membantu dan mendukung, merupakan gejala umum, bahkan telah menjadi semacam trend masa depan umat manusia.  Ini bisa dimengerti karena, umat manusia telah terkotak-kotak sekian lama oleh sebuah paham nasionalisme yang telah menjadikan mereka bersikap lebih mementingkan bangsanya sendiri, acuh tak acuh dengan problem bangsa lain, dan menyulitkan pergerakan barang dan jasa karena adanya proteksi.    Mereka lebih mementingkan persaudaraan sempit (nasionalisme) di atas persaudaraan universal.
Keinginan untuk hidup bersatu dalam kekuasaan global semakin menguat, ketika model negara bangsa terbukti telah gagal menyelesaikan masalah-masalah internal dan eksternalnya.  Kelaparan di Afrika, misalnya, tidak bisa lagi ditangani oleh bangsa Afrika sendiri.  Mereka membutuhkan uluran tangan dari bangsa lain.  Bangsa Palestina juga terus didera persoalan kemanusian, dan mereka tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.  Begitu juga persoalan-persoalan ekonomi di negara-negara berkembang dan miskin, tidak mungkin lagi diselesaikan secara mandiri oleh mereka sendiri.   Negara-negara dunia, pada dasarnya tidak bisa lagi menutup diri dari negara-negara lain; bahkan, negara maju sekalipun.  Negara-negara maju tergantung dan membutuhkan negara berkembang; negara berkembang juga bergantung dan membutuhkan negara maju.   Berbagai krisis besar yang mengguncang beberapa negara bangsa, biasanya lahir atau bermula dari sebuah krisis yang melanda sebuah negara bangsa.   Tahun 1997, misalnya, ketika mata uang Thailand terpukul, serentak negara-negara di Asia Tenggara terkena krisis ekonomi yang demikian parah.
Semua ini menunjukkan bahwa nation state (negara bangsa) sebagai sebuah model kehidupan masyarakat dan bernegara, nyata-nyata telah gagal mengantarkan manusia menuju kesejahteraan dan kemakmuran.  Lalu, kita mau beralih menuju model apa?

Kegagalan dan Ketidakmampuan Negara Bangsa (Nation State)
Menurut Sardar, nasionalisme merupakan indikator destruktif bagi peradaban masa depan.  Paham ini telah berimplikasi buruk bagi umat manusia; pertama; meningkatnya jumlah negara yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengesampingkan bahkan cenderung mengorbankan kepentingan pihak lain; kedua; munculnya rasialisme yang bersifat massal; ketiga, nasionalisme telah memecah belah umat manusia, bahkan menutup trend dunia global yang saling menopang dan mendukung.(Sardar, 1979). Data di lapangan menunjukkan; sejak PD II, 20 juta jiwa hilang karena konflik-konflik yang berdimensi nasionalistik.  29 konflik dari 30 konflik terjadi pada dimensi domestik.  Di Sovyet lebih dari 20 konflik terjadi dan menelan korban raturan ribu bahkan hingga mencapai jutaan.
Cost-cost ekonomi yang tidak perlu –biaya paspor dan visa, proteksi, dan lain sebagainya–; timpangnya distribusi, dan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia,  juga diyakini sebagai akibat diterapkannya model negara bangsa.   Arus barang-barang dan manusia tidak bisa masuk dengan mudah disebuah negara akibat pemberlakuan tarif-tarif proteksi.  Seandainya tarif  proteksi ini dihilangkan, tentunya arus barang dan manusia akan lebih lancar dan mudah.  Terbentuknya MEE merupakan contoh nyata. Sejak beberapa negara Eropa memutuskan untuk membentuk MEE, pertumbuhan ekonomi di negara tersebut maju dengan sangat pesat.   Padahal, MEE belum berujud unifikasi total dari negara-negara Eropa.

Negara bangsa (nation-states), meminjam istilahnya E.F Schumacher terbukti  terlalu besar untuk masalah-masalah lokal yang lebih kecil, dan terlalu kecil untuk masalah-masalah global yang besar.(E.F. Schumacher, 2002).   Pada tahun 1997, bagaimana jatuhnya mata uang baht Thailand telah menyeret hampir seluruh negara Asia ke dalam krisis moneter yang berlarut-larut.  Kita juga melihat bagaimana krisis Mexico dan Argentina telah mengancam stabilitas perekonomian negara-negara lainnya.
Selain rentan terhadap krisis, negara bangsa juga dipercaya menjadi penyebab dasar munculnya beberapa problem kemanusiaan; diantaranya;
1.    Meningkatnya jumlah negara yang hanya mementingkan kemajuan dan kepentingan dirinya sendiri dengan mengesampingkan bahkan cenderung mengorbankan kepentingan pihak lain.
2.    Lahirnya rasialisme, teritorialisme, dan ultranasionalisme yang telah mengeleminasi nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.  Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa nasionalisme ditunjang oleh berbagai faktor, seperti teritorial, bahasa, budaya dan keunggulan ras.  Atas dasar itu, nasionalisme pasti berdampak pada rasialisme-teritorialisme, teritorialisme, bahasaisme, dan cara pandang lain yang “tidak manusiawi”.
3.    Nasionalisme telah memecah belah kesatuan umat Islam dalam ikatan-ikatan yang bermutu rendah.  Lebih dari itu, nasionalisme telah menempatkan manusia ke dalam sekat-sekat maya yang menjadikan mereka terasing dan diasingkan dari  nilai-nilai kebersamaan dan kemanusiaan.  Contohnya, betapa umat Islam di negeri-negeri Islam tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong saudara-saudaranya di Palestina yang ditindas oleh Israel. Padahal, mereka bersaudara dan diikat dengan ideologi yang sama.  Sayangnya, mereka tidak mampu mengulurkan tangannya untuk membantu saudara-saudaranya; dikarenakan dinding maya yang memisahkan mereka.  Dinding maya itu bernama nasionalisme.
4.    Nasionalisme sendiri berasal dari gagasan orang Kristen dan Yahudi Arab untuk memecah belah dunia Islam, agar kaum Muslim bertikai satu dengan yang lain. [Sardar, 1979]   Selain didesain untuk memecah belah persatuan dan kesatuan kaum Muslim, negara bangsa (nation-states) juga ditujukan untuk mempermudah proses imperialisasi barat di dunia Islam.
Tidaklah mengherankan jika nasionalisme melahirkan konflik, permusuhan, dan persaingan tidak sehat.  Lebih dari itu, nasionalisme juga memberikan kontribusi besar atas lahirnya kondisi ‘psikologis’ yang acuh dan tak acuh terhadap persoalan-persoalan negara-negara lain.  Dengan alasan mempertahankan kedaulatan dan kepentingan bangsanya sendiri,  nasionalisme telah mencerabut sifat-sifat kemanusian –memperhatikan nasib orang lain-, bahkan telah menanamkan benih saling menerkam dan menikam.
Nasionalisme terbukti gagal dan sudah tidak relevan lagi untuk membangun peradaban masa depan.  Sebagaimana dikutip dari Kalim Shiddiqui, paham nasionalisme dinyatakan sebagai paham yang menuntut adanya kesetiaan kepada bangsanya melebihi segalanya. Menurut Sardar, nasionalis merupakan indikator destruktif bagi peradaban masa depan.  Paham ini telah berimplikasi buruk bagi umat manusia; (1) meningkatnya jumlah negara yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengesampingkan bahkan cenderung mengorbankan kepentingan pihak lain, (2) munculnya rasialisme yang bersifat massal, (3) nasionalisme telah memecah belah umat manusia, bahkan menutup trend dunia global yang saling menopang dan mendukung.  Data di lapangan menunjukkan; sejak PD II, 20 juta jiwa hilang karena konflik-konflik yang berdimensi nasionalistik.  29 konflik dari 30 konflik terjadi pada dimensi domestik.  Di Sovyet lebih dari 20 konflik terjadi dan menelan korban raturan ribu bahkan hingga mencapai jutaan.
Cost-cost ekonomi yang tidak perlu, timpangnya distribusi, dan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia,  merupakan konsekuensi logis dari paham nasionalisme.  Arus barang-barang dan manusia tidak bisa masuk dengan mudah disebuah negara akibat pemberlakuan tarif cukai yang melangit.  Anda bisa membayangkan, seandainya cukai tidak ada tentu arus barang dan orang akan lebih lancar.  Selain itu, dengan dicairkannya sekat-sekat nasionalistik cost-cost yang tidak perlu itu bisa dipangkas bahkan dieleminasi.  Harga barang dan jasa tentu akan lebih murah.
Terbentuknya MEE merupakan contoh nyata, bahwa dengan diruntuhkannya arogansi nasionalistik, telah memacu pertumbuhan ekonomi yang sangat luar biasa. Selain itu, kecenderungan global juga menunjukkan, bahwa nasionalisme sudah tidak relevan lagi bagi peradaban mendatang.  Saat ini, diperlukan suatu sistem dunia yang saling menopang dan mendukung.
Kenyataan di atas menyadarkan kita, bahwa nasionalisme tidak layak menjadi model kenegaraan masa depan yang mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat global.   Nasionalisme juga tidak mungkin mampu menciptakan tatanan masyarakat global yang altruistik dan dipenuhi dengan semangat kebersamaan dan saling menolong.  Ini semakin menyakinkan kita, bahwa model kenegaraan masa depan adalah model kenegaraan yang terbebas dari sekat-sekat suku, negara, dan bangsa.

Asal-usul Nasionalisme di Negeri-Negeri  Islam
Kelahiran nasionalisme dan negara-negara bangsa tidak bisa dilepaskan dari sejarah perang ideologis antara Islam dengan Yahudi dan Kristen.
Sebelum keruntuhan kekuasaan Islam pada tahun 1924, Islam tampil sebagai peradaban yang paling tinggi dan unggul; dan Islam menjadi negara super power yang mampu memimpin hampir di 2/3 wilayah dunia.  Keadaan ini tentunya sangat menyulitkan rival-rival ideologis Islam, yakni Yahudi dan Nashrani.   Lalu, dirancanglah upaya-upaya untuk melemahkan kekuatan Islam dengan cara menggerogoti persatuan dan kesatuan kaum Muslim, diantaranya adalah menghembuskan paham nasionalisme di negeri-negeri Islam.  Paham ini sengaja dihembuskan agar kaum Muslim saling bermusuhan dan memisahkan diri dari kekuasaan Islam di Turki Ustmaniy.  Akhirnya, perlahan-lahan  namun pasti, negeri-negeri Islam mulai melepaskan  diri  dari kekuasaan Islam tanpa tahu untuk apa mereka melepaskan diri.
Ini menunjukkan, bahwa paham nasionalisme sengaja dirancang untuk menghancurkan kesatuan dan persatuan kaum Muslim, dan melemahkan kekuasaan Islam.
Agar paham nasionalisme semakin berkembang, barat menyekolahkan dan memberikan bea siswa kepada mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari negeri-negeri Islam di pendidikan-pendidikan barat.   Di sana, mahasiswa-mahasiswa ini dipengaruhi dengan paham ini, dan didorong untuk menyebarluaskannya ke negera asalnya.   Cara semacam ini sangat efektif  untuk menyebarluaskan nasionalisme  ke   negara-negara ketiga.
Jika, nasionalisme yang lahir di negeri-negeri kaum Muslim sengaja ditujukan untuk menghancurkan kesatuan dan persatuan kaum Muslim, dan melemahkan kekuasaan Islam, maka sudah semestinya kaum Muslim menolak ide ini.   Jika nasionalisme ditolak, lalu, kaum Muslim akan mengadopsi model negara apa?  Jawabnya, kaum Muslim wajib mengadopsi model kenegaraan yang telah diajarkan oleh Nabi Mohammad saw dan para shahabatnya, yakni model kenegaraan universal yang terbingkai dalam system pemerintahan Khilafah al-Islaamiyyah.   Model ini, selain telah terbukti memakmurkan masyarakat dunia saat itu, juga mengantarkan manusia menuju persaudaraan universal yang tidak lagi disekat-sekat oleh batas-batas kebangsaan maupun kesukuan.  Semua manusia dari berbagai ras, wilayah, kebudayaan bisa menyatu dan melebur dalam sebuah keluarga besar, di bawah naungan Khilafah al-Islaamiyyah.  Lalu lintas barang dan jasa tidak lagi tersendat.  Semua orang dan barang bebas bergerak di dalam Khilafah Islamiyyah, tanpa ada proteksi sedikitpun.  Akibatnya, perekonomian bergerak dengan sangat dinamis, dan persaudaraan hakiki sebagai manusia benar-benar bisa diwujudkan.
Akhirnya, semua ini menyadarkan kita bahwa, Khilafah Islamiyyah benar-benar mampu menjawab kebutuhan umat manusia yang ingin hidup sejahtera, dan saling berdampingan satu dengan yang lain tanpa harus tersekat oleh ras, suku, dan lokalitas. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: