‘AQIDAH ISLAMIYYAH

‘Aqidah Menurut Pengertian Bahasa (Literal)

Secara literal, ‘aqidah berasal dari kata ‘aqada yang bermakna al-habl, al-bai’, al-‘ahd (tali, jual beli, dan perjanjian).[1]

Kata al-‘aqiidah, al-‘ilm, al-yaqiin, dan al-iiman bermakna sama. Kata al-yaqiin bermakna al-‘ilmu.[2] Menurut istilah, yaqiin memiliki arti, “menyakini sesuatu dengan keyakinan bahwa sesuatu yang diyakininya itu tidak mungkin berbeda dengan keyakinannya. Sebab, keyakinannya sesuai dengan kenyataan yang tidak mungkin berbeda….”[3]

Dr. Mohammad Husain ‘Abdullah mengatakan, “al-‘aqiidah berasal dari kata ‘aqada. Wa ‘aqada al-habl wa al-bai’, al-‘ihdah, wa al-‘ahd, ya’qiduhu syaddahu” (mengikat tali, transaksi jual beli, perjanjian, yakni, mengikatnya, atau menjalinnya dengan kuat). ‘Aqidah secara bahasa juga bermakna semua hal yang mengikat hati dan hati menjadi tenang terhadapnya”.[4]

Dalam Tafsir Mafaatih al-Ghaib, karya Imam Fakhruddin al-Raziy dinyatakan, “…Pengarang Tafsir al-Kasysyaaf menuturkan, “Kata iman berasal dari wazan if’aal dari kata al-amnu (aman); lalu dinyatakan: aamanahu idzaa shadaqahu, wa haqiiqatuhu aamanahu min al-takdziib wa al-mukhaalifah (ia mengimani suatu perkara jika ia membenarkannya; dan hakekatnya adalah melindunginya (mengamankannya) dari kedustaan dan pelanggaran”.[5]

Di dalam Kitab al-Wajiz fiy ‘Aqiidah al-Salaf al-Shaalih (Ahlu al-Sunnah), dinyatakan; secara bahasa, ‘aqidah berasal dari kata al-‘aqd (akad), yang bermakna al-rabth (tali), al-ibraam (penetapan), al-ihkaam (penguatan), al-tautsiq (kepercayaan), al-syadd bi quwwah (ikatan yang kuat), al-tamaasuk (berpegang teguh), al-muraashah (pengikatan), al-itsbaat (penetapan), al-yaqiin (yakin), wa al-jazm (kepastian)[6].

Imam Ibnu Mandzur menyatakan, “Tokoh ahli bahasa Azujaj, mendefinisikan iman dengan, “Sikap ketundukan, kepatuhan, dan kesediaan untuk menerima syari’at Islâm.” Sikap ini harus terefleksi pula dalam menerima apa-apa yang disampaikan Rasulullah saw (sunnah). Sunnah harus diyakini dan dibenarkan di dalam hati. Siapa saja yang bersikap seperti itu, dan menyakini bahwa melaksanakan suatu kewajiban itu merupakan keharusan tanpa ragu-ragu lagi, maka hakekatnya ia adalah seorang mukmin dan Muslim yang keimanannya tidak ragu-ragu lagi. Allah swt berfirman, “….dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar…”[7]

Imam al-Jurjani di dalam kitab al-Ta’rifaat menyatakan, “Secara literal, iman adalah tashdiiq al-qalb (pembenaran dalam hati). Sedangkan menurut syariat, iman adalah al-i’tiqaad bi al-qalb wa al-iqraar bi al-lisaan (keyakinan dalam hati dan diucapkan dengan lisan)”.[8]

Makna iman adalah tashdiq (pembenaran). Dalam kitab al-Tahdzib, disebutkan bahwa iman berasal dari kata amana – yu’minu- îmânan, yang artinya membenarkan. Ahli bahasa sepakat bahwa iman bermakna tashdiq (pembenaran).

Di dalam Kitab al-Ta’riifaat disebutkan, “al-‘ilmu adalah I’tiqaad al-jaazim al-muthaabiq li al-waaqi’ (ilmu (keyakinan) adalah keyakinan pasti yang sejalan dengan realitas)”…Ada pula yang mendefinisikan ilmu dengan memahami hakekat yang terkandung di dalam sesuatu”. Ada pula yang mengartikannya dengan hilangnya kesamaran dari sesuatu yang hendak diketahui; dan lawannya adalah al-jahlu (kebodohan)”.[9]

Lawan dari yaqin (atau ‘ilmu dan iiman) adalah dzan.[10] Menurut bahasa, dzan bermakna tahammuh (prasangka/dugaan).[11] Al-Jurjaniy, dalam Kitab al-Ta’riifaat, menyatakan, “al-Dzann adalah i’tiqaad al-raajih ma’a ihtimaal al-naqiidl (keyakinan kuat yang disertai dengan kemungkinan adanya kontradiksi”. Kata “al-dzann” juga digunakan dengan makna “al-yaqiin (yakin) dan al-syakk (ragu)”. Ada pula yang menyatakan, dzann adalah dua sisi yang sama-sama rajih, tapi salah satu sisinya meragukan”.[12]

Imam Zamakhsyariy berkata, “Bi’r dzannuun: la yutsaaq bi maa’iha.[Sumur yang meragukan adalah sumur yang airnya tidak bisa dipercaya]; rajul dzannuun: la yutsaaq bi khabarihi [laki-laki yang meragukan adalah laki-laki yang beritanya tidak bisa dipercaya].”[13]

Di dalam Kamus al-Muhiith disebutkan, “Al-dzann : al-taraddud al-raajih bain tharaf al-i’tiqaad al-ghair al-jaazim (Dzann adalah prasangka kuat di antara sisi keyakinan yang tidak pasti”.[14]

Di dalam Kamus Taaj al-‘Uruus min Jawaahir al-Qamuus disebutkan, ” Dituturkan dari ‘Ali al-Syaraf al-Dimyaathiy, bahwasanya dzann adalah al-taraddud al-raajih bain tharaf al-i’tiqaad al-ghair al-jaazim (Dzann adalah sebuah prasangka kuat di antara sisi keyakinan yang tidak pasti. Al-Manawiy menyatakan; dzann adalah al-i’tiqaad al-raajih ma’a ihtimaal al-naqiidl (dzann adalah keyakinan kuat yang disertai kemungkinan adanya kontradiksi) “.[15]

Di dalam Tafsir Qurthubiy disebutkan, “Dituturkan dari Imam al-Anbariy dari Yahya bin Ahmad al-Nahwiy, bahwasanya orang-orang Arab menggunakan kata dzann dengan pengertian al-‘ilm (keyakinan), al-syakk (keraguan), dan al-kadzb (kedustaan). Jika bukti-bukti yang menyakinkan lebih banyak daripada bukti-bukti yang meragukan, maka dalam konteks semacam ini, al-dzann bermakna ilmu (yakin). Namun, jika bukti-bukti yang menyakinkan setara dengan bukti-bukti yang meragukan, maka dzann di sini bermakna al-syakk. Dan jika bukti yang meragukan lebih kuat dibandingkan bukti yang menyakinkan, maka dzann semacam ini bermakna al-kadzb (kedustaan).”[16]

Di dalam kitab al-Ta’riifaat, al-Jurjaniy menyatakan, “al-Syakk (keraguan) adalah dua makna kontradiktif yang salah satu maknanya tidak bisa dikuatkan. Ada pula yang menyatakan; al-syakk adalah dua sisi yang kontradiktif sama-sama kuatnya. Dengan kata lain, al-syakk adalah abstain terhadap dua perkara yang hati tidak bisa condong ke salah satunya. Jika ada salah satu makna (dari dua makna kontradiktif itu) ada yang lebih kuat, maka ini disebut dengan dzann”.[17]

Al-Shaahib ibn al-‘Ibaad di dalam al-Muhiith fi al-Lughah menyatakan, “al-Dzann bisa bermakna al-syakk dan yaqiin. Firman Allah swt, “Wa dzannuu an laa malja`a min al-Allah illa ilaihi”, maka dzann di sini bermakna yaqiin wa al-‘ilm“.[18]

Adapun penggunaan kata “dzann” beserta maknanya dapat dilihat pada bab selanjutnya.

‘Aqidah Dalam Tinjauan Istilah

Menurut istilah, kata i’tiqad (keyakinan) bermakna, tashdiiq al-jaazim al-muthaabiq li al-waaqi’ ‘an al-daliil (pembenaran pasti yang sesuai dengan kenyataan dan ditunjang dengan bukti).[19] Ini adalah pendapat Prof Mahmud Syaltut.

Imam al-Baghawiy, di dalam Tafsir al-Baghawiy menyatakan, “Hakekat iman adalah tashdiiq bi al-qalbi (pembenaran di dalam hati). Allah swt berfirman, “Dan sesungguhnya engkau tidak akan percaya kepada kami”.[Yusuf:17], maksudnya adalah mushaddiq lanaa (mempercayai kami). Sedangkan menurut syariat, iman adalah i’tiqaad di dalam hati, diakui dengan lisan, dan amalkan dengan rukun-rukun tertentu. Pengakuan dan amal disebut dengan iman, karena keduanya merupakan bagian dari syariat-syariat yang berhubungan erat dengan iman“.[20]

Imam al-Nasafiy, berpendapat, Îman adalah pembenaran hati sampai pada tingkat kepastian dan ketundukan.”[21]

Imam Ibnu Katsir menjelaskan,”Îman yang telah ditentukan oleh syara’ dan diserukan kepada kaum Muslimîn adalah berupa i’tiqâd (keyakinan), ucapan, dan perbuatan. Inilah pendapat sebagian besar Imam-imam madzhab. Bahkan, Imam Syafi’iy, Ahmad bin Hanbal,dan Abu Ubaidah menyatakan, pengertian ini sudah menjadi suatu ijma’ (kesepakatan)”.[22]

Imam Nawawi menyatakan, “Ahli Sunnah dari kalangan ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam, telah sepakat bahwa seseorang dikategorikan Muslim apabila orang tersebut tergolong sebagai ahli kiblat (melakukan sholat). Ia tidak kekal di dalam neraka. Ini tidak akan didapati kecuali setelah orang itu mengimani dienul Islâm di dalamnya hatinya, secara pasti tanpa keraguan sedikitpun, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat.”[23]

Imam al-Ghazali menyatakan,”Îman adalah pembenaran pasti yang tidak ada keraguan maupun perasaan bersalah yang dirasakan oleh pemeluknya.[24]

Di dalam Kitab al-Wajiz fii ‘Aqiidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaa’ah dinyatakan, “Secara istilah, aqidah adalah perkara-perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan menentramkan jiwa, sehingga perkara-perkara tersebut menjadi sebuah keyakinan yang tidak disusupi oleh keraguan dan bercampur dengan persangkaan (al-syakk). Dengan kata lain, ‘aqidah adalah keimanan pasti (al-iiman al-jaazim) yang tidak dihinggapi keraguan pada diri orang yang menyakininya; dan ia harus sesuai dengan kenyataan, tidak mengandung keraguan dan persangkaan. Dan jika sebuah keyakinan tidak mencapai taraf al-iiman al-jaazim (iman yang pasti), maka perkara itu tidak dinamakan dengan aqidah. Disebut ‘aqidah karena, manusia akan mengikatkan hatinya kepada perkara tersebut (aqidah)”[25].

Prof Mahmud Syaltut menyatakan, “Aqidah adalah sudut pandang yang harus diimani pertama kali, sebelum mengimani yang lain, dengan keimanan yang tidak disusupi keraguan, dan tidak dipengaruhi oleh kesamaran. Secara tabi’iy, ‘aqidah ditetapkan berdasarkan nash-nash yang jelas (qath’iy) yang jumlahnya sangat banyak (mutawatir)..”.[26]

Dr. Mohammad Husain ‘Abdullah menyatakan, “‘Menurut istilah, ‘aqiidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta kehidupan sebelum dunia dan sesudahnya, dan keterkaitannya (alam semesta, kehidupan, dan manusia ) dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya. Pemikiran menyeluruh inilah yang akan mengurai simpul besar (masalah besar) yang lahir dari pertanyaan manusia mengenai; siapa yang menciptakan seluruh eksistensi ini dari ketiadaannya; dan untuk apa hidup di dunia, dan ke mana tempat kembali manusia?”.[27]

Imam Fakhruddin al-Raziy berkata, “Para ahli kiblat berbeda pendapat dalam mendefinisikan iman menurut konteks syariat. Mereka terbagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama berpendapat; iman adalah sebutan untuk perbuatan-perbuatan hati dan anggota badan, serta pengakuan dengan lisan. Pendapat ini dipegang oleh Mu’tazilah, Khawarij, Ziyadiyyah, dan Ahli Hadits. Sedangkan kaum Khawarij sepakat bahwa iman kepada Allah mencakup juga makrifat kepada Allah dan makrifat pada semua perkara yang telah ditetapkan Allah dengan dalil aqliy maupun naqliy dari al-Quran dan Sunnah. Iman kepada Allah mencakup juga taat kepada Allah dalam semua perkara yang diperintahkan Allah dan meninggalkan semua dosa, baik kecil maupun besar. Selanjutnya, kumpulan dari seluruh perkara di atas adalah iman, dan meninggalkan salah satu bagian dari bagian-bagian tersebut adalah kekufuran. Sedangkan Mu’tazilah bersepakat bahwa kata iman menjadi “muta’addiy”[28] dengan adanya huruf “ba'”; dan maknanya adalah tashdiiq. Oleh karena itu dinyatakan: fulaan aamana billahi wa birasuulihi; dan maksudnya adalah al-tashdiiq (pembenaran). Sebab, iman tidak mungkin bermakna “melaksanakan kewajiban-kewajiban” jika sudah dalam bentuk muta’addiy. Atas dasar itu, tidak mungkin dinyatakan si fulan telah beriman bila ia telah sholat dan puasa; akan tetapi mesti dinyatakan si fulan telah beriman kepada Allah, sebagaimana dinyatakan si fulan puasa dan sholat karena Allah. Kata iman yang menjadi muta’ddiy dengan adanya huruf “ba'” merupakan konsensus para ahli bahasa. Adapun, jika kata iman disebut secara mutlak tanpa dita’addikan, maka para ahli bahasa sepakat bahwa kata tersebut telah dipindahkan dari makna literalnya, yakni al-tashdiiq (pembenaran), ke makna yang lain. Kemudian, mereka berselisih pendapat dari beberapa sisi: pertama, ada yang berpendapat bahwa iman adalah ungkapan dari “melaksanakan seluruh ketaatan, baik yang berhukum wajib maupun mandub, atau hanya berkaitan dengan perkataan-perkataan, atau perbuatan-perbuatan, atau keyakinan-keyakinan (i’tiqadaat). Ini adalah pendapat dari Washil bin ‘Atha’, Abu al-Hudzail, dan Qadliy ‘Abdul Jabar bin Ahmad. Kedua, iman merupakan ungkapan dari perbuatan-perbuatan wajib saja, tidak untuk perbuatan sunnah. Ini adalah pendapat Abu ‘Ali dan Abiy Hisyam. Ketiga; iman adalah ungkapan dari “penjauhan diri dari semua perkara yang di dalamnya terdapat ancaman (siksa). Menurut Allah, mukmin adalah siapa saja yang menjauhi semua dosa besar, dan mukmin menurut kita adalah setiap orang yang menjauhi perkara-perkara yang di dalamnya terdapat ancaman (siksa). Ini adalah pendapat al-Nadzam. Sebagian pengikut al-Nadzam berpendapat, syarat mukmin menurut kita dan Allah adalah menjauhi semua dosa besar. Adapun ahli hadits; mereka mengetengahkan dua pendapat. Pertama: sesungguhnya makrifat adalah keimanan yang sempurna, dan ia adalah perkara yang mendasar (pokok). Setelah itu, setiap ketaatan adalah keimanan pada batas tertentu. Ketaatan-ketaatan ini tidak bisa menjadi keimanan kecuali jika disandarkan kepada pokoknya, yakni makrifat. Mereka berkeyakinan, bahwa penolakan dan pengingkaran hati adalah kekufuran. Setelah itu, setiap kemaksiyatan yang dilakukan setelahnya adalah kekufuran pada batas-batas tertentu. Mereka tidak menjadikan setiap ketaatan sebagai sebuah keimanan selama tidak ada makrifat dan pengakuan, dan mereka tidak menjadikan setiap kemaksiyatan sebagai kekufuran, selama tidak ada penolakan dan pengingkaran. Sebab, perkara yang cabang tidak akan berarti tanpa keberadaan asalnya. Ini adalah pendapat ‘Abdullah bin Sa’iid bin Kalaab. Kedua; mereka berkeyakinan bahwa iman adalah sebutan untuk ketaatan secara menyeluruh, dan ia adalah keimanan yang satu. Mereka menjadikan seluruh perkara fardlu dan nawaafil bagian dari keseluruhan iman. Siapa saja meninggalkan satu perkara fardlu maka tanggallah imannya, sedangkan orang yang meninggalkan nawaafil, tidak tanggal imannya. Sebagian dari mereka berpendapat; iman adalah sebutan untuk kewajiban saja, bukan untuk nawaafil. Kelompok kedua;mereka yang berpendapat; iman itu di dalam hati dan lisan secara bersamaan. Hanya saja, mereka terbagi lagi menjadi beberapa pendapat. Pertama; iman adalah pengakuan lisan dan makrifat dengan hati. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan mayoritas ahli fikih. Lalu, mereka berbeda pendapat dalam dua topik; pertama; mereka berselisih pendapat mengenai “apa hakekat dari makrifat itu”. Sebagian dari mereka mengartikan makrifat dengan “i’tiqaad al-jaazim” (keyakinan pasti), sama saja apakah keyakinan itu diperoleh dengan jalan taqlid (i’tiqaad taqliidiyyan) maupun dari ilmu (keyakinan) yang bersumber dari dalil. Dan mayoritas di antara mereka menghukumi muqallid (dalam hal iman) sebagai seorang Muslim. Sebagian lagi mengartikan makrifat dengan ilmu (keyakinan) yang lahir dari istidlaal (penalaran terhadap dalil). Kedua, mereka berbeda pendapat dalam hal, “ilmu (keyakinan) yang dianggap bisa mewujudkan iman itu ilmu (keyakinan) terhadap apa? Sebagian ahli kalam berpendapat; itu adalah ilmu (keyakinan) terhadap Allah dan SifatNya secara sempurna dan lengkap. Lalu, perbedaan pendapat dalam hal Sifat Allah swt telah mengantarkan mereka saling mengkafirkan satu dengan yang lain. Ahlu al-Inshaaf berpendapat; ilmu (keyakinan) yang diakui di sini adalah ilmu (keyakinan) terhadap setiap perkara yang telah diketahui secara dlaruriy termasuk bagian dari agama Mohammad saw. Berdasarkan pendapat ini, maka keyakinan terhadap keberadaan Allah apakah Ia mempunyai Sifat Mengetahui karena Dzatnya sendiri, atau karena adanya Sifat Tambahan, dan lain sebagainya, bukanlah termasuk bagian dari iman. Pendapat kedua: sesungguhnya, iman adalah tashdiiq bi al-qalb wa al-lisaan ma’an (keimanan adalah pembenaran dengan hati dan lisan secara bersamaan). Ini adalah pendapat Basyar bin Ghiyaats al-Muriisiy, Abu Hasan al-‘Asy’ariy. Yang dimaksud dengan tashdiiq bi al-qalb adalah perkataan yang berdiri sendiri. Pendapat ketiga; pendapat dari sebagian ahlu sufi: iman adalah pengakuan dengan lisan dan keikhlasan dalam hati. Kelompok ketiga; orang yang berpendapat bahwa iman adalah ungkapan dari perbuatan hati saja. Mereka terbagi lagi menjadi dua pendapat; pertama; iman adalah ungkapan dari makrifat kepada Allah dengan hati; sehingga, siapa saja yang telah makrifat kepada Allah dengan hatinya, kemudian ia mengingkari dengan lisannya dan mati sebelum sempat ia mendekatkan diri dengan Allah, maka orang itu adalah Mukmin sejati. Ini adalah pendapat Jahm bin Shofwaan. Adapun makrifat terhadap Kitab-kitab Suci, Rasul-rasul, hari akhir, mereka berkeyakinan bahwa masalah ini bukan termasuk dalam batas-batas iman. Al-Ka’biy menuturkan dari Jahm, bahwasanya iman adalah makrifat kepada Allah dan makrifat terhadap semua perkara yang secara dlaruriy termasuk bagian dari agama Nabi Mohammad saw. Kedua: iman adalah pembenaran dengan hati saja (mujarrad tashdiq al-qalb). Ini adalah pendapat Al-Husain bin al-Fadlal al-Bajaliy. Kelompok keempat; mereka yang berpendapat bahwa iman adalah pengakuan dengan lisan saja. Kelompok ini terbagi lagi menjadi dua. Pertama; yang berpendapat pengakuan dengan lisan adalah iman sajal akan tetapi pengakuan tersebut baru disebut iman jika telah ada makrifat di dalam hati. Oleh karena itu, makrifat di dalam hati merupakan syarat agar pengakuan dengan lisan tersebut dianggap sebagai keimanan, namun makrifat itu sendiri tidak termasuk dalam sebutan iman. Ini adalah pendapat Ghilan bin Muslim al-Dimasyqiy dan Fadlal al-Riqaasyiy. Akan tetapi, al-Ka’biy menyanggah pendapat Ghilan ini. Kedua; iman adalah hanyalah pengakuan dengan lisan saja. Ini adalah pendapat al-Karaamiyyah. Mereka berkeyakinan bahwa orang munafiq itu Mukmin secara dzahir, namun kafir secara bathin. Lalu, mereka dihukumi mukmin di dunia, namun kafir di akherat. Inilah pendapat-pendapat ulama seputar definisi iman menurut konteks syariat”.[29]

Selanjutnya, setelah menjelaskan panjang lebar seputar masalah iman, Imam Fakhruddin al-Raaziy mengetengahkan pendiriannya sebagai berikut, “..Jika anda telah memahami penjelasan pendahuluan ini, maka kami berpendapat bahwa, iman adalah ungkapan dari pembenaran terhadap semua perkara yang telah diketahui secara dlaruriy (pasti) bahwa keberadaannya termasuk bagian dari agama (tashdiiq bi kulli ma ‘urifa bi al-dlaruurah kaunuhu min diin); dengan batasan sebagai berikut. Batasan pertama; iman adalah ungkapan dari tashdiiq (pembenaran). Ini ditunjukkan oleh hal-hal berikut ini. (1) Sesungguhnya, menurut konteks bahasa (literal), makna asal dari iman adalah tashdiiq. Seandainya dalam konteks syariat maknanya berubah menjadi selain makna tashdiiq, berarti orang yang mengucapkannya sedang berbicara di luar konteks kalamnya (pengucapan) orang Arab. Hal ini tentunya akan menganulir eksistensi al-Quran sebagai kalamnya orang Arab. (2) Iman adalah lafadz yang sering diucapkan oleh kaum Muslim. Seandainya maknanya dipindahkan kepada makna lain di luar konteks aslinya (makna bahasa), niscaya makna (sebutan) itu akan diketahui secara luas, masyhur, dan bahkan mencapai derajat mutawatir. Namun, selama kenyataannya tidak seperti itu, maka kita memahami bahwa iman tetap harus dipahami dalam konteks makna asalnya (makna bahasa). (3) Kita sepakat bahwa kata iman yang menjadi muta’addiy dengan penambahan huruf “ba'”, maknanya harus dipahami sesuai dengan konteks asli bahasa (makna literal). Sehingga, jika kata iman tidak menjadi muta’addiy, maka ia harus dimakna seperti itu juga. (4) Sesungguhnya, ketika Allah swt menyebut kata iman di dalam al-Quran, Ia menyandarkannya dengan al-qalb (hati). Allah swt berfirman, ” yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman”.[al-Maidah:41]; “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar“.[TQS An Nahl (16):106]; “ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka“.[TQS Al Mujadilah (58):22]; “Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”.[TQS Al Hujurat (49): 14].

Allah swt setiap kali menyebut kata iman, Ia mengkaitkannya dengan amal sholeh. Seandainya amal sholeh termasuk bagian dari iman, hal ini pasti akan disebutkan berulang-ulang. (6) Allah swt kerapkali menyebut iman dan mengindikasikannya dengan kemaksiyatan. Allah swt berfirman;” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.[TQS Al An’aam (6):82]; “ Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.[TQS Al Hujurat (49):9]

Ibnu ‘Abbas berhujjah dengan surat al-Baqarah:178, “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh..”[TQS Al Baqarah (2):178], tiga pendapat. Pertama, sesungguhnya qishash itu hanya diwajibkan atas pembunuh yang melakukan pembunuhan dengan sengaja. Selanjutnya, Allah swt berfirman, “Ya ayyuhal ladziina aamanuu”; ini menunjukkan bahwa orang tersebut adalah Mukmin. Kedua, Allah swt berfirman, “Faman ‘ufiya lahu min akhiihi syai’un” (TQS Al Baqarah (2): 178); persaudaran di sini adalah persaudaraan iman”. Ini didasarkan pada firman Allah swt, “Innamaa al-mukminuun ikhwah” (sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara)”. (TQS Al Hujurat:10). Ketiga, firman Allah swt, “Dzaalika takhfiif min rabbikum wa rahmah” (ini adalah keringanan dan rahmat dari Tuhan kalian) (TQS Al Baqarah (2): 178); keringanan dan rahmat ini tentunya tidak akan diberikan kecuali bagi orang Mukmin. Pengertian senada juga ditunjukkan oleh firman Allah swt, “Walladziina aamanuu wa lam yuhaajiruu” (TQS Al-Anfaal (8):72). Ayat ini menunjukkan bahwa sebutan iman tetap diberikan kepada orang yang tidak berhijrah. Padahal, ada ancaman yang sangat besar atas perbuatan meninggalkan hijrah dalam firman Allah swt surat al-Nahl :28, dan al-Anfaal:72. Akan tetapi, Allah swt tetap menjadikan mereka sebagai orang-orang Mukmin. Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah swt, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang..”[TQS Al Mumtahanah (60):1]; “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.[TQS Al Anfaal (8):27]; “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu..”[TQS At Tahriim (66):8].

Perintah taubat yang ditujukan kepada orang yang tidak berdosa adalah sesuatu yang mustahil. Allah swt berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.[TQS An Nuur (24):31]

Batasan kedua; iman bukanlah ungkapan dari tashdiiq al-lisaan (pembenaran perkataan). Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah swt, “ Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”[TQS Al Baqarah (2):8]. Ayat ini menafikan keimanan mereka. Seandainya iman kepada Allah adalah ungkapan dari pembenaran lisan, tentunya penafian di dalam ayat tersebut tidak sah.

Batasan ketiga; iman bukanlah ungkapan dari kemutlakan tashdiiq (pembenaran terhadap sesuatu secara mutlak). Sebab, orang yang membenarkan al-Jibt dan al-Thaghut tidaklah disebut orang Mukmin.

Batasan keempat; tashdiq terhadap semua sifat Allah swt tidak termasuk persyaratan iman. Sebab, Rasulullah saw tetap mengakui keimanan orang yang tidak mengetahui apakah Allah Mengetahui karena DzatNya sendiri atau karena IlmuNya. Seandainya tashdiq terhadap semua sifat Allah termasuk syarat pentahqiqan iman, lalu mengapa Rasulullah saw mengakui keimanan orang tersebut, padahal beliau saw belum mengujinya apakah ia telah mengetahui semua sifat Allah atau belum? Ini adalah penjelasan mengenai pentahqiqan iman. Jika ada orang bertanya terhadap dua buah kasus; kasus pertama; ada orang yang telah mengetahui Allah sw dengan dalil dan bukti. Setelah pengetahuan itu sempurna, orang tersebut meninggal, namun ia tidak memiliki kesempatan untuk mengucapkan kalimat syahadat. Dalam kasus ini, jika orang tersebut anda hukumi Mukmin, maka anda pun mengakui bahwa pengakuan lisan (iqraar al-lisaan) bukanlah faktor penentu keimanan. Dan pendapat ini menyalahi konsensus (ijma’). Namun, jika anda menghukumi dirinya bukan Mukmin, maka inipun bathil; berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Akan keluar dari neraka, setiap orang yang di dalam hatinya ada keimanan walaupun seberat dzarrah.” Qalbu di dalam hadits ini telah berisi iman. Lantas, bagaimana mungkin ia tidak termasuk orang Mukmin? Kedua, ada orang yang mengetahui Allah swt berdasarkan dalil, dan ia masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan kalimat syahadat, namun ia tidak mengucapkannya. Jika anda menyatakan bahwa ia Mukmin, maka ini telah menyalahi konsensus. Jika anda katakan ia bukan Mukmin, maka perkataan itu bathil, berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Akan keluar dari neraka, setiap orang yang di dalam hatinya ada keimanan walaupun seberat dzarrah”. Padahal, iman itu tidak akan hilang dari hati, meskipun tidak diucapkan. Jawabnya: sesungguhnya Imam al-Ghazaliy menolak ijma’[30] dalam dua kasus ini. Dan ia menghukumi orang yang berada dalam dua keadaan itu sebagai orang Mukmin; sedangkan keengganan untuk mengucapkannya (melafadzkan syahadat) terkategori perbuatan maksiyat setelah hadirnya iman”.[31]

Inilah pendapat-pendapat para ulama mengenai aqidah. Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan aqidah serta cakupan-cakupan aqidah. Hanya saja, mereka semua sepakat bahwa, aqidah merupakan pembenaran yang bersifat pasti, sesuai dengan realitas, dan ditunjang oleh bukti. Pasalnya, sesuatu tidak dianggap sebagai aqidah atau keimanan, jika sesuatu itu tidak dibenarkan secara pasti. Aqidah juga harus sejalan dengan realitas. Untuk itu, suatu keyakinan yang tidak sejalan dengan realitas juga tidak bisa dianggap sebagai keimanan. Sebab, keyakinan yang tidak sejalan dengan realitas (penginderaan) adalah khayalan. ‘Aqidah atau keimanan juga harus ditunjang oleh bukti. Keimanan yang tidak ditunjang oleh bukti akan mengantarkan pemeluknya kepada taqlid-taqlid yang justru dilarang di dalam Islam. Keimanan harus didapatkan dengan jalan berfikir mandiri, bukan dengan cara taqlid. Dengan kata lain, untuk mencapai iman, seseorang mesti melakukan pengamatan, perenungan, dan penyimpulan secara mandiri.

Kesimpulan

1. Aqidah atau keimanan adalah pembenaran pasti (tashdiq al-jazim) yang sejalan dengan realitas, dan ditunjang oleh bukti. Untuk itu, aqidah harus ditetapkan berdasarkan dalil yang menyakinkan, baik dari sisi sumber maupun penunjukkannya (qath’iy al-tsubut wa qath’iy al-dilaalah). Perkara-perkara yang tidak ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang sumber dan penunjukkannya tidak pasti, maka perkara-perkara tersebut tidak boleh dimasukkan dalam perkara aqidah. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa, aqidah menuntut adanya keyakinan pasti tanpa disusupi kesamaran maupun keraguan. Atas dasar itu, perkara-perkara yang masih mengandung keraguan dan kesamaran tidak dianggap dalam perkara aqidah. Imam Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, “Ahlu al-Sunnah dari kalangan ahli hadits, fikih, dan ahli kalam telah sepakat bahwa seorang mukmin yang dihukumi sebagai ahli kiblat dan tidak akan kekal di dalam neraka tidak lain tidak bukan adalah seseorang yang menyakini diinul Islam di dalam hatinya dengan keyakinan yang pasti dan bebas dari keraguan, dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Jika salah satu syarat itu kurang, pada konteks awalnya dia tidak termasuk ahli kiblat. Kecuali, jika ia tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat karena cacat lisannya, atau ia tidak mungkin mengucapkannya karena keburu meninggal dunia, atau karena sebab-sebab lain, maka ia tetaplah seorang Mukmin”[32].

2. Masalah-masalah yang masih diperselisihkan oleh ulama-ulama kaum Muslim, dikarenakan dalil-dalilnya yang dzanniy atau maknanya masih mengandung kesamaran, tidak boleh dimasukkan dalam perkara aqidah. Sebab, perkara aqidah merupakan perkara pasti yang tidak boleh diperselisihkan maupun diperdebatkan oleh kaum Muslim. Seandainya, kaum Muslim boleh berbeda pendapat dalam masalah aqidah, sungguh, akan muncul banyak aqidah (keimanan) yang saling bertentangan di tengah-tengah kaum Muslim. Akibatnya, akan terjadi saling mengkafirkan dan menyesatkan sesama Muslim. Untuk itu, masalah-masalah yang masih didiskusikan dan diperselisihkan oleh kaum Muslim, tidak boleh dianggap sebagai perkara aqidah yang berimplikasi kepada keimanan dan kekufuran.

Para ‘ulama membedakan antara keyakinan dan amal sholeh. Pembedaan ini tidak ditujukan untuk memisahkan keduanya, akan tetapi untuk menunjukkan perbedaan karakter keduanya dan implikasi hukum yang diakibatkan oleh keduanya. Orang yang melanggar pokok-pokok aqidah yang pasti, dihukumi murtad alias kafir. Sedangkan kaum Mukmin yang melanggar hukum-hukum syariat, maka ia tidak boleh dianggap keluar dari Islam atau murtad. Orang yang meninggalkan sholat, namun tidak disertai keyakinan atau penolakan terhadap pensyariatan sholat lima waktu, tidak boleh dihukumi kafir. Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan mayoritas ulama. Namun, jika perbuatan itu disertai dengan keyakinan atau penolakan terhadap pensyariatan sholat, maka tidak ada keraguan lagi, orang tersebut telah keluar dari Islam, alias murtad. Yang dituntut oleh syariat adalah pengamalan. Sedangkan yang dituntut oleh aqidah atau keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti.


[1] Mohammad Ibnu Abiy Bakar al-Raaziy, Mukhtaar al-Shihaah, Daar al-Fikr, 1401 H/1971 M, hal. 444. Bila dikatakan i’taqada fulaan al-amr (seseorang telah beri’tiqad terhadap suatu perkara), maknanya adalah, shadaqahu, wa ‘aqada ‘alaihi qalbuhu, wa dlamiiruhu, (seseorang itu telah membenarkan perkara tersebut, hatinya telah menyakininya, dan ia bersandar kepada perkara tersebut). Lihat al-Mu’jam al-Wasith, jilid I, bab ‘aqada.

[2] Al-Raaziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 743

[3] Al-Jurjaniy, al-Ta’riifaat, hal. 113

[4] Dr. Mohammad Husain ‘Abdullah, Diraasaat fi al-Fikr al-Islaamiy, hal. 35

[5] Fakhruddin al-Raaziy, Mafaatih al-Ghaib, juz 1, hal. 290.

[6] ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid al-Atsariy, al-Wajiz fii ‘Aqiidah Salaf al-Shaalih (Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah), juz 1, hal. 11

[7] Al-Quran, Yusuf:17.

[8] Imam al-Jurjaniy, al-Ta’rifaat, juz 1, hal. 12

[9] Imam al-Jurjaniy, al-Ta’riifaat, juz 1, hal. 49

[10] Al-Raghib al-Isfahaaniy, Mufradaat al-Faadz al-Quran, hal.327

[11] Dalam kamus Mukhtaar al-Shihaah disebutkan; kata dzan kadang-kadang digunakan dengan makna al-‘ilmu (yaqiin) [lihat juga Imam al-Amidiy, al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, hal 218]. Fathi Mohammad Salim menyatakan; kata “dzann” adalah keyakinan kuat yang masih mengandung makna yang berlawanan. Al-Raaziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 406. Kata “dzan” kadang-kadang digunakan dengan makna yaqiin dan syakk (keraguan). [lihat Fathi Salim, al-Istidlaal bi al-Dzan fi al-‘Aqidah, ed. II, Daar al-Bayaariq, 1414 H/199 M , hal. 20].

[12] Al-Jurjaniy, al-Ta’rifaat, juz 1, hal. 46

[13] Asaas al-Balaaghah, hal. 303

[14] Al-Fairuz al-Abadiy, al-Qamus al-Muhiith, juz 3, hal. 345

[15] Al-Zaabidiy, Taaj al-‘Uruus min Jawaahir al-Qamuus, juz 1, hal. 8012

[16] Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 2, hal. 6

[17] Al-Jurjaniy, al-Ta’riifaat, juz 1, hal. 41

[18] Al-Shaahib bin ‘Ibaad, Al-Muhiith fi al-Lughah, juz 2, hal. 387

[19] Prof. Mahmud Syaltut, Islam; ‘Aqidah wa Syari’ah, ed. III, Daar al-Qalam, 1966, hal.56. Lihat juga, Fathi Salim, al-Istidlaal bi al-Dzan fi al-‘Aqidah, ed. II, Daar al-Bayaariq, 1414 H/199 M , hal. 22.

[20] Imam al-Baghawiy, Tafsir al-Baghawiy, juz 1, hal. 60

[21] Imam al-Nasafiy, Al-‘Aqâid al-Nasafiyyah, hal. 27-43

[22] Ibnu Katsîr, Tafsir Ibnu Katsîr, jilid.I, hal. 40

[23] Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I, hal. 49

[24] Imam Al-Ghazali, Iljâm al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalâm, hal. 112

[25] ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid al-Atsariy, Al-Wajiiz fii ‘Aqiidah Salaf al-Shaalih, juz 1, hal. 11-13

[26] Prof Mahmud Syaltut, al-Islaam, ‘Aqiidah wa Syarii’ah, hal. 12.

[27] Dr. Mohammad Husain ‘Abdullah, Diraasaat fi al-Fikr al-Islaamiy, hal. 35

[28] Yang disebut muta’addiy adalah “membutuhkan obyek” agar maknanya menjadi sempurna. Fi’il muta’addiy (kata kerja muta’addiy) adalah kata kerja yang membutuhkan obyek (maf’ul bihi).

[29] Imam Fakhruddin al-Raaziy, Mafaatih al-Ghaib, juz 1, hal. 292

[30] Maksudnya, konsensus dalam hal keimanan itu harus diucapkan dengan lisan. Dalam dua kasus semacam ini, menurut al-Ghazaliy, seseorang tidak boleh dihukumi kafir, alias tidak Mukmin.

[31] Imam Fakhruddin al-Raaziy, Mafaatih al-Ghaib, juz 1, 290-294

[32] Imam Al Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz 1, hal. 69

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: