BERSABAR ATAS KELALIMAN PEMIMPIN

Salah satu kewajiban seorang muslim terhadap pemimpinnya (khalifah) adalah bersabar atas kelalimannya.  Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan:
“Siapa saja yang didzalimi atau dilalimi oleh penguasa, baik karena pendapatnya yang keliru maupun tidak, maka ia  tidak boleh menghilangkan kedzaliman dan kelaliman tersebut, seperti halnya kebiasaan kebanyakan manusia.   Sesungguhnya, melenyapkan keburukan penguasa  jauh lebih buruk dibandingkan bersabar atas keburukan tersebut.   Melenyapkan permusuhan penguasa lebih berbahaya dibandingkan bersabar atas permusuhannya.  Kedzaliman dan kelaliman yang diakibatkan karena berlepas diri dari mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan kedzaliman dan kelaliman mereka sendiri.  Oleh karena itu, seorang muslim mesti bersabar atas mereka, sebagaimana seseorang mesti bersabar tatkala melakukan amar ma’ruf nahi ‘anil mungkar terhadap orang-orang dzalim yang suka melanggar apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Hal ini seperti firman Allah swt:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.”[Luqman:17]

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik..” [al-Ahqaf:35]

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ(48)وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kami berada dalam penglihatan Kami.”[al-Thuur:48]
Ajriy dalam kitabnya al-Syari’ah menuturkan dari ‘Amru bin Yazid, bahwasanya ia berkata:
“Saat pemerintahan Yazid bin Mu’awiyyah, saya mendengar Hasan mengatakan   -tatkala didatangi sekelompok orang—agar orang-orang tersebut tetap berada di dalam rumah-rumah mereka, dan menutup pintu-pintunya, kemudian Hasan berkata:
“Demi Allah, seandainya manusia mendapatkan cobaan dari penguasanya, kemudian mereka bersabar, maka, tidak lama kemudian, Allah akan melenyapkan cobaan tersebut dari mereka. Yang demikian itu disebabkan karena, bila mereka meminta tolong kepada pedang, dan bertawakal kepadanya, demi Allah, mereka tidak akan mendapati hari yang baik.  Kemudian, Hasan membaca firman Allah:

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ
“Dan telah sempurna perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil, disebabkan karena kesabaran mereka.  Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”[al-A’raf:137]
Di dalam banyak riwayat telah dituturkan mengenai wajibnya bersabar atas tindakan penguasa yang dzalim dan lalim, serta keharusan untuk tetap memberikan ketaatan kepada mereka.
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
“Seorang Muslim wajib mendengarkan dan mentaati penguasa baik dalam hal yang disukai maupun dibenci, selama ia tidak diperintahkan untuk berbuat maksiyat.  Apabila ia diperintahkan maksiyat, maka penguasa itu tidak boleh didengarkan dan ditaati.”[HR. Muslim]
Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari ‘Abdullah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada kami:

سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
“Kalian akan melihat pada masa setelahku, ada suatu keadaan yang tidak disukai serta hal-hal yang kalian anggap mungkar.  Mereka (para shahabat) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?   Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka, dan memohonlah kepada Allah hak kalian.”[HR. Bukhari]
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Raja’, dari Ibnu ‘Abbas, dinyatakan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa membenci sesuatu yang ada pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar.  Sebab, tak seorangpun boleh memisahkan diri dari jama’ah, sekalipun hanya sejengkal, kemudian dia mati, maka matinya adalah seperti mati jahiliyyah.”[HR. Bukhari]
Hadits-hadits di atas adalah hujjah nyata, wajibnya seorang muslim bersabar atas kedzaliman dan kelaliman penguasa; serta tetap memberikan ketaatan kepada mereka.   Seorang muslim tidak diperkenankan memerangi mereka dengan pedang, kecuali jika telah tampak kekufuran nyata yang bisa dibuktikan di hadapan Allah swt.   Ketentuan semacam ini didasarkan pada riwayat-riwayat berikut ini.

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
“Akan datang  para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa  saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Para shahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim]
Dalam hadits ‘Auf bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim diceritakan: “Ditanyakan,”Ya Rasulullah, mengapa kita tidak memerangi mereka dengan pedang?!’ Lalu dijawab, ‘Jangan, selama di tengah kalian masih ditegakkan shalat.” [HR. Imam Muslim]
Dalam riwayat lain, mereka berkata:
“Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa kita tidak mengumumkan perang terhadap mereka ketika itu?!’ Beliau menjawab, ‘Tidak, selama di tengah kalian masih ditegakkan shalat.”
Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya dia berkata:

دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
“Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untu selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.”[HR. Bukhari]
Walhasil, seorang mukmin tidak boleh memerangi seorang khalifah, meskipun mereka banyak melakukan kefasikan, kedzaliman dan kelaliman terhadap rakyatnya.  Ia wajib bersabar, dan terus melakukan amar ma’ruf nahi ‘anil mungkar kepadanya.  Hanya dalam satu kondisi saja, seorang muslim diperbolehkan memerangi penguasa, yakni, tatkala penguasa telah menampakkan kekufuran yang nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: