KEAGUNGAN RISALAH NABI MOHAMMAD SAW

Misi Diutusnya Para Rasul
Setiap Rasul saw yang diutus oleh Allah swt memiliki misi yang sama, yakni mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah swt dan menjauhkan mereka dari taghut.  Allah swt berfirman;

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. [TQS An Nahl (16):36]

“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah Aku”.[TQS Al Anbiyaa’ (21):25]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.[TQS Al Maidah (5):72]

Selain itu, Allah swt mengutus para RasulNya untuk memberi petunjuk dan bukti-bukti yang nyata, al-Kitab, dan neraca (keadilan), agar manusia bisa menegakkan keadilan.  Allah swt berfirman;

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. [TQS Al Hadiid (57):25]
Diutusnya Rasul juga ditujukan agar manusia tidak memiliki alasan lagi untuk membantah Allah swt.   Pasalnya, tatkala manusia melakukan penyimpangan, bisa saja ia berkelit dengan menyatakan,”Sesungguhnya, belum turun kepada kami seorang Rasul yang menunjukki kami ke jalan yang lurus”.  Allah swt berfirman;

“(Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu; dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.[TQS An Nisaa’:165]
Di ayat yang lain, Allah swt telah menafikan adzab bagi suatu kaum, hingga di tengah-tengah mereka diutus seorang Rasul.    Allah swt berfirman;

” …Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul”.[TQS Al Israa’ (17):15]
Dari ayat-ayat di atas dapatlah disimpulkan bahwasanya seluruh Nabi dan Rasul mengajarkan prinsip keyakinan (‘aqidah) yang sama, yakni pentauhidan kepada Allah swt.   Tidak ada satu pun Nabi dan Rasul yang mengajarkan trinitas, pantheisme, politheisme, dan lain sebagainya. Hanya saja, dalam hal syariat, bisa saja ada perbedaan di antara mereka.   Allah swt berfirman;

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”.[TQS Al-Maidah (5):48]
Ali Ash Shabuniy di dalam Tafsir Shafwat al-Tafaasiir, menyatakan, “Makna ayat ini adalah; tiap-tiap umat, Kami berikan syari’ah dan jalan yang jelas dan terang yang berlaku khusus bagi umat tersebut.  Abu Hayyan berkata, “Bagi kaum Yahudi ada aturan dan jalan sendiri; bagi kaum Nashraniy adalah aturan dan jalan sendiri.  Yang dimaksud ayat ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan hukum.  Sedangkan dalam masalah aqidah semuanya satu  untuk seluruh umat manusia, yakni tauhid; iman terhadap para rasul, dan seluruh kitab yang mengandung siksaan dan pahala”.

Kedudukan Nabi Mohammad saw
Nabi Mohammad saw adalah Nabi, sekaligus Rasul terakhir yang diutus Allah kepada umat manusia.  Allah tidak mengutus beliau kecuali sebagai pembawa kabar gembira, saksi, rahmat, dan pemberi peringatan yang nyata.  Allah swt berfirman;

“Dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan”.[TQS Al Israa’ (17):105]

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”.[TQS Al Ahzaab (33):45-46]

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.[TQS Al Anbiyaa’ (21):107]
Tidak hanya itu saja, Nabi Mohammad saw juga diutus untuk menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi umat manusia.  Allah swt berfirman;

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.[TQS Al Ahzaab (33):21]
Agar tugas menjadi uswatun hasanah itu bisa dijalankan oleh para Rasul, Allah swt melengkapi para RasulNya dengan sifat-sifat mulia (akhlaqul karimah), dan mereka dipelihara oleh Allah dari setiap bentuk kemaksiyatan (dosa), baik besar maupun kecil (ma’shum).  Berkenaan dengan akhlaq yang mulia, Allah swt berfirman;

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. [TQS Al Qalam (68):4]
Adanya sifat ‘ishmah pada diri mereka, bisa dimengerti karena mereka dibebani tugas untuk menyampaikan risalah dari Tuhan mereka.  Seandainya mereka tidak terpelihara (‘ishmah) dalam hal risalah (tabligh risalah), niscaya membuka kemungkinan adanya kesalahan dalam penyampaian risalah dari Allah kepada umat manusia.  Padahal, kesalahan dalam hal penyampaian risalah jelas akan berdampak pada kesucian dan kebenaran risalah itu sendiri; apakah benar risalah itu benar-benar dari Allah swt ataukah telah dicemari oleh tendensi pribadi dari Rasul. Untuk itu, seorang Rasul harus terpelihara dari kesalahan (ma’shum) dalam hal risalah.

Sifat-sifat Risalah Nabi Mohammad saw
Allah swt telah menurunkan al-Quran kepada Rasulullah saw, sebagai risalah yang berisi kebenaran, sekaligus sebagai standar untuk membuktikan kebenaran kitab-kitab suci sebelumnya.  Allah swt berfirman;

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu”.[TQS Al Maidah (5):48]
Imam Thabari mengatakan bahwasanya, maksud dari frase “muhaiminan ‘alahi” adalah untuk membuktikan (menguji) kebenaran kitab-kitab terdahulu.  Ibnu Juraij berkata, “Al-Quran itu pembukti kitab-kitab terdahulu.  Apa yang sejalan dengan al-Quran maka benar, sedangkan yang bertentangan dengan al-Quran maka bathil.”  Sedangkan menurut al-Walabiy, sebagaimana yang ia tuturkan dari Ibnu ‘Abbas; makna “muhaiminan” adalah “syahiidan” (penyaksi).  Pendapat ini juga dipegang oleh Mujahid, Qatadah, dan al-Suddiy.  Al-‘Aufiy menuturkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya frase “muhaiminan” bermakna “haakiman ‘ala maa qablahu min al-Kutub” (pembukti (standar) bagi kitab-kitab sebelumnya”. Imam Ibnu Katsir, setelah mengutarakan pendapat-pendapat mufasir sebelumnya, menyatakan, “Semua pendapat di atas maknanya saling berdekatan.  Sesungguhnya, kata “muhaiminan” mengandung semua makna di tersebut, yakni “amiin, syahiid, dan haakim ‘ala kulli kitaab qablihi “; (penjaga, penyaksi, dan pembukti semua kitab sebelumnya).  Dan Allah telah menjadikan al-Quran sebagai kitab Agung, yang mana Allah swt telah menurunkannya sebagai pamungkas dan penutup kitab-kitab sebelumnya, menjadikannya kitab yang paling menyeluruh, paling agung, dan paling jelas, yang mengumpulkan semua kebaikan kitab-kitab sebelumnya.  Dan ia menyempurnakan apa-apa yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab sebelumnya.  Oleh karena itu, Allah swt menjadikan  Al-Quran sebagai pelindung (amiin), penyaksi (syahiid), dan pembukti (haakim) atas kitab-kitab sebelumnya”.
Imam Syaukaniy di dalam Kitab Fath al-Qadiir menjelaskan sebagai berikut, “Menurut bacaan jumhur ulama tafsir, kata muhaiminan ‘alaihi” maknanya adalah, al-Quran itu berfungsi sebagai penyaksi kebenaran kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, dan ia menetapkan isi kitab-kitab sebelumnya yang tidak dihapusnya, dan menghapus semua yang bertentangan dengan dirinya (Al-Quran)”.
Al-Quran menyatakan dengan sharih ketidakotentikan kitab-kitab yang diturunkan kepada Yahudi dan Nashraniy.  Allah swt berfirman;

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridloanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.[TQS Al Maidah (5):15-16]
Selain itu, Nabi Mohammad saw diutus di muka bumi ini untuk memberikan peringatan kepada umat manusia, sekaligus mengabarkan kepada mereka berita gembira dari Allah swt.  Allah swt telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas.

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”.[TQS Saba’ (34):28]
Berbeda dengan Nabi dan Rasul sebelumnya, Nabi Mohammad saw juga diberi tugas untuk memberlakukan hukum-hukum Allah (syariat Islam) kepada umat manusia.   Dengan kata lain, beliau juga diperintahkan untuk menjadi seorang kepala negara (penguasa) yang bertugas mengatur umat manusia, memutuskan sengketa diantara mereka dengan hukum-hukum Allah swt.   Allah swt berfirman;

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”….Demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[TQS An Nisaa’ (4):60-61,65]

“Maka, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka, berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah, kamu sekalian akan kembali, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. [TQS Al Maidah (5):48]
Tidak hanya itu saja, risalah Nabi Mohammad saw ditujukan untuk mengalahkan semua agama yang ada.  Allah swt berfirman;

“Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”. [TQS Ash Shaaff  (61):9)
Beberapa kekhususan risalah Nabi Mohammad saw dibandingkan dengan rasul terdahulu adalah sebagai berikut;

Pertama, risalah Nabi Mohammad saw menjelaskan seluruh aspek kehidupan umat manusia, sedangkan risalah Rasul sebelum beliau tidak mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia.  Allah swt berfirman;

“..(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.[TQS An Nahl (16):89]
Ibnu Mas’ud menyatakan, “Sesungguhnya, di dalam al-Quran, telah dijelaskan kepada kita, semua ilmu dan segala sesuatu”.  Sedangkan Mujahid menyatakan bahwa al-Quran telah menjelaskan semua yang halal dan yang haram.  Ibnu Katsir menyatakan bahwa pendapat Ibnu Mas’ud tersebut lebih umum dan mencakup semua ilmu yang menginformasikan apa yang belum datang maupun yang akan datang; ilmu halal haram, dan semua ilmu yang bermanfaat untuk urusan-urusan agama dan kehidupan mereka.

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.[TQS Al An’aam (6):38]
Di dalam Tafsir al-Qurthubiy, Imam Qurthubiy menyatakan; sebagian orang berpendapat bahwa frase al-kitab di dalam ayat di atas adalah catatan yang ada di Lauh al-Mahfudz yang mencatat semua kejadian yang terjadi.  Sebagian lagi berpendapat, al-Kitab pada ayat tersebut adalah al-Quran.  Dengan demikian, maksud ayat itu adalah, “Kami (Allah) tidak akan melalaikan satupun urusan agama, kecuali pasti Kami jelaskan di dalam al-Quran.  Kadang-kadang, perkara itu dijelaskan dengan sangat jelas dan gamblang di dalam al-Quran; kadang-kadang ada yang dijelaskan secara global dan masih membutuhkan penjelasan rinci dari Rasulullah saw, ijma’, atau qiyas yang ditetapkan oleh nash”.
Hanya saja, ada sebagian ulama tafsir menafsirkan al-Kitab di dalam surat al-An’am ayat 38, dengan catatan yang ada di dalam Lauh al-Mahfudz.  Imam Baghawiy di dalam Tafsir al-Baghawiy menyatakan bahwa al-Kitab di ayat tersebut adalah catatan yang ada di dalam Lauh al-Mahfuudz.

Di dalam Tafsir Abi Hatim dituturkan bahwasanya Ibnu ‘Abbas menafsirkan frase “maa farrathnaa fi al-Kitaab min Syai'”, dengan “maa taraknaa syai’an illa qad katabnaahu fi Umm al-Kitab” (tidak ada satupun perkara yang Kami tinggalkan, kecuali Kami menulisnya di dalam Ummul Kitab).  Menurut al-Faraj dari ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, bahwasanya maksud ayat tersebut adalah; tidak ada satupun perkara yang diabaikan kecuali perkara itu pasti ada di dalam al-Kitab.
Imam Syaukaniy di dalam Kitab Fath al-Qadir  mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah “tidak ada satupun yang kami tinggalkan, kecuali pasti kami jelaskan di dalam Ummul Kitab”.
Kedua, syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Mohammad saw ditujukan untuk mempermudah dan memperingan beban umat manusia.  Dengan demikian, salah satu keistimewaan agama Islam dibandingkan dengan agama yang lain adalah kemudahan dan kesanggupan manusia untuk memikulnya.   Allah swt berfirman;

“(yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung”.[TQS Al A’raf (7):157]
Di dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan tugas Nabi Mohammad saw, yang salah satunya adalah membuang beban-beban dan belenggu yang ada pada diri mereka.   Menurut ahli tafsir, syariat umat terdahulu sangatlah memberatkan dan membelenggu umatnya.  Imam Qurthubiy di dalam Tafsirnya menyatakan, bahwa ada umat terdahulu yang diwajibkan menggunting pakaiannya yang kena kencing (najis).  Mereka juga dilarang memakan hewan ternak.  Jika mereka berhasrat untuk memakan hewan ternak, maka datanglah api dari langit melahap ternak-ternak itu.  Ada pula yang diperintah membunuh diri mereka sendiri jika ingin bertaubat kepada Allah swt.  Qishash diberlakukan pada pembunuhan sengaja maupun tidak sengaja, mereka harus menjauhi isterinya yang sedang haidl, dan lain sebagainya.  Setelah itu, datanglah Nabi Mohammad saw dengan syariat yang menghilangkan beban-beban dan kesukaran-kesukaran mereka.  Syariat Nabi Mohammad saw datang dengan membawa kemudahan, misalnya, disyariatkannya mencuci kain yang terkena kencing, bolehnya berkumpul dan tidur dengan isteri yang sedang haidl, dihalalkan binatang ternak, diyat bagi orang yang membunuh dengan tidak sengaja, dan lain sebagainya.       Kemudahan syariat Islam juga ditunjukkan pada ayat yang lain; Allah swt berfirman;

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.[TQS Al Baqarah (2):286]

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.[TQS Al Baqarah (2):185]

“…dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”.[TQS Al Hajj (22):78]
Ketiga, syariat Nabi Mohammad saw ditujukan untuk seluruh umat manusia.  Dengan kata lain, Islam adalah agama universal, dan tidak diperuntukkan bagi umat atau bangsa tertentu.  Sedangkan Nabi dan Rasul sebelumnya diutus hanya untuk kaum dan bangsa tertentu saja.   Allah swt berfirman;

“Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)”.[TQS Al Furqan (25):1]

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”.[TQS Saba’ (34):28]

“Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” [TQS Al A’raaf (7):158]
Di dalam sebuah hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dituturkan bahwasanya Nabi Mohammad saw bersabda;

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ قَبْلِي وَلَا أَقُولُهُنَّ فَخْرًا بُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً الْأَحْمَرِ وَالْأَسْوَدِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ فَأَخَّرْتُهَا لِأُمَّتِي فَهِيَ لِمَنْ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا
“Ada diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku, dan tidaklah aku mengatakannya untuk menyombongkan diri. Aku diutus kepada seluruh umat manusia, baik yang berkulit merah dan hitam.  Aku ditolong (untuk dijauhkan) dari ketakutan sejauh perjalanan satu bulan. Telah dihalalkan bagiku binatang ternaj yang tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku.  Semua bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan suci.  Aku diberi syafa’ah, yang aku berikan kepada umatku, yakni bagi siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan satu apapun”.[HR. Imam Ahmad]
Inilah beberapa kekhususan yang terkandung di dalam risalah Nabi Mohammad saw.
Tugas seorang Muslim adalah menjalankan dan melaksanakan secara sempurna dan menyeluruh ajaran Islam, tanpa membeda-membedakan lagi  aspek ibadah ritual, dan aspek sosial.   Selain itu, seorang Muslim juga diwajibkan mengemban dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia, sebagai bentuk pengalaman dari ajaran Islam yang bersifat universal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: