MEMAHAMI KHILAFAH ISLAMIYYAH

Khilafah Dalam Terminologi Bahasa
Daulah Islamiyyah adalah Khilafah Islamiyyah, atau Imamah.  Para ‘ulama tidak membedakan kata imamah dan Khilafah. Keduanya memiliki arti yang sama.  Thahawiy menyatakan,” Khilafah merupakan refleksi dari kepemimpinan Daulah Islamiyyah yang melaksanakan konstitusi  di wilayah tertentu diantara pandangan-pandangan politik yang ada.
Khilafah berasal dari kata khalafa (bentuk mashdar).  Jika, dikatakan khalafahu fi qaumihi (mewakilinya sebagai pemimpin di kaumnya), artinya adalah; yakhlufuhu khilafatan (mewakilinya sebagai Khilafah).   Dalam hal ini, Allah swt, berfirman:

وَقَالَ مُوسَى ِلأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي  وَأَصْلِحْ وَلاَ تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ
“Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku.”[al-A’raf:142]
Dalam Kamus Lisaan al-‘Arab disebutkan, “istakhlafa fulaan min fulaan: ja’alahu makaanahu.  Wa khalafa fulan fulaanan idza kaana khaliifatuhu yuqaal: khalaftu fulaanan, akhlifuhu takhliifan, wa istakhlaftuhu anaa ja’altuhu khaliifatiiy wa istakhlafahu. [fulan menggantikan [kepemimpinan] fulan yang lain; yakni menggantikan posisinya.    Fulan menggangkat fulan [sebagai wakil kepemimpinannya] jika khalifahnya berkata, “saya mengangkat fulan [sebagai wakil kepemimpinanku], aku mengangkatnya sebagai wakil, dan saya mengangkatnya [sebagai wakil], dan saya menjadikan ia sebagai khalifahku, dan menggantikannya.]”
Abu Baqa’ berkata, “Khalifah adalah orang yang menggantikan dan menempati posisi orang lain….sedangkan Khilaafah adalah niyabah [perwakilan] dari orang lain, disebabkan karena kepergian orang yang diwakilinya, kematiannya, serta karena kelemahannya.”
Secara literal, khaliifah memiliki makna; “Orang yang mewakili orang-orang sebelumnya.  Bentuk jama’ dari khaliifah adalah khulafaa’. Seperti halnya kariimah dan karaaim, maka bentuk jama’ dari khaliifah adalah khulafaa’.  Imam Sibawaih berkata, “Khaliifah wa khulafaa’.
Adapun riwayat yang menuturkan;” Ada seorang ‘Arab bertanya kepada Abu Bakar ra, “Anda adalah khalifah Rasulullah saw. Abu Bakar menjawab, “Bukan.”  Orang ‘Arab itu bertanya lagi, “Lalu siapakah anda?”  Abu Bakar berkata, “Saya adalah Khalifah setelah beliau SAW”, Imam Ibnu Atsiir berkata,”Ini adalah bentuk ketawadlu’an, dan kerendahan hati dari Abu Bakar ra, saat ia ditanya, “Kamu Khalifah Rasulullah saw”, yakni, bahwa khalifah adalah orang yang menggantikan posisi orang yang telah pergi (meninggal/dzaahib), dan menempati kedudukannya.  Sedangkan al-khaalifah juga bisa bermakna, “orang yang tidak memiliki kebaikan sama sekali.”  Perkataan Abu Bakar seperti itu bisa dimengerti, karena, meskipun kedudukan orang yang menggantikan Rasulullah saw dalam hal kepemimpinan dalam Daulah Islamiyyah sangat tinggi, akan tetapi orang tersebut tidak akan pernah mampu menggantikan kedudukan beliau dalam semua hal.   Atas dasar itu, ucapan Abu Bakar tersebut hanya menunjukkan keluhuran budi pekerti –ketawadlu’an– dari Abu Bakar ra.  Sebab, orang Arab biasa menyebut kata khalifah dengan arti, “al-‘umuud min a’madah al-bait fi muakhkhirihi” [pemimpin pengganti dari pemimpin-pemimpin negara sebelumnya].”
Pada dasarnya, Abu Bakar mengetahui bahwa ia adalah khalifah Rasul yang menggantikan  posisi beliau saw sebagai kepala negara.  Akan tetapi, ia paham bahwa tidak semua aspek ia bisa menggantikan kedudukan Nabi, terutama kedudukan risalah dan kenabian. Oleh karena itu, begitu begitu tawadlu’nya Abu Bakar terhadap Rasulullah saw, saat beliau ditanya, “Anda khalifah Rasulullah saw”, beliau menjawab, “Bukan. Akan tetapi khalifah setelah Rasul.”  Riwayat di atas tidak menunjukkan, bahwa Abu Bakar ra bukan khalifah Rasulullah saw, akan tetapi sekedar menunjukkan ketinggian akhlaq –ketawadlu’an– Abu Bakar.
Dr. Mahmud ‘Abd al-Majid al-Khalidiy mengomentari riwayat di atas,”… itulah makna yang dimaksudkan Abu Bakar ra, sebab Rasulullah saw adalah pemimpin pertama bagi Daulah Islamiyyah, pembangun pilar negara, peletak dasar struktur negara, dan administrasinya, serta pengatur seluruh urusan kaum muslimin.  Tidak ragu lagi, Abu Bakar adalah pemimpin kedua bagi Daulah Islamiyyah.  Beliau ra. adalah salah satu pemimpin dari pemimpin-pemimpin Daulah Islamiyyah.  Ucapan Abu Bakar tersebut tidak memiliki makna selain ungkapan ketawadlu’an dan ketinggian akhlaq Abu Bakar ra, sebab makna-makna yang dipahami oleh orang Arab [berkenaan dengan lafadz khaalifah] tidak korelatif dengan apa yang dimaksudkan Abu Bakar ra.  Al-Khaalifah sendiri memiliki banyak makna, “al-Qaa’idah fi al-Daar min al-Nisaa’ [Wanita yang duduk (menaphouse) di dalam rumah ]; “al-mukhtalif ‘an al-qaum fi al-ghazw”[orang yang lari dari kaumnya pada saat peperangan], “al-katsiir al-khilaaf “ [orang yang sangat menentang], “al-faasid min al-naas” [orang suka berbuat kerusakan], atau “al-ladziy laa ghinaa’ ‘indahu wa laa khair fiihi.” [orang yang tidak memiliki keutamaan sama sekali].  Abu Bakar ra tidak mungkin tidak mengetahui makna-makna tersebut.   Oleh karena itu, apa yang diungkapkan Abu Bakar hanya menunjukkan ketawadlu’an dan keutamaan akhlaq dari Abu Bakar ra semata, bukan yang lain.

Khilafah Menurut Pengertian Syara’
‘Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan khilaafah.  Perbedaan pendefinisian ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam menetapkan sudut pandang  terhadap fakta Khilafah itu sendiri.
Khilafah adalah, “Pengganti dari Rasulullah saw dalam melaksanakan syari’at Islam.”  Ini adalah definisi Khilafah menurut Musthofa Shabariy, Syaikhul Islam di Daulah ‘Utsmaniyyah.
Imam Baidlawiy mendefinisikan Khilafah dengan, “Pribadi yang menggantikan Rasulullah saw dalam menegakkan syari’at Islam, menjaga agama, dimana ia wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin (ummat).”
Menurut Imam Kamal bin Himaam, Khilafah adalah, “Orang yang berhak mengatur urusan seluruh kaum muslimin.”
Al-Qalqasyandiy mendefinisikannya dengan, “Kekuasaan umum atas seluruh umat”
Imam ‘Adldi al-Diin al-Aijiiy mendefinisikan Khilafah sebagai berikut; “Kepemimpinan umum pada perkara dunia, dan akherat yang dimiliki oleh seseorang.”  Kemudian ia menyatakan dalam kitab yang sama, bahwa khalifah lebih utama disebut sebagai,”Khilafah al-Rasuul dalam menegakkan agama dan menjaga agama yang ia wajib ditaati oleh seluruh kaum muslimin.”
Sebagian ‘ulama Syafi’iyyah mendefinisikan Khilafah dengan, “Imam A’dzam (Pemimpin Agung) yang mengganti posisi Rasul dalam menjaga agama, dan mengatur kehidupan dunia.”
Imam al-Mawardiy mendefinisikannya dengan, “Imamah yang diposisikan untuk Khilafah Nubuwwah dalam hal menjaga agama dan urusan dunia.”
Ibnu Khaldun mendefinisikan Khilafah dengan, “Wakil dari Allah dalam menjaga agama dan urusan dunia.”
Menurut Syaikh al-Islaam Ibraahim al-Baijuriy Khilafah adalah; “Wakil  Nabi saw untuk mengatur kemaslahatan kaum muislimin.”
Definisi-definisi di atas menunjukkan, bahwa para ‘ulama memahami Khilafah sebagai “riyaasah al-Daulah al-Islamiyyah” [kepemimpinan Daulah Islamiyyah].  Namun, mereka berbeda pendapat dalam menetapkan posisi Khilafah.  Sebagian ‘ulama berpendapat, bahwa ia adalah wakil Nabi, bukan wakil manusia.  Sebagian yang lain berpandangan, bahwa ia  wakil Allah.  Sedangkan yang lain lebih memfokuskan kepada aspek ketaatan kepada orang yang diangkat menjadi khalifah.
Dr. ‘Abd al-Majid al-Khalidiy menyatakan, “Yang tepat, kedudukan (munashib) Khilafah atau khalifah harus didefinisikan sejalan dengan tujuan disyari’atkannya kewajiban menegakkan Daulah atas kaum muslimin.”  Bila kita kaji lebih mendalam mengenai fakta Daulah Islamiyyah, maka kita akan mendapati dua perkara penting berikut ini;
(1)    Daulah Islamiyyah bertugas menegakkan hukum-hukum syara’ atas semua rakyat;  mengumpulkan dan mendistribusikan  zakat, menegakkan hudud, serta mengatur urusan masyarakat dengan Islam, dan mengatur sistem kehidupan Islam secara umum.”
(2)    Daulah Islamiyyah bertugas mengemban dakwah Islam, di luar batas wilayah Daulah Islamiyyah seluruhnya; melenyapkan hambatan-hambatan serta halangan-halangan yang menghadang da’wah Islam dengan metode jihad.
Dengan demikian, definisi Khilafah yang paling tepat adalah,” Kepemimpinan Umum bagi seluruh kaum muslimin di kehidupan dunia, untuk menegakkan hukum-hukum Islam, dan mengemban dakwah Islamiyyah ke seluruh penjuru alam.”
Inilah definisi Khilafah Islamiyyah yang paling tepat dan sejalan dengan ketentuan syariat.  Atas dasar itu, seseorang baru absah disebut sebagai khalifah, jika ia telah melaksanakan tugas utamanya, yaitu;  menegakkan aturan-aturan Allah swt di dalam wilayah Daulah Islamiyyah atas seluruh warga negara; dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.   Selain itu, seorang khalifah harus mandiri dan tidak terikat dengan sistem-sistem lain yang bisa memberangus independensinya. Ia juga harus memiliki kekuatan untuk melaksanakan tugas-tugasnya, terutama tugas untuk menegakkan syari’at Islam, serta mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.   Ia harus memiliki wilayah kekuasaan tertentu, tempat ia melakukan ri’ayah su’unil ummah (melayani   kepentingan umat) secara mandiri.  Secara syar’iy, seorang Khalifah tidak boleh dikendalikan oleh kekuatan lain, atau berada di dalam kungkungan kekuasaan pihak lain.  Ia harus memiliki independensi dalam mengatur urusan umat,  mulai dari mencetak mata uang, menetapkan status kewarganegaraan, membangun kekuatan militer, menjalankan roda industri dan perekonomian, hingga membentuk dan mengangkat aparatus negara, membangun sistem pendidikan yang tangguh, hingga menegakkan syariat Islam dengan cara menerapkan hukum hudud, jinayat, ta’zir, dan mukhalafat.
Seseorang yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas tidak absah disebut sebagai Khilafah.  Kepemimpinannya juga tidak bisa dianggap sebagai kepemimpinan Khilafah.  Sebab, ia tidak memenuhi kriteria dan definisi Khilafah dan khalifah menurut syariat.   Untuk itu,  jika ada pihak yang mengklaim telah menegakkan Khilafah, atau telah mengangkat seorang khalifah, sementara pihak yang mereka klaim sebagai khalifah itu tidak memenuhi syarat-syarat di atas, terbelenggu independensinya dalam sistem kufur, tidak menerapkan syari’at Islam secara menyeluruh, tidak mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia, dan tidak memiliki wilayah kekuasaan yang jelas, sesungguhnya, klaimnya hanyalah klaim kosong dan tidak berarti sama sekali.    Sebab,  Khalifah adalah kepala negara (pemimpin negara) yang memimpin Daulah Islamiyyah, bukan pemimpin jama’ah, atau pemimpin kelompok.   Lebih dari itu, Khalifah dan Khilafah Islamiyyah tidak mungkin dipisahkan dari konsepsi Daulah Islamiyyah (negara Islam).  Keduanya adalah satu kesatuan utuh, bagaikan dua sisi mata uang.  Artinya, berbicara Khilafah Islamiyyah, memestikan pula berbicara tentang negara yang memiliki teritorial dan kedaulatan yang jelas.
Sayangnya, di tengah kondisi kaum muslim yang merosot pemikirannya itu, ada sebagian pihak mengklaim telah menegakkan khilafah, atau telah memiliki seorang khalifah, padahal, pihak yang mereka klaim sebagai khalifah itu tidak memenuhi syarat-syarat di atas, terbelenggu independensinya dalam sistem kufur, tidak menerapkan syari’at Islam secara menyeluruh, tidak mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia, dan tidak memiliki wilayah yang jelas.   Kenyataan ini menunjukkan, bahwa khalifah atau khilafah yang telah mereka tegakkan itu adalah khalifah atau khilafah semu dan tigak legal secara syar’iy.   Khalifah dan khilafah semacam ini harus ditolak dan tidak boleh diakui keberadaannya.

Satu Tanggapan

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://infogue.com/masalah_politik/memahami_khilafah_islamiyyah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: