PERKAWINAN KAUM MUSLIM DENGAN NON MUSLIM

Ketentuan yang berhubungan dengan pernikahan seorang Muslim dengan wanita kafir adalah sebagai berikut;
Allah swt berfirman:
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.  Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik  dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu.  Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.  Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.  Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan idzinnya.  Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” [al-Baqarah:221]

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Pada hari itu dihalalkan bagimu yang baik-baik.  Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al KItab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” [al-Maidah:5]

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan)  Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia.  Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” [al-Taubah:31]
Seorang Muslim dilarang menikahi seorang wanita, kecuali wanita tersebut Muslimah.  Seorang Muslimah diharamkan menikahi seorang laki-laki, kecuali laki-laki tersebut  seorang Muslim.  Ini adalah ma’na dari firman Allah swt, “”Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.  Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.  Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” [al-Baqarah:221].
Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) termasuk orang-orang musyrik. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah swt, “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” [al-Taubah:31],  setelah menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair adalah putera Allah” dan orang Nashrani berkata,” Al Masih putera Tuhan.   Ayat ini menunjukkan bahwa orang Yahudi dan Nashrani termasuk orang-orang musyrik.  Sebab, mereka telah menjadikan Uzair dan ‘Isa sebagai putera Tuhan. Sedangkan surat al-Baqarah ayat 221 telah mengharamkan bagi seorang Muslim menikahi kitabiyyah (wanita kaafir), dan seorang Muslimah menikahi seorang kitaabiy (laki-laki kaafir).
Ketika turun ayat ke lima dari surat al-Maidah, “(Dan dihalalkan mengawini) …..wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya.”, maka ayat ini telah menghapus hukum yang dipahami dari firman Allah swt,” Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman..”[al-Baqarah:221)  Akan tetapi tidak menghapus sebagian hukum dari ayat tersebut.  Surat al-Maidah ayat lima tetap tidak menghapus larangan pernikahan seorang wanita Muslimah dengan seorang laki-laki musyrik. Dengan demikian terdapat hukum syara’ yang jelas (muhkam), bahwa seorang Muslim boleh menikahi wanita musyrik dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani).  Namun, seorang Muslim tidak halal menikahi wanita-wanita atheis; yakni, wanita yang beragama Budha, Hindu, atau wanita-wanita kafir selain ahli Kitab.  Ayat tersebut memberikan syarat pada wanita ahli Kitab yang boleh dinikahi, yaitu muhshanaat, atau ‘afifaat (wanita-wanita yang menjaga kehormatannya).  Bila mereka pezina, maka seorang Muslim dilarang menikahinya.. Ayat tersebut juga memberikan syarat bahwa laki-laki Muslim  tersebut tidak bermaksud zina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik wanita Yahudi dan Nashrani tersebut.
Akan tetapi, para penyeru bid’ah dari  kalangan ‘ulama kaki tangan penguasa yang terbelenggu dengan peradaban barat telah memberikan fatwa bahwa, Ahli Kitab bukanlah orang musyrik.  Atas dasar itu, mereka berfatwa bahwa seorang wanita Muslimah boleh menikahi atau dinikahi laki-laki ahli Kitab.  Mereka berargumen dengan sebagian ayat yang membedakan antara orang musyrik dengan ahli Kitab.  Misalnya, firman Allah swt:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang jelas.” [al-Bayyinah:1].
Jawab atas penyimpangan (pendapat) mereka adalah, jika kata musyrik datang dalam bentuk muthlaq tanpa ada taqyiid (pembatasan), maka kata  tersebut mencakup semua orang musyrik, termasuk ahli Kitab.  Namun bila terdapat taqyiid atau qarinah yang memilahkan antara orang musyrik dengan ahli Kitab, maka qarinah tersebut akan memberikan penjelasan.  Ayat 221 dari surat al-Baqarah terdapat kata musyrikaat, sedangkan kata musyrikiin datang dalam bentuk muthlaq.
Lalu, ada nash-nash lain di dalam al-Quran yang menjelaskan keharaman menikahkan seorang wanita Muslimah dengan laki-laki kafir secara muthlaq.  Seperti firman Allah swt:

فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَءَاتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir.  Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi  mereka…” [al-Mumtahanah:10].  Orang Yahudi dan Nashrani adalah orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah swt, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan,”Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” [al-Maidah:73].
Selain itu, ada nash-nash di dalam Sunnah yang menuturkan haramnya seorang Muslimah menikah dengan non Muslim.
Walhasil, seorang Muslim diperbolehkan menikahi ahlul kitab; Yahudi dan Nashrani, dengan syarat wanita-wanita yang hendak dinikahi tersebut adalah wanita terhormat dan menjaga dirinya.  Syarat yang lain adalah, ia memang benar-benar hendak menikahi wanita itu, dan tidak berniat untuk dijadikan gundik-gundiknya belaka.   Akan tetapi, seorang Muslim diharamkan menikahi wanita musyrik –selain Yahudi dan Nashrani—sebelum mereka menjadi seorang Muslimah.
Seorang Muslimah diharamkan menikahi atau dinikahi oleh orang-orang kafir, baik ahlul kitab maupun bukan.   Apabila seorang Muslimah menikah atau dinikahi oleh orang kafir maka ia telah berbuat kemaksiyatan dan dosa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: