LARANGAN MENYERUPAI (TASYABBUH) ORANG KAFIR

Definisi
Kata “tasyabbuh” (penyerupaan) merupakan bentukan dari kata “tasyabbaha”, yang bermakna al-tamtsiil (menyerupai).  Menurut istilah para fuqaha, tasyabbuh bermakna menyerupai atau meniru-niru perkataan, perilaku, dan kebiasaan orang-orang kafir.
Sebagian ulama berpendapat, bahwa kata “tasyabbuh” bisa digunakan dalam konteks kebaikan dan dosa.   Dalam kitab ‘Aun al-Ma’buud diterangkan, bahwa Imam al-Qaariy berkata,”Barangsiapa bertasyabbuh dengan orang-orang shaleh, maka ia akan dimuliakan sebagaimana orang-orang shaleh itu dimulyakan.  Barangsiapa bertasyabbuh dengan orang-orang fasik, maka ia tidak akan dimulyakan.  Siapa saja yang memiliki  ciri-ciri orang-orang yang mulia, maka ia akan dimuliakan, meskipun kemuliaan itu belum terwujud di dalam dirinya.”
Dari uraian di atas bisa disimpulkan, bahwa kata “tasyabbuh” hanya memiliki “pengertian bahasa” saja (haqiqat al-lughawiyyah), dan tidak memiliki pengertian syar’iy (haqiqat al-syar’iyyah).  Sebab, kata tasyabbuh bisa digunakan dalam konteks kebaikan maupun dosa.  Untuk itu, pemaknaan kata tasyabbuh harus sejalan dengan pengertian literalnya, yakni al-tamtsiil (penyerupaan).

Hukum Tasyabbuh Menurut Para ‘Ulama
Seluruh ‘ulama telah bersepakat mengenai keharaman tasyabbuh dengan orang kafir.  Larangan ini didasarkan pada nash-nash Al-Quran dan sunnah.   Di dalam al-Quran, Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Mohammad) “Raa’ina”, tetapi katakan: “Undzurna”, dan “dengarlah”.  Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.”[TQS Al Baqarah (2) :104]
Imam Ibnu Katsir, dalam Tafsir Ibnu Katsir, menyatakan, bahwa Allah swt telah melarang kaum mukmin menyerupai perkataan dan perilaku orang-orang kafir.
Di dalam sunnah, banyak riwayat yang menuturkan larangan bertasyabbuh dengan orang-orang kafir. Imam Ahmad mengetengahkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
” Aku telah diutus di hadapan waktu dengan membawa pedang, hingga hanya  Allah semata yang disembah, dan tidak ada sekutu bagi Allah; dan rizkiku telah diletakkan di bawah bayang-bayang tombakku.  Kehinaan dan kenistaan akan ditimpakan kepada siapa saja yang menyelisihi perintahku; dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.”[HR. Imam Ahmad]
Masih menurut Imam Ibnu Katsir, hadits ini berisikan larangan yang sangat keras, serta ancaman bagi siapa saja yang meniru-niru atau menyerupai orang-orang kafir, baik dalam hal perkataan, perbuatan, pakaian, hari raya, peribadahan, serta semua perkara yang tidak disyariatkan bagi kaum muslim.
Tatkala menafsirkan hadits riwayat Imam Ahmad di atas, Imam al-Manawiy dan al-‘Alqamiy, menyatakan,”Hadits di atas berisikan larangan untuk berbusana dengan busana orang-orang kafir, berjalan seperti orang-orang kafir, serta berperilaku seperti orang-orang kafir.”
Al-Qariy berkata, “Barangsiapa bertasyabuh dengan orang-orang kafir, baik dalam hal pakaian dan lain sebagainya, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.   Tasyabuh tidak hanya dengan orang-orang kafir belaka, akan tetapi juga dengan orang-orang fasik, fajir, ahli tasawwuf, dan orang-orang shaleh.  Walhasil, tasyabbuh terjadi dalam hal kebaikan dan dosa.”[ Mohammad Syams al-Haq,’Aun al-Ma’buud Syarh Sunan Abi Dawud, hadits no. 3512]
Ibnu ‘Umar ra juga meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.”[HR. Imam Ahmad]
Syaikh al-Islaam Ibnu Taimiyyah berkata, “Imam Ahmad dan ‘ulama-‘ulama lain berhujjah dengan hadits riwayat Ibnu ‘Umar ini.  Hadits ini menunjukkan keharaman melakukan tasyabbuh dengan orang-orang kafir.   Hadits ini juga  sejalan dengan firman Allah swt,”Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”[al-Maidah:51].  Pendapat senada juga diketengahkan oleh Abu Ya’la.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudizy dari ‘Amru bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya dikisahkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
“Bukanlah termasuk golongan kami, siapa saja yang bertasyabbuh dengan selain kami.”[HR. Turmudziy]
Meskipun hadits ini masih diperbincangkan keshahihannya, akan tetapi Imam Ibnu Taimiyyah menshahihkannya.  Imam Sakhawiy berkata, “Di dalam hadits ini ada ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, dan ia lemah, akan tetapi ia memiliki saksi penguat.”   Menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, “Sanad hadits ini hasan.”
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Rasulullah saw melarang kaum muslim bertasyabbuh dengan orang-orang kafir  dengan larangan yang sangat keras.    Bahkan, agar kaum muslim tidak menyerupai orang-orang Yahudi, Nabi saw memerintahkan umatnya untuk mengecat ubannya.   Dalam sebuah riwayat dinyatakan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

غَيِّرُوا الشَّيْبَ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ
“Ubahlah warna uban kalian, dan janganlah kalian bertasyabbuh dengan kaum Yahudi.”[HR. Turmudziy; hadits hasan shahih]  Dalam riwayat Ibnu Hibban dan Imam Ahmad ada tambahan “dan kaum Nashraniy”.     Sedangkan dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dinyatakan, “Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashraniy tidak mengecat uban mereka, maka janganlah kalian menyerupai mereka”.
Imam Syaukani, di dalam kitab Nail al-Authar mengatakan, “Hadits ini menunjukkan, bahwa ‘illat syar’iyyah disyariatkannya pengecatan dan mengubah warna uban adalah, agar tidak menyerupai  orang-orang Yahudi dan Nashraniy.”    ‘Ulama-‘ulama salaf sangat memperhatikan sunnah yang satu ini.   Oleh karena, Ibnu Jauziy menyatakan, bahwa mayoritas shahabat dan tabi’iin mengecat ubannya.  Tidak hanya itu saja, Rasulullah saw juga melarang kaum muslim mengenakan pakaian, model rambut, cawan emas, dan lain sebagainya.   Ini menunjukkan bahwa, tasyabbuh merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Nabi saw.
Demikianlah, seluruh ‘ulama telah sepakat, bahwa hukum bertasyabbuh dengan orang-orang kafir, baik dalam hal pakaian, perkataan, tingkah laku, hari raya, dan lain sebagainya adalah haram secara mutlak.

Hukum Melibatkan Diri Dalam Perayaan Orang-orang Kafir
Sesungguhnya, ajaran Islam telah melarang kaum muslim untuk merayakan hari raya orang-orang musyrik maupun ahlil kitab. Ketentuan semacam ini didasarkan pada firman Allah swt;

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan mereka (mukmin) yang tidak menyaksikan hari raya orang-orang kafir musyrik.” [TQS Al Furqan (25): 72]
Dalam menafsirkan ayat ini sebagian shahabat, misalnya Ibnu ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar dan para tabi’in, seperti Mujahid, Mohammad Ibnu Sirin, dan sebagainya, menyatakan, “Kaum mukmin dilarang merayakan hari raya orang-orang musyrik.”
Beberapa fuqaha juga berpendapat senada mengenai firman Allah swt al-Furqan: 72. Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Kaum muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Kaum muslim juga diharamkan memasuki gereja dan tempat-tempat ibadah mereka.”
Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum muslim diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.”
Imam al-Amidi dan Qadli Abu Bakar al-Khalal menyatakan,”Kaum muslim dilarang keluar untuk menyaksikan hari raya orang-orang kafir dan musyrik.”
Al-Qadliy Abu Ya’la al-Fara’ berkata, “kaum muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik”. [Ibnu Tamiyyah, Iqtidla’ al-Shiraath al-Mustaqiim, hal.181]
Imam Malik menyatakan, “Kaum muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang musyrik atau kafir, atau memberikan sesuatu (hadiah), atau menjual sesuatu kepada mereka, atau naik kendaraan yang digunakan mereka untuk merayakan hari rayanya. Sedangkan memakan makanan yang disajikan kepada kita hukumnya makruh, baik diantar atau mereka mengundang kita.”
Pada masa-masa kejayaan Islam, pemerintahan Islam saat itu –sejak masa Rasulullah saw –, kaum muslim tidak diperbolehkan merayakan hari raya ahlul Kitab dan kaum musyrik. Rasulullah saw pernah bersabda mengenai hari raya orang-orang kafir:
“Setiap umat memiliki hari raya sendiri-sendiri. Idul Fithri adalah hari raya kita.” [HR. Bukhari dari ‘Aisyah ra]
Tatkala mengomentari hari raya bangsa Persia, Rasulullah saw bersabda:
“Allah swt telah mengganti dua hari yang lebih baik daripada kedua hari itu (nairus dan naharjan: hari raya bangsa Persia), yaitu Idul Fitri dan idul Adha.: [HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasaa’iy, dan Ibnu Majah]
Riwayat-riwayat ini menunjukkan dengan jelas, bahwa Rasulullah saw telah melarang kaum muslim merayakan hari raya orang-orang kafir.
Pada masa pemerintahan khalifah ‘Umar bin al-Khaththabb, beliau telah melarang kaum muslim merayakan hari raya orang-orang kafir. Imam Baihaqiy telah menuturkan sebuah riwayat dengan sanad shahih dari ‘Atha’ bin Dinar, bahwa Umar ra pernah berkata, “Janganlah kalian mempelajari bahasa-bahasa orang-orang Ajam. Janganlah kalian masuk ke gereja-gereja orang-orang musyrik pada hari raya mereka. Sesungguhnya murka Allah swt akan turun kepada mereka pada hari itu.”. [HR. Baihaqiy]
Demikianlah, sejak masa shahabat ra, Islam telah melarang kaum muslim melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, apapun bentuknya.   Melibatkan diri di sini mencakup perbuatan; mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya.  Adapun perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).

Kaedah Mengadopsi Sesuatu dari Non Islam
Meskipun kaum muslim dilarang bertasyabbuh dengan orang kafir, dan juga dilarang melibatkan diri dalam bentuk apapun dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, akan tetapi, tidak boleh dipahami, bahwa kaum muslim dilarang secara mutlak mengambil perkara-perkara yang berasal dari non muslim.    Pada dasarnya ada perkara-perkara yang berasal dari non muslim boleh diambil, dan ada pula yang tidak boleh.
Dalam perkara-perkara yang bebas nilai (free of value), seorang muslim diperbolehkan mengadopsi, meniru, maupun mengambilnya dari non muslim. Contohnya, sains dan teknologi, serta semua hal yang lahir dari keduanya. Seorang muslim boleh saja mengambil ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari barat. Seorang muslim juga diperbolehkan mempelajari dan mengaplikasikan sains dan teknologi barat beserta produk-produknya. Seorang muslim juga diperbolehkan belajar fisika, kimia, matematika, manajemen perusahaan, cara peningkatan mutu barang, dan lain sebagainya. Dalam perkara-perkara semacam ini –bebas nilai– seorang muslim diperbolehkan oleh syara’ untuk mengambil dan mengadopsinya.
Kaum muslim juga diperbolehkan mengadopsi istilah-istilah asing yang maknanya tidak bertentangan dengan ‘aqidah dan syariat Islam.  Contohnya, istilah konstitusi, yurisprudensi dan lain sebagainya.   Akan tetapi, Islam melarang kaum muslim mengadopsi istilah-istilah asing yang memiliki makna khusus dan bertentangan dengan ‘aqidah dan syariat Islam. Misalnya, demokrasi, sosialisme, marxisme, atheisme, dan lain sebagainya.
Khalifah ‘Umar bin Khaththab pernah mengadopsi sistem pembukuan dan administrasi dari Persia. Dalam kitab Futuh al-Buldan, disebutkan bahwa Rasulullah saw dan juga para Khulafaur Rasyidin telah mengadopsi mata uang dinar Romawi dan dirham Persia. Pada saat perang Khandaq, Rasulullah saw juga mengadopsi strategi pertahanan bangsa Persia, setelah mendapatkan masukan dari shahabat Salman al-Farisi.
Ini menunjukkan, bahwa perkara-perkara asing yang bebas nilai (free of value), baik istilah, pakaian,  perbuatan, dan lain sebagainya, boleh diambil dan diadopsi.
Adapun, hal-hal yang tidak bebas nilai, kaum muslim dilarang mengambil dan mengadopsinya. Contohnya, ilmu-ilmu social maupun ekonomi yang memuat pandangan hidup maupun sistem hidup kaum sosialis dan kapitalis. Seorang muslim dilarang mengadopsi dan memberlakukan sistem ekonomi kapitalistik maupun sosialistik. Seorang muslim juga dilarang mengadopsi pandangan hidup liberalisme dan pluralisme yang lahir dari kapitalisme. Seorang muslim juga dilarang mengadopsi upacara-upacara maupun ritual-ritual orang Hindu maupun Budha.   Seorang muslim juga dilarang memakai produk-produk non muslim yang menunjukkan peradaban dan pandangan hidup mereka; misalnya, kalung salib, rumah berbentuk gereja, pura, dan lain sebagainya.
Akan tetapi, seorang muslim diperbolehkan mempelajari peradaban maupun pandangan hidup non muslim dengan tujuan untuk menjelaskan kekeliruan dan ketidaksesuaiannya dengan pandangan hidup Islam. Untuk itu, orang yang mempelajari peradaban selain Islam disyaratkan telah mantap ‘aqidah dan pemahamannya tentang syariat Islam.  Ini dimaksudkan agar ia tidak terpengaruh oleh peradaban non Islam tersebut.   Sebab, jika seorang muslim mempelajari peradaban dan pandangan hidup non Islam tanpa memahami pertentangannya dengan Islam, tentunya ia akan menyakini, dan menerapkan pandangan itu.  Padahal, pandangan tersebut adalah pandangan yang bertentangan dengan ‘aqidah dan syariat Islam.  Dengan ketentuan semacam ini, umat yang masih awam dengan Islam akan terjaga dari pengaruh-pengaruh jahat peradaban non Islam. [Wallahu ‘Alam bi al-Shawab]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: