SUPREMASI ISLAM DAN KAUM MUSLIM

          Sungguh, Allah swt telah menjanjikan kekuasaan (kekhilafahan) atas seluruh muka bumi kepada kaum Mukmin.  Tidak hanya janji istikhlaf saja, Allah juga berjanji menegakkan agama Islam, serta menukar keadaan kaum Mukmin, dari ketakutan menjadi aman sentausa.   Janji agung ini difirmankan Allah di dalam surat An Nuur (24) ayat ke 55.  Allah swt berfirman;

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku; dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik“.[TQS An Nuur (24):55]

          Di dalam kitab Manaahil al-‘Irfaan, juz 2/271, Imam al-Zarqaaniy menjelaskan sebab turun ayat di atas sebagai berikut, “Sebab turunnya surat An Nuur (24) ayat ke 55 ini ditunjukkan oleh sebuah riwayat yang dishahihkan oleh Imam al-Hakim dari Ubaiy bin Ka’ab ra, bahwasanya ia berkata, “Ketika Rasulullah saw dan para shahabatnya sampai di Madinah dan orang-orang Anshor memberikan perlindungan kepada mereka, maka orang-orang Arab bersatu padu memerangi mereka.  Hingga akhirnya, para shahabat dan Nabi saw tidak pernah melewati malamnya kecuali dengan perang, dan mereka senantiasa bangun di waktu pagi dalam keadaan perang.  Para shahabat pun berkata, “Tahukah kalian, kapan kita bisa melewati malam-malam kita dengan aman dan tentram, dan kita tidak pernah lagi takut, kecuali hanya takut kepada Allah swt? Lalu, turunlah firman Allah swt surat An Nuur (24):55.  Imam Ibnu Abi Hatim juga menuturkan dari al-Bara’, bahwasanya ia berkata, “Ayat ini turun di saat kami berada dalam ketakutan yang luar biasa.  Demikianlah keadaan para shahabat pada saat itu, walaupun  Allah swt telah berjanji kepada mereka, namun Dia tidak menyegerakan terwujudnya janji Ilahiy itu, meskipun keadaan (ketakutan) mereka benar-benar telah diluar keadaan yang normal.  Hingga akhirnya, Daulah Islamiyyah di Madinah berhasil menunjukki mereka, dan Allah mengangkat mereka sebagai Khalifah yang menguasai seluruh penjuru dunia,; dan Allah mewariskan kepada mereka negeri kerajaan Kisra, Romawiy.  Tidak hanya itu saja, Allah menguatkan agama yang telah diridloiNya untuk mereka, dan mengubah ketakutan mereka menjadi rasa aman”.[1]

          Imam AL-Baidlawiy di dalam Tafsir al-Baidlawiy menyatakan, “Frase “”Sesungguhnya Allah swt telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu, dan orang-orang yang beramal sholeh”, adalah seruan (perintah/khithab) kepada Rasulullah saw dan umatnya, baik generasi awal maupun umat yang senantiasa bersama beliau saw.  Huruf min di sini berfungsi untuk menjelaskan (lil bayaan). “Layastakhlifannahum” artinya adalah, “menjadikan mereka para khalifah pengatur bumi yang akan mengatur semua kekuasaan di dalam kekuasaan mereka”…Seperti halnya Allah telah menjadi orang-orang sebelum mereka sebagai penguasa; yakni Bani Israil yang berkuasa atas Mesir dan Syam setelah runtuhnya kekuasaan al-Jabaabirah”.[2]

          Imam Qurthubiy menyatakan, maksud dari frase “wa ‘ada al-Allahu al-ladziina aamanuu minkum wa ‘amiluu al-shaalihaat layastakhlifannahum fi al-ardl” adalah “Allah akan menjadikan diantara mereka para khalifah (penguasa); dan para shahabat bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar ra setelah terjadi diskusi antara kaum Muhajirin dan Anshor di Saqifah bani Sa’idah…”[3]

           Di dalam Tafsir Qurthubiy juga disebutkan, bahwasanya Ibnu ‘Athiyah menyatakan, “Ayat ini merupakan janji Allah atas seluruh umat Islam tentang (kekuasaan) supremasi Islam atas seluruh penjuru dunia; seperti sabda Nabi saw, “Bumi telah dikumpulkan untukku, hingga aku menyaksikan timur dan baratnya.  Dan sungguh ummatku akan menguasai bumi yang telah dikumpulkan untukku“.   Ibnu ‘Athiyyah berkata, “Ayat ini merupakan janji kekuasaan atas seluruh kaum Muslim.  Yang dimaksud dengan “istikhlaafuhum” adalah menjadikan mereka menguasai bumi dan menjadi penguasanya; seperti yang terjadi di Syam, Iraq, Khurasan, dan Maghrib“.  Ibnu ‘Arabiy berkata, “Ayat ini merupakan janji umum dalam masalah nubuwwah, khilafah, tegaknya dakwah, dan berlakunya syariah secara umum.”[4]

Imam Thabariy di dalam tafsirnya menyatakan; makna frase “layastakhlifannahum fi al-ardl”, adalah sesungguhnya Allah akan mewariskan bumi kaum Musyrik, baik dari kalangan Arab dan non Arab kepada mereka (umat Islam), dan menjadikan mereka sebagai penguasanya dan mengatur urusan mereka; sebagaimana Allah telah mengangkat sebagai penguasa orang-orang sebelum mereka;  seperti yang dilakukan oleh Allah pada Bani Israil.  Sebab, mereka (Bani Israil) berhasil mengalahkan rejim Jababirah di Syam dan menjadikan mereka sebagai penguasa daerah itu, sekaligus sebagai penduduknya.”[5]

          Ali al-Shabuniy di dalam Shafwat al-Tafaasiir, menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “ Makna frase “layastakhlifannahum fi al-ardl kamastakhlafa al-ladziina min qablihim” adalah, Allah swt berjanji akan mewariskan bumi ini kepada mereka (umat Islam), dan menjadikan mereka sebagai khalifah yang akan mengatur muka bumi ini dalam kekuasaan mereka; sebagaimana Allah swt telah mengangkat kaum Mukmin sebelumnya sebagai penguasa, dan menguasai negeri-negeri kaum kafir.”[6]       

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyatakan, “Tatkala masih berada di Mekah, hampir 10 tahun lamanya, Nabi saw dan para shahabatnya menyembah dan beribadah kepada Allah swt secara sembunyi-sembunyi.  Mereka dalam keadaan penuh ketakutan, namun belum diperintahkan berperang.  Hingga akhirnya, Allah memerintahkan mereka berperang setelah mereka berhijrah ke Madinah, dan tiba di sana. Sejak saat itu, mereka hidup dalam ketakutan.  Mereka berjalan dan bangun tidur dengan menyandang senjata; dan siapa berperang dengan senjata-senjata mereka jika Allah swt telah berkehendak.  Dalam keadaan seperti itu, ada seorang shahabat bertanya kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, sepanjang waktu kami terus berada dalam ketakutan; lantas, kapan kami bisa merasakan keamanan, dan bisa meletakkan senjata kami?  Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya, tidak akan pernah kalian bersabar, kecuali kalian akan mendapatkan kemudahan; hingga seorang laki-laki diantara kalian di kepung oleh pasukan yang besar dalam keadaan kaki terikat, dan tidak ada satupun pelindung”.  Lalu, turunlah ayat ini.  Tak lama kemudian, Allah swt memenangkan Nabinya atas seluruh jazirah Arab, sehingga para shahabat hidup aman, dan bisa meletakkan senjata mereka.  Setelah itu, Allah swt mewafatkan Nabinya, dan mereka tetap berada dalam keadaan aman sentausa di bawah kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman….”[7]

Imam Syaukaniy, di dalam Fath al-Qadiir mengatakan, “Allah swt akan menjadikan mereka sebagai khalifah atas muka bumi, yang akan mengatur semua kekuasaan di bawah kekuasaan mereka”.[8]

Di dalam Kitab Zaad al-Masiir dinyatakan, “Frase “layastakhlifannahum fi al-ardl”, maknanya adalah Allah mewariskan bumi Arab maupun non Arab untuk mereka, sekaligus menjadikan mereka sebagai penguasa, pengatur, sekaligus sebagai penduduknya”.[9]

Semua ini menunjukkan, bahwa keberadaan Khilafah al-Islamiyyah merupakan janji Allah yang paling agung bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.    Pasalnya, dengan tegaknya kekuasaan Islam (Khilafah al-Islamiyyah), niscaya agama Allah swt bisa ditegakkan secara sempurna, dan keamanan kaum Muslim bisa diwujudkan.

         

Kesimpulan

1.      Allah telah menjanjikan kekuasaan atas muka bumi (menjadi khalifah) kepada kaum Mukmin.

2.      Sistem kenegaraan yang dijanjikan oleh Allah, dan telah dipraktekkan oleh para shahabat ra adalah system Khilafah Islaamiyyah, bukan negara demokrasi, ataupun negara bangsa.

3.      Di dalam ayat itu, secara simultan Allah swt telah menjanjikan kepada kaum Muslim; kekuasaan atas muka bumi (khalifah); peneguhan dan penegakkan agama Islam secara sempurna; pengubahan kondisi kaum Muslim dari keadaan takut menjadi aman sentausa; hingga mereka bisa menyembah semata-mata kepada Allah, dan menjauhi sejauh-jauhnya setiap bentuk kesyirikan.   Pada dasarnya, janji-janji tersebut saling terkait dan memiliki hubungan simultantik.  Artinya, ketika kaum Muslim telah menjadi penguasa atas muka bumi (janji pertama), maka terwujudlah janji Allah yang kedua, yakni tegaknya agama Allah secara sempurna.   Sebab, Islam hanya bisa diwujudkan dan direalisasikan secara sempurna melakukan pemerintahan dan kekuasaan.  Setelah agama Allah tegak di muka bumi, maka ‘aqidah Islam menjadi pilar negara dan masyarakat, serta syariat Islam dijadikan sebagai aturan yang mengatur seluruh interaksi yanga da di tengah-tengah masyarakat.   Ketika kondisi ini tercapai, maka kemakmuran, keamanan, dan kesejahteraan akan bisa diwujudkan secara nyata di tengah-tengah manusia (janji ketiga); menggantikan ketidaksejahteraan dan ketidakamanan.   Dalam kondisi semacam ini, maka kaum Muslim bisa mengaktualisasikan peribadahannya secara sempurna kepada Allah swt; alias mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.

4.      Menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah, dan menjadikan sistem Khilafah sebagai satu-satunya sistem pemerintahan bagi kaum Muslim merupakan wujud partisipasi dan andil kaum Muslim dalam merealisasikan janji Allah swt yang tertuang di dalam surat An Nuur (24): 55.  Sebab, tegaknya Khilafah Islamiyyah bukanlah perkara yang manusia tidak memiliki andil sama sekali.  Namun, mereka harus berjuang dan berusaha untuk menegakkannya di tengah-tengah umat.  Benar, berdirinya Khilafah merupakan akibat dari pertolongan Allah; sedangkan pertolongan Allah adalah hak prerogative dari Allah.  Hanya saja, kaum Muslim tetap memiliki andil dan diwajibkan menolong agamanya Allah, yang dengan itu mereka akan ditolong Allah swt.

 




[1] Imam al-Zarqaaniy, Manaahil al-‘Irfaan, juz 12, hal. 271

[2] Imam al-Baidlawiy, Tafsir al-Baidlawiy, juz 4, hal.197

[3] Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 1, hal. 264

[4] Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 12, hal. 299-202

[5] Imam al-Thabariy, Tafsir al-Thabariy, juz 15, hal. 158-160

 

[6]  Ali al-Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, juz 2, hal.347

[7]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsiir, juz 3, hal.302

[8]  Imam Syaukaniy, Fath al-Qadiir, juz 4, hal. 47

[9]  ‘Abdurrahman bin Ali bin Mohammad al-Jauziy,  Zaad al-Masiir, juz 6, hal. 58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: