<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Syamsuddinramadhan's Weblog</title>
	<atom:link href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com</link>
	<description>Blog ini didedikasikan untuk mencerahkan dan memahamkan umat dengan pemikiran Islam yang jernih dan mendalam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Aug 2008 06:06:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='syamsuddinramadhan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5cfad05da0b2472bc9e67145d511e5f1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Syamsuddinramadhan's Weblog</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Benarkah Orang-orang Murtad Tidak Boleh Dihukum Mati?</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/benarkah-orang-orang-murtad-tidak-boleh-dihukum-mati-2/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/benarkah-orang-orang-murtad-tidak-boleh-dihukum-mati-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 06:06:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[            Sebagian orang menolak hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, dengan alasan Nabi Mohammad saw tidak pernah mengeksekusi sendiri orang-orang yang murtad dari Islam, atau mengaku dirinya Nabi dan Rasul.   Mereka juga mengetengahkan kenyataan bahwa, Nabi Mohammad saw tidak menghukum mati suami Ummu Habibah yang murtad dari Islam, dan beliau juga tidak mengeksekusi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=96&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sebagian orang menolak hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, dengan alasan Nabi Mohammad saw tidak pernah mengeksekusi sendiri orang-orang yang murtad dari Islam, atau mengaku dirinya Nabi dan Rasul. <span>  </span>Mereka juga mengetengahkan kenyataan bahwa, Nabi Mohammad saw tidak menghukum mati suami Ummu Habibah yang murtad dari Islam, dan beliau juga tidak mengeksekusi Muzailamah al-Kadzab yang mengaku dirinya Nabi dan Rasul.<span>  </span>Berdasarkan realitas ini, mereka berpendapat bahwa orang-orang murtad tidak boleh dihukum mati, karena Nabi saw tidak mengeksekusi orang-orang yang telah murtad dari agama Islam.<span>  </span>Benarkah pendapat seperti ini?<span>  </span>Jawabnya adalah sebagai berikut;<span id="more-96"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="color:black;" lang="SV"><span>            </span>Pertama,</span></strong><span style="color:black;" lang="SV"> riwayat yang menuturkan murtadnya shahabat yang hijrah ke Habasyah, yakni suami dari Ummu Habibah, dan juga shahabat-shahabat lain saat di Mekah; dan ternyata Rasulullah saw diriwayatkan tidak mengeksekusi mereka, harus dipahami bahwa saat itu memang belum turun ayat-ayat tentang riddah dan hukumnya; sehingga wajar saja Nabi saw tidak menghukum mereka.<span>  </span></span><span style="color:black;">Namun, setelah turun wahyu mengenai riddah dan hukumannya, maka hukuman mati bagi orang-orang yang murtad telah berlaku.<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;"><span>            </span></span><strong><span style="color:black;">Kedua</span></strong><span style="color:black;">, adapun mengapa Rasulullah saw belum mengeksekusi orang yang mengaku dirinya Nabi<span>  </span>dan Rasul, diantaranya adalah Musailamah al-Habib yang berasal dari Yamamah dan al-Aswad bin Ka&#8217;ab al-&#8217;Ansiy dari Shuna&#8217;a; dikarenakan kesibukan beliau menangani urusan-urusan lain yang lebih penting, dan beliau saw tidak ingin disibukkan oleh mereka.<span>  </span>Namun, ketentuan hukuman mati bagi Musailamah al-Kadzab dan pengikutnya sudah digariskan oleh Nabi Mohammad saw. </span><span style="color:black;" lang="SV">Ini terlihat dalam sebuah riwayat yang dituturkan di dalam Sirah Ibnu Hisyam.<span>  </span>Ibnu Hisyam menuturkan, bahwa Musailamah pernah menulis surat dan mengirim dua orang utusan kepada Rasulullah saw.[Ibnu Hisyam, <em>al-Sirah al-Nabawiyyah</em>, hal 866]<span>   </span>Di dalam sebuah hadits dituturkan, bahwasanya setelah Nabi saw membaca surat Musailamah, beliau bertanya kepada dua utusan Musailamah,&#8221;<em>Bagaimana pendapat kalian berdua?&#8221;<span>  </span></em>Dua utusan itu menjawab<em>, &#8220;Pendapat kami seperti yang ia katakan.&#8221;</em><span>   </span>Mendengar ini Nabi saw bersabda:<em> &#8220;Kalaulah tidak karena utusan-utusan tidak boleh dibunuh, niscaya telah kupenggal leher kalian.&#8221;</em>[HR. Imam Ahmad dan<span>  </span>Abu Dawud]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Riwayat ini menunjukkan bahwa ketentuan hukuman mati bagi Musailamah al-Kadzdzab dan pengikutnya sudah ditetapkan oleh Nabi, namun belum dilaksanakan oleh Nabi saw dikarenakan kesibukan beliau menangani urusan lain. Barulah di masa shahabat, Musailamah al-Kadzdzab dan Nabi-nabi palsu diperangi hingga binasa.<span>   </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;" lang="SV"><span>            </span><strong>Ketiga</strong>, walaupun Nabi saw secara langsung, belum pernah mengeksekusi orang-orang yang murtad dari Islam, namun ceceran-ceceran riwayat menunjukkan bahwa beliau saw telah menetapkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam.<span>   </span></span><span style="color:black;">Dengan kata lain, walaupun <em>bil fi&#8217;li </em>Rasulullah saw belum mengeksekusi orang murtad, namun tidak berarti tidak ada hukuman mati bagi orang yang murtad, atau Nabi tidak menetapkan hukuman tersebut.<span>  </span>Pasalnya, dalam prakteknya, para shahabat telah menerapkan hukuman ini di masa Nabi saw, dan Rasulullah saw mendiamkan saja.<span>  </span>Misalnya, kasus Umar yang membunuh orang munafik yang menolak keputusan Nabi saw, hingga turun surat An Nisaa&#8217;: 60-65.<span>  </span>Tatkala Umar membunuh orang itu, Nabi saw mendiamkan.<span>  </span>Begitu pula ketika ada seorang laki-laki buta yang membunuh isterinya yang suka menghina Nabi saw.<span>  </span>Dalam kasus ini beliau juga mendiamkan.<span>  </span>Ketika Nabi saw menerima utusan Musailamah al-Kadzdzab, beliau bersabda, &#8220;<em>Seandainya aku tidak dilarang membunuh utusan, niscaya aku telah membunuh kedua orang itu&#8221;.</em>[Imam Syaukani, <em>Nailul al-Authar</em>].<span>  </span>Sabda Nabi saw di dalam hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa beliau telah menetapkan hukuman mati bagi pengikut Muzailamah al-Kadzdzab. <span>  </span>Adapun mengapa beliau tidak mengeksekusi mereka saat itu juga, disebabkan mereka adalah utusan, dan Nabi saw dilarang membunuh utusan.<span>   </span></span><span style="color:black;" lang="SV">Sedangkan jika mereka bukan utusan, maka mereka wajib dihukum mati. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;" lang="SV"><span>            </span></span><span style="color:black;">Semua ini menunjukkan bahwa Nabi saw telah memberlakukan dan menetapkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, meskipun bukan beliau sendiri yang melakukan eksekusi.<span>  </span>Akan tetapi, <em>taqrir </em>(persetujuan) beliau saw kepada para shahabat yang membunuh orang-orang murtad di masa beliau saw, merupakan dalil sharih ditetapkannya hukuman ini (hukuman mati bagi orang murtad dan pengaku Nabi saw Rasul baru).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span><strong>Keempat</strong>, di dalam hadits-hadits shahih telah disebutkan dengan jelas perintah dari Nabi saw untuk menghukum mati orang-orang yang murtad dari Islam.<span>  </span>Hadits-hadits itu adalah sebagai berikut;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Di dalam <em>Shahih Bukhari,<span>  </span></em>Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari &#8216;Ikrimah ra bahwasanya ia berkata, &#8220;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَرَّقَ قَوْمًا فَبَلَغَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحَرِّقْهُمْ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8220;<em>Sesungguhnya &#8216;Ali bin Abi Thalib telah menghukum mati suatu kaum dengan cara dibakar api.<span>  </span>Hal itu disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas ra; lalu ia (Ibnu &#8216;Abbas) berkata,&#8221; Jika saya (yang menghukum), niscaya saya tidak akan membakarnya.<span>  </span></em></span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="color:black;" lang="SV">Sebab, Nabi saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukumannya Allah (hukuman baker).<span>  </span>Dan aku (Ibnu &#8216;Abbas) akan menghukum mereka dengan hukuman mati (bunuh), sebagaimana sabda Nabi saw, &#8220;Siapa saja mengganti agamanya, maka bunuhlah ia&#8221;.</span></em><span style="color:black;" lang="SV">[HR. Imam Bukhari, Shahih Bukhari hadits no.2794]<em></em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="color:black;" lang="SV"><span>            </span></span></em><span style="color:black;" lang="SV">Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits ini dari jalan lain, yakni dari Abu Nu&#8217;man Mohammad bin al-Fadlal, dari &#8216;Ikrimah.<span>  </span>[Lihat Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no.6411].<span>  </span>Bunyi hadits itu adalah sebagai berikut;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">&#8220;Telah meriwayatkan kepada kami, Abu Nu&#8217;man Mohammad bin al-Fadl; telah meriwayatkan kepada kami Hammaad bin Zaid dari Ayyub, dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya ia berkata, &#8220;Ali bin Abi Thalib diserahi orang-orang zindiq, lalu ia membakar mereka.<span>  </span>Hal ini disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas.<span>  </span>Ia pun berkata, &#8220;Jika saya, saya tidak akan membakar mereka, berdasarkan larangan Rasulullah saw, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah; dan aku akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah, &#8220;Siapa saja mengganti agamanya, maka bunuhlah ia&#8221;.</span></span></em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">[HR. Imam Bukhari]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;"><span>            </span></span><span style="color:black;" lang="SV">Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang menuturkan hukuman mati bagi orang yang murtad dari Islam. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">(وأخبرنا) أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن محمد بن يحيى ثنا احمد بن حنبل ثنا عبد الرحمن بن مهدى عن سفيان عن الاعمش عن عبد الله بن مرة عن مسروق عن عبد الله قال قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال والذى لا اله غيره لا يحل دم رجل مسلم يشهد أن لا اله الا الله وانى رسول الله الا ثلاثة نفر التارك الاسلام المفارق للجماعة أو الجماعة والثيب الزانى والنفس بالنفس &#8211; قال الاعمش فحدثت به ابراهيم فحدثني عن الاسود عن عائشة بمثله &#8211; رواه مسلم في الصحيح عن احمد بن حنبل –</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;font-family:&quot;" dir="rtl" lang="AR-SA">&#8220;</span><em><span style="color:black;">Telah mengabarkan kepada kami, Abu &#8216;Abdullah al-Hafidz, telah meriwayatkan kepada kami, Abu &#8216;Abdullah Mohammad bin Ya&#8217;quub; telah meriwayatkan kepada kami Yahya bin Mohammad bin Yahya, dan telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Hanbal; telah meriwayatkan kepada kami &#8216;Abdurrahman bin Mahdiy dari Sofyan dari al-A&#8217;masy dari &#8216;Abdullah bin Marrah dari Masruuq dari &#8216;Abdullah; bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw sedang berdiri bersama kami; lalu, beliau saw bersabda, &#8220;Demi Dzat Yang Tidak ada Sesembahan selain Dia, tidak halal darah seorang Muslim yang mengucapkan tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah uturan Allah, kecuali tiga orang; orang yang murtad dari Islam dan memecah belah jama&#8217;ah; seseorang yang telah bersuami atau beristeri yang melakukan zina, dan orang yang membunuh jiwa&#8221;.</span></em><span style="color:black;">[HR. Imam Muslim dari Ahmad bin Hanbal]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud juga menuturkan hadits-hadits tentang hukuman mati bagi orang yang murtad.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام أَحْرَقَ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَمْ أَكُنْ لِأُحْرِقَهُمْ بِالنَّارِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَكُنْتُ قَاتِلَهُمْ بِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ وَيْحَ ابْنِ عَبَّاسٍ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8220;Telah meriwayatkan kepada kami, Ahmad bin Hanbal; telah meriwayatkan kepada kami, Ismail bin Ibrahim; telah mengabarkan kepada kami Ayyub, dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya Ali ra telah membakar orang-orang yang murtad dari Islam.<span>  </span></span></span></span></em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="color:black;" lang="SV">Hal ini disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas ra, maka ia berkata, &#8220;Saya tidak akan membakar mereka dengan api.<span>  </span>Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah&#8221;.<span>  </span>Saya akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah saw.<span>  </span>Sesungguhnya Nabi saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agamanya bunuhlah dia&#8221;.<span>  </span>Hal ini disampaikan kepada &#8216;Ali bin Abi Thalib, dan beliau pun berkata, &#8220;Celakalah Ibnu &#8216;Abbas</span></em><span style="color:black;" lang="SV">&#8220;.[HR. Imam Abu Dawud]<em></em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Imam Turmudziy juga meriwayatkan hadits hadits senada;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا حَرَّقَ قَوْمًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ وَلَمْ أَكُنْ لِأُحَرِّقَهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا فَقَالَ صَدَقَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ حَسَنٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْمُرْتَدِّ وَاخْتَلَفُوا فِي الْمَرْأَةِ إِذَا ارْتَدَّتْ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ تُقْتَلُ وَهُوَ قَوْلُ الْأَوْزَاعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ تُحْبَسُ وَلَا تُقْتَلُ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="color:black;">Telah meriwayatkan kepada kami, Ahmad bin &#8216;Abdah al-Dlabbiy al-Bashriy; telah meriwayatkan kepada kami, &#8216;Abdu al-Wahhaab al-Tsaqafiy; telah meriwayatkan kepada kami Ayyub, dari Ikrimah, bahwasanya Ali telah membakar suatu kaum yang murtad dari Islam.<span>  </span>Hal ini disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas ra.<span>  </span>Beliau berkata, &#8220;Jika saya, saya akan membunuhnya berdasarkan sabda Rasulullah saw, &#8220;Siapa saja murtad dari agamanya maka bunuhlah dia&#8221;.<span>  </span></span></em><em><span style="color:black;" lang="SV">Dan saya (Ibnu &#8216;Abbas) tidak akan membakarnya berdasarkan sabda Rasulullah saw, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah.<span>  </span>Hal ini disampaikan kepada &#8216;Ali, dan ia berkata, &#8220;Benarlah Ibnu &#8216;Abbas&#8221;.<span>  </span>Menurut Abu &#8216;Isa (Imam Turmudziy) hadits ini shahih hasan.<span>  </span>Hadits ini diamalkan oleh para ulama dalam kasus orang yang murtad dari Islam.<span>  </span>Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai sanksi bagi wanita yang murtad dari Islam.<span>  </span>Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang murtad wajib dibunuh.<span>  </span>Ini adalah pendapat al-Auza&#8217;iy, Ahmad, dan Ishaq.<span>  </span>Sedangkan ulama lain berpendapat wanita murtad harus dipenjara dan tidak dibunuh.<span>  </span>Ini adalah pendapat Sofyan al-Tsauriy dan ulama-ulama dari Kufah.</span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;" lang="SV"><span>          </span></span></strong><span style="font-size:small;"><span style="color:black;" lang="SV">Imam An Nasaaiy menuturkan;</span><span style="font-size:16pt;color:black;" lang="SV"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">&#8220;Telah mengabarkan kepada kami &#8216;Imran bin Musa; ia berkata; telah mengabarkan kepada kami &#8216;Abdu al-Waarits; telah mengabarkan kepada kami Ayyub, dari &#8216;Ikrimah;bahwasanya ia berkata, &#8220;Ibnu &#8216;Abbas ra berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia&#8221;.</span></span></em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">[HR. Imam An Nasaaiy]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَحَرَّقَهُمْ عَلِيٌّ بِالنَّارِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحَرِّقْهُمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ أَحَدًا وَلَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتُهُمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8220;Telah mengabarkan kepada kami; Mohammad bin &#8216;Abdullah bin al-Mubaarak; ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami, Ayyub bin Hisyam; ia berkata telah meriwayatkan kepada kami Wuhaib; ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Ayyub dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya ada sekelompok orang murtad dari Islam.<span>  </span></span></span></span></em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="color:black;" lang="SV">Ali pun membakar mereka dengan api.<span>  </span>Ibnu &#8216;Abbas ra berkata, &#8220;Jika saya, saya tidak akan membakar mereka dengan api.<span>  </span>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum seseorang dengan hukuman Allah.<span>  </span>Sekiranya aku, maka aku akan membunuhnya.<span>  </span>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia&#8221;.</span></em><span style="color:black;" lang="SV">[HR. Imam An Nasaaiy]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">&#8220;Telah mengabarkan kepada kami, Mahmud bin Ghailan, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Mohammad bin Bakr, ia berkata, telah menuturkan kepada kami Ibnu Juraij; ia berkata telah menuturkan kepada kami Ismail, dari Ma&#8217;mar dari Ayyub dari &#8216;Ikrimah dari Ibnu &#8216;Abbas ra, bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, bunuhlah ia&#8221;.</span></span></em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">[HR. Imam An Nasaaiy]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">أَخْبَرَنِي هِلَالُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8220;<em>Telah mengabarkan kepada kami Hilal bin al-&#8217;Ilal, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami, Ismail bin &#8216;Abdillah bin Zurarah; ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami, &#8216;Abbad bin al-&#8217;Awwam, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Sa&#8217;iid dari Qatadah, dari &#8216;Ikrimah dari Ibnu &#8216;Abbas, bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia&#8221;.</em>[HR. Imam An Nasaaiy]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَهَذَا أَوْلَى بِالصَّوَابِ مِنْ حَدِيثِ عَبَّادٍ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="color:black;">Telah mengabarkan kepada kami Musa bin &#8216;Abd al-Rahman, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Mohammad bin Bisyr, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Sa&#8217;id dari Qatadah, dari al-Hasan, bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agamanya (Islam) maka bunuhlah ia&#8221;.<span>  </span></span></em><em><span style="color:black;" lang="SV">Abu &#8216;Abd al-Rahman berkata, &#8220;Hadits ini lebih utama kebenarannya dari haditsnya &#8216;Abbad&#8221;. </span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى عَنْ عَبْدِ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">&#8220;Telah mengabarkan kepada kami, al-Husain bin &#8216;Isa, dari &#8216;Abd al-Shamad, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas, bahwasanya Ibnu &#8216;Abbas berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dariu agamanya, maka bunuhlah ia&#8221;.</span></span></em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">[HR. Imam An Nasaaiy]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Imam Ibnu Majah juga meriwayatkan riwayat tentang hukuman mati bagi orang yang murtad dari Islam, sebagai berikut; </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8220;<em>Telah meriwayatkan kepada kami, Mohammad bin al-Shabbaah: telah mengabarkan kepada kami Shofyan bin &#8216;Uyainah dari Ayyub dari &#8216;Ikrimah, dari Ibnu &#8216;Abbas bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agamanya (Islam), bunuhlah ia&#8221;.</em>[HR. Ibnu Majah]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;"><span>            </span></span><span style="color:black;" lang="SV">Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits-hadits tentang hukuman mati bagi orang yang murtad.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا حَرَّقَ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَمْ أَكُنْ لِأُحَرِّقَهُمْ بِالنَّارِ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَكُنْتُ قَاتِلَهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ فَقَالَ وَيْحَ ابْنِ أُمِّ ابْنِ عَبَّاسٍ</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8220;<em>Telah meriwayatkan kepada kami, Ismail; telah meriwayatkan kepada kami Ayyub dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya Ali telah membakar orang-orang yang murtad dari Islam.<span>  </span>Hal itu kemudian disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas, dan ia berkata, &#8220;Saya tidak akan membakar mereka dengan api, karena Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah.<span>  </span>Dan saya akan membunuh mereka, berdasarkan sabda Rasulullah saw, &#8220;Siapa saja murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia.<span>  </span>Hal ini disampaikan kepada &#8216;Ali ra, dan Ali ra berkata, &#8220;Celakalah anak ibunya Ibnu &#8216;Abbas&#8221;.</em>[HR. Imam Ahmad]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Hadits-hadits di atas dengan sharih menyatakan bahwa Nabi saw telah memerintahkan umatnya untuk mengeksekusi mati orang-orang yang murtad dari Islam.<span>  </span>Dan salah satu sebab yang menjatuhkan seorang Muslim ke dalam kemurtadan adalah mengaku Nabi dan Rasul palsu, atau menjadi pengikut mereka.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="color:black;"><span>            </span>Keempat</span></strong><span style="color:black;">, ayat al-Quran dengan sharih menjelaskan bahwa orang-orang yang murtad dari Islam wajib dihukum mati.<span>   </span></span><span style="color:black;" lang="SV">Allah swt berfirman;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا(*)وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><em><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">&#8220;</span></span></em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="color:black;" lang="SV">Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.</span></em><em><span style="color:black;font-family:&quot;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span>   </span></span></em><em><span style="color:black;" lang="AR-SA"><span> </span></span></em><em><span style="color:black;" lang="SV">Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong</span></em><span style="color:black;" lang="SV">&#8220;.[TQS An Nisaa' (4):88-89] </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan mengenai latar belakang turunnya ayat ini –yang intinya sebagai berikut, &#8220;<em>Ada beberapa orang Arab mendatangi Rasulullah saw di Madinah, lalu mereka masuk Islam.<span>  </span>Setelah itu, mereka ditimpa demam Madinah, dan<span>  </span>lalu, murtad dari Islam (kembali kepada kekafiran).<span>   </span>Kemudian, mereka keluar dari Madinah.<span>  </span>Di tengah jalan mereka bertemu dengan shahabat Nabi saw, dan shahabat Nabi bertanya sebab-sebab mereka keluar dari Madinah.<span>  </span>Mereka menjawab, bahwa mereka tertimpa demam Madinah.<span>  </span>Para shahabat berkata, &#8220;Mengapa kalian tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah? Para shahabat akhirnya berbeda pendapat, ada yang berpendapat mereka telah menjadi kafir dan wajib dibunuh, sedangkan yang lain berpendapat mereka masih Islam sehingga tidak boleh ditawan dan dibunuh.<span>  </span>Lalu, turunlah ayat ini untuk mencela kedua kelompok shahabat tadi, dan memerintahkan kaum Muslim untuk menawan dan membunuh orang-orang Arab yang murtad itu&#8221;.</em>[Lihat dan bandingkan dengan Tafsir Ibnu Katsir, surat An Nisaa':88-89]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;" lang="SV"><span>            </span></span><strong><span style="color:black;" lang="SV">Kelima</span></strong><span style="color:black;" lang="SV">, ketetapan hukuman mati bagi orang murtad –termasuk di dalamnya Nabi palsu dan pengikutnya&#8211; semakin jelas, ketika para shahabat menerapkannya pada kasus-kasus riddah (murtad).<span>  </span>Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai tenggat waktu taubat bagi orang-orang yang murtad.<span>  </span>Ada yang menetapkan 3 hari, 1 bulan, dan ada yang lebih.<span>   </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, barulah para shahabat ra memerangi Musailamah al-Kadzdzab, nabi-nabi palsu, kaum murtad, dan para penolak zakat. [lihat al-Hafidz al-Suyuthiy, <em>Taariikh al-Khulafaa', </em>hal. 55-59].<span>  </span>Adapun panglima perang yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar untuk memerangi Musailamah al-Kadzab adalah Khalid bin Walid.<span>    </span>Akhirnya, atas ijin Allah swt, Musailamah al-Kadzab laknatullah berhasil dibunuh.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Pada tahun 12 hijrah, Abu Bakar mengutus al-&#8217;Ilaa&#8217; bin al-Hadlramiy untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Bahrain.<span>  </span>Beliau juga mengutus al-Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Najiir.<span>   </span>Beliau juga mengirim Ziyad bin Labid al-Anshariy untuk memerangi sekelompok orang-orang yang keluar dari Islam.<span>  </span>[al-Hafidz al-Suyuthiy, <em>Taariikh al-Khulafaa', </em>hal. 58]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Prof. Mohammad Hamidullah, di dalam kitab <em>al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-&#8217;Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa&#8217; al-Raasyidiin</em>, menuturkan bahwasanya Abu Bakar ra mengutus beberapa orang shahabat untuk memerangi orang-orang yang murtad dari Islam; diantaranya adalah orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul, para penolak zakat, dan lain sebagainya.<span>   </span>Abu Bakar mengangkat Khalid bin Walid untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid, dan jika ia telah selesai melaksanakan tugasnya, ia disuruh memerangi Malik bin Nuwairah (penolak kewajiban zakat) di Bathaah.<span>  </span>Beliau mengangkat &#8216;Ikrimah bin Abi Jahal untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah, dan setelah selesai ia ditugaskan untuk berangkat menuju Qadla&#8217;ah.<span>  </span>Beliau juga mengangkat Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi al-&#8217;Ansiy; melindungi penduduk Yaman dari Qais bin Maksyuuh.<span>  </span>Setelah selesai ia ditugaskan memerangi Bani Kindah di Hadlramaut.<span>  </span>Beliau juga mengutus Khalid bin Sa&#8217;id bin al-&#8217;Ash ke Yaman dan al-Hamqatain di daerah Masyaarif al-Syam.<span>  </span>Beliau mengirim &#8216;Amru bin &#8216;Ash untuk memerangi kaum murtad di Bani Qudlaa&#8217;ah, Wadi&#8217;ah, dan al-Harits. Beliau mengangkat Hudzaifah bin Mihshan al-Ghalfaaniy untuk memerangi kaum murtad di Daba yang terletak di &#8216;Amman.<span>  </span>Beliau mengutus &#8216;Urfajah bin Hartsamah untuk memerangi kaum murtad di Mahrah.<span>  </span>Beliau mengangkat Suwaid bin Muqarrin untuk memerangi kaum murtad di Tihamah, Yaman. Sedangkan Tharifah bin Hajiz, beliau utus untuk memerangi kaum murtad di Bani Sulaim.<span>  </span>Beliau ra mengirim al-&#8217;Ila&#8217; al-Hadlramiy untuk memerangi kaum murtad di Bahrain. [Mohammad Hamidullah, <em>al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-'Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa' al-Raasyidiin</em>, hal. 338-339]</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Semua ini menunjukkan bahwa, orang-orang Islam yang mengaku dirinya sebagai Nabi baru beserta pengikut-pengikutnya adalah kafir, dan diperlakukan sama seperti orang-orang yang murtad dari Islam.<span>    </span>Mereka diminta bertaubat dan kembali kepada Islam.<span>   </span>Jika mereka menolak mereka wajib diperangi.<span>   </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tidak bisa dinyatakan, bahwa orang-orang yang mendirikan agama baru dan keyakinan baru, seraya mendakwakan dirinya Nabi baru, dibiarkan begitu saja atau malah kita wajib tolerans kepada mereka, seperti halnya sikap kita terhadap para pemeluk agama-agama Kristen, Yahudi, Budha, dan lain sebagainya.<span>   </span>Sebab, ijma&#8217; shahabat telah sepakat, bahwa orang-orang yang mengaku-ngaku Nabi baru dan mendirikan agama baru, harus diperangi.<span>    </span>Oleh karena itu, siapa saja yang mengaku dirinya Nabi atau Rasul, beserta orang-orang yang mengikutinya dihukumi <em>kafir-zindiq</em>; dan mereka dijatuhi sanksi hukuman mati.<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;" lang="SV"><span>            </span>Sesungguhnya, Nabi, para shahabat, dan ulama kaum Muslim telah mempraktekkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam.<span>   </span>Adapun propaganda sebagian orang yang menyatakan bahwa Islam tidak menetapkan hukuman mati bagi pelaku riddah, sesungguhnya, semua itu adalah propaganda jahat yang ditujukan untuk memenuhi keinginan-keinginan kaum kafir memberangus syariat Islam yang agung dan mulia. </span><em><span style="color:black;" lang="ES">Wallahu al-Haadiy al-Muwaffiq ila Aqwaam al-Thaariq.</span></em><span style="color:black;" lang="ES"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="ES"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="ES"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;" lang="ES"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:0;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" dir="rtl"><span style="color:black;" dir="ltr"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=96&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/benarkah-orang-orang-murtad-tidak-boleh-dihukum-mati-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYARIAT DAN KEMASHLAHATAN</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/syariat-dan-kemashlahatan/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/syariat-dan-kemashlahatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 05:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[


          Di tengah semakin menguatnya mainstream ”penegakkan syariah dan Khilafah”, muncul ”propaganda-propaganda aneh” yang tidak pernah dikenal oleh kaum Muslim sebelumnya.  Propaganda-proganda busuk itu sengaja disebarkan ke tengah-tengah kaum Muslim untuk memalingkan umat Islam dari penerapan syariat Islam yang benar, sekaligus untuk menjustifikasi realitas rusak yang telah menyimpang dari syariat Islam.  Salah satu propaganda busuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=93&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Di tengah semakin menguatnya mainstream ”penegakkan syariah dan Khilafah”, muncul ”propaganda-propaganda aneh” yang tidak pernah dikenal oleh kaum Muslim sebelumnya.<span>  </span>Propaganda-proganda busuk itu sengaja disebarkan ke tengah-tengah kaum Muslim untuk memalingkan umat Islam dari penerapan syariat Islam yang benar, sekaligus untuk menjustifikasi realitas rusak yang telah menyimpang dari syariat Islam. <span> </span>Salah satu propaganda busuk itu adalah ”<em>di dalam al-Quran dan sunnah, syariat tidak ekplisit dimaknai dengan hukum; syariat itu adalah merealisasikan kemashlahatan, dimana ada mashlahat di situ ada syariat</em>”. <span id="more-93"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Propaganda ini mengesankan bahwa hukum Islam ditetapkan berdasarkan peraihan mashlahat dan penolakan kerusakan (<em>jalb al-mashaalih wa dar`u al-mafaasid</em>).<span>  </span>Dengan kata lain, ada tidaknya hukum Islam (syariat) tergantung pada ada atau tidak adanya mashlahat.<span>  </span>Hukum syariat bisa saja dianulir jika tidak bisa mewujudkan kemashlahatan, sebaliknya, perkara-perkara yang jelas-jelas haram menurut hukum syariat, bisa saja dianggap sebagai kewajiban syariat jika bisa merealisasikan kemashlahatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Pertanyaan yang perlu diajukan adalah;</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Benarkah al-Quran dan sunnah tidak secara eksplisit memaknai <em>syarii’at</em> <span> </span>dalam konteks hukum atau aturan? Benarkah <em>syarii’at</em> bisa diartikan dengan perealisasian mashlahat?</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Benarkah hukum syariat itu ditetapkan berdasarkan kemashlahatan; atau benarkah kemashlahatan itu adalah <em>’illat </em>penetapan hukum syariat, sehingga bisa dinyatakan bahwa hukum syariat beredar dengan ada tidaknya mashlahat? </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Penjelasan yang benar atas pertanyaan di atas adalah sebagai berikut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">DEFINISI SYARII’AT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Pada dasarnya, pemaknaan kata <em>syarii’ah</em> harus dikembalikan kepada <em>waadli’ al-lughah </em>(pembuat bahasa) kata tersebut, yakni orang Arab.<span>  </span>Sebab, kata <em>al-syarii’ah</em> adalah lafadz bahasa Arab yang digunakan oleh orang Arab untuk menunjukkan makna tertentu. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Pemaknaan atas lafadz tersebut tidak menerima ijtihad atau istinbath, namun cukup merujuk kepada makna yang disasar oleh orang Arab, sebagaimana kaedah bahasa menyatakan, ”<em>La mahalla li ’aql”</em> (tidak ada tempat bagi akal).<span>  </span>Lalu, apa makna kata ”<em>al-syarii’ah</em>?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Definisi Syarii’ah Menurut Ulama Kamus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Imam Ibnu Mandzur di dalam <em>Kitab Lisaan al-’Arab</em> menyatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">والشَّريعةُ والشِّراعُ والمَشْرَعةُ المواضعُ التي يُنْحَدر إِلى الماء منها قال الليث وبها سمي ما شَرَعَ الله للعبادِ شَريعةً من الصوم والصلاةِ والحج والنكاح وغيره والشِّرْعةُ والشَّريعةُ في كلام العرب مَشْرَعةُ الماء وهي مَوْرِدُ الشاربةِ التي يَشْرَعُها الناس فيشربون منها ويَسْتَقُونَ </span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;">“<em>Kata al-syarii’ah, al-syarraa’, dan al-masyra’ah</em> bermakna <em>al-mawaadli’ allatiy yunhadaru ila al-maa’</em> (tempat-tempat yang darinya dikucurkan air).<span>  </span>Berkata al-Laits, al-syarii’ah dinamakan juga dengan syariat yang disyariatkan (ditetapkan) Allah swt kepada hamba, mulai dari puasa, sholat, haji, nikah dan sebagainya.<span>  </span>Sedangkan kata al-syir’ah dan al-syir’ah, menurut bahasa Arab artinya adalah <em>masyra’at al-maa’ (sumber air)</em>, yakni <em>maurid al-syaaribah allatiy yasyra’uhaa al-naas, fa yasyrabuuna minhaa wa yastaquuna </em>(sumber air minum yang dibuka oleh manusia, kemudian mereka minum dari tempat itu, dan menghilangkan dahaga). [Imam Ibnu Mandzur, <em>Lisaan al-‘Arab, </em>juz 8, hal. 175]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;"><span>          </span></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Imam Al-Raaziy di dalam <em>Kamus Mukhtaar al-Shihaah</em> menyatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">الشَّرِيعة مَشْرَعة الماء وهي مَوْرِد الشَّارِبة. والشَّرِيعة أيضاً ما شَرَع اللهُ لِعِبادِه من الدِّينِ وقد شَرَع لهم أي سَنَّ وبابه قَطَع. &#8230;.والشِّرْعة الشَّريعة ومنه قوله تعالى (لِكلٍّ جَعَلْنا مِنْكُمْ شِرْعةً ومِنْهاجاً) </span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”<em>Lafadz al-Syarii’ah bermakna masyra’at al-maa’ (maurid al-syaaribah : sumber air).<span>  </span>Kata al-syarii’ah juga bermakna: agama yang disyariatkan Allah swt kepada hamba-hambaNya.<span>  </span>Jika dinyatakan Allah telah mensyariatkan kepada mereka, maksudnya adalah sanna (menetapkan aturan untuk mereka).<span>  </span>Lafadz ini termasuk dalam wazan ”qatha’a)”…Kata al-syir’ah bisa bermakna al-syarii’ah, sebagaimana firman Allah swt, ”Likulli ja’alnaa minkum syir’at wa minhaajan”.</em>[<em>Untuk setiap umat di antara kamu, Kami jadikan aturan dan jalan yang terang”.</em>(TQS Al Maidah (5):48)][Imam al-Raaziy, <em>Mukhtaar al-Shihaah, </em>juz 1, hal. 161]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Pengarang <em>Kitab al-’Ain</em> mengatakan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">الشّريعة والشّرْعة: ما سنّ الله من الدّين وأمر بالتّمسك به كالصلاة والصوم والحج وقد شَرَعَها الله يَشْرَعها شَرْعاً.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">”al-Syarii’ah wa al-syir’ah: perkara agama yang Allah swt telah menetapkannya, dan memerintahkan untuk selalu berpegang teguh dengannya, seperti sholat, puasa, haji.<span>  </span>Dan Allah swt telah mensyariatkan perkara tersebut, maksudnya adalah Allah swt telah menetapkan <span> </span>perkara tersebut secara syar’iy (menurut hukum)”.</span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">[Ibnu Saidah, <em>al-Mukhashshash, </em>juz 3, hal. 163]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"><span>          </span></span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Al-Shaahib bin ’Ibad, di dalam <em>Kamus al-Muhiith</em> <em>fi al-Lughah </em>menyatakan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">شَرَعَ الوارِدُ شُرُوْعاً: تَنَاوَلَ الماءَ. والشرِيْعَةُ والشراعُ والمَشْرَعَةُ والمَشْرُعَةُ: مَوْضِعٌ يُهيأُ للشرْب&#8230;.. والشرِيْعَةُ الشرْعَةُ: ما شَرَعَ اللَهُ لِعبادِه من أمْر الدَين، وهو يَشْتَرِعُ شِرْعَتَه.</span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">“Syara’a al-waarid syuruu’an : tanaawala al-maa’ (memberi air).<span>  </span>Kata al-syarii’ah, al-syaraa’, al-masyra’ah, dan al-masyru’ah : adalah tempat yang dipersiapkan untuk minum&#8230;al-syarii’ah al-syir’atu : urusan agama yang disyariatkan (ditetapkan) Allah swt kepada hamba-hambaNya.<span>  </span>Dan Dialah yang membuat hukum-hukumnya”.</span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">[Al-Shaahib bin ‘Ibaad, <em>al-Muhiith fi al-Lughah,</em>juz 1, hal. 44]<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"><span>          </span></span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam <em>Kamus Bahr al-Muhiith </em>disebutkan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">الشَّريعَةُ ما شَرَعَ اللّهُ تعالى لعبادِهِ، والظاهرُ المُسْتَقيمُ من المَذاهِبِ</span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">“A<em>l-syarii’ah:<span>  </span>perkara yang disyariatkan oleh Allah swt kepada hamba-hambaNya.<span>  </span>Dan bisa juga berarti madzhab-madzhab (rujukan-rujukan) yang jelas dan lurus”.</em>[Fairuz Abadiy, <em>al-Qaamuus al-Muhiith, </em>juz 2, hal. 290]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Inilah makna kata “al-syarii’ah” menurut ulama-ulama ahli bahasa Arab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;">Makna Syarii’at Menurut Ulama Tafsir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;"><span>          </span></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Makna <em>syarii’at</em> menurut ulama tafsir, tidak jauh berbeda dengan makna yang dipahami oleh ulama ahli bahasa Arab.<span>  </span>Ketika menafsirkan firman Allah swt, surat al-Maidah ayat 48, Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy menjelaskan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">والشرعة والشريعة الطريقة الظاهرة التي يتوصل بها إلى النجاة. والشريعة في اللغة: الطريق الذي يتوصل منه إلى الماء</span></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV">.</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">والشريعة ما شرع الله لعباده من الدين; وقد شرع لهم يشرع شرعا أي سن. والشارع الطريق الأعظم&#8230;..الآية أنه جعل التوراة لأهلها; والإنجيل لأهله; والقرآن لأهله; وهذا في الشرائع والعبادات; والأصل التوحيد لا اختلاف فيه; روي معنى ذلك عن قتادة. وقال</span></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>مجاهد: الشرعة والمنهاج دين محمد عليه السلام; وقد نسخ به كل ما سواه</span></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV">.</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">“<em>Kata al-syir’ah dan al-syarii’ah bermakna jalan terang yang mengantarkan pada keselamatan. Menurut bahasa, kata al-syarii’ah, bermakna al-thariiq alladziy yatawashshalu minhu ila al-maa` (jalan yang mengantarkan kepada air).<span>  </span>Lafadz al-syarii’ah juga bermakna agama yang disyariatkan (ditetapkan) Allah kepada hamba-hambaNya; dan Allah telah mensyariatkan (kepada mereka), maksudnya adalah mensyariatkan (menetapkan) syariat atau jalan.<span>  </span>Kata al-syaari` bermakna al-thariiq al-a’dzam (jalan besar)&#8230;.Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt telah menetapkan Taurat kepada pemeluknya, Injil kepada pemeluknya, al-Quran kepada pemeluknya.<span>  </span>Ayat ini berbicara pada konteks syariat-syariat (hukum-hukum) dan ibadah-ibadah.<span>  </span>Sedangkan pokok ketauhidan tidak ada perbedaan.<span>  </span>Makna semacam ini dituturkan dari Qatadah. Mujahid berkata, ”Kata al-syir’ah dan al-minhaaj maknanya adalah agama (diin) Mohammad saw, dan ia telah menasakh (menghapus) seluruh agama lain.”</em>[Imam Qurthubiy, <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Imam Ibnu Katsir di dalam <em>Kitab Tafsiir al-Quran al-’Adziim</em> mengungkapkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">فإن الشرعة وهي الشريعة أيضا، هي ما يبتدأ فيه إلى الشيء ومنه يقال: "شرع في كذا" أي: ابتدأ فيه. وكذا الشريعة وهي ما يشرع منها إلى الماء. أما "المنهاج": فهو الطريق الواضح السهل، والسنن: الطرائق، فتفسير قوله: { شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا } بالسبيل والسنة أظهر في المناسبة من العكس، والله أعلم</span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">“Kata al-syir’ah juga bermakna al-syarii’ah; yakni sesuatu yang membuka ke sesuatu.<span>  </span>Dari sini dinyatakan, “syara’a fi kadza” (mensyariatkan yang demikian); sedangkan maknanya adalah ibtada`a fiihi (memulai, atau membuka jalan pertama kali).<span>  </span>Demikian juga al-syarii’ah, ia bermakna “ma yasyra’u minhaa ila al-maa`” (jalan yang mengantarkan menuju air)”.<span>  </span></span></em><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">Adapun kata “al-minhaaj” adalah al-thariiq al-waadliih al-sahl (jalan yang jelas dan mudah).<span>  </span>Kata al-sunan, maknanya adalah al-tharaaiq (jalan-jalan).<span>  </span>Oleh karena itu, menafsirkan firman Allah swt “syir’atan wa minhajan” dengan jalan dan sunnah jelas lebih sesuai dari sebaliknya. Wallahu a’lam”.</span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">[Imam Ibnu Katsir, <em>Tafsiir Ibnu Katsiir, </em>juz </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"><span>          </span></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Imam Syaukani di dalam <em>Kitab Fath al-Qadiir</em> menyatakan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">الشرعة والشريعة في الأصل : الطريقة الظاهرة التي يتوصل بها إلى الماء ، ثم استعملت فيما شرعه الله لعباده من الدين . والمنهاج : الطريقة الواضحة البينة . وقال أبو العباس محمد بن يزيد المبرد الشريعة : ابتداء الطريق ، والمنهاج الطريق المستمر . ومعنى الآية : أنه جعل التوراة لأهلها ، والإنجيل لأهله ، والقرآن لأهله ، وهذا قبل نسخ الشرائع السابقة بالقرآن ، وأما بعده فلا شرعة ولا منهاج إلا ما جاء به محمد صلى الله عليه وسلم.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">“<em>Pada asalnya, kata al-syir’ah dan al-syarii’ah bermakna jalan terang yang bisa mencapai air.<span>  </span>Selanjutnya kata ini digunakan dengan makna, agama (diin) yang disyariatkan Allah swt kepada hambaNya.<span>  </span>Sedangkan kata al-minhaaj: jalan terang dan jelas.<span>  </span>Abu al-’Abbas Mohammad bin Yazid al-Mubarrad,”Kata al-syarii’ah bermakna ibtidaa’ al-thariiq (permulaan jalan), sedangkan al-minhaaj bermakna jalan yang berulang-ulang (al-thariiq al-mustamirah).<span>  </span>Makna ayat ini [srat al-Maidah :48] adalah; sesungguhnya Allah swt menjadikan Taurat untuk pemeluknya, Injil untuk pemiliknya, dan al-Quran untuk pemeluknya.<span>  </span>Ini terjadi sebelum penghapusan syariat-syariat terdahulu oleh al-Quran.<span>  </span>Adapun setelah turunnya al-Quran, maka tidak ada syir’ah dan minhaaj, kecuali yang dibawa oleh Nabi Mohammad saw</em>”.[Imam Syaukaniy, <em>Fath al-Qadiir, </em>juz 2, hal. 319]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Kata Syarii’ah Menurut ’Urf Para Ulama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Pada konteks awalnya (hakekat lughawiyyah) kata ”<em>syarii’a</em>h bermakna ”<em>al-thariiqah al-dzaahirah allatiy yatawashshalu bihaa ila al-maa</em>” (</span><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">jalan terang yang bisa mencapai air). </span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>  </span>Selanjutnya kata ”<em>al-syarii’ah</em>” digunakan oleh para pengguna bahasa Arab dengan makna ”urusan agama yang ditetapkan Allah swt kepada hambaNya”.<span>  </span>Mereka juga memaknai kata <em>syarii’ah </em>sebatas pada aturan-aturan agama yang bersifat <em>’amaliyyah </em>(praktis), bukan <em>i’tiqaadiyyah </em>(keyakinan).<span>  </span>Imam Thabariy telah menuturkan pemahaman semacam ini di dalam riwayat-riwayat shahih.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">حدثنا بشر بن معاذ قال، حدثنا يزيد قال، حدثنا سعيد، عن قتادة قوله:&#8221;لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجًا&#8221; يقول: سبيلا وسُنّة. والسنن مختلفة: للتوراة شريعة، وللإنجيل شريعة، وللقرآن شريعة، يحلُّ الله فيها ما يشاء، ويحرِّم ما يشاء بلاءً، ليعلم من يطيعه ممن يعصيه. ولكن الدين الواحد الذي لا يقبل غيره: التوحيدُ والإخلاصُ لله، الذي جاءت به الرسل.</span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;">“<em>Telah meriwayatkan kepada kami, Basyar bin Mu’adz, bahwasanya ia berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami Yazid, ia berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami Sa’iid, dari Qatadah mengenai firman Allah swt “Likulli ja’alnaa minkum syir’ah wa minhajan”, ia berkata, “Maksudnya adalah jalan dan sunnah.<span>  </span>Sedangkan jalan-jalan itu sangat beragam.<span>  </span>Taurat memiliki syariat tersendiri, Injil memiliki syariat tersendiri, dan al-Quran juga memiliki syariat sendiri.<span>  </span>Di dalamnya, Allah menghalalkan apa yang Dia kehendaki dan<span>  </span>mengharamkan apa yang Dia kehendaki, untuk mengetahui siapa yang mentaatiNya dan siapa yang membangkang kepadaNya.<span>  </span>Hanya saja diin (pokok keyakinan) tetaplah satu dan tidak menerima keyakinan yang lain; yakni al-tauhid (pengesaan Allah) dan ikhlash beramal semata-mata untuk Allah swt, yang mana prinsip tauhid dan ikhlash ini diturunkan kepada para Rasul.” </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:black;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">حدثنا الحسن بن يحيى قال، أخبرنا عبد الرزاق قال، أخبرنا معمر، عن قتادة قوله:&#8221;لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجًا&#8221;، قال: الدينُ واحد، والشريعةُ مختلفة.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”<em>Telah meriwayatkan kepada kami al-Hasan bin Yahya, bahwasanya ia berkata, ”Telah mengabarkan kepada kami ’Abd al-Razaq, bahwasanya ia berkata, ”Telah meriwayatkan kepada kami Ma’mar , dari Qatadah mengenai firman Allah swt ”likulli ja’alnaa minkum syir’atan wa minhaajan”, </em>ia berkata, ”<em>Diin itu satu sedangkan syariat (hukum) itu beragam”.</em>[Imam Thabariy, <em>Tafsir al-Thabariy</em>, juz 10, hal. 385]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Imam Ibnu Katsir menyatakan; <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">ثم هذا إخبار عن الأمم المختلفة الأديان، باعتبار ما بعث الله به رسله الكرام من الشرائع المختلفة في الأحكام، المتفقة في التوحيد، كما ثبت في صحيح البخاري، عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: &#8220;نحن معاشر الأنبياء إخوة لعلات، ديننا واحد&#8221;</span></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>يعني بذلك التوحيد، الذي بعث الله به كل رسول أرسله، وضمنه كل كتاب أنزله، كما قال تعالى: { وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ } [الأنبياء: 25] وقال تعالى: { وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ } الآية [النحل: 36]، وأما الشرائع فمختلفة في الأوامر والنواهي، فقد يكون الشيء في هذه الشريعة حراما ثم يحل في الشريعة الأخرى، وبالعكس، وخفيفًا فيزاد في الشدة في هذه دون هذه. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”Ayat ini merupakan ikhbar (berita) mengenai umat-umat yang memiliki agama beragam, yakni syariat yang sangat beragam dalam masalah hukum-hukum yang diturunkan kepada Rasul-rasulNya yang mulia, namun berkesesuaian dalam masalah tauhid.<span>  </span>Sebagaimana ditetapkan di dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw bersabda, ”Kami para Nabi adalah bersaudara, diin (keyakinan) kami satu”.[HR. Imam Bukhari] Maksudnya adalah tauhid yang disampaikan Allah kepada semua Rasul yang diutusNya, dan dicantumkan di semua Kitab yang diturunkanNya. Sebagaimana disebut di dalam firman Allah swt, ”</span></em><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV"> <span style="color:black;">Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku&#8221;.[Al-Anbiyaa’:25], dan juga firman Allah swt, ”</span> <span style="color:black;">Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu&#8221;, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.[An Nahl: 36].<span>  </span>Adapun dalam masalah syariat, maka perintah dan larangannya berbeda-beda.<span>  </span>Kadang-kadang, ada sesuatu yang di dalam syariat ini haram, kemudian Allah menghalalkannya di syariat yang lain, dan begitu pula sebaliknya.<span>  </span>Kadang-kadang, ada sesuatu yang di dalam syariat ini, ringan, kemudian diperberat pada syariat yang lain.”</span></span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">[Imam Ibnu Katsir, <em>Tafsir Ibnu Katsiir, </em>juz 3, hal. 129]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Kesimpulan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Keterangan di atas menunjukkan bahwa, kata ”<em>syarii’ah</em>” <span> </span>pada konteks awalnya (literal) digunakan dengan makna <em>al-thariiqah al-dzaahirah allatiy yatawashshalu bihaa ila al-maa</em>” (</span><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">jalan terang yang bisa mencapai air). </span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>  </span>Selanjutnya kata ”<em>al-syarii’ah</em>” digunakan oleh para pengguna bahasa Arab dengan makna ”diin (agama) yang disyari’atkan Allah swt kepada hambaNya” dan dipersempit pada aturan-aturan agama yang mengatur amal perbuatan manusia, bukan keyakinan. </span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Oleh karena itu, para ulama membedakan keyakinan dengan perbuatan.<span>  </span>Masalah keyakinan diinsersikan dalam <em>’aqidah</em>, sedangkan perbuatan dimasukkan dalam syariat.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Dari sinilah, kaum Muslim mengenal istilah ”<em>aqiidah</em>” (keyakinan) dan ”<em>syarii’ah</em>”(ketentuan yang mengatur perbuatan manusia).<span>  </span>Prof. Mahmud Syaltut, di dalam <em>Kitab al-Islaam; ’Aqiidah wa Syarii’ah</em> menyatakan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">الشريعة هى النظم التى شرعها الله أو شرع أصولها ليأخذ الإنسان بها نفسه فى علاقته بربه, و علاقته بأخيه المسلم , و علاقته بأخيه الإنسان, و علاقته بالكون , و علاقته بالحياة</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">“<em>Syarii’ah adalah aturan-aturan (system) yang Allah telah mensyariatkannya, atau mensyariatkan pokok dari aturan-aturan tersebut, agar manusia mengadopsi aturan-aturan tersebut untuk mengatur hubungan dirinya dengan Tuhannya, dan hubungan dirinya dengan saudaranya yang Muslim dan saudara kemanusiaannya (non Muslim), dan hubungan dirinya dengan alam semesta dan kehidupan” .</em>[Syaikh Mahmud Syaltut, <em>al-Islaam, ’Aqiidah wa Syarii’ah, </em>hal. 12]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Dengan demikian, kata <em>syari’ah </em>selalu berkonotasi hukum, atau aturan yang mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, manusia lain, dan dirinya sendiri.<span>  </span>Kumpulan dari aturan-aturan tersebut melahirkan sebuah sistem hidup yang unik dan khas.<span>  </span>Jika seluruh interaksi tersebut diatur dengan aturan Islam (hukum Islam), niscaya akan terwujud sistem Islam.<span>  </span>Sebaliknya, jika seluruh interaksi tersebut diatur dengan aturan kufur, tentunya akan terbentuk sistem kufur. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Kata <em>syarii’ah </em>tidak memiliki makna selain dari makna yang digunakan oleh ’urf pengguna bahasa Arab, yakni hukum Allah yang mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, dirinya sendiri, dan orang lain. <span> </span>Dengan kata lain, kata ”syarii’ah” selalu berkonotasi hukum Allah yang ditetapkan untuk mengatur seluruh interaksi manusia di kehidupan dunia.<span>  </span>Makna semacam ini secara eksplisit disebutkan di dalam al-Quran.<span>  </span>Allah swt berfirman;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ</span></span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"><span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”<em>Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu</em>..”[TQS Al Maidah (5): 48]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Di dalam hadits shahih juga dituturkan bahwasanya Rasullah saw menggunakan kata <em>syarii’ah</em> dengan makna hukum.<span>  </span>Rasulullah saw bersabda;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">لَا تَزَالُ الْأُمَّةُ عَلَى الشَّرِيعَةِ مَا لَمْ يَظْهَرْ فِيهَا ثَلَاثٌ مَا لَمْ يُقْبَضْ الْعِلْمُ مِنْهُمْ وَيَكْثُرْ فِيهِمْ وَلَدُ الْحِنْثِ وَيَظْهَرْ فِيهِمْ الصَّقَّارُونَ قَالَ وَمَا الصَّقَّارُونَ أَوْ الصَّقْلَاوُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بَشَرٌ يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ تَحِيَّتُهُمْ بَيْنَهُمْ التَّلَاعُنُ</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”<em>Umat akan selalu berada di atas syarii’ah, selama di tengah-tengah mereka belum tampak tiga perkara. Selama ilmu belum dicabut dari mereka, dan selama di tengah-tengah mereka belum banyak anak banci, serta belum tampak di tengah-tengah mereka al-shaqqaaruun”.<span>  </span></em></span><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">Para shahabat bertanya, ”Ya Rasulullah, apa al-shaqqaaruun atau al-shaqqlaawuun itu?” Rasulullah saw menjawab, “Manusia yang ada di akhir zaman, yang mana, ucapan selamat diantara mereka adalah saling melaknat”.</span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">[HR. Imam Ahmad]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"><span>          </span>Atas dasar itu, statement yang menyatakan bahwa kata syariat di dalam al-Quran dan Sunnah tidak ekplisit bermakna “hukum atau aturan”, jelas-jelas statement yang tidak disangga oleh hujjah yang lurus dan selamat.<span>  </span>Pasalnya, seluruh ahli bahasa Arab serta ulama-ulama tafsir menggunakan kata <em>syarii’ah </em>dengan makna hukum atau aturan yang mengatur perbuatan manusia, tidak dengan makna lain.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">Kata syariiat sama sekali tidak bermakna “<em>perealisasian mashlahat</em>”.<span>  </span>Makna semacam ini tidak pernah digunakan oleh para pengguna bahasa Arab dan tidak pernah dikemukakan oleh ulama-ulama yang memiliki kredibilitas ilmu dan ketaqwaan.<span>  </span>Pendefinisian syarii’art dengan makna semacam ini jelas-jelas keliru dan menyesatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"><span> </span></span></em><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"><span>      </span></span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">Maqaashid al-Syar’iyyah Bukanlah Sumber Hukum Syariat </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"><span>          </span></span></strong><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">Pada dasarnya, syariat Islam diturunkan di muka bumi untuk menciptakan rahmat dan kemashlahatan di tengah-tengah mereka. <span>  </span>Allah swt berfirman;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="ES"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES">“<em>Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Mohammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh penjuru alam</em>”.[TQS Al Anbiyaa’ (21):107]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Frase “<em>wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alaamin</em>” menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa rahmat bagi penjuru alam itu dinisbahkan kepada syari’at yang dibawa oleh Mohammad saw.<span>   </span>Namun, rahmat pada ayat itu hanyalah hasil (natijah) dari penerapan syari’at Islam, bukan sebagai “sebab” (‘illat) pensyari’atan hukum<span>  </span>Islam.<span>   </span></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Oleh karena itu, tidak boleh dipahami bahwa hukum syariat itu ditetapkan berdasarkan mashlahat.<span>  </span>Pasalnya <em>mashlahat</em> bukanlah dalil hukum maupun ‘illat<span>  </span>pensyari’atan sebuah hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Selain itu, ayat di atas tidak mengandung ‘illat sama sekali.<span>   </span>Rahmat pada ayat ini bukanlah <em>‘illat</em> disyari’atkannya hukum Islam, sehingga dinyatakan bahwa hukum syariat itu beredar mengikuti ’illatnya (kemashlahatan)</span><a name="_ftnref1" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">. <span> </span>Jika suatu hukum syariat dianggap tidak mashlahat, maka hukum itu bisa dianulir.<span>  </span>Sebaliknya, sesuatu yang diharamkan oleh syariat, bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang masyr’u jika di dalamnya ada kemashlahatan.<span>  </span>Kesimpulan semacam ini jelas-jelas menyimpang dari membuka ruang yang sangat lebar munculnya aktivitas ”mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt” dengan alasan mashlahat.<span>  </span>Padahal Allah swt mencela perbuatan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah swt, dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" lang="AR-SA">اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="direction:ltr;text-indent:36pt;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">&#8220;Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.&#8221;</span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">[TQS At Taubah (9):31]</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="direction:ltr;text-indent:36pt;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Orang Yahudi dan Nashrani dikatakan menyembah kepada pendeta dan rahib mereka, dikarenakan pendeta dan rahib mereka telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, dan mereka tetap mengikutipara pendeta dan rahib tersebut.</span><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span><span> </span>Selain itu, <span> </span>misi dan visi Nabi Mohammad saw di muka bumi ini, selain menyebarkan kalimat Tauhid, juga mengatur manusia dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Allah swt berfirman;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”<em>dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik</em>”.[TQS Al Maidah (5):49], dan ayat-ayat lain yang memiliki pengertian senada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Ayat ini dengan sharih menyatakan agar Nabi Mohammad saw mengatur seluruh urusan manusia dengan aturan Allah, bukan dengan hawa nafsu (keinginan) manusia.<span>  </span>Bahkan, Allah swt telah memperingatkan beliau untuk tidak berpaling dari hukum-hukum Allah swt karena mengikuti keinginan-keinginan manusia.<span>  </span>Pasalnya, hukum Allah swt adalah hukum yang paling sempurna dan baik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Oleh karena itu, syariat Islam (hukum Allah) tidak ditetapkan berdasarkan mashlahat.<span>  </span><span> </span>Sesungguhnya, hukum syariat itu ditetapkan berdasarkan nash-nash syariah, bukan berdasarkan kemashlahatan menurut manusia.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">Seandainya hukum syariat ditetapkan berdasarkan mashlahat, niscaya akan lahir dua hukum kontradiktif dalam satu kasus.<span>  </span>Bisa saja menurut sekelompok orang hukum ini membawa mashlahat, sedangkan yang lain justru menganggap sebaliknya –menimbulkan mafsadat (kerusakan).<span>  </span>Suatu perbuatan bisa saja diharamkan oleh sekelompok orang karena dianggap mafsadat, namun oleh kelompok yang lain justru dihalalkan karena adanya mashlahat.<span>  </span>Oleh karena itu, hukum syariat tidak boleh ditetapkan berdasarkan mashlahat.<span>  </span>Penetapan hukum hanyalah hak prerogatif dari Allah swt, bukan menjadi hak manusia.<span>   </span>Allah swt berfirman;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">قُلْ إِنِّي عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (Al Qur&#8217;an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”.</span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">[TQS Al An’aam (6):57]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Allahlah Dzat yang menciptakan manusia, paling mengetahui kecenderungan, dan memahami apa yang paling baik dan adil bagi manusia.<span>  </span>Hukum yang telah ditetapkan Allah swt tidak boleh diubah alasan mashlahat. Sesuatu yang diharamkan Allah tidak boleh dihalalkan karena dipandang ada kemashlahatan di sana.<span>  </span>Sebaliknya, perkara yang telah dihalalkan Allah, tidak boleh diharamkan karena dianggap membawa mafsadat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Selain itu, apa yang dianggap mashlahat oleh manusia belum tentu mashlahat oleh Allah.<span>  </span>Allah swt berfirman;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.</span></em><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">[TQS Al Baqarah (2):216]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&quot;" lang="AR-SA">فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا</span><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="SV"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV">”<em>Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.</em>[TQS An Nisaa’ (4):19]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Kemashlahatan Bukanlah ’Illat Pensyariatan Hukum Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>’Illat adalah maqshud al-syaari’ min syar’i al-hukm (maksud dari Pembuat syariat ketika mensyariatkan sebuah hukum).[Taqiyyuddin al-Nabhaniy, al-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, juz 3, hal. 337]<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Pada dasarnya, <em>jalb al-mashaalih wa dar` al-mafsadaat </em>(mengambil mashlahat dan meninggalkan mafsadat) bukanlah ‘illat bagi hukum-hukum syara’, dan juga bukan dalil bagi hukum syara’. Jalb al-mashaalih wa dar` al-mafsadaat juga bukan ‘illat bagi syari’at Islam secara menyeluruh.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Adapun nash yang dijadikan dalil bahwa ‘illat untuk seluruh syari’at Islam adalah <em>jalb al-mashaalih wa dar` al-mafsadaat</em>, sesungguhnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa jalb al-mashaalih wa dar` al-mafsadaat merupakan ‘illat hukum, akan tetapi hanya menunjukkan hikmah diturunkan dan diterapkannya syari’at Islam.<span>  </span>Firman Allah swt “<em>Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alaamin</em>”, sangat jelas ditunjukkan di sini, bahwa rahmat bagi penjuru alam tersebut dinisbahkan kepada syari’at yang dibawa oleh Mohammad saw, bukan dinisbahkan kepada penetapan hukum-hukum yang bersifat rinci.<span>   </span><span> </span>Dengan kata lain, rahmat pada ayat itu hanyalah hasil (natijah) dari penerapan syari’at, bukan sebagai “sebab” (‘illat) bagi pensyari’atan hukum<span>  </span>Islam.<span>   </span>Sebab, ayat ini tidak mengandung ‘illat sama sekali.<span>   </span></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Karena tidak mengandung ‘illat, maka ayat ini tidak boleh dita’lilkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV"><span>          </span>Oleh karena itu, statement yang menyatakan bahwa ”ada tidak adanya hukum syariat tergantung pada ada tidaknya mashlahat”, jelas-jelas salah dan keliru.<span>  </span>Pasalnya, mashlahat bukanlah ’illat pensyariatan hukum Islam, akan tetapi ia hanyalah natijah (hasil) yang akan didapat manusia tatkala menerapkan syariat Islam.<span>  </span>Contohnya, Allah swt dan RasulNya telah menetapkan larangan bagi wanita memegang tampuk kekuasaan negara, hukuman mati bagi orang murtad, larangan mengkonsumsi riba, kewajiban sholat, puasa, haji, jihad, dan lain sebagainya.<span>  </span>Hukum-hukum semacam ini tidak akan berubah, dan tidak boleh diubah dengan alasan tidak lagi mashlahat.<span>  </span>Sungguh tercelalah orang yang membolehkan riba dengan alasan mashlahat, menghapus kewajiban sholat, jihad, puasa, zakat, dan lain sebagainya karena sudah tidak dianggap membawa mashlahat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">KESIMPULAN</span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Kata ”syarii’ah Islam” selalu mengandung konotasi hukum atau aturan Islam.<span>  </span>Pasalnya kata ini memiliki hakekat ’urfiyyah, sehingga pemaknaannya harus sejalan dengan ’urf (kebiasaan) pengguna bahasa Arab, yakni, aturan yang ditetapkan Allah swt kepada hambaNya untuk mengatur amal perbuatannya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Pada dasarnya, syariat Islam bila diterapkan secara kamil, syamil, dan mutakamil akan membawa<span>  </span>mashlahat bagi umat manusia.<span>   </span>Kemashlahatan datang ketika hukum Islam diterapkan, bukan sebaliknya, penetapan dan penerapan huum Islam tergantung ada tidaknya kemashahatan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV">Kemashlahatan bukanlah ’illat pensyariatan hukum Islam, baik secara parsial maupun menyeluruh.<span>  </span>Pasalnya, tidak ada satupun dalil yang mendasari perkara ini.<span>  </span>Jika ada sebagian pihak berusaha menyodorkan dalil, sesungguhnya dalil-dalil tersebut tidak mengandung ’illat, namun hanyalah natijah atau hikmah hukum.<span>  </span>Sholat misalnya, jika dilaksanakan dengan benar bisa mencegah seseorang dari kekejian dan kemungkaran. Namun mencegah kekejian dan kemungkaran bukanlah ’illat pensyariatan sholat.<span>  </span>Seandainya <em>’illah</em> pensyariatan sholat adalah ”<em>mencegah kekejian dan kemungkaran</em>”, tentunya jika seseorang telah mampu mencegah dirinya dari tindak keji dan mungkar, niscaya ia tidak perlu lagi sholat. <span> </span>Sebab, <em>al-’illatu taduuru ma’a ma’luul wujuudan wa ’adaman</em> (’illat itu beredar dengan ada atau tidak adanya yang di’illati).</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Kaedah ushul fiqh menyatakan, “<em>al-‘Illat taduuru ma’a ma’luul wujuudan wa ‘adaman” </em>(‘Illat itu beredar dengan ada atau tidak adanya yang di’illati.<span>  </span></span></span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=93&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/syariat-dan-kemashlahatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAPAN PENGUASA TIDAK BOLEH DITAATI?</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati-2/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 05:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[


Taat Kepada Penguasa
          Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim.  Allah swt berfirman:
 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
          “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=91&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><strong>Taat Kepada Penguasa</strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim.<span>  </span>Allah swt berfirman:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:-37.1pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="direction:rtl;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;font-family:&quot;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:-37.1pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span><em>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian.<span>  </span>Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.<span>  </span>Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”</em>[al-Nisaa’:59]<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Ketika menafsirkan surat al-Nisa’:59, Imam Nasafiy menyatakan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;color:#000000;font-family:&quot;">ولما أمر الولاة بأداء الأمانات والحكم بالعدل أمر الناس بأن يطيعوهم بقوله { ياأيها الذين ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ الله وَأَطِيعُواْ الرسول وَأُوْلِي الأمر مِنْكُمْ } أي الولاة أو العلماء لأن أمرهم ينفذ على الأمر { فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَيْءٍ } فإن اختلفتم أنتم وأولو الأمر في شيء من أمور الدين { فَرُدُّوهُ إِلَى الله والرسول } أي ارجعوا فيه إلى الكتاب والسنة { إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بالله واليوم الآخر } أي إن الإيمان يوجب الطاعة دون العصيان ، ودلت الآية على أن طاعة الأمراء واجبة إذا وافقوا الحق فإذا خالفوه فلا طاعة لهم لقوله عليه السلام &#8221; لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق &#8221; . وحكي أن مسلمة بن عبد الملك بن مروان قال لأبي حازم : ألستم أمرتم بطاعتنا بقوله : و«أولي الأمر منكم»؟ فقال أبو حازم : أليس قد نزعت الطاعة عنكم إذا خالفتم الحق . بقوله «فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله» أي القرآن و«الرسول» في حياته وإلى أحاديثه بعد وفاته { ذلك } إشارة إلى الرد أي الرد إلى الكتاب والسنة</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">“<em>Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran.<span>  </span></em></span><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka.<span>  </span>Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”</span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[HR. Ahmad].<span>  </span><em>Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..”</em><span>  </span><em>Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah,<strong> </strong>“jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada<span>  </span>Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”<span id="more-91"></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Hafidz al-Suyuthi dalam kitab Tafsirnya,<em>Durr al-Mantsuur, </em>Imam Syaukani dalam <em>Fath al-Qadir</em>, dan serta kalangan mufassir lainnya.<span>  </span></span></p>
<p><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Ibnu al-‘Arabiy, dalam kitab <em>Ahkaam al-Quran, </em>menyatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">“<em>Kemudian mereka diperintahkan untuk mentaati pemimpin (ulil amri) yang telah diperintahkan oleh Rasulullah.<span>  </span>Ketaatan kepada mereka bukanlah ketaatan mutlak, akan tetapi yang dikecualikan dalam hal ketaatan dan apa yang diwajibkan kepada mereka….&#8221;</em><a name="_ftnref2" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[2]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Dalam kitab <em>Minhaaj al-Sunnah</em>, Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">“<em>Sesungguhnya, Nabi saw telah memerintahkan untuk taat kepada imam (pemimpin) legal yang memiliki kekuasaan, dan mampu mengatur urusan masyarakat.<span>  </span></em></span><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Tidak ada ketaatan bagi pemimpin yang tidak dikenal dan tidak legal.<span>  </span>Tidak ada ketaatan bagi orang yang tidak memiliki kekuasaan dan tidak memiliki kemampuan apapun, secara asal. “</span></em><a name="_ftnref3" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[3]</span></strong></span></span></span></em></span></a><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Di dalam hadits-hadits shahih juga dituturkan mengenai kewajiban mentaati penguasa (<em>ulil amriy</em>), baik yang adil maupun fasik.<span>  </span>Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abi Salamah bin ‘Abdirrahman, bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="direction:rtl;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;font-family:&quot;">مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0.3pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span> </span>“<em>Rasulullah saw telah bersabda</em>, “<em>Siapa saja yang mentaati aku, maka dia telah mentaati Allah swt, dan barang siapa bermaksiyat kepadaku, sungguh dia telah bermaksiyat kepada Allah.<span>  </span>Siapa saja yang mentaati pemimpinku, maka dia telah mentaatiku; dan barangsiapa tidak taat kepada pemimpinku, maka dia telah berbuat maksiyat kepadaku..”</em>[HR. Bukhari]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Hisyam bin ‘Urwan meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia menyatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="direction:rtl;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">سَيَلِيْكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيْكُمُ الْبِرَّ بِبِرِّهِ وَالْفَاجِرُ بِفُجُوْرِهِ فَاسْمَعُوْا لَهُمْ وَأَطِيْعُوْا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَصَلُّوْا وَرَاءَهُمْ فَإِنْ أَحْسَنُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أًَسَاءُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ</span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;text-indent:36pt;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span> </span>“<em>Setelahku akan ada para penguasa, maka yang baik akan memimpin kalian dengan kebaikannya, sedangkan yang jelek akan memimpin kalian dengan kejelekannya.<span>  </span></em></span><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Untuk itu, dengar dan taatilah mereka dalam segala urusan bila sesuai dengan yang haq.<span>  </span>Apabila mereka berbuat baik, maka kebaikan itu adalah hak bagi kalian.<span>  </span>Apabila mereka berbuat jelek maka kejelekan itu hak bagi kalian untuk mengingatkan mereka, serta kewajiban mereka untuk melaksanakannya.”</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span></span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari ‘Abdullah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada kami:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ</span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;text-indent:36pt;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">“<em>Kalian akan melihat pada masa setelahku, ada suatu keadaan yang tidak disukai serta hal-hal yang kalian anggap mungkar.<span>  </span>Mereka (para shahabat) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?<span>   </span>Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka, dan memohonlah kepada Allah hak kalian.”</em>[HR. Bukhari]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Raja’, dari Ibnu ‘Abbas, dinyatakan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">“<em>Barangsiapa membenci sesuatu yang ada pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar.<span>  </span>Sebab, tak seorangpun boleh memisahkan diri dari jama’ah, sekalipun hanya sejengkal, kemudian dia mati, maka matinya adalah seperti mati jahiliyyah</em>.”[HR. Bukhari]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dalam <em>Syarh an-Nawawi ‘alaa Shahiih Muslim</em> telah dinyatakan, &#8220;<em>Memisahkan diri dari mereka &#8212;maksudnya, para penguasa&#8212; hukumnya jelas haram, berdasarkan ijma’ kaum Muslim, walaupun para penguasa itu orang yang fasik dan zalim. Banyak hadits yang menunjukkan pengertian seperti <span> </span>pendapat saya ini”</em>.<a name="_ftnref4" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[4]</span></span></span></span></a><span> <!--more--> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Hadits-hadits di atas merupakan hujjah<span>  </span>yang sangat jelas wajibnya seorang Muslim mentaati penguasa meskipun ia terkenal fasik dan dzalim.<span>  </span>Bahkan di dalam riwayat-riwayat lain, Rasulullah saw telah memberikan penegasan (<em>ta’kid</em>) agar kaum Muslim tetap mentaati penguasa dalam kondisi apapun.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Kapan Penguasa Tidak Boleh Ditaati?</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Meskipun kaum Muslim diperintahkan untuk tetap mentaati penguasa dzalim dan fasiq<a name="_ftnref5" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[5]</span></span></span></span></a>, dan dilarang memerangi dengan pedang, akan tetapi dalam satu kondisi; kaum mukmin wajib memisahkan diri dari mereka, tidak memberikan ketaatan kepada mereka, dan<span>  </span>diperbolehkan memerangi mereka dengan pedang, yaitu, jika mereka telah menampakkan kekufuran yang nyata.<span>   </span></span><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Ketentuan semacam ini didasarkan pada riwayat-riwayat berikut ini.<span>   </span>Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"><span style="font-family:Courier New;">سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>&#8220;Akan datang<span>  </span>para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa<span>  </span>saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)&#8221;. Para shahabat bertanya, &#8220;Tidaklah kita perangi mereka?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat&#8221; </span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim]<em></em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Tatkala berkomentar terhadap hadits ini, Imam Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;" dir="ltr">&#8220;</span><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">قوله صلى الله عليه وسلم : ( ستكون أمراء فتعرفون وتنكرون فمن عرف فقد برئ ومن أنكر سلم , ولكن من رضي وتابع , قالوا : أفلا نقاتلهم ؟ قال : لا . . . ما صلوا &#8221; هذا الحديث فيه معجزة ظاهرة بالإخبار بالمستقبل , ووقع ذلك كما أخبر صلى الله عليه وسلم . وأما قوله صلى الله عليه وسلم : ( فمن عرف فقد برئ ) وفي الرواية التي بعدها : ( فمن كره فقد برئ ) فأما رواية من روى ( فمن كره فقد برئ ) فظاهرة , ومعناه : من كره ذلك المنكر فقد برئ من إثمه وعقوبته , وهذا في حق من لا يستطيع إنكاره بيده لا لسانه فليكرهه بقلبه , وليبرأ . وأما من روى ( فمن عرف فقد برئ ) فمعناه &#8211; والله أعلم &#8211; فمن عرف المنكر ولم يشتبه عليه ; فقد صارت له طريق إلى البراءة من إثمه وعقوبته بأن يغيره بيديه أو بلسانه , فإن عجز فليكرهه بقلبه . وقوله صلى الله عليه وسلم : ( ولكن من رضي وتابع ) معناه : لكن الإثم والعقوبة على من رضي وتابع . وفيه : دليل على أن من عجز عن إزالة المنكر لا يأثم بمجرد السكوت . بل إنما يأثم بالرضى به , أو بألا يكرهه بقلبه أو بالمتابعة عليه . وأما قوله : ( أفلا نقاتلهم ؟ قال : لا , ما صلوا ) ففيه معنى ما سبق أنه لا يجوز الخروج على الخلفاء بمجرد الظلم أو الفسق ما لم يغيروا شيئا من قواعد الإسلام .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">“Sabda Nabi saw, “(<em>Satukuunu umaraaun fa ta’rifuuna wa tunkiruun faman ‘arifa faqad bari`a wa man ankara salima, wa lakin man radliya wa taaba’a, qaaluu: afalaa nuqaatiluhum? Qaala : Laa…ma shalluu</em>)”, hadits ini, di dalamnya terkandung mukjizat yang sangat nyata mengenai informasi yang akan terjadi di masa mendatang, dan hal ini telah terjadi sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi saw.<span>  </span>Adapun sabda Rasulullah saw, “(<em>faman ‘arafa faqad bari`a</em>) dan dalam riwayat setelahnya dituturkan, “(<em>faman kariha faqad bari`a</em>).<span>  </span></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Adapun riwayat dari orang yang meriwayatkan, “(<em>faman ‘arafa faqad bari`a</em>), maka hal ini sudah sangat jelas. Maknanya adalah, ”Siapa saja yang membenci kemungkaran tersebut, maka terlepaslah dosa dan siksanya.<span>  </span>Ini hanya berlaku bagi orang yang tidak mampu mengingkari dengan tangan dan lisannya, lalu ia mengingkari kemungkaran itu dengan hati.<span>  </span>Dengan demikian, ia telah terbebas (dari dosa dan siksa). Adapun orang yang meriwayatkan dengan redaksi ”faman ’arafa bari`a), maknanya adalah –Allah swt yang lebih Mengetahui&#8211;, ”Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, kemudian ia tidak menyerupainya (mengikutinya), maka ia akan mendapat jalan untuk terlepas dari dosa dan siksanya dengan cara mengubah kemungkaran itu dengan tangan dan lisannya.<span>  </span>Dan jika tidak mampu, hendaknya ia mengingkari kemungkaran itu dengan hatinya.<span>  </span>Sedangkan sabda beliau, ”(<em>walakin man radliya wa taaba’a</em>)”, maknanya adalah, akan tetapi, dosa dan siksa akan dijatuhkan kepada orang yang meridloi dan mengikuti.<span>   </span>Hadits ini merupakan dalil, bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak akan berdosa meskipun hanya sukut (mengingkari kemungkaran dengan diam).<span>  </span>Namun, ia berdosa jika ridlo dengan kemungkaran itu, atau jika<span>  </span>tidak membenci kemungkaran itu, atau malah mengikutinya.<span>  </span>Adapun sabda Rasulullah saw, ”(<em>Afalaa nuqaatiluhum? Qaala ” Laa, maa shalluu</em>), di dalamnya terkandung makna sebagaimana disebutkan sebelumnya, yakni tidak boleh memisahkan diri dari para khalifah, jika sekedar dzalim dan fasik, dan selama mereka<span>  </span>tidak mengubah salah satu dari sendi-sendi Islam”.</span><a name="_ftnref6" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[6]</span></strong></span></span></span></strong></span></a></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><strong>          </strong></span></span><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Dalam hadits &#8216;Auf bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim, juga<span>  </span>diceritakan:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="direction:rtl;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;font-family:&quot;">قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span></span></em><em><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">&#8220;Ditanyakan,”Ya Rasulullah, mengapa kita tidak memerangi mereka dengan pedang?!</span></em><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">&#8216; <em>Lalu dijawab, &#8216;Jangan, selama di tengah kalian masih ditegakkan shalat</em>.” </span><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[HR. Imam Muslim]</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Dalam riwayat lain, mereka berkata:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"><span style="font-family:Courier New;">قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0.3pt;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span></span></em><em><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">&#8220;Kami bertanya, &#8216;Ya Rasulullah, mengapa kita tidak mengumumkan perang terhadap mereka ketika itu?!</span></em><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">&#8216; Beliau menjawab, <em>&#8216;Tidak, selama di tengah kalian masih ditegakkan shalat.”</em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari &#8216;Ubadah bin Shamit, bahwasanya dia berkata:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="direction:rtl;text-indent:0;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;font-family:&quot;">دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">&#8220;<em>Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untu selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.&#8221;</em>[HR. Bukhari]</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Hadits-hadits ini telah mengecualikan larangan untuk memisahkan diri dan memerangi penguasa dengan pedang pada satu kondisi, yakni ”kekufuran yang nyata”.<span>  </span>Artinya, jika seorang penguasa telah melakukan kekufuran yang nyata, maka kaum Mukmin wajib melepaskan ketaatan dari dan diperbolehkan memerangi mereka dengan pedang.<span>   </span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Al-Hafidz Ibnu Hajar, tatkala mengomentari hadits-hadits di atas menyatakan, jika kekufuran penguasa bisa dibuktikan dengan ayat-ayat, nash-nash, atau berita shahih yang tidak memerlukan takwil lagi, maka seorang wajib memisahkan diri darinya.<span>  </span></span><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Akan tetapi, jika bukti-bukti kekufurannya masih samar dan masih memerlukan takwil,<span>  </span>seseorang tetap tidak boleh memisahkan diri dari penguasa.</span><a name="_ftnref7" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[7]</span></span></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> <em></em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Imam al-Khathabiy menyatakan; yang dimaksud dengan &#8220;<em>kufran bawahan</em>&#8220;<span>  </span>(kekufuran yang nyata) adalah &#8220;<em>kufran dzaahiran baadiyan</em>&#8221; (kekufuran yang nyata dan terang benderang)</span><a name="_ftnref8" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[8]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">&#8216;Abdul Qadim Zallum, dalam <em>Nidzam al-Hukmi fi al-Islaam, </em>menyatakan, bahwa maksud dari sabda Rasulullah saw &#8220;<em>selama mereka masih mengerjakan sholat</em>&#8220;, adalah selama mereka masih memerintah dengan Islam; yakni menerapkan hukum-hukum Islam, bukan hanya mengerjakan sholat belaka<span>  </span>Ungkapan semacam ini termasuk dalam <em>majaz</em> <em>ithlaaq al-juz`iy wa iradaat al-kulli</em> (disebutkan sebagian namun yang dimaksud adalah keseluruhan).</span><a name="_ftnref9" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[9]</span></span></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Masih menurut &#8216;Abdul Qadim Zallum, riwayat yang dituturkan oleh &#8216;Auf bin Malik, Ummu Salamah, dan &#8216;Ubadah bin Shamit, seluruhnya berbicara tentang <em>khuruj &#8216;ala al-imaam</em> (memisahkan diri dari imam), yakni larangan memisahkan diri dari imam.<span>   </span>Ini termaktub dengan jelas pada redaksi hadits: &#8220;<em> Para shahabat bertanya, &#8220;Tidaklah kita perangi mereka?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat&#8221; </em>Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim].<span>  </span>Dengan demikian, hadits ini merupakan larangan bagi kaum Muslim untuk memisahkan diri dari penguasa, meskipun ia terkenal fasiq dan dzalim.</span><a name="_ftnref10" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[10]</span></span></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>  </span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Masih menurut &#8216;Abdul Qadim Zallum; akan tetapi, larangan memisahkan diri dari penguasa telah dikecualikan oleh pecahan kalimat berikutnya, yakni,&#8221;<em> kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata dan memiliki bukti yang kuat dari Allah.&#8221;</em>[HR. Bukhari].<span>  </span>Ini menunjukkan, bahwa seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa, bahkan boleh memerangi mereka dengan pedang, jika telah terbukti dengan nyata dan pasti, bahwa penguasa tersebut telah terjatuh ke dalam &#8220;kekufuran yang nyata.&#8221; </span><a name="_ftnref11" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[11]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Bukti-bukti yang membolehkan kaum Muslim memerangi khalifah haruslah bukti yang menyakinkan (qath&#8217;iy).<span>  </span>Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa kekufuran adalah lawan keimanan.<span>   </span>Jika keimanan harus didasarkan pada bukti-bukti yang menyakinkan (qath&#8217;iy), demikian juga mengenai kekufuran.<span>   </span>Kekufuran harus bisa dibuktikan berdasarkan bukti maupun fakta yang pasti, tidak samar, dan tidak memerlukan takwil lagi.<span>  </span>Misalnya, jika seorang penguasa telah murtad dari Islam, atau mengubah sendi-sendi &#8216;aqidah dan syariat Islam berdasarkan bukti yang menyakinkan, maka ia tidak boleh ditaati, dan wajib diperangi.<span>  </span>Sebaliknya, jika bukti-bukti kekufurannya tidak pasti, samar, dan masih mengandung takwil, seorang Muslim tidak diperkenankan mengangkat pedang di hadapannya.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Imam Nawawiy, di dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan;</span></p>
<p class="MsoTitle" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;font-family:&quot;"><span style="font-family:Times New Roman;">قال القاضي عياض : أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر , وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل , قال : وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها , &#8230;.. قال القاضي : فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية , وسقطت طاعته , ووجب على المسلمين القيام عليه , وخلعه ونصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك.</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Imam Qadliy ‘Iyadl menyatakan, “<em>Para ulama telah sepakat bahwa imamah tidak sah diberikan kepada orang kafir.<span>  </span>Mereka juga sepakat, seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekafiran, maka ia wajib dimakzulkan.<span>  </span>Beliau juga berpendapat, “Demikian juga jika seorang penguasa meninggalkan penegakkan sholat dan seruan untuk sholat…Imam Qadliy ’Iyadl berkata, ”Seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekufuran dan mengubah syariat, atau terjatuh dalam bid’ah yang mengeluarkan dari hukm al-wilayah (tidak sah lagi mengurusi urusan pemerintahan), maka terputuslah ketaatan kepadanya, dan wajib atas kaum Muslim untuk memeranginya, memakzulkannya, dan mengangkat seorang imam adil, jika hal itu memungkinkan bagi mereka”.<a name="_ftnref12" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[12]</span></strong></span></span></span></a></em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><strong>Pendapat Ibnu Hazm</strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Hanya saja, Imam Ibnu Hazm berpendapat; jika penguasa telah terjatuh kepada kemaksiyatan, maka seorang Muslim wajib memisahkan diri dari mereka, dan kaum Muslim wajib melakukan amar makruf nahi ’anil mungkar, bahkan boleh memeranginya dengan pedang.<span>  </span>Menurut beliau hadits-hadits yang memerintahkan untuk mentaati penguasa fasik yang menyimpang telah dihapus dengan perintah perang.<span>  </span>Selanjutnya beliau menyatakan; pendapat semacam ini adalah pendapat ’Ali bin Abi Thalib dan shahabat-shahabat yang mengikutinya.<span>  </span>Pendapat ini juga dipegang oleh Ummul Mukminin ’Aisyah ra, Thalhah, Zubeir bin ’Awwam dan shahabat-shahabat yang mengikutinya.<span>  </span>Pendapat ini juga dipegang oleh Mu’awiyyah dan shahabat yang mengikutinya; Husein bin ’Ali, ’Abdullah bin al-Zubeir, shahabat-shahabat, dan tabi’un yang ikut perang di Harrah.<a name="_ftnref13" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[13]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><strong>Apakah Penguasa Sekarang Telah Terjatuh Kepada Kekufuran Yang Nyata?</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Para ulama telah sepakat; seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa yang telah terjatuh kepada kekufuran yang nyata, berdasarkan hadits-hadits shahih di atas.<span>  </span>Mereka juga sepakat mengenai bolehnya memerangi penguasa yang telah terjatuh kepada kekufuran yang nyata. Di dalam <em>Syarh an-Nawawi ‘alaa Shahiih Muslim</em>, dijelaskan sebagai berikut,&#8221; <em>al-Qaadhi ‘Iyaadh berkata, &#8220;Para ulama’ telah sepakat, bahwa jabatan imamah tidak boleh diserahkan kepada orang kafir, kalau tiba-tiba kekufuran itu menimpa dirinya.<span>  </span>Dalam kondisi semacam ini ia wajib dipecat. Beliau berkata,&#8221; Ketentuan ini juga berlaku jika ia meninggalkan penegakkan sholat dan dakwah untuk mendirikan sholat.<span>  </span>Lalu, Imam Nawawi berkata,&#8221; al-Qaadhi berkata,&#8221; &#8220;Seandainya khalifah terjatuh ke dalam kekufuran, atau mengubah syariat, atau melakukan bid&#8217;ah yang bisa mengeluarkan dirinya dari jabatan kepala negara; maka ia tidak wajib ditaati.<span>  </span>Kaum Muslim wajib mengangkat senjata, mencopotnya, dan mengangkat imam adil yang baru, jika mereka mampu melakukan hal itu.&#8221;</em>.</span><a name="_ftnref14" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[14]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Pertanyaan, kapan seorang penguasa dianggap telah terjatuh kepada ”kekufuran yang nyata”, sehingga kaum Muslim harus melepaskan ketaatan kepada mereka?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Dr. Mohammad Khair Haekal menyatakan; penguasa dianggap telah terjatuh kepada kekufuran yang nyata, jika ia berada dalam kondisi-kondisi berikut ini;</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Kekufuran nyata yang terjadi pada diri penguasa itu sendiri.<span>  </span>Para ulama berpendapat mengenai wajibnya &#8220;<em>munaza&#8217;ah</em>&#8221; (merebut kekuasaan) dari penguasa yang telah keluar dari Islam</span><a name="_ftnref15" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[15]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">.<span>  </span>Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah bin Shaamit ra, bahwasanya ia berkata;</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-weight:normal;font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">&#8220;<em>Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.&#8221;</em>[HR. Bukhari dan Muslim]</span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Kekufuran nyata yang terjadi pada individu-individu kaum Muslim karena kemurtadan mereka dari Islam, namun hal ini tidak diingkari atau dicegah oleh penguasa.<span>  </span>Ketentuan ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang bertutur wajibnya merebut kekuasaan ketika telah terjadi kekufuran yang nyata pada individu-individu kaum Muslim, dan penguasa tidak mengingkari kekufuran ini.<span>   </span>Menurut Dr. Mohammad Khair Haekal, kekufuran tersebut tidak dibatasi hanya kepada penguasa saja atau selain penguasa.<span>  </span>Hadits-hadits itu hanya di<em>taqyiid</em> (dibatasi) dengan kata &#8220;<em>bawahan</em>&#8221; (nyata) belaka; yakni kekufuran tersebut terjadi secara terang-terangan, telah tersebar luas, dan sudah tidak bisa diingkari lagi. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Kekufuran nyata yang berasal dari sistem pemerintahannya, yakni, ketika penguasa tersebut menegakkan sistem pemerintahan di atas aqidah kufur, walaupun penguasa itu belum dianggap kafir.<span>  </span>Ketentuan ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang menuturkan wajibnya merebut kekuasaan dari penguasa jika telah tampak kekufuran yang nyata.<span>  </span>Frase &#8220;<em>kekufuran nyata</em>&#8221; yang terdapat di dalam nash-nash tersebut tidak hanya diterapkan kepada penguasa yang jatuh kepada kekufuran maupun kepada selain penguasa; akan tetapi juga bisa diberlakukan pada sistem pemerintahan yang ditegakkan di atas aqidah kufur, misalnya atheisme maupun sekulerisme; dan selanjutnya, sistem ini dipaksakan dan diberlakukan di tengah-tengah masyarakat.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Oleh karena itu, jika seorang penguasa memerintahkan rakyatnya melakukan kemaksiyatan, namun selama sistem aturannya menganggap kemaksiyatan itu sebagai tindak penyimpangan terhadap aturan, maka dalam kondisi semacam ini belum terwujud apa yang disebut dengan &#8220;kekufuran yang nyata&#8221;, baik pada penguasa maupun sistem pemerintahannya. Namun, bila kemaksiyatan yang dilakukannya berpijak kepada sistem aturan yang justru melegalkan dan mensahkan tindak kemaksiyatan tersebut, misalnya, karena sistem aturannya dibangun berdasarkan sekulerisme&#8211;, maka kemaksiyatan semacam ini dianggap sebagai &#8220;<em>kekufuran yang nyata</em>&#8220;<a name="_ftnref16" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[16]</span></span></span></span></a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Berdasarkan penjelasan Dr. Mohammad Khair Haekal di atas dapatlah disimpulkan bahwa penguasa-penguasa yang menjadikan aqidah kufur sebagai asas negara –semacam demokrasi dan sekulerisme&#8211;, serta menerapkan aturan-aturan kufur telah terjatuh kepada tindak ”kekufuran yang nyata” (<em>kufran shurahan</em>), walaupun secara individu mereka masih mengerjakan sholat. <span> </span>Begitu pula jika mereka tidak lagi menyeru rakyat untuk menegakkan sholat dengan cara menegakkan sanksi bagi orang yang tidak mengerjakan sholat; atau jika mereka sudah mengubah salah satu sendi dari Islam; maka dalam kondisi semacam ini mereka tidak boleh ditaati, bahkan kaum Muslim wajib memisahkan diri dari mereka dan memakzulkan mereka jika memungkinkan. </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Pendapat ini sejalan dengan penjelasan Imam Syaukaniy ketika menafsirkan firman Allah swt, surat An Nisa’ ayat 59; </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:16pt;" dir="ltr">“</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">وأولي الأمر هم : الأئمة ، والسلاطين ، والقضاة ، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;" dir="ltr">”</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"> </span></strong><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">“Ulil amriy adalah para imam, sultan, qadliy, dan setiap orang yang memiliki kekuasaan syar’iyyah<a name="_ftnref17" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[17]</span></strong></span></span></span></a> bukan kekuasaan thaghutiyyah<a name="_ftnref18" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[18]</span></strong></span></span></span></a>”.<a name="_ftnref19" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">[19]</span></strong></span></span></span></a></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;"><span>          </span></span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Walhasil, penguasa-penguasa di negeri-negeri kaum Muslim saat ini telah terjatuh ke dalam kekufuran yang nyata.<span>  </span>Kaum Muslim wajib memisahkan diri dari mereka, tidak memberikan ketaatan kepada mereka, dan dengan sekuat tenaga berjuang untuk mengganti system kufur tersebut menjadi system Islam.<span>    </span>Inilah pendapat yang lurus, suci, dan dipegang oleh para ulama-ulama wara’.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Sayangnya, ketentuan semacam ini telah dikaburkan dan diselewengkan oleh ulama-ulama <em>salatin</em> yang rela berkhianat terhadap umat Islam untuk melanggengkan eksistensi penguasa dan pemerintahan kufur melalui fatwa-fatwa culas dan penuh dengan pengkhianatan.<span>  </span><span> </span>Ulama-ulama ini tidak segan-segan dan malu-malu menyerukan kepada umat Islam agar mereka tetap mentaati penguasa-penguasa sekarang, padahal para penguasa itu telah terjatuh ke dalam “<em>kekufuran yang nyata</em>”.<span>  </span></span><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">Wallahu al-Haadiy al-Muwaffiq ila Aqwaam al-Thaariq</span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:Verdana;">.<em> </em></span><em></em></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><span style="font-family:Verdana;">Imam Nasafiy, <em>Madaarik al-Tanziil wa Haqaaiq al-Ta`wiil</em>, surat al-Nisaa’:59</span></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><span style="font-family:Verdana;">Ibnu al-‘Arabiy, <em>Ahkaam al-Quran, tafsir surat al-Nisaa’:59</em></span></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn3" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-family:Verdana;">Minhaaj al-Sunnah</span></em><span style="font-family:Verdana;">, juz 1/115</span></span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:-9pt;text-align:justify;margin:0 0 0 9pt;"><a name="_ftn4" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"> Imam al-Nawawi, <em>Syarh Shahih Muslim, </em>juz VIII, hal. 35.<em> </em></span><em></em></span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn5" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"><span>  </span>Yang dimaksud penguasa fasiq dan dzalim yang tetap harus ditaati adalah penguasa-penguasa yang masih menerapkan sistem Islam untuk mengatur urusan negara dan rakyat, namun berbuat dzalim dan fasiq.<span>  </span>Dengan kata lain, selama mereka masih menerapkan sistem pemerintahan Islam, menjadikan aqidah Islamiyyah sebagai landasan dasar negara dan masyarakat, serta menerapkan syariat Islam untuk mengatur urusan rakyat; kaum Muslim wajib mentaati mereka, meskipun penguasa tersebut dzalim dan fasiq.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn6" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Imam al-Nawawiy, <em>Syarah Shahih Muslim</em>, juz<span>  </span>12/243-244</span></span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn7" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[7]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Al-Hafidz Ibnu Hajar, <em>Fath al-Baariy, </em>juz 13/8-9<em></em></span></span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn8" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[8]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Ibid, juz 13/8</span></span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn9" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[9]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> &#8216;Abdul Qadim Zallum, <em>Nidzam al-Hukmi fi al-Islaam, </em>hal. 257-258</span></span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn10" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[10]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Ibid, hal. 258-260</span></span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn11" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[11]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Ibid, hal. 259-260</span></span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn12" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[12]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Imam Muslim, Syarah Shahih Muslim, juz 8, hal. 35-36</span></span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn13" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[13]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Ibnu Hazm, al-Muhalla, juz 9, hal. 362</span></span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:-9pt;text-align:justify;margin:0 0 0 9pt;"><a name="_ftn14" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[14]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Imam al-Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz VIII, hal. 35-36.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:-9pt;margin:0 0 0 9pt;"><a name="_ftn15" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[15]</span></span></span></span></span></a><span dir="rtl"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Imam al-Nawawiy, <em>Syarah Shahih Muslim, </em>juz 8, hal. 35-36.<span>  </span></span><span style="font-family:Verdana;">Al-Hafidz Ibnu Hajar, <em>Fath al-Baariy, </em>juz 13, hal. 8</span></span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn16" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[16]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Dr. Mohammad Khair Haekal, <em>al-Jihaad wa al-Qitaal fi al-Siyaasah al-Syar’iyyah, </em>juz 1, hal. 130-131.<span>  </span>Buku ini merupakan desertasinya untuk meraih gelar doctor dari Kuliah al-Imam al-Auza’iy, pada al-Dirasah al-Islaamiyyah di Beirut pada tahun 1412 H. Desertasi ini meraih gelar <em>imtiyaaz ma’ al-tanwiih</em> (<em>summa cum laude</em>); bahkan jika ada gelar yang lebih tinggi daripada <em>summa cum laude</em> tentu beliau akan meraihnya. </span></span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn17" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[17]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"> K</span><span style="font-family:Verdana;">ekuasaan atau pemerintahan yang didasarkan pada aqidah dan syariat Islam.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn18" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[18]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"> K</span><span style="font-family:Verdana;">ekuasaan atau pemerintahan yang didasarkan pada aqidah dan system kufur.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn19" href="http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[19]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> Imam al-Syaukaniy, <em>Fath al-Qadiir, </em>juz 2, hal. 166.</span></span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=91&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/08/12/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POSISI HIZB ISLAM (KELOMPOK ISLAM) DALAM KONTEKS HADITS HUDZAIFAH AL-YAMANIY RA</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/24/posisi-hizb-islam-kelompok-islam-dalam-konteks-hadits-hudzaifah-al-yamaniy-ra/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/24/posisi-hizb-islam-kelompok-islam-dalam-konteks-hadits-hudzaifah-al-yamaniy-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 01:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Kelompok, Partai, atau Harakah Islam Yang Ada di Negeri-negeri Islam Sekarang Termasuk Firqah yang Harus Dijauhi?
Ada sebagian kaum Muslim memahami bahwa keberadaan partai, jama’ah, kelompok, atau organisasi-organisasi Islam yang berdiri di tengah-tengah kaum Muslim termasuk firqah yang harus dijauhi oleh seluruh kaum Muslim.  Mereka beralasan; (1) ada perintah dari Nabi Mohammad saw kepada kaum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=89&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Apakah Kelompok, Partai, atau Harakah Islam Yang Ada di Negeri-negeri Islam Sekarang Termasuk Firqah yang Harus Dijauhi?</strong><br />
Ada sebagian kaum Muslim memahami bahwa keberadaan partai, jama’ah, kelompok, atau organisasi-organisasi Islam yang berdiri di tengah-tengah kaum Muslim termasuk firqah yang harus dijauhi oleh seluruh kaum Muslim.  Mereka beralasan; (1) ada perintah dari Nabi Mohammad saw kepada kaum Muslim untuk mengikatkan diri dengan jama’ah al-Muslimin dan meninggalkan firqah-firqah; (2) kelompok-kelompok ini telah menyebabkan kaum Muslim terpecah belah dalam partai-partai dan kelompok-kelompok; (3) masing-masing kelompok fanatik dengan kelompoknya sendiri.  Berdasarkan alasan-alasan ini, lalu mereka mengharamkan semua kutlah (kelompok, gerakan, partai, organisasi, jama’ah), walaupun kelompok (hizb) itu memperjuangkan Islam.<span id="more-89"></span><br />
Untuk alasan pertama, mereka mengetengahkan sebuah hadits yang dituturkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah al-Yamaniy ra, bahwasanya beliau ra berkata;</p>
<p>كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ<br />
”Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan.  Sedangkan aku bertanya kepada beliau saw mengenai keburukan, karena khawatir keburukan itu akan menimpaku.  Aku bertanya, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya, kami dahulu berada di masa jahiliyyah dan keburukan.  Lalu, Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini.  Lantas, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?  Nabi saw menjawab, ”Ya”. Saya bertanya lagi,”Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan? Nabi saw menjawab, ”Ya, dan di dalamnya terdapat ”dakhan” (kotoran).  Aku bertanya, ”Apa kotorannya?” Beliau menjawab, ”Kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjukku; yang mana kamu mengenal mereka, dan kamu akan mengingkari”.  Aku bertanya lagi, ”Apakah setelah kebaikan itu akan datang keburukan lagi?  Nabi saw menjawab, ”Ya, orang-orang yang mengajak ke pintu-pintu neraka.  Siapa saja yang menerima ajakan mereka menuju pintu-pintu neraka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka”.  Aku bertanya lagi, ”Ya Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka kepada kami”.  Nabi saw menjawab, ”Mereka memiliki kulit yang sama dengan kita, dan berbicara dengan bahasa-bahasa kita”.  Aku bertanya lagi, ”Apa yang engkau perintahkan kepada kami, jika hal itu menimpaku?  Nabi saw menjawab, ”Tetapilah jama’at al-Muslimiin dan imam mereka”.  Aku bertanya, ”Lalu, bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam”.  Nabi saw bersabda, ”Jauhilah semua firqah tersebut, meskipun engkau harus menggigit akar pohon, hingga kematian menjemputmu, sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]<br />
Menurut mereka, hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslim wajib menjauhi firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang ada, di saat kaum Muslim tidak memiliki jama’ah dan imam.   Masih menurut mereka, pengertian semacam ini terlihat jelas dalam redaksi hadits;</p>
<p>فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ<br />
”Hudzaifah ra bertanya, ”Lalu, bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam”.  Nabi saw bersabda, ”Jauhilah semua firqah tersebut, meskipun engkau harus menggigit akar pohon, hingga kematian menjemputmu, sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]<br />
Berdasarkan hadits ini mereka berpendapat bahwa, keberadaan firqah (kelompok, partai, hizb, dan  jama’ah) di dunia Islam saat ini merupakan sesuatu yang terlarang dan harus dijauhi oleh seluruh kaum Muslim sebagai bentuk pengamalan hadits riwayat Hudzaidah al-Yamaniy di atas.  Oleh karena itu, masih menurut mereka, kaum Muslim dilarang mendirikan, berkecimpung, atau melibatkan diri dalam kelompok, partai, atau hizb, apapun alasannya.<br />
Istinbath semacam ini tidak tepat.  Sebab, kesimpulan seperti itu belum melibatkan dan mencakup keseluruhan nash yang berbicara mengenai jama’ah (kelompok, hizb, jamaa’ah, firqah, dan thaaifah).   Pasalnya, di samping ada kewajiban menjauhi firqah, seperti yang tercantum di dalam hadits Hudzaifah al-Yamaniy di atas, ada pula perintah sebaliknya, yakni perintah mendirikan kutlah, kelompok, firqah, hizb, atau thaaifah.  Perintah untuk mendirikan jamaa’ah, firqah, atau thaaifah, disebutkan secara tegas di dalam al-Quran.  Allah swt berfirman;</p>
<p>وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ<br />
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. [TQS Ali Imron (3):104]<br />
Imam Ibnu Katsir menyatakan;</p>
<p>والمقصود من هذه الآية أن تكون فرْقَة من الأمَّة متصدية لهذا الشأن، وإن كان ذلك واجبا على كل فرد من الأمة بحسبه، كما ثبت في صحيح مسلم عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &#8220;مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ&#8221;. وفي رواية: &#8220;وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ&#8221;<br />
“Maksud ayat ini adalah, hendaknya ada kelompok (firqah) dari umat ini (umat Islam) yang siap sedia menjalankan tugas tersebut (dakwah menuju Islam dan amar makruf nahi ‘anil mungkar), walaupun (dakwah menuju Islam dan amar makruf nahi ‘anil mungkar) juga kewajiban setiap individu umat ini; sebagaimana telah ditetapkan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “</p>
<p>&#8220;مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ&#8221;. وفي رواية: &#8220;وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ&#8221; .<br />
“Siapa saja diantara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya.  Jika ia tidak mampu (mengubah dengan tangan) hendaknya dengan lisannya.  Dan jika ia tidak mampu (mengubah dengan lisannya), hendaknya dengan hatinya”.  Di dalam riwayat lain dituturkan, ”Setelah itu tidak ada keimanan seberat biji gandum pun”.[HR. Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy]<br />
Di dalam Tafsir al-Thabariy disebutkan, ”Abu Ja’far menyatakan, ”..yakni adanya jamaa’ah (kelompok) yang menyeru manusia menuju kebaikan, yakni Islam dan syariat Islam yang telah disyariatkan Allah atas hambaNya; dan melakukan amar ma’ruf nahi ’anil mungkar; yakni memerintahkan manusia untuk mengikuti Nabi Muhammad saw, dan agamanya yang berasal dari sisi Allah swt; dan mencegah kemungkaran; yakni mereka mencegah dari ingkar kepada Allah, serta (mencegah) mendustakan Nabi Muhammad saw dan ajaran yang dibawanya dari sisi Allah&#8230;.”<br />
Imam Ali Al-Shabuniy menyatakan, ”Maksudnya, hendaknya dirikanlah kelompok (thaaifah) dari kalian (umat Islam) untuk berdakwah menuju Allah, dan untuk mengajak kepada setiap kebajikan dan mencegah dari setiap kemungkaran”.<br />
Dengan demikian, ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa, Allah swt telah memerintahkan kaum Muslim untuk mendirikan jama’ah, thaifah, hizb, atau kelompok dari kalangan kaum Muslim yang bertugas menyeru kepada Islam dan melakukan amar makruf nahi ’anil mungkar. Frase ”minkum” pada ayat di atas merujuk kepada kaum Muslim, bukan merujuk kepada non Muslim.  Semua ini menunjukkan bahwa ”jama’ah” tersebut harus beranggotakan orang-orang Muslim, bukan orang-orang kafir.<br />
Lalu, bagaimana mengkompromikan hadits Hudzaifah al-Yamaniy yang memerintahkan kaum Muslim menjauhi firqah, dengan al-Quran yang justru memerintahkan kaum Muslim mendirikan firqah (kelompok)?  Kompromi kedua dalil ini adalah sebagai berikut.<br />
Pada dasarnya, maksud sabda Nabi saw agar kaum Muslim menjauhi firqah-firqah yang yang tercantum di dalam hadits Hudzaifah ra tidak bersifat mutlak untuk semua firqah (kelompok), akan tetapi sebatas pada firqah-firqah (kelompok) yang menyimpang dari al-Quran dan Sunnah.   Artinya, jika kelompok, partai, atau jamaa’ah tersebut telah menyimpang dari jalan lurus yang digariskan Allah swt dan RasulNya, maka firqah tersebut harus dijauhi, dan seorang Muslim tidak boleh berkecimpung di dalamnya.  Sedangkan firqah, thaaifah, jamaa’ah, maupun hizb yang didirikan untuk mengamalkan perintah Allah swt surat Ali Imron ayat 104; dan selama firqah, thaaifah, jamaa’ah, maupun hizb tersebut tetap berdiri di atas al-Quran dan Sunnah serta menyeru kepada kebaikan; maka kelompok-kelompok seperti ini bukan termasuk firqah yang harus dijauhi.  Bahkan, kelompok semacam ini wajib ada di tengah-tengah kaum Muslim untuk melakukan amar makruf nahi ’anil mungkar, walaupun jumlahnya lebih dari satu.<br />
Makna semacam ini tampak jelas dalam sabda Rasulullah saw;</p>
<p>فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ<br />
”Hudzaifah ra bertanya, ”Lalu, bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam”.  Nabi saw bersabda, ”Jauhilah semua firqah tersebut, meskipun engkau harus menggigit akar pohon, hingga kematian menjemputmu, sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim].<br />
Lafadz di dalam hadits itu adalah ”fa’tazil tilka al-firaqa kullaha”.  Kata ”tilka” menunjukkan bahwa firqah yang dimaksud bukanlah semua firqah secara keseluruhan.  Akan tetapi, semua firqah yang memiliki sifat sebagaimana yang disebutkan Nabi dalam lafadz sebelumnya, yakni, ”du’at ila abwaab al-jahannam” (para penyeru kepada pintu-pintu jahannam)”.<br />
Dengan demikian, firqah yang diperintahkan oleh hadits ini untuk dijauhi adalah firqah-firqah yang mengajak kepada kekufuran atau kemaksiyatan, yang semua itu mengantarkan pelakunya masuk ke dalam neraka jahannam.  Bukan kelompok-kelompok yang berdiri di atas sunnah Rasul dan menegakkan amar makruf nahi ’anil mungkar.<br />
Adapun terhadap firqah atau kelompok yang tetap berdiri di atas sunnah Nabi saw, dan senantiasa menegakkan amar makruf nahi ’anil mungkar, maka seorang Muslim diperintahkan untuk berada di dalam kelompok tersebut.  Hal ini ditegaskan dalam perintah Allah swt surat Ali Imron ayat 104.  Kaum Muslim diperintahkan mendukung dan melibatkan diri dalam kelompok yang bertujuan untuk melenyapkan kekufuran dan kemungkaran yang telah tersebar luas di tengah-tengah masyarakat akibat diterapkannya aqidah dan sistem kufur.<br />
Alasan lain yang mengharuskan seorang Muslim melibatkan diri dalam kelompok, jamaa’ah, atau partai yang berdiri di atas sunnah Nabi saw, dan yang bertujuan menegakkan hukum-hukum Allah secara kaaffah adalah; kenyataan bahwa, perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah swt secara menyeluruh tidak mungkin dilakukan seorang diri, atau melalui ’amal fardiy (kerja individual).  Tujuan semacam ini hanya bisa diwujudkan melalui perjuangan yang bersifat kolektif (’amal jamaa’iy).  Selain itu, perjuangan menegakkan kembali hukum-hukum Allah swt secara kaaffah merupakan perjuangan yang sangat berat dan membutuhkan andil banyak orang; dan tidak mungkin dipikul oleh seorang individu saja.  Kaedah syar’iyyah menyatakan;</p>
<p>مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ<br />
“Tidak tersempurnanya suatu kewajiban kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib”<br />
Adapun untuk alasan kedua yang menyatakan bahwa, keberadaan kelompok-kelompok tersebut telah menyebabkan kaum Muslim terpecah belah, sehingga kelompok itu harus dijauhi; sesungguhnya alasan semacam ini tidaklah benar.  Harus ditegaskan; banyaknya kelompok, partai, atau jama’ah yang berdiri di atas Islam bukan sesuatu yang terlarang.  Sebab, kata ”ummah” dalam Surat Ali Imron:104 berbentuk ism al-jins sehingga tidak membatasi hanya satu.<br />
Pada dasarnya, salah satu faktor yang menyebabkan kaum Muslim terpecah belah adalah, adanya fanatisme kelompok dan  madzhab yang berlebih-lebihan.  Sikap inilah, sesungguhnya yang menyebabkan kaum Muslim terpecah belah, bukan banyaknya kelompok, partai, maupun madzhab.  Di dalam lintasan sejarahnya, kaum Muslim telah terbiasa dengan banyak madzhab dan kelompok, akan tetapi mereka tetap bisa bersatu dan tidak terpecah belah.  Faktor lain yang menyebabkan kaum Muslim terpecah belah adalah ketiadaan seorang Imam (Khalifah).<br />
Adapun alasan ketiga untuk menolak keberadaan kelompok, partai, dan jama’ah Islam adalah,  masing-masing kelompok tersebut  fanatik dengan kelompoknya sendiri dan berbangga-bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.  Mereka mengetengahkan firman Allah swt;</p>
<p>مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ<br />
“yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.[TQS al-Ruum (30): 32], dan masih banyak ayat-ayat yang memiliki pengertian senada, misalnya Al-Maidah (5):53; al-Mu`minuun (23):54], dan sebagainya.<br />
Berdasarkan ayat ini, mereka menyatakan bahwa kelompok, partai, atau jamaa’ah yang ada sekarang ini telah menyebabkan munculnya sikap fanatisme kelompok dan berbangga-bangga dengan kelompoknya sendiri, sehingga mereka harus dijauhi.  Oleh karena itu, semua hizb (kelompok) adalah haram.  Lantas, benarkah pendapat semacam ini?    Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita simak penjelasan para ulama tafsir tentang ayat ini.<br />
Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsir Ibnu Katsir menyatakan;</p>
<p>وقوله: { مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ } أي: لا تكونوا من المشركين الذين قد فرقوا دينهم أي: بدلوه وغيروه وآمنوا ببعض وكفروا ببعض.  وقرأ بعضهم: &#8220;فارقوا دينهم&#8221; أي: تركوه وراء ظهورهم، وهؤلاء كاليهود والنصارى والمجوس وعَبَدة الأوثان، وسائر أهل الأديان الباطلة، مما عدا أهل الإسلام، كما قال تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ } [الأنعام: 159]، فأهل الأديان قبلنا اختلفوا فيما بينهم على آراء وملَل باطلة، وكل فرقة منهم تزعم أنهم على شيء،  وهذه الأمة  أيضًا اختلفوا فيما بينهم على نحل كلها ضلالة  إلا واحدة، وهم أهل السنة والجماعة، المتمسكون بكتاب الله وسنة رسول الله  صلى الله عليه وسلم، وبما كان عليه الصدر الأول من الصحابة والتابعين، وأئمة المسلمين في قديم الدهر وحديثه، كما رواه الحاكم في مستدركه أنه سئل، عليه السلام  عن الفرقة الناجية منهم، فقال: &#8220;ما أنا عليه [اليوم]  وأصحابي&#8221; .<br />
“Adapun firman Allah swt: (min al-ladziina farraquu diinahum wa kaanuu syiya’an kullu hizb bimaa ladaihim farihuun), maksudnya adalah, “janganlah kalian menjadi bagian orang-orang musyrik yang telah memecahbelah agama mereka; yakni mengganti dan mengubah agamanya, iman terhadap sebagian dan kafir (ingkar) terhadap sebagian yang lain.  Sebagian ulama membaca dengan : (faaraquu diinahum), yang maknanya adalah “taarakuuhu wara`a dzahrihi” (meninggalkan agamanya di belakang punggung mereka).  Mereka itu seperti orang-orang Yahudi, Nashraniy, Majusiy, penyembah berhala, dan semua pemilik agama bathil; selain penganut agama Islam; sebagaimana firman Allah swt, artinya “ Sesungguhnya, orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya, urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”.[TQS Al An’aam (6):159]   Penganut agama sebelum kita telah berselisih di antara mereka mengenai pemikiran-pemikiran dan syariat-syariat agama yang bathil.  Setiap kelompok mengaku berada di atas kebenaran.   Umat ini (umat Islam) juga akan berselisih dalam urusan agama, dan seluruhnya, kecuali satu kelompok, yakni ahlu al-sunnah wa al-jamaa’ah yang senantiasa berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah NabiNya, dan apa yang telah ditempuh oleh generasi awal Islam dari kalangan shahabat ra dan tabi’uun dan para ulama kaum Muslim baik salaf maupun khalaf; sebagaimana dituturkan oleh Imam al-Hakim di dalam al-Mustadrak, bahwasanya Nabi saw ditanya tentang firqah al-naajiyah (kelompok yang selamat) dari kalangan mereka.  Nabi saw menjawab, ”Kelompok yang berada di atas jalan yang aku tempuh saat ini dan juga para shahabat”.<br />
Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa kelompok (firqah) yang dicela dan berbangga-bangga dengan apa yang ada pada diri mereka, adalah kelompok yang berbangga-bangga dengan keyakinan dan pendirian mereka yang sesat dan kufur.  Kelompok ini telah mengganti dan mengubah sendi keyakinan dan syariat agama mereka, lalu mereka berbangga-bangga dengan keyakinan dan syariat agama yang telah menyimpang dan sesat itu.   Kebanggaan yang dilarang di dalam ayat tersebut adalah kebanggaan dalam kesesatan dan kekufuran.  Sedangkan kebanggaan dalam Islam atau pada perkara yang wajib dibanggakan bukanlah kebanggaan yang dilarang.   Misalnya, seorang Muslim harus berbangga dengan dan menunjukkan keislamannya.  Sebab, secara bahasa kata al-farh berarti naqiidl al-huzn (lawan dari sedih).  Menurut ulama tafsir, frase (farihuun) pada ayat di atas bermakna masruurun, mu’jibuun, dan raadluun (senang, kagum, dan ridla).    Dengan demikian, seorang Muslim wajib ridlo, senang, dan kagum dengan agama Allah dan para perkara yang boleh dibanggakan.  Allah swt berfirman;</p>
<p>قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ<br />
”Katakanlah: &#8220;Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira (yafrahuu). Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan&#8221;. [TQS Yunus (10):58]<br />
Berbangga dan bergembira dengan kurnia dan rahmat Allah sesuatu yang dibenarkan, dan tidak dilarang.  Sedangkan berbangga dengan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dibanggakan adalah terlarang.  Misalnya, Allah swt berfirman;</p>
<p>وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ<br />
” dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. [TQS Al Hadiid (57):23]<br />
Oleh karena itu, berbangga-bangga yang dilarang dalam konteks ayat di atas (surat Ruum: 32) adalah berbangga-bangga dalam kesesatan dan kekufuran. Sedangkan berbangga-bangga dalam kebenaran dan keIslaman bukanlah sesuatu yang dilarang.<br />
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa, ayat ini tidak bisa ditujukan kepada kelompok-kelompok Islam yang masih tegak di atas sunnah Nabi saw, dan tidak mengganti sendi-sendi dan syariat agama Islam.   Semampang, aqidah mereka tetap Islam, dan mereka masih berjalan di atas jalan yang lurus, dan berjuang untuk menegakkan Islam, maka kelompok seperti ini bukanlah firqah yang disinggung oleh ayat ini.<br />
Oleh karena itu, kelompok Islam, baik yang berbentuk jamaa’ah, partai, atau hizb yang ada di dunia Islam saat ini, yang didirikan untuk memenuhi seruan Allah swt dalam surat Ali Imron ayat 104, dan yang tetap berdiri di atas jalan lurus (sunnah Nabi saw), bukanlah kelompok yang diharamkan.  Kelompok-kelompok seperti ini tidak boleh dijauhi, bahkan seorang Muslim wajib membantu perjuangan mereka dengan harta dan jiwa.<br />
Sedangkan kelompok, partai, atau jamaa’ah yang didirikan di atas aqidah kufur, semacam sekulerisme, demokrasi, sosialisme, nasionalisme, dan sebagainya; serta bertujuan untuk menerapkan dan melanggengkan sistem kufur, maka kelompok-kelompok seperti ini adalah kelompok yang harus dijauhi; dan kaum Muslim dilarang membantu atau melibatkan diri di dalamnya.  Pasalnya, kelompok ini tidak berada di atas jalan yang lurus (sunnah Nabi saw), alias telah menyimpang dari jalan Islam.   Kelompok-kelompok seperti inilah yang dimaksud oleh nash-nash al-Quran dan hadits riwayat Hudzaifah al-Yamaniy di atas, sebagai firqah yang sesat dan harus dijauhi kaum Muslim. Bukan hizb atau firqah yang tetap berjalan di atas sunnah Nabi saw.<br />
Di samping itu, Rasulullah saw juga secara tegas menyebutkan dan memuji keberadaan firqah naajiyyah (kelompok yang selamat).  Nabi saw bersabda;</p>
<p>لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ قُتَيْبَةَ وَهُمْ كَذَلِكَ<br />
”Akan ada kelompok dari umatku yang selalu menang di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang memusuhi mereka, hingga Allah mendatangkan perintahnya, dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu”.[HR. Imam Muslim]<br />
Nabi saw juga memuji dan menyebut ’thaaifah al-zhaahirah’ (kelompok yang menang).  Imam Ahmad menuturkan sebuah hadits, bahwasanya Nabi saw bersabda;</p>
<p>َزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ<br />
”Akan selalu ada kelompok (thaaifah) dari umatku yang senantiasa berada di atas kebenaran, dan mampu mengalahkan musuh-musuh mereka.  Tidak akan membahayakan mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka kecuali hanya sekedar kesulitan hidup yang menimpa mereka, hingga tiba urusan Allah swt, dan mereka tetap berada dalam keadaan itu.  Para shahabat bertanya, ”Ya Rasulullah, di manakah kelompok itu?  Rasulullah saw bersabda, ”Di Baitul Maqdis dan sekitar Baitul Maqdis”.[HR. Imam Ahmad]</p>
<p><strong>Kewajiban Mendirikan Jama&#8217;ah atau Partai Politik Berbasis Islam</strong><br />
Al-Quran telah menyatakan dengan sangat jelas adanya kewajiban atas kaum Muslim untuk mendirikan jama&#8217;ah, partai politik, hakarah, atau hizb.   Allah swt berfirman:</p>
<p>وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ<br />
&#8220;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. [TQS Ali Imran (3) : 104]<br />
Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah hendaknya ada firqah (kelompok) dari umat ini (umat Islam) yang melaksanakan kewajiban tersebut (yad&#8217;una ila al-khair wa ya&#8217;muruuna bi al-ma&#8217;ruf wa yanhauna &#8216;an al-mungkar), meskipun kewajiban tersebut juga berlaku bagi setiap individu umat ini; seperti yang telah ditetapkan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, &#8220;Siapa saja diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman.&#8221;[HR. Muslim] [Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat Ali Imron:104]<br />
Beberapa ahli tafsir lain memaknai kata (ummah) di dalam ayat itu dengan jamaa’ah.   Ulama tafsir lain memaknainya dengan “thaaifah”.  Sedangkan kata al-jamaa’ah, firqah, dan thaaifah memiliki pengertian yang sama, yakni sekumpulan manusia.<br />
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa, meskipun di satu sisi, Allah swt memerintahkan kaum Muslim untuk hidup di dalam satu kesatuan ummat, yakni jamaa’at al-muslimiin (seluruh kaum Muslim yang dipimpin seorang khalifah), akan tetapi, di sisi lain, Allah juga memerintahkan kaum Muslim untuk mendirikan &#8220;firqah, thaaifah, atau jamaa’ah (kelompok)&#8221; dari kalangan kaum Muslim, yang bertujuan melaksanakan dakwah menuju Islam (yad’uuna ila al-khair) dan amar makruf nahi ‘anil mungkar; meskipun hal ini juga merupakan kewajiban setiap individu kaum Muslim.<br />
Kesimpulan seperti ini bisa dimengerti karena, huruf &#8220;min&#8221; pada frase (minkum) pada surat Ali Imron : 104 tersebut berfungsi untuk &#8220;tab&#8217;idl&#8221; (membatasi) bukan untuk &#8220;bayan&#8221; (menjelaskan).   Atas dasar itu, kewajiban mendirikan jamaa’ah yang bertugas melakukan dakwah menuju Islam (yad’uuna ila al-khair) dan amar makruf nahi ‘anil mungkar, adalah fardlu kifayah. Adapun sebagian mufassir yang berpendapat bahwa huruf &#8220;min&#8221; pada surat Ali Imron 104 ini bermakna lil bayan, sesungguhnya pendapat semacam ini telah dilemahkan oleh Imam Thabariy, Ibnu Katsir, Al-Hafidz Suyuthiy, Imam Qurthubiy, dan lain-lain.  Menurut Imam Qurthubiy, makna li tab&#8217;iidl lebih shahih.<br />
Adapun makna dari kata “al-khair” yang tercantum dalam frase [yad’uuna ila al-khair: menyeru kepada kebajikan] adalah Islam beserta syariah yang disyariatkan Allah kepada hambaNya.  Ini adalah penafsiran Imam Thabariy.  Ada pula yang mengartikan “al-khair” dengan al-diin secara keseluruhan, baik yang menyangkut ushul, furu’, dan syariatnya.  Penafsiran semacam ini diketengahkan oleh Imam al-Sa’diy.  Sedangkan mufassir lain menafsirkan “al-khair” dengan Islam itu sendiri.<br />
Sedangkan makna kata “al-makruf” dalam frase [amar makruuf] adalah semua hal yang sejalan dengan al-Kitab dan Sunnah.  Sedangkan ”al-mungkar” adalah semua hal yang bertentangan dengan al-Kitab dan Sunnah.<br />
Dengan demikian, surat Ali Imron ayat 104 merupakan dalil sharih wajibnya kaum Muslim untuk mendirikan sebuah partai politik yang bertujuan menyeru kepada Islam dan melakukan amar ma&#8217;ruf nahi &#8216;anil mungkar.   Hanya saja, hukum mendirikan jama&#8217;ah atau partai politik berasaskan Islam adalah fardlu kifayah, bukan fardlu &#8216;ain.   Artinya, jika ada sebagian kaum Muslim yang telah menunaikan kewajiban tersebut, dan mereka berhasil menuntaskan kewajiban tersebut, maka gugurlah kewajiban itu bagi kaum Muslim lainnya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=89&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/24/posisi-hizb-islam-kelompok-islam-dalam-konteks-hadits-hudzaifah-al-yamaniy-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYARIAT ISLAM MENGAKOMODASI  KERAGAMAN DAN KEBHINEKAAN</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/08/syariat-islam-mengakomodasi-keragaman-dan-kebhinekaan/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/08/syariat-islam-mengakomodasi-keragaman-dan-kebhinekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 10:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[ 

 
Upaya penerapan syariat Islam dalam koridor Negara seringkali dikonfrontasikan dengan keragaman agama, budaya, dan keyakinan (pluralitas). Meskipun ini bertentangan dengan realitas masyarakat Islam dan nash-nash syariat, akan tetapi isyu uniformisasi jika syariat Islam diterapkan justru telah menduduki mainstream utama. Akibatnya, formalisasi syariat Islam dianggap sebagai ancaman bagi keragaman, keberagamaan, dan kebhinekaan. Padahal, isyu uniformisasi ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=88&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:small;"> </p>
<p></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> </p>
<p>Upaya penerapan syariat Islam dalam koridor Negara seringkali dikonfrontasikan dengan keragaman agama, budaya, dan keyakinan (pluralitas). Meskipun ini bertentangan dengan realitas masyarakat Islam dan nash-nash syariat, akan tetapi isyu <em>uniformisasi</em> jika syariat Islam diterapkan justru telah menduduki <em>mainstream utama</em>. Akibatnya, formalisasi syariat Islam dianggap sebagai ancaman bagi keragaman, keberagamaan, dan kebhinekaan. Padahal, isyu <em>uniformisasi</em> ini disebarluaskan dan dipropagandakan secara tidak bertanggungjawab, disandarkan pada epistemology yang rapuh, <em>a historis</em>, dan ditengarai sarat dengan agenda politik culas; yakni mencegah formalisasi syariat Islam.<span id="more-88"></span> </p>
<p><font size="3">Lantas, benarkah bila syariat Islam diterapkan, semua orang dipaksa memeluk agama Islam? Benarkah formalisasi syariat Islam akan diiringi dengan penyeragaman (uniformisasi) agama, budaya, pemikiran, dan pandangan hidup? Benarkah akan terjadi peminggiran peran kelompok minoritas jika syariat Islam diterapkan dalam koridor Negara?</p>
<p>Tulisan ini akan menguraikan penerapan syariat Islam di tengah keragaman agama, keyakinan, dan budaya, ditinjau dari sisi sejarah dan nash-nash syariat. Lebih dari itu, tulisan ini juga mengetengahkan cara pandang dan solusi Islam terhadap keragaman budaya, agama, dan pemikiran.</p>
<p><strong>INKLUSIVITAS MASYARAKAT ISLAM DALAM TINJAUAN HISTORIS</p>
<p>a. Inklusivitas Masyarakat Islam Di Jaman Nabi saw</p>
<p></strong>Tatkala Rasulullah saw menegakkan <em>Daulah Islam </em>(Negara Islam) di Madinah, struktur masyarakat Islam saat itu tidaklah seragam. Masyarakat Madinah dihuni oleh kaum Muslim, Yahudi, Nashrani, dan juga kaum Musyrik. Namun, mereka bisa hidup bersama dalam naungan Daulah Islamiyyah dan di bawah otoritas hukum Islam. Entitas-entitas selain Islam tidak dipaksa masuk ke dalam agama Islam, atau diusir dari Madinah. Mereka mendapatkan perlindungan dan hak yang sama seperti kaum Muslim. Mereka hidup berdampingan satu dengan yang lain tanpa ada intimidasi dan gangguan. Bahkan Islam telah melindungi &#8220;kebebasan mereka&#8221; dalam hal ibadah, keyakinan, dan urusan-urusan privat mereka. Mereka dibiarkan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan mereka.</p>
<p>Masyarakat Islam yang<em> inclusive</em> seperti ini terlihat jelas dalam Piagam Madinah yang dicetuskan oleh Rasulullah saw. Dalam klausul 13-17 Piagam Madinah disebutkan sebagai berikut, &#8220;<em>Orang mukmin tidak boleh membunuh orang mukmin untuk kepentingan orang kafir, juga tidak boleh menolong orang kafir dalam memusuhi orang mukmin. Janji perlindungan Allah adalah satu. Mukmin yang tertindas dan lemah, akan memperoleh perlindungan hingga menjadi kuat. Sesama mukmin hendaknya saling tolong menolong. Orang-orang Yahudi yang mengikuti langkah kami (Mohammad), dimusuhi dan tidak pula dianiaya. Perjanjian damai yang dilakukan oleh orang-orang mukmin haruslah merupakan satu kesepakatan.Tidak dibenar-benarkan seorang mukmin mengadakan perdamaian dengan meninggalkan yang lain dalam keadaan perang di jalan Allah, kecuali telah disepakati dan diterima bersama.&#8221;</em>Kaum Yahudi yang disebut dalam piagam ini adalah orang-orang Yahudi yang ingin menjadi bagian dari penduduk negara Islam. Mereka mendapatkan perlindungan dan hak <em>mu&#8217;amalah</em> yang sama sebagaimana kaum Muslim. Sebab, mereka merupakan bagian dari rakyat negara Islam yang berhak mendapatkan perlindungan dan dipenuhi haknya. Dalam piagam Madinah tersebut disebutkan nama-nama kabilah Yahudi yang mengikat perjanjian dengan Rasulullah saw (menjadi bagian Daulah Islamiyyah), yakni Yahudi Bani &#8216;Auf, Yahudi Bani Najjar, dan sebagainya.</p>
<p>Kelompok pluralis sendiri mengakui masyarakat Madinah sebagai model masyarakat <em>inklusive</em>. Bahkan, mereka menyepadankan masyarakat Madinah dengan <em>civil society atau masyarakat plural</em>. Walaupun penyepadanan masyarakat Madinah dengan <em>civil society </em>ini tidaklah tepat, hanya saja, pengakuan kaum pluralis terhadap masyarakat Madinah sebagai masyarakat yang inklusive justru membuktikan bahwa mereka sebenarnya menyakini bahwa <em>Daulah Islamiyyah </em>menjamin dan melindungi keragaman, dan sama sekali tidak menghendaki adanya uniformisasi. Lantas, mengapa sekarang mereka justru membuat isyu; penerapan syariat Islam dalam koridor Negara akan mengancam keberagaman dan kebhinekaan? Mengapa pula mereka getol menyebarkan isyu <em>uniformisasi</em> dan<em> eksklusifitas</em> bila syariat Islam diformalisasikan dalam undang-undang Negara? Lalu, di mana letak konsistensi mereka dalam berpendapat?</p>
<p>Setelah kekuasaan Daulah Islamiyyah meluas di jazirah Arab, Nabi saw memberikan perlindungan atas jiwa, agama, dan harta penduduk Ailah, Jarba&#8217;, Adzrah, Maqna, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Nabi saw juga memberikan perlindungan , baik harta, jiwa, dan agama penduduk Khaibar yang mayoritasnya beragama Yahudi. Beliau juga memberikan perlindungan kepada penduduk Juhainah, Bani Dlamrah, Asyja&#8217;, Najran, Muzainah, Aslam, Juza&#8217;ah, Jidzaam, Qadla&#8217;ah, Jarsy, orang-orang Kristen yang ada di Bahrain, Bani Mudrik, dan Ri&#8217;asy, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Rabi’ bin Khudaij, bahwasanya ia berkata, &#8220;<em>Seorang laki-laki dari Anshor terbunuh di Khaibar. Walinya menghadap Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa itu kepada beliau saw. Rasulullah saw bertanya kepada mereka, &#8220;Kamu harus menghadirkan dua orang saksi yang menyaksikan pembunuhan atas saudaramu.&#8221; Mereka berkata, &#8220;Ya Rasulullah di sana tidak ada seorangpun dari kaum Muslim akan tetapi hanya ada orang-orang Yahudi yang kadang-kadang bisa berbuat lebih kejam daripada ini. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Pilihlah 50 orang dari mereka Yahudi, dan suruhlah mereka bersumpah. Setelah itu, Rasulullah saw membayarkan diyat pembunuhan kepada wali pihak yang terbunuh.&#8221;</em></p>
<p>Saat itu, Khaibar telah menjadi bagian Negara Islam, dan penduduknya didominasi oleh orang-orang Yahudi. Ketika orang—orang Yahudi bersumpah tidak terlibat dalam pembunuhan, Rasulullah saw pun tidak menjatuhkan vonis kepada mereka. Bahkan, beliau saw membayarkan <em>diyat</em> atas peristiwa pembunuhan di Khaibar tersebut. Hadits ini menunjukkan bagaimana Rasulullah saw menegakkan keadilan hukum bagi warga negaranya tanpa memandang lagi perbedaan agama, ras, dan suku. Adapun non Muslim yang hidup di bawah kekuasaan Islam, mereka tunduk dan patuh terhadap syariat Islam yang telah ditetapkan sebagai hukum negara. Mereka juga mendapatkan perlindungan dalam menjalankan peribadatan, dan keyakinan mereka. Mereka tidak dipaksa untuk memeluk Islam, atau diperintah untuk melenyapkan <em>truth claim </em>atas agama dan keyakinan yang mereka anut. Malah, mereka diberi kebebasan untuk menjalankan seluruh aktivitasnya sesuai dengan koridor hukum negara (syariat Islam).</p>
<p>Fragmen sejarah di atas membuktikan, bahwa formalisasi syariat Islam bukanlah ancaman bagi keberagaman, kebhinekaan, dan kelompok minoritas.</p>
<p><strong>b. Inklusivitas Masyarakat Islam Di Jaman Kekhilafahan Islam</p>
<p></strong>Setelah Nabi Mohammad saw wafat, tugas kenegaraan dan pengaturan urusan rakyat dilanjutkan oleh para khalifah. Kekuasaan Islam pun meluas hingga mencakup hampir 2/3 dunia. Kekuasaan Islam yang membentang mulai dari Jazirah Arab, jazirah Syam, Afrika, Hindia, Balkan, dan Asia Tengah itu, tidak mendorong para Khalifah untuk melakukan uniformisasi warga Negara, maupun upaya-upaya untuk memberangus pluralitas. Padahal, dengan wilayah seluas itu, Daulah Islam memiliki keragaman budaya, keyakinan, dan agama yang sangat besar, dan sewaktu-waktu bisa memunculkan &#8220;<em>konflik agama</em>&#8220;. Akan tetapi, hingga kekhilafahan terakhir Islam, tak ada satupun pemerintahan Islam yang mewacanakan adanya <em>uniformisasi </em>(keseragaman), atau berusaha menghapuskan pluralitas agama, budaya, dan keyakinan dengan alasan untuk mencegah adanya konflik.</p>
<p>Bahkan, penerapan syariat Islam saat itu, berhasil menciptakan keadilan, kesetaraan, dan rasa aman bagi seluruh warga negara, baik Muslim maupun non Muslim. Dalam bukunya <em>Holy War</em>, Karen Amstrong menggambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Umar bin Khathathab kira-kira sebagai berikut, <em>&#8220;Pada tahun 637 M, Umar bin Khaththab memasuki Yerusalem dengan dikawal oleh Uskup Yunani Sofronius. Sang Khalifah minta agar dibawa segera ke Haram al-Syarif, dan di sana ia berlutut berdoa di tempat Nabi Mohammad saw melakukan perjalanan malamnya. Sang uskup memandang Umar penuh dengan ketakutan. Ia berfikir, ini adalah hari penaklukan yang akan dipenuhi oleh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel. Pastilah, Umar ra adalah sang Anti Kristus yang akan melakukan pembantian dan menandai datangnya Hari Kiamat.. Namun, kekhawatiran Sofronius sama sekali tidak terbukti.&#8221; </em>Setelah itu, penduduk Palestina hidup damai, tentram, tidak ada permusuhan dan pertikaian, meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda, Islam, Kristen, dan Yahudi.</p>
<p>Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi. Ketika mereka berhasil menaklukkan Palestina, kengerian, teror, dan pembantaian pun disebarkan hampir ke seluruh kota. Selama dua hari setelah penaklukkan, 40.000 kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib berjalan di jalan-jalan Palestina dengan menyeberangi lautan darah. Keadilan, persatuan, dan perdamaian tiga penganut agama besar yang diciptakan sejak tahun 1837 oleh Umar bin Khaththab hancur berkeping-keping. Meskipun demikian, ketika Shalahuddin al-Ayyubiy berhasil membebaskan kota Quds pada tahun 1187 Masehi, beliau tidak melakukan balas dendam dan kebiadaban yang serupa. Karen Armstrong menggambarkan penaklukan kedua kalinya atas Yerusalem ini dengan kata-kata berikut ini, &#8220;<em>Pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya, dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Dia tidak berdendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang Al-Qur’an anjurkan (16:127), dan sekarang, karena permusuhan dihentikan, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194)&#8221;. </em>Di Andalusia, kaum Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan selama berabad-abad, di bawah naungan kekuasaan Islam. Tidak ada pemaksaan kepada kaum Yahudi dan Kristen untuk masuk ke dalam agama Islam. Sayangnya, peradaban yang inclusive dan agung ini berakhir di bawah mahkamah inkuisisi kaum Kristen ortodoks. Orang-orang Yahudi dan Muslim dipaksa masuk agama Kristen. Jika menolak mereka diusir dari Andalusia, atau dibantai secara kejam dalam peradilan <em>inkuisisi.</em>Pada tahun 1519 Masehi, pemerintahan Islam memberikan sertifikat tanah kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia.</p>
<p> </p>
<p><em> </p>
<p>Surat jaminan perlindungan juga pernah diberikan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari <em>suaka politik </em>ke Khalifah pada tanggal 30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H.</p>
<p>Pada tanggal 13 Rabiul Akhir 1282/5 September 1865, khalifah memberikan izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah khalifah. Sebab, di Rusia mereka tidak mendapatkan kesejahteraan hidup.</p>
<p>Inilah sebagian fragmen sejarah yang menunjukkan, bahwa penerapan syariat Islam dalam koridor Negara tetap melindungi dan metolerir adanya keragaman dan kebhinekaan. Tidak ada uniformisasi, tidak ada pemberangusan terhadap pluralitas, tidak ada pemaksaan atas non Muslim untuk masuk Islam, dan tidak ada pengusiran terhadap non Muslim dari wilayah kekuasaan Islam. Yang terjadi justru, perlindungan terhadap non Muslim, Lebih dari itu, pemerintah Islam dengan syariat Islamnya benar-benar telah mewujudkan gagasan masyarakat inclusive tanpa menghapus <em>truth claim</em> agama, dan tanpa melakukan uniformisasi dan <em>intimidasi</em>.</p>
<p>Lalu, mengapa penerapan syariat Islam dalam koridor Negara selalu dikesankan dengan upaya-upaya <em>uniformisasi</em>, pengusiran terhadap non Muslim, eksklusifitas, dan penghancuran terhadap pluralitas? Bukankah kesan tersebut jelas-jelas keliru dan bertentangan dengan realitas sejarah? Barangkali, yang menyebarkan isyu ini adalah orang yang awam terhadap sejarah Islam; barangkali <em>a histories </em>dan <em></em>tidak jujur terhadap sejarah; atau barangkali ini adalah isyu politis yang ditujukan untuk menghambat penerapan syariat Islam dalam koridor Negara.</p>
<p><strong>INKLUSIVITAS MASYARAKAT ISLAM DALAM TINJAUAN SYARIAT</p>
<p> </p>
<p><strong>a. Syariat Tidak Hanya Ditujukan Bagi Umat Islam Belaka</p>
<p></strong>Pada dasarnya, agama Islam tidak hanya diperuntukkan bagi kaum Muslim belaka, akan tetapi ia adalah agama universal yang ditujukan untuk seluruh umat manusia. Al-Quran telah menyatakan hal ini di beberapa tempat.</p>
<p><em></p>
<p align="justify">&#8220;Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui&#8221;.</p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">&#8220;<em>Katakanlah: &#8220;Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua</em>&#8221; (TQS Al A’raaf [7] : 158)</p>
<p align="justify">Nash-nash di atas menunjukkan, bahwa syariat Islam tidak hanya diberlakukan kaum Muslim belaka (<em>sectarian</em>), akan tetapi, ia berlaku universal bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang lagi keragaman suku, ras, kebudayaan, agama, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, syariat Islam bukan hanya ditujukan bagi kaum Muslim saja, akan tetapi ia juga ditujukan bagi non Muslm. Hanya saja, keuniversalan syariat Islam ini tidak boleh diartikan, bahwa non Muslim dipaksa &#8220;menerapkan syariat Islam pada seluruh aspek kehidupannya.&#8221; Hanya pada aspek-aspek tertentu saja, mereka wajib terikat dengan syariat Islam. Adapun rinciannya dapat dijelaskan sebagai berikut.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">a.1. Pelaksanaan Syariat Islam oleh Non Muslim</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Seperti yang telah dijelaskan di atas; syariat Islam juga diterapkan bagi non Muslim. Sebab, mukallaf (orang yang dibebani) menjalankan syariat bukan hanya kaum Muslim belaka, akan tetapi seluruh manusia, baik Muslim maupun non Muslim. Hanya saja, Islam telah merinci pelaksanaan syariat Islam oleh Non Muslim.</p>
<p align="justify">Pelaksanaan syariat Islam oleh non Muslim dirinci berdasarkan dua tinjauan berikut ini. <strong>Pertama</strong>, pelaksanaan syariat Islam oleh non Muslim berdasarkan inisiatif dan kesadarannya sendiri, tanpa ada paksaan dari Daulah Islam. Contohnya, ada seorang non Muslim atas kehendaknya sendiri ingin mengerjakan sholat, puasa, zakat, dan ibadah lain. Lalu, bagaimana hukum Islam mengatur kasus semacam ini? Pada dasarnya, jika pelaksanaan syariat tersebut mensyaratkan adanya keislaman dan keimanan terlebih dahulu, maka orang kafir tidak diperkenankan melaksanakan atau mengerjakan syariat-syariat seperti itu. Misalnya, syariat Islam tentang zakat, puasa, haji, sholat, menduduki jabatan hakim dan pemerintahan, kesaksian dalam hal hak-hak harta, dan sebagainya. Sesungguhnya, pelaksanaan syariat semacam ini mensyaratkan adanya keimanan dan keislaman terlebih dahulu. Jika seseorang belum memenuhi dua syarat ini, maka ia dilarang mengerjakan syariat-syariat tersebut. Adapun non Muslim, mereka adalah orang-orang yang belum memenuhi syarat keimanan dan keislaman. Oleh karena itu, mereka dilarang melaksanakan dan mengerjakan syariat-syariat semacam ini. Adapun, jika pelaksanaan syariat tersebut tidak mensyaratkan adanya keimanan dan keislaman terlebih dahulu, maka non Muslim tidak dilarang melaksanakan syariat tersebut. Misalnya, berperangnya seorang non Muslim bersama pasukan kaum Muslim; kesaksian non Muslim dalam masalah jual beli, dan semua perkara yang tidak mensyaratkan adanya keimanan dan keislaman terlebih dahulu. Oleh karena itu, non Muslim diperbolehkan berkecimpung dalam bidang kedokteran, industri, pertanian, perkebunan, dan lain sebagainya.</p>
<p align="justify"><strong>Kedua, </strong>pemberlakuan dan penerapan syariat Islam atas non Muslim. <strong>Pertama</strong>, jika ada nash-nash umum yang pelaksanaannya tidak dibatasi oleh syarat keimanan dan keislaman, maka hal ini perlu diteliti terlebih dahulu. Jika pelaksanaan hukum syariat tersebut hanya dikhususkan bagi kaum Muslim –karena ada syarat keimanan dan keislaman di dalamnya; atau ada ketetapan dari Rasulullah saw bahwa mereka (non Muslim) tidak dipaksa untuk melaksanakan syariat-syariat tersebut; maka pada dua kondisi semacam ini, hukum syariat tersebut tidak akan dibebankan atau diberlakukan kepada mereka (non Muslim). Dan khalifah tidak boleh memberi sanksi kepada mereka, jika mereka tidak melaksanakan syariat-syariat tersebut. Oleh karena itu, khalifah tidak boleh memberi sanksi atas ketidakimanan dan ketidakislamannya non Muslim. Mereka dibiarkan tetap tidak beriman, atau menyakini keyakinan-keyakinan kufurnya. Negara tidak boleh memaksa mereka untuk memeluk Islam. Negara Islam juga tidak boleh memaksa orang kafir untuk beribadah seperti ibadahnya kaum Muslim. Mereka dibiarkan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing. Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa Rasulullah saw membiarkan non Muslim beribadah sesuai dengan keyakinan dan agama mereka. Beliau saw juga tidak menghancurkan gereja, biara, dan tempat-tempat peribadatan orang-orang kafir. Hukum-hukum jihad juga tidak dibebankan kepada mereka. Mereka juga tidak diwajibkan pergi berjihad bersama kaum Muslim. Mereka juga tidak dipaksa untuk meninggalkan minuman keras, dan atas mereka juga tidak diterapkan hukum-hukum yang berhubungan dengan minuman keras (syirbul khamr). Sebab, para shahabat ra, ketika menaklukkan wilayah Yaman, mereka membiarkan orang-orang Kristen di wilayah itu minum-minuman keras, dan para shahabat tidak memaksa mereka untuk meninggalkan minuman keras.</p>
<p align="justify">Namun, jika ada hukum-hukum yang pelaksanaannya tidak mensyaratkan adanya keimanan dan keislaman terlebih dahulu, dan tidak ada nash umum yang mengecualikan pelaksanaannya bagi non Muslim; maka hokum-hukum itu akan diberlakukan dan diterapkan kepada non Muslim. Misalnya, hukum-hukum yang menyangkut masalah muamala, pidana, dan sebagainya. Oleh karena itu, jika non Muslim melakukan pencurian, maka ia akan dikenai hukuman potong tangan. Begitu pula juga ada non Muslim melakukan perzinaan, maka ia akan dikenai had zina, dan sebagainya. Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Nabi saw pernah dilapori kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang Yahudi terhadap seorang budak perempuan. Ketika orang Yahudi itu mengakui perbuatannya, Rasulullah saw pun memvonis hukuman mati (<em>qishash</em>) atas orang Yahudi tersebut. Imam Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Nabi saw pernah merajam seorang laki-laki dari suku Aslam, dan seorang laki-laki dari orang Yahudi dan wanitanya. Begitu pula hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan muamalat, pidana, pemerintahan, dan sebagainya, semuanya juga diberlakukan kepada non Muslim tanpa pengecualiaan.</p>
<p align="justify">Inilah ketentuan pokok yang berhubungan dengan pelaksanaan syariat Islam oleh non Muslim. Kenyataan ini menunjukkan kepada kita, bahwa tidak ada penyeragaman dan pemaksaan atas orang-orang kafir, dalam hal ibadah, keyakinan, dan lain sebagainya; sesuai dengan ketentuan di atas.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">b. Islam tidak memaksa non Muslim untuk masuk Islam dan menyakini keyakinan Islam</p>
<p></strong>.</p>
<p align="justify">Inklusivitas Islam juga dibuktikan dengan pengakuan dan perlindungan Islam atas keragaman (<em>pluralitas</em>). Al-Quran telah menyatakan hal ini di beberapa tempat.</p>
<p></em>(Saba’ [34]:28)</strong>Inklusivitas Islam bisa dibuktikan dengan kenyataan-kenyataan berikut ini.</em>Pemerintah Amerika Serikat pun pernah mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada Khilafah Islamiyyah atas bantuan pangan yang dikirimkan kepada mereka pasca perang melawan Inggris pada abad ke 18.</p>
<p></font></span></p>
<p><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><em>&#8220;Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah.</p>
<p></em></span></em>&#8220;[al-Hujurat:13].<em></em><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ()وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ</p>
<p></span></strong><span style="font-size:small;">&#8220;<em>Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.&#8221; Kalau mereka membantahmu juga, katakanlah, Allah tahu apa yang kalian kerjakan.&#8221;</em>[al-Hajj:67-68].</p>
<p>Ayat-ayat di atas menunjukkan, bahwa Islam mengakui dan mengakomodasi adanya pluralitas agama, kebudayaan, dan pemikiran. Islam tidak menafikan adanya keragaman agama, budaya, dan pemikiran yang ada di tengah-tengah masyarakat Islam. Islam juga tidak akan menyeragamkan atau memberangus keragaman budaya, keyakinan, dan pandangan hidup selain Islam. Seorang Muslim hanya diwajibkan untuk mengajak non Muslim untuk memeluk agama Islam. Jika mereka menolak, mereka tidak dipaksa, dan dibiarkan tetap memeluk agama dan keyakinannya. Al-Quran menyatakan masalah ini dengan sangat jelas</p>
<p><em></p>
<p align="justify">&#8220;Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui</p>
<p>&#8220;. (TQS. Al Baqarah [2]:256)</p>
<p align="justify">Walhasil, Islam tidak akan memaksa non Muslim untuk masuk ke dalam agama Islam. Mereka juga tidak dipaksa untuk menyakini dan membenarkan keyakinan Islam. Oleh karena itu, agama dan keyakinan kaum Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Majuzi, Zoaroaste, Atheis (sosialis), Sekuleris, dan sebagainya akan mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan. Pemeluknya juga diberikan kebebasan dan perlindungan untuk melaksanakan ritual-ritual agamanya tanpa ada intimidasi, pemaksaan, maupun apa yang disebut dengan uniformisasi peribadatan. Untuk itu, orang-orang kafir tidak dipaksa untuk melakukan prosesi pernikahan seperti prosesi pernikahannya kaum Muslim. Mereka juga tidak dikenai zakat, dan lain sebagainya.</p>
<p align="justify">Namun demikian, seorang Muslim yang murtad dari agama Islam, akan dikenai sanksi hukuman mati dari Negara Islam. Begitu juga seorang Muslim yang menyakini dan menyebar luaskan ide sekulerisme, sosialisme, dan liberalisme, maka mereka akan dikenai sanksi ta&#8217;zir yang kadarnya ditentukan sepenuhnya oleh qadliy. Tidak boleh dinyatakan, bahwa tindakan ini dianggap melanggar kebebasan. Sebab, Islam telah menggariskan <em>had riddah </em>bagi para pemeluknya.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">PANDANGAN DAN SOLUSI ISLAM ATAS PLURALITAS</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Islam memandang bahwa pluralitas agama, keyakinan, dan budaya bukanlah ancaman atau penyebab dasar terjadinya konflik. Islam juga tidak memandang bahwa adanya klaim kebenaran (<em>truth claim</em>) dari masing-masing agama sebagai pemicu munculnya peperangan dan konflik. Oleh karena itu, Islam tidak berkehendak untuk menghapuskan truth claim masing-masing agama atau keyakinan; atau berusaha menyeragamkan &#8220;<em>pandangan tertentu</em>&#8221; pada setiap agama, seperti yang dilakukan oleh kelompok pluralis.</p>
<p align="justify">Dengan kata lain, solusi Islam terhadap keragaman budaya, agama, dan keyakinan bukan dengan cara menghapuskan <em>truth claim, </em>atau menghancurkan identitas agama-agama selain Islam. Akan tetapi, Islam mengakui adanya pluralitas, dan memberikan perlindungan (proteksi) atas keragaman tersebut. Oleh karena itu, Islam tidak menerima paham pluralisme yang hendak menghapuskan <em>truth claim, </em>atau yang berkehendak mencairkan identitas agama-agama selain Islam. Dalam pandangan Islam, orang Yahudi tidak dipaksa atau diajak untuk menyakini sebuah pandangan, bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya; atau untuk menyakini bahwa semua agama menyembah kepada Tuhan yang sama meskipun dengan cara yang berbeda-beda (filsafat perennial). Islam juga tidak memaksakan atau menjajakan ide bahwa semua agama harus meninggalkan identitas agamanya masing-masing dan berduyun-duyun memeluk agama universal (<em>global religion</em>). Islam tidak menghendaki agar orang Yahudi dan Kristen menanggalkan identitas agama mereka, dan diajak untuk memeluk agama universal seperti anjuran kaum pluralis. Islam juga membiarkan pemeluk-pemeluk agama lain menyakini kebenaran agama dan keyakinannya sendiri. Islam juga tidak berkehendak untuk menghapuskan klaim kebenaran mereka. Islam hanya mengajak mereka untuk masuk ke dalam Islam. Jika mereka menolak, mereka dibiarkan tetap dalam agama dan keyakinannya.</p>
<p align="justify">Dari sini bisa disimpulkan; solusi Islam atas keragaman (pluralitas) adalah, Islam mengakui dan mengakomodasi pluralitas, serta tidak menghapuskan truth claim dan identitas agama-agama non Islam. Namun Islam menolak sepenuhnya gagasan pluralisme yang ingin menggiring semua agama untuk menghapuskan klaim kebenarannya masing-masing; atau untuk mencairkan identitas agamanya masing-masing.</p>
<p align="justify">Kalau mau jujur, pandangan Islam seperti ini justru lebih adil dan <em>inclusive</em>, dibandingkan dengan gagasan kaum pluralis yang hendak menghapuskan <em>truth claim</em> (klaim kebenaran) dengan gagasan <em>unity of transenden-nya </em>maupun gagasan <em>global religionnya.</em> Mereka tidak sadar, keinginan untuk menghapus truth claim pada masing-masing agama, seraya memaksakan ide pluralisme-nya kepada semua pemeluk agama dan keyakinan, sama artinya dengan menambah truth claim baru dan memunculkan agama baru. Bukankah ini sama saja dengan <em>uniformisasi </em>keyakinan dan gagasan? Sesungguhnya, mereka tidak sedang menghapuskan truth claim (yang fithrahnya tidak mungkin bisa dihapus), akan tetapi justru membuat truth claim baru dan identitas baru, yang ujung-ujungnya juga sectarian, eksklusive, dan <em>uniformisasi </em>dengan kedok pluralisasi.</p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><em> </p>
<p> </p>
<p></em> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></em></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=88&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/08/syariat-islam-mengakomodasi-keragaman-dan-kebhinekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APAKAH NON MUSIM MEMILIKI KANS MASUK SURGA? (Makna Surat al-Maidah : 69 dan Surat al-Baqarah: 62)</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/08/apakah-non-musim-memiliki-kans-masuk-surga-makna-surat-al-maidah-69-dan-surat-al-baqarah-62/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/08/apakah-non-musim-memiliki-kans-masuk-surga-makna-surat-al-maidah-69-dan-surat-al-baqarah-62/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 10:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[
 


 

 
Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum pluralis untuk membenarkan paham pluralisme. Mereka menyatakan, bahwa dua ayat ini menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt. Dua ayat tersebut adalah:

 

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=87&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:small;"><font size="3"></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p></font></span></p>
<p style="text-align:left;"><strong><span style="font-size:small;"><strong><font size="3"></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p></font></strong></span></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:small;">Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum pluralis untuk membenarkan paham pluralisme. Mereka menyatakan, bahwa dua ayat ini menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt.<span id="more-87"></span> Dua ayat tersebut adalah:</span></p>
<p></strong></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ</p>
<p></span></strong><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">&#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.&#8221;</em>[al-Maidah:69]</p>
<p></span><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ</p>
<p></span></strong><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">&#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang mu&#8217;min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.</em>[al-Baqarah:62].</p>
<p align="justify">Sesungguhnya, ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penganut agama lain yang ada pada saat ini. Sebab, topik yang diperbincangkan ayat tersebut adalah umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa umat-umat terdahulu, baik Yahudi, Nashrani, Shabi&#8217;un, yang taat kepada ajaran agama dan Rasulnya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Akan tetapi, ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa Islam mengakui <em>truth claim </em>agama-agama lain yang ada pada saat ini, baik Yahudi, Nashrani, Zoroaster, dan sebagainya. Dua ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa pemeluk agama lain yang ada pada saat ini juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt, seperti halnya pemeluk agama Islam. Sebab, nash-nash al-Quran dan Sunnah dengan jelas menyatakan, bahwa setelah diutusnya Mohammad saw, seluruh manusia diperintahkan untuk meninggalkan agama mereka. Bahkan, Islam telah menjelaskan kesesatan dan kekafiran semua agama yang ada pada saat ini; baik agama Yahudi, Nashrani, maupun agama kaum Musyrik (Budha, Hindu, Konghucu, dan lain-lain).</p>
<p align="justify">Untuk menafsirkan surat al-baqarah ayat 62, ada baiknya kita simak penuturan ahli tafsir berikut ini:<strong> </strong><strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">Imam Ibnu Katsir</p>
<p>menyatakan, &#8220;<em>Setelah ayat ini diturunkan, selanjutnya Allah swt menurunkan surat, &#8220;Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.&#8221;</em>[Ali Imron:85]. <strong>Ibnu ‘Abbas </strong>menyatakan<em>, &#8220;Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satupun jalan (agama, kepercayaan, dan lain-lain), ataupun perbuatan yang diterima di sisi Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan sesuai dengan syari’atnya Mohammad saw. Adapun, umat terdahulu sebelum nabi Mohammad diutus, maka selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi pada zamanya dengan konsisten, maka mereka mendapatkan petunjuk dan memperoleh jalan keselamatan.&#8221;</em> Inilah pengertian surat al-Baqarah:62; dan surat al-Maidah:59.</p>
<p align="justify">Dari uraian di atas jelaslah, dua ayat di atas ditujukan kepada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Topiknya sangat jelas, bahwa umat-umat terdahulu yang mengikuti agama nabinya dengan konsisten pada zaman itu; semisal umat Yahudi yang konsisten mengikuti kitab Taurat, menyakini dan menjalankan isinya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Adapun setelah Nabi Mohammad saw diutus di muka bumi ini, maka tidak ada satupun agama –selain Islam—yang mampu menyelamatkan pemeluknya dari kekafiran, kecuali jika mereka mau memeluk Islam. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa ahlul kitab dan kaum musyrik –setelah diutusnya Mohammad saw—terkategori muslim, dan berhak memperoleh pahala dari Allah swt.</p>
<p align="justify">Selain itu, pemelintiran makna yang dilakukan oleh kelompok pluralis terhadap ayat-ayat itu [al-Baqarah:62 dan al-Maidah:69], tentu saja akan bertolak belakang dengan sabda Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda,<em> &#8220;Demi Dzat yang jiwa Mohammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari manusia yang mendengar aku, Yahudi, dan Nashrani, kemudian mati, sedangkan ia tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, kecuali ia menjadi penghuni neraka.</em>&#8221; [HR. Muslim dan Ahmad]</p>
<p align="justify">Rasulullah saw bersabda, &#8220;<em>Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni &#8216;Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan &#8216;Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya.&#8221; </em>[HR. Abu Dawud]</p>
<p align="justify">Al-Quran sendiri telah memberikan predikat Ahli Kitab &#8211;Yahudi dan Nashrani—sebagai orang-orang musyrik. Allah swt berfirman:</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.&#8221; </em>[al-Taubah:31]. Redaksi sebelumnya dinyatakan, bahwa orang-orang Yahudi berkata, <em>&#8220;&#8216;Uzair adalah putera Allah&#8221; </em>dan orang Nashrani berkata<em>,&#8221; Al Masih putera Tuhan&#8221;</em>.</p>
<p align="justify">Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani terkategori kaum musyrik, bukan Muslim. Lantas, bagaimana bisa disimpulkan; kaum Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang ini terkategori Muslim dan berhak mendapatkan pahala dari Allah swt, sementara itu mereka telah kafir dan musyrik? Bukankah Allah swt telah berfirman di dalam al-Quran:</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Oleh karena itu, siapa yang mempersekutukan Allah, maka ia tidak diperkenankan oleh Allah masuk surga, dan tempat kembalinya adalah neraka.&#8221;</em>[al-Maidah:72].</p>
<p><em></p>
<p align="justify">&#8220;Sungguh telah kafir mereka yang mengatakan bahwa</p>
<p><em>Tuhan itu ketiga dari yang ke tiga, padahal Tuhan itu hanya satu. Jika mereka belum berhenti berkata demikian, tentulah mereka yang kafir itu, akan mendapat siksa yang sangat pedih.&#8221; </em>[al-Maidah:73]<em></p>
<p align="justify">&#8220;Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.&#8221;</p>
<p>[Ali Imron:19] <em></p>
<p align="justify">&#8220;Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.&#8221;</p>
<p>[Ali Imron:85].</p>
<p align="justify">Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Baqarah ayat 62 dan surat al-Maidah ayat 59 sama sekali tidak berhubungan dengan paham pluralisme.</p>
<p align="right"> </p>
<p> </p>
<p></em></em></em></strong></strong></p>
<p></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=87&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/08/apakah-non-musim-memiliki-kans-masuk-surga-makna-surat-al-maidah-69-dan-surat-al-baqarah-62/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah Orang-orang Murtad Tidak Boleh Dihukum Mati?</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/07/benarkah-orang-orang-murtad-tidak-boleh-dihukum-mati/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/07/benarkah-orang-orang-murtad-tidak-boleh-dihukum-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 10:06:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang menolak hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, dengan alasan Nabi Mohammad saw tidak pernah mengeksekusi sendiri orang-orang yang murtad dari Islam, atau mengaku dirinya Nabi dan Rasul. Mereka juga mengetengahkan kenyataan bahwa, Nabi Mohammad saw tidak menghukum mati suami Ummu Habibah yang murtad dari Islam, dan beliau juga tidak mengeksekusi Muzailamah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=86&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><span style="font-size:small;">Sebagian orang menolak hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, dengan alasan Nabi Mohammad saw tidak pernah mengeksekusi sendiri orang-orang yang murtad dari Islam, atau mengaku dirinya Nabi dan Rasul. Mereka juga mengetengahkan kenyataan bahwa, Nabi Mohammad saw tidak menghukum mati suami Ummu Habibah yang murtad dari Islam, dan beliau juga tidak mengeksekusi Muzailamah al-Kadzab yang mengaku dirinya Nabi dan Rasul. Berdasarkan realitas ini, mereka berpendapat bahwa orang-orang murtad tidak boleh dihukum mati, karena Nabi saw tidak mengeksekusi orang-orang yang telah murtad dari agama Islam. Benarkah pendapat seperti ini? Jawabnya adalah sebagai berikut<span id="more-86"></span>;</span></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<div><strong>Pertama,</strong></div>
<p><strong>riwayat yang menuturkan murtadnya shahabat yang hijrah ke Habasyah, yakni suami dari Ummu Habibah, dan juga shahabat-shahabat lain saat di Mekah; dan ternyata Rasulullah saw diriwayatkan tidak mengeksekusi mereka, harus dipahami bahwa saat itu memang belum turun ayat-ayat tentang riddah dan hukumnya; sehingga wajar saja Nabi saw tidak menghukum mereka. Namun, setelah turun wahyu mengenai riddah dan hukumannya, maka hukuman mati bagi orang-orang yang murtad telah berlaku.</p>
<p></strong><strong>Kedua</strong>, adapun mengapa Rasulullah saw belum mengeksekusi orang yang mengaku dirinya Nabi dan Rasul, diantaranya adalah Musailamah al-Habib yang berasal dari Yamamah dan al-Aswad bin Ka&#8217;ab al-&#8217;Ansiy dari Shuna&#8217;a; dikarenakan kesibukan beliau menangani urusan-urusan lain yang lebih penting, dan beliau saw tidak ingin disibukkan oleh mereka. Namun, ketentuan hukuman mati bagi Musailamah al-Kadzab dan pengikutnya sudah digariskan oleh Nabi Mohammad saw. Ini terlihat dalam sebuah riwayat yang dituturkan di dalam Sirah Ibnu Hisyam. Ibnu Hisyam menuturkan, bahwa Musailamah pernah menulis surat dan mengirim dua orang utusan kepada Rasulullah saw.[Ibnu Hisyam, <em>al-Sirah al-Nabawiyyah</em>, hal 866] Di dalam sebuah hadits dituturkan, bahwasanya setelah Nabi saw membaca surat Musailamah, beliau bertanya kepada dua utusan Musailamah,&#8221;<em>Bagaimana pendapat kalian berdua?&#8221; </em>Dua utusan itu menjawab<em>, &#8220;Pendapat kami seperti yang ia katakan.&#8221;</em> Mendengar ini Nabi saw bersabda:<em> &#8220;Kalaulah tidak karena utusan-utusan tidak boleh dibunuh, niscaya telah kupenggal leher kalian.&#8221;</em>[HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud]</p>
<p>Riwayat ini menunjukkan bahwa ketentuan hukuman mati bagi Musailamah al-Kadzdzab dan pengikutnya sudah ditetapkan oleh Nabi, namun belum dilaksanakan oleh Nabi saw dikarenakan kesibukan beliau menangani urusan lain. Barulah di masa shahabat, Musailamah al-Kadzdzab dan Nabi-nabi palsu diperangi hingga binasa.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, walaupun Nabi saw secara langsung, belum pernah mengeksekusi orang-orang yang murtad dari Islam, namun ceceran-ceceran riwayat menunjukkan bahwa beliau saw telah menetapkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam. Dengan kata lain, walaupun <em>bil fi&#8217;li </em>Rasulullah saw belum mengeksekusi orang murtad, namun tidak berarti tidak ada hukuman mati bagi orang yang murtad, atau Nabi tidak menetapkan hukuman tersebut. Pasalnya, dalam prakteknya, para shahabat telah menerapkan hukuman ini di masa Nabi saw, dan Rasulullah saw mendiamkan saja. Misalnya, kasus Umar yang membunuh orang munafik yang menolak keputusan Nabi saw, hingga turun surat An Nisaa&#8217;: 60-65. Tatkala Umar membunuh orang itu, Nabi saw mendiamkan. Begitu pula ketika ada seorang laki-laki buta yang membunuh isterinya yang suka menghina Nabi saw. Dalam kasus ini beliau juga mendiamkan. Ketika Nabi saw menerima utusan Musailamah al-Kadzdzab, beliau bersabda, &#8220;<em>Seandainya aku tidak dilarang membunuh utusan, niscaya aku telah membunuh kedua orang itu&#8221;.</em>[Imam Syaukani, <em>Nailul al-Authar</em>]. Sabda Nabi saw di dalam hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa beliau telah menetapkan hukuman mati bagi pengikut Muzailamah al-Kadzdzab. Adapun mengapa beliau tidak mengeksekusi mereka saat itu juga, disebabkan mereka adalah utusan, dan Nabi saw dilarang membunuh utusan. Sedangkan jika mereka bukan utusan, maka mereka wajib dihukum mati.</p>
<p>Semua ini menunjukkan bahwa Nabi saw telah memberlakukan dan menetapkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, meskipun bukan beliau sendiri yang melakukan eksekusi. Akan tetapi, <em>taqrir </em>(persetujuan) beliau saw kepada para shahabat yang membunuh orang-orang murtad di masa beliau saw, merupakan dalil sharih ditetapkannya hukuman ini (hukuman mati bagi orang murtad dan pengaku Nabi saw Rasul baru).</p>
<p><strong>Keempat</strong>, di dalam hadits-hadits shahih telah disebutkan dengan jelas perintah dari Nabi saw untuk menghukum mati orang-orang yang murtad dari Islam. Hadits-hadits itu adalah sebagai berikut;</p>
<p>Di dalam <em>Shahih Bukhari, </em>Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari &#8216;Ikrimah ra bahwasanya ia berkata, &#8220;</p>
<div><span style="font-size:small;"></p>
<div><strong></strong></div>
<p></span></div>
<p></span><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَرَّقَ قَوْمًا فَبَلَغَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحَرِّقْهُمْ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><span style="font-size:small;">&#8220;<em>Sesungguhnya &#8216;Ali bin Abi Thalib telah menghukum mati suatu kaum dengan cara dibakar api. Hal itu disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas ra; lalu ia (Ibnu &#8216;Abbas) berkata,&#8221; Jika saya (yang menghukum), niscaya saya tidak akan membakarnya. Sebab, Nabi saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukumannya Allah (hukuman baker). Dan aku (Ibnu &#8216;Abbas) akan menghukum mereka dengan hukuman mati (bunuh), sebagaimana sabda Nabi saw, &#8220;Siapa saja mengganti agamanya, maka bunuhlah ia&#8221;.</em>[HR. Imam Bukhari, Shahih Bukhari hadits no.2794]</span></div>
<p></span></strong><span style="font-size:small;"></p>
<div><em> </em></div>
<p><em>Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits ini dari jalan lain, yakni dari Abu Nu&#8217;man Mohammad bin al-Fadlal, dari &#8216;Ikrimah. [Lihat Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no.6411]. Bunyi hadits itu adalah sebagai berikut;<em></em></p>
<div><strong></strong></div>
<p></em></span><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Telah meriwayatkan kepada kami, Abu Nu&#8217;man Mohammad bin al-Fadl; telah meriwayatkan kepada kami Hammaad bin Zaid dari Ayyub, dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya ia berkata, &#8220;Ali bin Abi Thalib diserahi orang-orang zindiq, lalu ia membakar mereka. Hal ini disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas. Ia pun berkata, &#8220;Jika saya, saya tidak akan membakar mereka, berdasarkan larangan Rasulullah saw, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah; dan aku akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah, &#8220;Siapa saja mengganti agamanya, maka bunuhlah ia&#8221;.</em></div>
<p></span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><em>[HR. Imam Bukhari]</p>
<p></em></span></em>Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang menuturkan hukuman mati bagi orang yang murtad dari Islam.</p>
<p> </p>
<p></span></p>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">(وأخبرنا) أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن محمد بن يحيى ثنا احمد بن حنبل ثنا عبد الرحمن بن مهدى عن سفيان عن الاعمش عن عبد الله بن مرة عن مسروق عن عبد الله قال قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال والذى لا اله غيره لا يحل دم رجل مسلم يشهد أن لا اله الا الله وانى رسول الله الا ثلاثة نفر التارك الاسلام المفارق للجماعة أو الجماعة والثيب الزانى والنفس بالنفس &#8211; قال الاعمش فحدثت به ابراهيم فحدثني عن الاسود عن عائشة بمثله &#8211; رواه مسلم في الصحيح عن احمد بن حنبل –</p>
<p> </p>
<p></span></strong></p>
<div><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;">&#8220;</span></div>
<p></span></span></div>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;"> </p>
<p></span></span><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Telah mengabarkan kepada kami, Abu &#8216;Abdullah al-Hafidz, telah meriwayatkan kepada kami, Abu &#8216;Abdullah Mohammad bin Ya&#8217;quub; telah meriwayatkan kepada kami Yahya bin Mohammad bin Yahya, dan telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Hanbal; telah meriwayatkan kepada kami &#8216;Abdurrahman bin Mahdiy dari Sofyan dari al-A&#8217;masy dari &#8216;Abdullah bin Marrah dari Masruuq dari &#8216;Abdullah; bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw sedang berdiri bersama kami; lalu, beliau saw bersabda, &#8220;Demi Dzat Yang Tidak ada Sesembahan selain Dia, tidak halal darah seorang Muslim yang mengucapkan tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah uturan Allah, kecuali tiga orang; orang yang murtad dari Islam dan memecah belah jama&#8217;ah; seseorang yang telah bersuami atau beristeri yang melakukan zina, dan orang yang membunuh jiwa&#8221;.</span></span></em><span style="font-family:Times New Roman;">[HR. Imam Muslim dari Ahmad bin Hanbal]</span></p>
<p>Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud juga menuturkan hadits-hadits tentang hukuman mati bagi orang yang murtad.</p>
<p> </p>
<p></span></p>
<div><span style="font-size:small;"></p>
<div><strong></strong></div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام أَحْرَقَ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَمْ أَكُنْ لِأُحْرِقَهُمْ بِالنَّارِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَكُنْتُ قَاتِلَهُمْ بِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ وَيْحَ ابْنِ عَبَّاسٍ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Telah meriwayatkan kepada kami, Ahmad bin Hanbal; telah meriwayatkan kepada kami, Ismail bin Ibrahim; telah mengabarkan kepada kami Ayyub, dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya Ali ra telah membakar orang-orang yang murtad dari Islam. Hal ini disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas ra, maka ia berkata, &#8220;Saya tidak akan membakar mereka dengan api. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah&#8221;. Saya akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah saw. Sesungguhnya Nabi saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agamanya bunuhlah dia&#8221;. Hal ini disampaikan kepada &#8216;Ali bin Abi Thalib, dan beliau pun berkata, &#8220;Celakalah Ibnu &#8216;Abbas</em></div>
<p></span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><em>&#8220;.[HR. Imam Abu Dawud]</p>
<p></em></span></em>Imam Turmudziy juga meriwayatkan hadits hadits senada;</p>
<div><span style="font-size:small;"> </span></div>
<p></span><span style="font-size:small;"></p>
<div><span style="font-size:small;"> </span></div>
<p></span><span style="font-size:small;"></p>
<div><span style="font-size:small;"> </span></div>
<p></span><span style="font-size:small;"></p>
<div><span style="font-size:small;"> </span></div>
<p></span><span style="font-size:small;"><strong></strong></p>
<div><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span></span></p>
<div><strong></strong></div>
<p></span></div>
<p></span><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا حَرَّقَ قَوْمًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ وَلَمْ أَكُنْ لِأُحَرِّقَهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا فَقَالَ صَدَقَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ حَسَنٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْمُرْتَدِّ وَاخْتَلَفُوا فِي الْمَرْأَةِ إِذَا ارْتَدَّتْ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ تُقْتَلُ وَهُوَ قَوْلُ الْأَوْزَاعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ تُحْبَسُ وَلَا تُقْتَلُ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ</p>
<div><em><span style="font-size:small;">Telah meriwayatkan kepada kami, Ahmad bin &#8216;Abdah al-Dlabbiy al-Bashriy; telah meriwayatkan kepada kami, &#8216;Abdu al-Wahhaab al-Tsaqafiy; telah meriwayatkan kepada kami Ayyub, dari Ikrimah, bahwasanya Ali telah membakar suatu kaum yang murtad dari Islam. Hal ini disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas ra. Beliau berkata, &#8220;Jika saya, saya akan membunuhnya berdasarkan sabda Rasulullah saw, &#8220;Siapa saja murtad dari agamanya maka bunuhlah dia&#8221;. Dan saya (Ibnu &#8216;Abbas) tidak akan membakarnya berdasarkan sabda Rasulullah saw, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah. Hal ini disampaikan kepada &#8216;Ali, dan ia berkata, &#8220;Benarlah Ibnu &#8216;Abbas&#8221;. Menurut Abu &#8216;Isa (Imam Turmudziy) hadits ini shahih hasan. Hadits ini diamalkan oleh para ulama dalam kasus orang yang murtad dari Islam. Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai sanksi bagi wanita yang murtad dari Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang murtad wajib dibunuh. Ini adalah pendapat al-Auza&#8217;iy, Ahmad, dan Ishaq. Sedangkan ulama lain berpendapat wanita murtad harus dipenjara dan tidak dibunuh. Ini adalah pendapat Sofyan al-Tsauriy dan ulama-ulama dari Kufah.</span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><strong> </strong></div>
<p></span></em><strong>Imam An Nasaaiy menuturkan;<span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span></span></p>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Telah mengabarkan kepada kami &#8216;Imran bin Musa; ia berkata; telah mengabarkan kepada kami &#8216;Abdu al-Waarits; telah mengabarkan kepada kami Ayyub, dari &#8216;Ikrimah;bahwasanya ia berkata, &#8220;Ibnu &#8216;Abbas ra berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia&#8221;.</em></div>
<p></span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><em>[HR. Imam An Nasaaiy]</p>
<div><strong></strong></div>
<p></em></span></em><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَحَرَّقَهُمْ عَلِيٌّ بِالنَّارِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحَرِّقْهُمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ أَحَدًا وَلَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتُهُمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Telah mengabarkan kepada kami; Mohammad bin &#8216;Abdullah bin al-Mubaarak; ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami, Ayyub bin Hisyam; ia berkata telah meriwayatkan kepada kami Wuhaib; ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Ayyub dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya ada sekelompok orang murtad dari Islam. Ali pun membakar mereka dengan api. Ibnu &#8216;Abbas ra berkata, &#8220;Jika saya, saya tidak akan membakar mereka dengan api. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum seseorang dengan hukuman Allah. Sekiranya aku, maka aku akan membunuhnya. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia&#8221;.</em></div>
<p></span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><em>[HR. Imam An Nasaaiy]</p>
<div><span style="font-size:small;"></p>
<div><span style="font-size:small;"></p>
<div><strong> </strong></div>
<p></span></div>
<p></span></div>
<p></em></span></em><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><strong></p>
<div><strong></strong></div>
<p></strong></span></span><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Telah mengabarkan kepada kami, Mahmud bin Ghailan, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Mohammad bin Bakr, ia berkata, telah menuturkan kepada kami Ibnu Juraij; ia berkata telah menuturkan kepada kami Ismail, dari Ma&#8217;mar dari Ayyub dari &#8216;Ikrimah dari Ibnu &#8216;Abbas ra, bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, bunuhlah ia&#8221;.</em></div>
<p></span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><em>[HR. Imam An Nasaaiy]<span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span></span></p>
<div><strong></strong></div>
<p></em></span></em><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">أَخْبَرَنِي هِلَالُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><span style="font-size:small;">&#8220;<em>Telah mengabarkan kepada kami Hilal bin al-&#8217;Ilal, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami, Ismail bin &#8216;Abdillah bin Zurarah; ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami, &#8216;Abbad bin al-&#8217;Awwam, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Sa&#8217;iid dari Qatadah, dari &#8216;Ikrimah dari Ibnu &#8216;Abbas, bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia&#8221;.</em>[HR. Imam An Nasaaiy]</span></div>
<p></span></strong><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span><strong></strong></p>
<div><strong></strong></div>
<p></span><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَهَذَا أَوْلَى بِالصَّوَابِ مِنْ حَدِيثِ عَبَّادٍ</p>
<div><em><span style="font-size:small;">Telah mengabarkan kepada kami Musa bin &#8216;Abd al-Rahman, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Mohammad bin Bisyr, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Sa&#8217;id dari Qatadah, dari al-Hasan, bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agamanya (Islam) maka bunuhlah ia&#8221;. Abu &#8216;Abd al-Rahman berkata, &#8220;Hadits ini lebih utama kebenarannya dari haditsnya &#8216;Abbad&#8221;.</span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span></span></p>
<div><strong></strong></div>
<p></span></em><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى عَنْ عَبْدِ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Telah mengabarkan kepada kami, al-Husain bin &#8216;Isa, dari &#8216;Abd al-Shamad, ia berkata; telah meriwayatkan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas, bahwasanya Ibnu &#8216;Abbas berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dariu agamanya, maka bunuhlah ia&#8221;.</em></div>
<p></span></em></div>
<p></span></strong><em><span style="font-size:small;"><em>[HR. Imam An Nasaaiy]</p>
<p></em></span></em></strong>Imam Ibnu Majah juga meriwayatkan riwayat tentang hukuman mati bagi orang yang murtad dari Islam, sebagai berikut;</p>
<div><span style="font-size:small;"></p>
<div><strong></strong></div>
<p></span></div>
<p></span><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ</p>
<div><span style="font-size:small;">&#8220;<em>Telah meriwayatkan kepada kami, Mohammad bin al-Shabbaah: telah mengabarkan kepada kami Shofyan bin &#8216;Uyainah dari Ayyub dari &#8216;Ikrimah, dari Ibnu &#8216;Abbas bahwasanya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang murtad dari agamanya (Islam), bunuhlah ia&#8221;.</em>[HR. Ibnu Majah]</span></div>
<p></span></strong><span style="font-size:small;">Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits-hadits tentang hukuman mati bagi orang yang murtad.</p>
<div><strong></strong></div>
<p></span><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا حَرَّقَ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَمْ أَكُنْ لِأُحَرِّقَهُمْ بِالنَّارِ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَكُنْتُ قَاتِلَهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ فَقَالَ وَيْحَ ابْنِ أُمِّ ابْنِ عَبَّاسٍ</p>
<div><span style="font-size:small;">&#8220;<em>Telah meriwayatkan kepada kami, Ismail; telah meriwayatkan kepada kami Ayyub dari &#8216;Ikrimah, bahwasanya Ali telah membakar orang-orang yang murtad dari Islam. Hal itu kemudian disampaikan kepada Ibnu &#8216;Abbas, dan ia berkata, &#8220;Saya tidak akan membakar mereka dengan api, karena Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah. Dan saya akan membunuh mereka, berdasarkan sabda Rasulullah saw, &#8220;Siapa saja murtad dari agama Islam, maka bunuhlah ia. Hal ini disampaikan kepada &#8216;Ali ra, dan Ali ra berkata, &#8220;Celakalah anak ibunya Ibnu &#8216;Abbas&#8221;.</em>[HR. Imam Ahmad]</span></div>
<p></span></strong><span style="font-size:small;">Hadits-hadits di atas dengan sharih menyatakan bahwa Nabi saw telah memerintahkan umatnya untuk mengeksekusi mati orang-orang yang murtad dari Islam. Dan salah satu sebab yang menjatuhkan seorang Muslim ke dalam kemurtadan adalah mengaku Nabi dan Rasul palsu, atau menjadi pengikut mereka.</p>
<div><strong>Keempat</strong></div>
<p><strong>, ayat al-Quran dengan sharih menjelaskan bahwa orang-orang yang murtad dari Islam wajib dihukum mati. Allah swt berfirman;</p>
<div></div>
<p></strong></span><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا(*)وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong</em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em>&#8220;.[TQS An Nisaa' (4):88-89]</p>
<p></em></span></em>Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan mengenai latar belakang turunnya ayat ini –yang intinya sebagai berikut, &#8220;<em>Ada beberapa orang Arab mendatangi Rasulullah saw di Madinah, lalu mereka masuk Islam. Setelah itu, mereka ditimpa demam Madinah, dan lalu, murtad dari Islam (kembali kepada kekafiran). Kemudian, mereka keluar dari Madinah. Di tengah jalan mereka bertemu dengan shahabat Nabi saw, dan shahabat Nabi bertanya sebab-sebab mereka keluar dari Madinah. Mereka menjawab, bahwa mereka tertimpa demam Madinah. Para shahabat berkata, &#8220;Mengapa kalian tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah? Para shahabat akhirnya berbeda pendapat, ada yang berpendapat mereka telah menjadi kafir dan wajib dibunuh, sedangkan yang lain berpendapat mereka masih Islam sehingga tidak boleh ditawan dan dibunuh. Lalu, turunlah ayat ini untuk mencela kedua kelompok shahabat tadi, dan memerintahkan kaum Muslim untuk menawan dan membunuh orang-orang Arab yang murtad itu&#8221;.</em>[Lihat dan bandingkan dengan Tafsir Ibnu Katsir, surat An Nisaa':88-89]</p>
<p><strong>Kelima</strong>, ketetapan hukuman mati bagi orang murtad –termasuk di dalamnya Nabi palsu dan pengikutnya&#8211; semakin jelas, ketika para shahabat menerapkannya pada kasus-kasus riddah (murtad). Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai tenggat waktu taubat bagi orang-orang yang murtad. Ada yang menetapkan 3 hari, 1 bulan, dan ada yang lebih.</p>
<p>Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, barulah para shahabat ra memerangi Musailamah al-Kadzdzab, nabi-nabi palsu, kaum murtad, dan para penolak zakat. [lihat al-Hafidz al-Suyuthiy, <em>Taariikh al-Khulafaa', </em>hal. 55-59]. Adapun panglima perang yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar untuk memerangi Musailamah al-Kadzab adalah Khalid bin Walid. Akhirnya, atas ijin Allah swt, Musailamah al-Kadzab laknatullah berhasil dibunuh.</p>
<p>Pada tahun 12 hijrah, Abu Bakar mengutus al-&#8217;Ilaa&#8217; bin al-Hadlramiy untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Bahrain. Beliau juga mengutus al-Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Najiir. Beliau juga mengirim Ziyad bin Labid al-Anshariy untuk memerangi sekelompok orang-orang yang keluar dari Islam. [al-Hafidz al-Suyuthiy, <em>Taariikh al-Khulafaa', </em>hal. 58]</p>
<p>Prof. Mohammad Hamidullah, di dalam kitab <em>al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-&#8217;Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa&#8217; al-Raasyidiin</em>, menuturkan bahwasanya Abu Bakar ra mengutus beberapa orang shahabat untuk memerangi orang-orang yang murtad dari Islam; diantaranya adalah orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul, para penolak zakat, dan lain sebagainya. Abu Bakar mengangkat Khalid bin Walid untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid, dan jika ia telah selesai melaksanakan tugasnya, ia disuruh memerangi Malik bin Nuwairah (penolak kewajiban zakat) di Bathaah. Beliau mengangkat &#8216;Ikrimah bin Abi Jahal untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah, dan setelah selesai ia ditugaskan untuk berangkat menuju Qadla&#8217;ah. Beliau juga mengangkat Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi al-&#8217;Ansiy; melindungi penduduk Yaman dari Qais bin Maksyuuh. Setelah selesai ia ditugaskan memerangi Bani Kindah di Hadlramaut. Beliau juga mengutus Khalid bin Sa&#8217;id bin al-&#8217;Ash ke Yaman dan al-Hamqatain di daerah Masyaarif al-Syam. Beliau mengirim &#8216;Amru bin &#8216;Ash untuk memerangi kaum murtad di Bani Qudlaa&#8217;ah, Wadi&#8217;ah, dan al-Harits. Beliau mengangkat Hudzaifah bin Mihshan al-Ghalfaaniy untuk memerangi kaum murtad di Daba yang terletak di &#8216;Amman. Beliau mengutus &#8216;Urfajah bin Hartsamah untuk memerangi kaum murtad di Mahrah. Beliau mengangkat Suwaid bin Muqarrin untuk memerangi kaum murtad di Tihamah, Yaman. Sedangkan Tharifah bin Hajiz, beliau utus untuk memerangi kaum murtad di Bani Sulaim. Beliau ra mengirim al-&#8217;Ila&#8217; al-Hadlramiy untuk memerangi kaum murtad di Bahrain. [Mohammad Hamidullah, <em>al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-'Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa' al-Raasyidiin</em>, hal. 338-339]</p>
<p>Semua ini menunjukkan bahwa, orang-orang Islam yang mengaku dirinya sebagai Nabi baru beserta pengikut-pengikutnya adalah kafir, dan diperlakukan sama seperti orang-orang yang murtad dari Islam. Mereka diminta bertaubat dan kembali kepada Islam. Jika mereka menolak mereka wajib diperangi.</p>
<p>Tidak bisa dinyatakan, bahwa orang-orang yang mendirikan agama baru dan keyakinan baru, seraya mendakwakan dirinya Nabi baru, dibiarkan begitu saja atau malah kita wajib tolerans kepada mereka, seperti halnya sikap kita terhadap para pemeluk agama-agama Kristen, Yahudi, Budha, dan lain sebagainya. Sebab, ijma&#8217; shahabat telah sepakat, bahwa orang-orang yang mengaku-ngaku Nabi baru dan mendirikan agama baru, harus diperangi. Oleh karena itu, siapa saja yang mengaku dirinya Nabi atau Rasul, beserta orang-orang yang mengikutinya dihukumi <em>kafir-zindiq</em>; dan mereka dijatuhi sanksi hukuman mati.</p>
<p>Sesungguhnya, Nabi, para shahabat, dan ulama kaum Muslim telah mempraktekkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam. Adapun propaganda sebagian orang yang menyatakan bahwa Islam tidak menetapkan hukuman mati bagi pelaku riddah, sesungguhnya, semua itu adalah propaganda jahat yang ditujukan untuk memenuhi keinginan-keinginan kaum kafir memberangus syariat Islam yang agung dan mulia. <em>Wallahu al-Haadiy al-Muwaffiq ila Aqwaam al-Thaariq.</em> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p align="right"> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=86&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/07/benarkah-orang-orang-murtad-tidak-boleh-dihukum-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BENARKAH MIRZA GHULAM AHMAD NABI ISA AS DAN IMAM MAHDIY?(Mengungkap Syubhat Hadits Riwayat ‘Aisyah)</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/07/benarkah-mirza-ghulam-ahmad-nabi-isa-as-dan-imam-mahdiymengungkap-syubhat-hadits-riwayat-%e2%80%98aisyah/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/07/benarkah-mirza-ghulam-ahmad-nabi-isa-as-dan-imam-mahdiymengungkap-syubhat-hadits-riwayat-%e2%80%98aisyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 10:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam kitab Durr al-Mantsuur, karya al-Hafidz al-Suyuuthiy, juz 6, hal. 618, dituturkan sebuah riwayat sebagai berikut:

 

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَه عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قُوْلُوْا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ وَلَا تَقُوْلُوْا لَا نَبِْيَّ بَعْدَهُ


&#8220;Dituturkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari &#8216;Aisyah ra, bahwasanya beliau berkata, &#8220;Katakanlah khaatam al-nabiyyiin&#8217;, dan jangan berkata, &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8220;.
Hadits ini sering [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=84&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><span style="font-size:small;">Di dalam kitab Durr al-Mantsuur, karya al-Hafidz al-Suyuuthiy, juz 6, hal. 618, dituturkan sebuah riwayat sebagai berikut:</span></div>
<div><span style="font-size:small;"><font size="3"></p>
<div><span style="font-size:small;"> </span></div>
<p></font></span></div>
<div><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَه عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قُوْلُوْا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ وَلَا تَقُوْلُوْا لَا نَبِْيَّ بَعْدَهُ<font size="3"><font face="Arial" size="3"></p>
<div></div>
<p></font><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">&#8220;<em>Dituturkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari &#8216;Aisyah ra, bahwasanya beliau berkata, &#8220;Katakanlah khaatam al-nabiyyiin&#8217;, dan jangan berkata, &#8220;la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8220;.</p>
<p align="justify">Hadits ini sering dijadikan hujjah oleh orang Ahmadiyah untuk membenarkan penakwilan mereka terhadap frasa &#8220;khatam al-nabiyyiin. Mereka menakwilkan &#8220;khatam al-nabiyyiin&#8221;, bukan sebagai penutup para nabi, atau nabi terakhir, akan tetapi, &#8220;nabi yang paling mulia&#8221;, sehingga masih terbuka peluang adanya kenabian dan risalah baru. Dengan kata lain, akan datang nabi dan rasul baru setelah Nabi Mohammad saw wafat, yang tidak membatalkan syariatnya Mohammad saw. Mereka menyakini, bahwa hadits ini menunjukkan kedatangan nabi dan rasul baru, meskipun ia tidak membawa syariat baru yang membatalkan syariatnya Mohammad saw. Masih menurut mereka, nabi yang ditolak pada hadits-hadits &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221; hanyalah Nabi dan Rasul baru yang membatalkan syariat Mohammad, sedangkan Nabi dan Rasul baru yang tidak membatalkan syariat Mohammad tetap akan datang. Contohnya adalah Mirza Ghulam Ahmad.<span id="more-84"></span></p>
<div></div>
<div><span style="font-size:small;"></span></div>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">Sesungguhnya keyakinan semacam ini adalah penakwilan sesat yang bertentangan dengan &#8216;aqidah kaum Muslim. Adapun bantahan terhadap pendapat ini adalah sebagai berikut;</p>
<p align="justify"><strong>Pertama</strong>, pada dasarnya, hadits ini adalah perkataan &#8216;Aisyah ra bukan perkataan Rasulullah saw. Oleh karena itu, hadits ini secara ushul tidak bisa digunakan hujjah, sebab ia hanya pendapat atau interpretasi shahabat. Selain itu, hadits ini adalah hadits ahad sehingga tidak layak digunakan hujjah untuk membangun masalah-masalah &#8216;aqidah. Sebab, menyakini ada atau tidak adanya nabi dan Rasul baru setelah Rasulullah saw wafat termasuk bagian dari keimanan. Sedangkan keimanan tidak boleh dibangun berdasarkan dalil-dalil dzanniy; termasuk di dalamnya hadits ahad. Oleh karena itu, berhujjah dengan hadits ini telah gugur secara ushuliy.</p>
<p align="justify"><strong>Kedua</strong>, adapun hadits-hadits tentang &#8220;khatam al-nabiyyin&#8221; yang marfu&#8217; dari Rasulullah saw menunjukkan dengan sangat jelas tidak adanya risalah dan nubuwwah, setelah beliau saw. Dengan kata lain, tidak ada lagi nabi dan rasul baru setelah beliau saw. Yang ada hanyalah berita tentang datangnya nabi Isa as dan Imam Mahdiy, bukan nabi maupun rasul baru. Banyak hadits telah menuturkan masalah semacam ini, dan menggunakan redaksi &#8220;la nabiya ba&#8217;di&#8221;. Hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut;</p>
<p align="justify">Imam Turmudziy mengetengahkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<div></div>
<p></span><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku</em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>.&#8221;[HR. Turmudziy, juz 3, hal. 364]</em></div>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan, bahwa nubuwwah dan risalah sudah tidak ada lagi setelah diutusnya Nabi Mohammad saw. Dengan kata lain, tidak ada lagi pengangkatan nabi dan rasul baru setelah diangkatnya Nabi Mohammad saw.</em></div>
<p></span></em></div>
</div>
</div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<div></div>
<div><span style="font-size:small;"></span></div>
<p></span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku</em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>.&#8221;[HR. Turmudziy, juz 3, hal. 364]</em></div>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan, bahwa nubuwwah dan risalah sudah tidak ada lagi setelah diutusnya Nabi Mohammad saw. Dengan kata lain, tidak ada lagi pengangkatan nabi dan rasul baru setelah diangkatnya Nabi Mohammad saw.</em></div>
<p></span></em></div>
</div>
</div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></font></span><font size="3"><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">&#8220;<em>Dituturkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari &#8216;Aisyah ra, bahwasanya beliau berkata, &#8220;Katakanlah khaatam al-nabiyyiin&#8217;, dan jangan berkata, &#8220;la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8220;.</p>
<p align="justify">Hadits ini sering dijadikan hujjah oleh orang Ahmadiyah untuk membenarkan penakwilan mereka terhadap frasa &#8220;khatam al-nabiyyiin. Mereka menakwilkan &#8220;khatam al-nabiyyiin&#8221;, bukan sebagai penutup para nabi, atau nabi terakhir, akan tetapi, &#8220;nabi yang paling mulia&#8221;, sehingga masih terbuka peluang adanya kenabian dan risalah baru. Dengan kata lain, akan datang nabi dan rasul baru setelah Nabi Mohammad saw wafat, yang tidak membatalkan syariatnya Mohammad saw. Mereka menyakini, bahwa hadits ini menunjukkan kedatangan nabi dan rasul baru, meskipun ia tidak membawa syariat baru yang membatalkan syariatnya Mohammad saw. Masih menurut mereka, nabi yang ditolak pada hadits-hadits &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221; hanyalah Nabi dan Rasul baru yang membatalkan syariat Mohammad, sedangkan Nabi dan Rasul baru yang tidak membatalkan syariat Mohammad tetap akan datang. Contohnya adalah Mirza Ghulam Ahmad.<!--more--></p>
<div></div>
<div><span style="font-size:small;"></span></div>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">Sesungguhnya keyakinan semacam ini adalah penakwilan sesat yang bertentangan dengan &#8216;aqidah kaum Muslim. Adapun bantahan terhadap pendapat ini adalah sebagai berikut;</p>
<p align="justify"><strong>Pertama</strong>, pada dasarnya, hadits ini adalah perkataan &#8216;Aisyah ra bukan perkataan Rasulullah saw. Oleh karena itu, hadits ini secara ushul tidak bisa digunakan hujjah, sebab ia hanya pendapat atau interpretasi shahabat. Selain itu, hadits ini adalah hadits ahad sehingga tidak layak digunakan hujjah untuk membangun masalah-masalah &#8216;aqidah. Sebab, menyakini ada atau tidak adanya nabi dan Rasul baru setelah Rasulullah saw wafat termasuk bagian dari keimanan. Sedangkan keimanan tidak boleh dibangun berdasarkan dalil-dalil dzanniy; termasuk di dalamnya hadits ahad. Oleh karena itu, berhujjah dengan hadits ini telah gugur secara ushuliy.</p>
<p align="justify"><strong>Kedua</strong>, adapun hadits-hadits tentang &#8220;khatam al-nabiyyin&#8221; yang marfu&#8217; dari Rasulullah saw menunjukkan dengan sangat jelas tidak adanya risalah dan nubuwwah, setelah beliau saw. Dengan kata lain, tidak ada lagi nabi dan rasul baru setelah beliau saw. Yang ada hanyalah berita tentang datangnya nabi Isa as dan Imam Mahdiy, bukan nabi maupun rasul baru. Banyak hadits telah menuturkan masalah semacam ini, dan menggunakan redaksi &#8220;la nabiya ba&#8217;di&#8221;. Hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut;</p>
<p align="justify">Imam Turmudziy mengetengahkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<div></div>
<p></span><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku</em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>.&#8221;[HR. Turmudziy, juz 3, hal. 364]</em></div>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan, bahwa nubuwwah dan risalah sudah tidak ada lagi setelah diutusnya Nabi Mohammad saw. Dengan kata lain, tidak ada lagi pengangkatan nabi dan rasul baru setelah diangkatnya Nabi Mohammad saw.</em></div>
<p></span></em></div>
</div>
</div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<div></div>
<div><span style="font-size:small;"></span></div>
<p></span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>&#8220;Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku</em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>.&#8221;[HR. Turmudziy, juz 3, hal. 364]</em></div>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em>Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan, bahwa nubuwwah dan risalah sudah tidak ada lagi setelah diutusnya Nabi Mohammad saw. Dengan kata lain, tidak ada lagi pengangkatan nabi dan rasul baru setelah diangkatnya Nabi Mohammad saw.</em></div>
<p></span></em></div>
</div>
</div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p></font></span></div>
<p> </p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">
<div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
</div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em></p>
<p align="justify">&#8220;Adalah Bani Israil, urusan mereka senantiasa diatur oleh para Nabi, setiap Nabinya telah wafat, maka akan diganti Nabi yang lain. Akan tetapi, tidak ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya sangat banyak</p>
<p>.&#8221; [HR. Imam Bukhari, juz 2, hal. 175]</p>
<p>Hadits ini memberikan pengertian, bahwa setelah Rasulullah saw wafat tidak ada lagi Nabi dan Rasul baru secara mutlak, baik yang membawa syariat baru maupun tidak. Yang ada hanyalah para khalifah yang jumlahnya banyak.</p>
<p> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Imam Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits dari Mush&#8217;ab bin Sa&#8217;ad dari ayahnya,&#8221;</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">
<div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
</div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em></p>
<p align="justify">&#8220;Bahwasanya Rasulullah saw berangkat menuju Tabuk dan mengangkat Ali ra sebagai penggantinya di Madinah. Lalu Ali berkata, &#8220;Apakah engkau mengangkatku untuk mengurusi anak-anak dan wanita? Beliau saw bersabda,&#8221;Tidakkah engkau rela (wahai Ali), bahwa kedudukanmu sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa? Akan tetapi, tidak ada nabi setelahku</p>
<p>.&#8221;[HR. Imam Bukhari]</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Hadits ini menegaskan, bahwa kedudukan Ali ra tak ubahnya dengan kedudukan Harun as yang menggantikan Musa as. Namun, agar Ali ra memahami bahwa kedudukannya dengan Harun as hanya sama dari sisi sebagai wakil (pengganti), dan bukan dari sisi kenabian, maka beliau saw menegaskan dengan kalimat &#8220;akan tetapi, tidak ada nabi setelahku.&#8221; Artinya, kedudukan Ali ra sama dengan Harun as, dari sisi sama-sama sebagai pengganti saja, namun Ali ra bukanlah seorang Nabi seperti halnya Harun as. Hadits ini merupakan dalil sharih yang menegaskan tidak adanya nabi dan rasul baru setelah Nabi Mohammad saw.</p>
<p align="justify">Imam Turmudziy meriwayatkan sebuah hadits dari &#8216;Uqbah bin &#8216;Aamir, bahwasanya Rasulullah saw bersabda</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">
<div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
</div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="right">لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em></p>
<p align="justify">&#8220;Jika ada Nabi sesudahku, tentu yang akan menjadi Nabi adalah Umar bin Khaththab</p>
<p>.&#8221;[HR. Turmudziy, juz 5, hal. 338] Seandainya ada nabi setelah Rasul, tentunya yang lebih berhak menyandang adalah Umar bukan Mirza Ghulam Ahmad. Faktanya, Umar tidak menjadi Nabi. Ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa setelah Nabi saw wafat tidak ada lagi nabi dan Rasul.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Imam Ibnu &#8216;Asakir mengetengahkan sebuah riwayat, bahwasanya Nabi saw bersabda:</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">
<div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">أَنَا مُحُمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِى الَّذِى يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَ أَنَا الحْاَشِرُ الَّذِى يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَ أَنَا الْعَاقِبُ الَّذِى لَا نَبِيَ بَعْدِيْ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
</div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">أَنَا مُحُمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِى الَّذِى يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَ أَنَا الحْاَشِرُ الَّذِى يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَ أَنَا الْعَاقِبُ الَّذِى لَا نَبِيَ بَعْدِيْ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em></p>
<p align="justify">&#8220;Aku adalah Mohammad. Aku adalah Ahmad. Aku adalah al-Maahiy yang menghapus kekafiran. Aku adalah al-Haasyir yang mengumpulkan manusia di telapak kakiku. Dan aku adalah al-&#8217;aaqib yang tidak ada nabi setelah aku</p>
<p>.&#8221;[HR. Ibnu 'Asakir, Tarikh Madinatu Damsyir, juz 3, hal, 21] <em>Al-&#8217;Aaqib </em>maknanya adalah nabi terakhir yang tidak ada nabi dan rasul sesudahnya. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Turmudziy juga meriwayatkan hadits-hadits yang menuturkan tentang al-&#8217;aaqib. [lihat Imam Bukhari, Shahih Bukhari, juz 2, hal. 270; Imam Muslim, Shahih Muslim, juz 2, hal. 336; Imam Turmudziy, Sunan Turmudziy, juz. 4, hal. 214]. Bentuk muanntas (perempuan) dari kata <em>&#8216;aaqib </em>adalah <em>&#8216;aaqibah </em>yang di dalam al-Quran, semuanya bermakna akhir atau kesudahan. Diantaranya adalah firman Allah swt, &#8220;<em>Dan kami telah turunkan hujan kepada mereka (kaum Nabi Luth) dengan hujan batu, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan (akhir) ['aaqibah] orang-orang yang berdosa.&#8221;[al-A'raf:84]. Allah swt juga berfirman, &#8220;Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan (akhir) ['aaqibah] orang yang berbuat kerusakan</em>.&#8221;[al-A'raf:103]</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Imam Muslim, dalam Shahih Muslim meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">
<div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">فَإِنِّي آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ مَسْجِدِي آخِرُ الْمَسَاجِدِ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
</div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">فَإِنِّي آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ مَسْجِدِي آخِرُ الْمَسَاجِدِ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em></p>
<p align="justify">&#8220;Sesungguhnya, saya adalah Nabi yang paling akhir, dan sesungguhnya masjidku adalah yang paling akhir dari sekalian masjid yang dibangun oleh para Nabi</p>
<p>.&#8221;[HR. Imam Muslim, Shahih Muslim, juz 1, hal. 581]</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menggunakan redaksi &#8220;<em>la nabiyya ba&#8217;diy</em>&#8220;. Hadits-hadits di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa risalah dan nubuwah telah berakhir setelah mangkatnya Nabi Mohammad saw. Tidak ada lagi nabi dan rasul baru setelah datangnya nabi terakhir, Mohammad saw. Dengan kata lain, tidak ada Nabi yang tidak membawa syariat, maupun Nabi baru yang membawa syariat setelah Rasulullah saw. Yang ada hanyalah kedatangan Nabi Isa as, bukan yang nabi dan rasul baru.</p>
<p align="justify">Lantas, apa maksud perkataan ‘Aisyah ra, <em>&#8220;Katakanlah khaatam al-nabiyyiin&#8217;, dan jangan berkata, &#8220;la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8220;. Benarkah perkataan Aisyah ra mengisyaratkan adanya pengangkatan Nabi dan Rasul baru setelah wafatnya Nabi Mohammad saw?</p>
<div><strong>Makna Hakiki Ucapan Aisyah ra</strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Perkataan &#8216;Aisyah ra &#8220;<em>Katakanlah khaatam al-nabiyyiin&#8217;, dan jangan berkata, &#8220;la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8220;, tidak mungkin dipahami adanya Nabi maupun Rasul baru (Mirza Ghulam Ahmad) setelah Nabi saw mangkat. Perkataan &#8216;Aisyah itu bisa ditafsirkan sebagai berikut:</p>
<p align="justify"><strong>Pertama</strong>, beliau ra tidak ingin orang-orang mencampuradukkan istilah al-Quran dengan hadits Nabi. &#8220;Khatam al-Nabiyy&#8221; adalah kata yang termaktub di dalam al-Quran, sedangkan &#8220;la nabiyya ba&#8217;diy&#8221; adalah istilah dari Rasulullah saw (hadits). Apa yang diucapkan &#8216;Aisyah tersebut hanyalah nasehat agar para shahabat menggunakan istilah yang telah disebutkan di dalam al-Quran saja&#8217; agar istilah al-Quran (khatam aal-nabiy) benar-benar terpisah dengan istilah hadits &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221;. Hanya saja tidak boleh dipahami bahwa &#8216;Aisyah memiliki keyakinan seperti halnya keyakinan orang Ahmadiyyah, bahwa setelah Nabi Mohammad saw masih ada nabi baru lagi. Sebab, kata khatamun nabiy sendiri maknanya adalah &#8220;la nabiya ba&#8217;diy.&#8221; Artinya, tidak ada pengangkatan nabi dan rasul baru.</p>
<p align="justify"><strong>Kedua</strong>, &#8216;Aisyah ra khawatir jika para shahabat menggunakan ungkapan &#8220;la nabiyya ba&#8217;diy&#8221;, ungkapan ini akan rancau dengan hadits-hadits yang bertutur tentang datangnya Isa al-Masih as. Dengan kata lain, beliau khawatir orang tidak akan menyakini datangnya Isa as setelah wafatnya Nabi Mohammad saw. Sebab, Rasulullah saw di banyak hadits menuturkan tentang akan datangnya Isa al-Masih as. Padahal Isa al-Masih as adalah seorang Nabi. Dengan kata lain, &#8216;Aisyah khawatir jika istilah &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8221; ini dipakai, konotasinya seakan-akan menafikan datangnya Nabi Isa as setelah wafatnya Rasulullah saw. Oleh karena itu, wajar saja jika &#8216;Aisyah ra melarang penggunaan istilah &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8220;, agar orang tidak melupakan kedatangan Nabi Isa as. Hanya saja, perkataan &#8216;Aisyah di atas sama sekali tidak melarang atau mengharamkan penggunaan istilah &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221;. Sebab, Rasulullah saw dan para shahabat juga menggunakan istilah ini di banyak riwayat. Perkataan &#8216;Aisyah di atas hanya berhubungan dengan masalah &#8220;mana yang lebih utama&#8221;. Menurut &#8216;Aisyah ra, tidak menggunakan istilah &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8221; itu lebih utama. Sebab, istilah &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8221; ini akan menimbulkan kerancuan bagi orang-orang yang awam; yang berakibat mereka tidak menyakini datangnya Isa as. Menurut beliau ra, yang lebih utama adalah menggunakan istilah &#8220;<em>khatamun nabiy</em>&#8220;, meskipun &#8216;Aisyah juga memahami bahwa maksud dari &#8220;<em>khatamun nabiy</em>&#8221; adalah &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8221; (tidak ada Nabi baru setelahku). Pengertian semacam ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Mughirah bin Syu&#8217;bah:</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">
<div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">وأخرج ابن أبي شيبه عن الشعبي رضي الله عنه قال قال رجل عند المغيرة بن أبي شعبة صلى الله على محمد خاتم الأنبياء لا نبي بعده فقال المغيرة حسبك اذا قلت خاتم الأنبياء فأنا كنا نحدث ان عيسى عليه السلام خارج فان هو خرج فقد كان قبله وبعده</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
</div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">وأخرج ابن أبي شيبه عن الشعبي رضي الله عنه قال قال رجل عند المغيرة بن أبي شعبة صلى الله على محمد خاتم الأنبياء لا نبي بعده فقال المغيرة حسبك اذا قلت خاتم الأنبياء فأنا كنا نحدث ان عيسى عليه السلام خارج فان هو خرج فقد كان قبله وبعده</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em></p>
<p align="justify">&#8220;Dari Sya&#8217;biy dituturkan, bahwasanya ada seorang laki-laki berada di sisi Mughirah bin Syu&#8217;bah ra, serta berkata, &#8220;Allah swt memberi rahmat kepada Mohammad Khatamun Nabiyyin, yang tidak ada nabi setelahnya.&#8221; Mendengar perkataan ini, Mughirah bin Syu&#8217;bah berkata, &#8220;Cukuplah engkau berkata, bahwa Rasulullah saw adalah Khatamun Nabiyyiin saja. Sebab, kami telah mendengarkan hadits bahwa Isa putera Maryam as akan datang kembali. Jika ia telah datang, maka ia ada setelah dan sesudah Nabi Mohammad saw</p>
<p>.&#8221; [al-Hafidz al-Suyuthiy, <em>Durr al-Mantsuur</em>, juz 6, hal 618]</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Ucapan Mughirah bin Syu&#8217;bah ini menunjukkan, bahwa beliau ra khawatir orang tidak akan menyakini datangnya Isa al-Masih as, jika mereka menggunakan istilah &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8220;. Sebab, setelah Nabi Mohammad saw akan datang kembali Nabi Isa as, bukan nabi yang baru. Atas dasar itu, ucapan Mughirah ini justru semakin menguatkan, bahwa para shahabat ra telah memahami setelah wafatnya Nabi Mohammad saw tidak akan ada Nabi dan Rasul baru. Yang ada hanyalah datangnya Nabi Isa as. Sedangkan Nabi Isa bukanlah nabi baru. Beliau as adalah seorang Nabi yang telah diangkat dan diutus jauh sebelum datangnya Mohammad saw. Oleh karena itu, hadits &#8216;Aisyah ra dan Mughirah bin Syu&#8217;bah ini sama sekali tidak bertentangan dengan hadits &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221; yang terdapat di dalam banyak riwayat. Bahkan, hadits tersebut (hadits riwayat &#8216;Aisyah dan Musghirah ra) semakin menguatkan pendirian yang menyatakan tidak ada nabi dan rasul baru setelah Nabi Mohammad saw, dan yang ada hanyalah datangnya Nabi Isa as. Sedangkan Nabi Isa as, bukanlah Nabi baru setelah wafatnya Nabi Mohammad saw, akan tetapi beliau as sudah menyandang predikat Nabi jauh sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw.</p>
<p align="justify">Hadits riwayat &#8216;Aisyah dan Mughirah di atas sama sekali tidak mengubah makna khatamun nabiy seperti halnya makna yang diinginkan oleh orang Ahmadiyyah, yakni, masih adanya peluang datangnya nabi ataupun rasul baru yang tidak membawa syariat, selain Isa as. Dengan kata lain, ucapan &#8216;Aisyah dan Mughirah tersebut sama sekali tidak bermakna &#8220;tidak adanya nabi atau rasul yang membatalkan syariat Nabi Mohammad saw&#8221;, alias masih ada kemungkinan datangnya Nabi dan Rasul baru (selain Isa as) yang tidak membatalkan syariatnya Mohammad saw.&#8221; Sebab, hadits &#8216;Aisyah dan Mughirah di atas jelas hanya berbicara pada konteks datangnya Nabi Isa as, bukan datangnya nabi ataupun Rasul baru layaknya Mirza Ghulam Ahmad, yang tidak membatalkan syariat Mohammad saw. Sedangkan makna khatamun nabiy adalah tidak ada nabi dan rasul baru setelah Nabi Mohammad saw. Makna semacam ini ditunjukkan dengan sangat jelas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudziy, Imam Ahmad, Imam Thabaraniy, dan Imam Mardawaih; Nabi Mohammad saw bersabda, &#8220;…<em>dan sesungguhnya aku adalah khatamun nabiy, dan tidak ada nabi setelah aku</em>.&#8221;[HR. Imam Turmudziy, Imam Ahmad, Imam Thabaraniy, dan Imam Mardawaih] Hadits ini merupakan penjelasan yang paling sharih mengenai khatamun nabiy, yakni &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8220;. Oleh karena itu, penakwilan orang Ahmadiyyah mengenai khatamun nabiy telah tertolak secara ilmiah dan pasti.</p>
<p align="justify"><strong>Ketiga</strong>, seandainya para shahabat memahami bahwa &#8216;makna khatamun nabiy&#8221; sebagaimana pemahaman orang Ahmadiyah, yakni masih terbukanya peluang adanya nabi dan rasul baru, tentunya mereka tidak akan memerangi orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul baru. Para shahabat ra telah berkonsensus (ijma&#8217; shahabat) untuk memerangi orang-orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan rasul. Kenyataan ini bisa dilihat dalam sejarah mutawatir, bagaimana Abu Bakar ra dan para shahabat telah memerangi Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku dirinya nabi, dan juga nabi-nabi palsu lain yang ada di jazirah Arab. Kita semua memahami, para shahabat adalah sebaik-baik generasi, dan orang yang paling memahami takwil al-Quran dan hadits. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Rasulullah saw, bershahabat, dan selalu mengikuti petunjuk-petunjuknya. Ketaqwaan dan keunggulan mereka dalam memahami agama tidak mungkin ditandingi oleh generasi-generasi setelahnya, apalagi oleh Mirza Ghulam Ahmad maupun &#8216;ulama Ahmadiyah yang jauh dari ketaqwaan dan keluhuran ilmu. Cukuplah bagi kaum Muslim untuk mengikuti konsensus shahabat untuk menolak dan memerangi orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan rasul setelah Nabi Mohammad saw. Konsensus shahabat (ijma&#8217; shahabat) adalah dalil yang sangat sharih untuk menolak sejauh-jauhnya keyakinan orang-orang Ahmadiyyah; sekaligus sebagai bukti tak terbantahkan untuk memerangi orang-orang yang mengaku-ngaku dirinya Nabi dan Rasul baru, seperti halnya kelompok Ahmadiyyah.</p>
<p align="justify"><strong>Keempat</strong>, Rasulullah saw juga telah mengingatkan kepada umatnya akan datangnya orang-orang yang mengaku nabi dan Rasul setelah beliau saw wafat. Imam Turmudziy mengetengahkan sebuah hadits shahih dari Tsauban, bahwasanya Nabi saw bersabda;</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify">
<div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
</div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ</p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></em></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p> </p>
<p></span></em></div>
</div>
<p></span></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Arial;"></p>
<div><em><span style="font-size:small;"></p>
<div><em></em></div>
<p></span></em></div>
<p></span><em><span style="font-size:small;"><em></p>
<p align="justify">&#8220;Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kabilah-kabilah dari umatku mengikuti orang-orang Musyrik; dan hingga mereka menyembah berhala-hala dari batu. Sesungguhnya, di tengah-tengah umatku akan muncul para pembohong besar, dan semuanya mengaku-ngaku sebagai nabi; padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku</p>
<p>.&#8221;[HR. Turmudziy, Abu 'Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih]. Lihat juga hadits-hadits senada riwayat Imam Abu Dawud; hadits no. 21361, Imam Ahmad, hadits no. 3710, dan lain0-lain.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></em></span></em></p>
<p align="justify">Hadits ini bukti merupakan bukti nyata, bahwa Nabi Mohammad saw adalah penutup para Nabi. Seandainya ada nabi dan rasul baru setelah Nabi Mohammad saw, tentunya beliau tidak akan menyatakan adanya para pembohong besar yang mengaku-ngaku dirinya Nabi dan Rasul setelah beliau saw. Jika Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin, dan yang lain-lain mengaku dirinya Nabi dan Rasul, tentulah mereka adalah para pembohong besar yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw. Atas dasar itu, jika ada orang yang mengaku nabi dan rasul baru, dan mengklaim telah diangkat oleh Allah swt sebagai nabi dan utusan Allah, ketahuilah orang-orang tersebut adalah pembohong besar yang telah diprediksi kehadirannya oleh Nabi Mohammad saw. Jika anda menyakini mereka, dan rela menjadi pengikutnya yang setia, sesungguhnya, anda termasuk kaum murtad yang telah keluar dari milah yang lurus.</p>
<p align="justify"><strong>Kelima</strong>, tidak ada Nabi dan Rasul baru di antara jeda kenabian Mohammad saw dengan datangnya Isa as. Konteks larangan penggunaan kata &#8220;<em>la nabiya ba&#8217;diy</em>&#8221; yang terdapat di dalam hadits &#8216;Aisyah ra hanya berhubungan dengan &#8220;penafian terhadap kedatangan Isa as&#8221;, dan sama sekali tidak berhubungan dengan datangnya Nabi dan Rasul baru selain Isa as. Aisyah ra khawatir –sebagaimana dijelaskan dalam hadits Mughirah bin Syu&#8217;bah ra—kalau orang menggunakan kata &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221; mereka akan melupakan kedatangan Nabi Isa as. Sedangkan Nabi Isa as telah diangkat Nabi oleh Allah swt jauh sebelum Nabi Mohammad saw diutus. Kedatangan Nabi Isa as setelah wafatnya Nabi Mohammad saw tidak boleh diartikan akan datang pula nabi dan rasul baru, alias ada pengangkatan nabi dan rasul baru. Sebab, kedatangan Nabi Isa as menjelang hari kiamat, hanyalah sebagai tamu, dan beliau as tidak diangkat untuk kedua kalinya menjadi seorang Nabi as. Ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang dituturkan oleh Imam Abu Dawud. Imam Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulullah saw bersabda, &#8221; <em>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni &#8216;Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian melihatnya,, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan &#8216;Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya</em>.&#8221; [HR. Abu Dawud]</p>
<p align="justify">Hadits ini menyatakan dengan sharih, bahwa tidak ada Nabi dan Rasul baru dalam jeda waktu antara diutusnya Mohammad saw dengan kedatangan Isa as menjelang hari kiamat. Berdasarkan hadits ini bisa disimpulkan, bahwa klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin, dan sebagainya adalah klaim kosong yang penuh kedustaan dan kebohongan.</p>
<p align="justify">Dengan demikian, tidak ada lagi pengangkatan Nabi dan Rasul baru setelah wafatnya Nabi Mohammad saw; yang ada hanyalah diturunkannya Isa as. Lalu, apakah Mirza Ghulam adalah Isa as, sehingga ia sah menyatakan dirinya sebagai nabi?</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p align="justify"> </p>
<div><strong><span style="font-size:small;color:#0000ff;">Mirza Ghulam adalah Isa as?</span></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="font-size:small;color:#0000ff;"></p>
<div><span style="font-size:small;">  </p>
<p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-size:small;"></span></div>
<p></span></strong><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify"> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">
<div><span style="font-size:small;color:#0000ff;">Alasan terakhir kaum Ahmadiyyah adalah mengkaitkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad dengan kenabian Isa as; dengan kata lain Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa as itu sendiri. Jika asumsi ini dipakai, maka Mirza Ghulam bukanlah Nabi dan Rasul baru, akan tetapi ia adalah Isa as itu sendiri. Lantas, benarkah asumsi semacam ini?</span></div>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;color:#0000ff;"></p>
<p align="justify">Sesungguhnya, asumsi ini jelas-jelas tertolak dan tidak masuk akal. <strong>Pertama</strong>, sebab, seandainya ada orang mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi Isa itu sendiri, maka asumsi ini terbantahkan dengan kenyataan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad punya ayah dan ibu yang berasal dari India. Padahal ibu Isa as adalah Maryam yang bukan berasal dari India, dan telah meninggal dunia jauh sebelum lahirnya Mirza Ghulam Ahmad. Selain itu, Nabi Isa as tidak memiliki ayah. Oleh karena itu, Mirza Ghulam Ahmad bukanlah Nabi Isa as. Bisa saja orang Ahmadiyyah berkeyakinan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdiy. Keyakinan ini tentunya telah menggugurkan keyakinan mereka sendiri. Sebab, Imam Mahdiy bukanlah seorang Nabi maupun Rasul, sedangkan orang Ahmadiyah menganggap Mirza adalah Nabi. Untuk itu, Mirza Ghulam Ahmad bukanlah Nabi Isa as, bukan pula nabi ataupun rasul baru, dan ia bukanlah Imam Mahdiy yang ditunggu. Namun, ia adalah al-Kadzdzab (pembohong besar) yang sesat lagi menyesatkan.</p>
<p align="justify"><strong>Kedua</strong>, Selain itu, anggapan orang Ahmadiyyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi Isa as, juga bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Rasulullah saw bersabda, &#8220;<em>Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni &#8216;Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian melihatnya,, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan &#8216;Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya</em>.&#8221; (HR. Abu Dawud]</p>
<p align="justify">Berdasarkan hadits ini, dapat dipahami dua hal; (1) ketika &#8216;Isa as diturunkan di akhir zaman, beliau as akan mengikuti syari&#8217;at Islam yang diturunkan kepada Nabi Mohammad saw yang telah menghapus seluruh syari&#8217;at sebelumnya, dan bukan membuat syariat baru. Sedangkan Mirza Ghulam membuat syariat baru; (2) Nabi as berada di muka bumi ini selama 40 tahun. Benarkah, Mirza Ghulam Ahmad berada di dunia ini selama 40 tahun?</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<div><span style="font-size:small;"> </span></div>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong></p>
<p align="justify">Kesimpulan</p>
<p align="justify">1. Hadits riwayat &#8216;Aisyah ra mempunyai pengertian, bahwa larangan penggunaan kata &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221; ditujukan agar kaum Mukmin tidak melupakan kedatangan Nabi Isa as kelak menjelang hari kiamat. Pasalnya penggunaan kata &#8220;<em>laa nabiya ba’diy</em>&#8220;, jika dipahami sepintas, bisa menafikan kedatangan Nabi Isa as sebagai seorang Nabi.</p>
<p align="justify">2. Hadits &#8216;Aisyah sama sekali tidak menunjukkan pengertian, bahwa setelah Rasulullah saw wafat akan datang nabi baru yang tidak membatalkan syariat Mohammad saw. Tidak bisa dipahami juga, bahwa maksud &#8220;la nabiya ba&#8217;diy&#8221; adalah nabi yang membatalkan syariat Mohammad saw, bukan nabi dan rasul baru secara mutlak.</p>
<p align="justify">3. Sesungguhnya risalah dan nubuwwah telah tertutup setelah wafatnya Nabi Mohammad saw. Yang akan datang hanyalah Nabi Isa as; sedangkan Nabi Isa as bukanlah Nabi dan Rasul yang baru diangkat setelah wafatnya Nabi Mohammad saw. Beliau as telah diangkat jauh hari sebelum Nabi Mohammad saw lahir. Kenyataan ini berbeda dengan Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin, dan lain sebagainya, yang mengaku diangkat Nabi dan Rasul oleh Allah swt setelah wafatnya Nabi Mohammad saw.</p>
<p align="justify">4. Makna &#8220;<em>khatamun nabiyyiin</em>&#8221; adalah penutup para nabi, atau nabi terakhir yang diangkat oleh Allah swt. Tidak ada pengangkatan Nabi dan Rasul baru setelah wafatnya Rasulullah saw.</p>
<p align="justify">5. Para shahabat telah bersepakat untuk memerangi siapa saja yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan rasul setelah wafatnya Mohammad saw. Mereka hanya mengakui kedatangan Isa as, bukan nabi dan rasul baru.</p>
<p align="justify">6. Kelompok Ahmadiyah telah terjatuh kepada kemurtadan, dan layak untuk dipidana hukuman mati. Hanya saja, yang berhak menjatuhkan sanksi ini bukan individu maupun kelompok, akan tetapi kepala negara Islam yakni Khalifah atau Amirul Mukminin. Haram hukumnya, seorang individu maupun kelompok memerangi orang-orang murtad. Bahkan, jika ada seorang Muslim membunuh orang-orang murtad, maka ia bisa dikenai hukuman qishash; seperti halnya jika ia membunuh orang kafir yang menjadi warga negara Daulah Islamiyyah. [lihat 'Abdurrahman al-Malikiy, Nidzaam al-'Uqubaat fi al-Islaam, 1990, Daar al-Ummah, Beirut, Libanon, hal. 84]</p>
<p align="justify">Demikianlah, anda telah kami jelaskan dengan gamblang tentang syubhat yang diketengahkan oleh orang-orang Ahmadiyyah atas haditsnya &#8216;Aisyah ra.</p>
<p align="justify">Akhirnya, kami hanya menyeru kepada kaum Ahmadiyah, dan semua pendiri agama dan ajaran baru untuk segera bertaubat dan kembali ke pangkuan Islam. Wahai kaum yang lalai, kembalilah kepada Islam yang lurus. Janganlah engkau mudah ditipu dan dipedaya oleh kaum Musyrik yang tidak pernah ridlo dengan kelurusan dan kesucian agama kalian.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></strong></span> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></span></span></span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=84&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/07/07/benarkah-mirza-ghulam-ahmad-nabi-isa-as-dan-imam-mahdiymengungkap-syubhat-hadits-riwayat-%e2%80%98aisyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>URGENSI MEMAHAMI FIKIH ISLAM</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/06/26/urgensi-memahami-fikih-islam/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/06/26/urgensi-memahami-fikih-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 02:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari mengatakan, &#8220;Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan, berdasarkan firman Allah swt, &#8220;fa&#8217;lam annahu la Ilaha Illa al-Allah&#8221; (ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) kecuali Allah).  Selain itu, para &#8216;ulama adalah pewaris para Nabi, dan mereka (para &#8216;ulama) mewariskan ilmu kepada orang yang mau mencerap ilmu sebanyak-banyaknya. Siapa saja yang menempuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=81&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari mengatakan, &#8220;Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan, berdasarkan firman Allah swt, &#8220;fa&#8217;lam annahu la Ilaha Illa al-Allah&#8221; (ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) kecuali Allah).  Selain itu, para &#8216;ulama adalah pewaris para Nabi, dan mereka (para &#8216;ulama) mewariskan ilmu kepada orang yang mau mencerap ilmu sebanyak-banyaknya. Siapa saja yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan bagi dirinya jalan menuju surga.<span id="more-81"></span> Allah swt berfirman, &#8220;Innamaa yakhsha al-Allah min &#8216;ibaadihi al-&#8217;ulama`.&#8221; (sesungguhnya, diantara hamba-hambaNya yang takut kepada Allah adalah para &#8216;ulama). Allah juga berfirman, &#8220;Wa maa ya`qiluha illa al-&#8217;alimuun&#8221;, (tidak akan memahaminya kecuali orang-orang yang &#8216;alim). Dan mereka (para penghuni neraka) berkata, &#8220;Seandainya kami mendengar dan memahami, tentunya kami tidak termasuk ke dalam penghuni neraka&#8221;. Allah swt juga berfirman, &#8220;Apakah sama, orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?&#8221; Nabi saw bersabda, &#8220;Siapa saja yang Allah menghendaki kebaikan pada dirinya, maka ia akan difaqihkan dalam masalah agama, sedangkan ilmu hanya bisa diraih dengan belajar.&#8221; [Imam Bukhari, dalam Shahih Bukhari]<br />
Secara literal, fikih bermakna al-fahm dan al-ilm. Sedangkan menurut istilah, fikih didefinisikan dengan ilmu tentang hukum-hukum syariat yang digali (diistinbathkan) dari dalil-dalil yang bersifat rinci. [Lihat Imam al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila Tahqiiq al-Haq min 'Ilm al-Ushuul, hal.3; lihat juga pada Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 509]<br />
Imam al-Amidiy berpendapat, bahwa fikih adalah ilmu yang dihasilkan dari sejumlah hukum syariat yang bersifat cabang (ahkaam al-furuu&#8217;) dengan cara penelitian dan istidlal. [Imam al-Amidiy, Al-Ihkam fi Ushuul al-Ahkam, juz 1, hal. 9]<br />
Menurut Imam al-Ghazali, dalam pandangan para ulama, fikih didefinisikan dengan,&#8221;Ilmu tentang hukum-hukum syariat yang ditetapkan bagi perbuatan seorang mukallaf. [Imam al-Ghazali, al-Mustashfa fi al-Ushul, hal. 5]</p>
<p>Pentingnya Memahami Fikih<br />
Hukum mempelajari hukum syariat (fikih) yang berhubungan dengan perbuatan seorang hamba adalah fardlu &#8216;ain, bukan fardlu kifayah.   Adapun belajar ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kehidupan kemasyarakatan, misalnya kedokteran, fisika, kimia, ekonomi, geofisika, dan sebagainya adalah fardlu kifayah.  Artinya, jika sudah ada sebagian kaum muslim yang mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu tersebut, maka gugurlah kewajiban tersebut bagi kaum muslim seluruhnya.[Lihat Imam Al-Ghazali, Ihyaa' 'Uluum al-Diin, bab 'Ilm]<br />
Adapun pentingnya memahami fikih Islam bagi seorang Muslim, didasarkan pada alasan-alasan berikut ini:<br />
1.    Belajar fikih merupakan refleksi keimanan kepada Allah swt.<br />
2.    Belajar fikih adalah sarana untuk mewujudkan amal sholeh<br />
3.    Belajar fikih merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan syafa&#8217;at dan perjumpaan dengan Allah swt.</p>
<p>Belajar Fikih Merupakan Wujud Keimanan Kepada Allah swt.<br />
Keimanan kepada Allah swt harus dibuktikan dengan cara mentauhidkan Allah swt, tidak hanya dalam aspek rububiyyah, asma dan shifat belaka, akan tetapi juga dalam aspek uluhiyyah (penyembahan).   Adapun yang dimaksud dengan tauhid uluhiyyah adalah pengeesaan Allah dalam hal sesembahan.   Artinya, seorang Muslim diwajibkan untuk menyakini bahwa syariat Allah adalah satu-satunya syariat yang mengatur kehidupannya.  Seseorang baru disebut memiliki tauhid uluhiyyah yang kuat, tatkala amal perbuatannya selalu sejalan dengan syariat Allah swt, dan di dalam hatinya telah terpatri sebuah keyakinan bahwa hukum Allah adalah hukum terbaik bagi dirinya dan seluruh umat manusia.<br />
Jalan satu-satunya agar amal perbuatan kita sejalan dengan syariat Allah adalah dengan belajar fikih.   Tanpa belajar fikih, tentu saja kita tidak mengetahui, apakah perbuatan kita sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya, ataukah belum.   Tanpa belajar fikih, tidak akan ada keterikatan dengan aturan Allah.  Sebab, bagaimana ia bisa dikatakan berbuat sesuai dengan aturan Allah, sedangkan dirinya tidak memahami aturan-aturan  Allah?   Jikalau seseorang tidak terikat dengan aturan Allah, baik sengaja atau tidak, maka tauhid uluhiyyahnya telah ternoda.   Untuk itu, belajar fikih (syariat Islam) menjadi sangat penting demi kelestarian dan keselamatan tauhid kita, terutama tauhid uluhiyyah.<br />
Dalam masalah ini, Allah swt telah menerangkan dengan sangat gamblang di dalam banyak ayat; diantaranya:</p>
<p>أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا(60)وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا<br />
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul&#8221;, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.&#8221;[al-Nisaa’:60-61]<br />
Imam Ibnu al-‘Arabiy menjelaskan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perselisihan antara orang Yahudi dengan orang Munafiq. Orang Yahudi dan Munafiq menyampaikan masalah mereka kepada Rasulullah saw.  Perkara itu diputuskan oleh Rasulullah saw.  Akan tetapi, orang munafiq tidak rela. Selanjutnya, mereka mengajukan perkara mereka kepada Abu Bakar, namun orang munafiq itu juga tidak rela.  Lalu, mereka mengajukan perkara mereka kepada ‘Umar.  Umar masuk ke dalam rumah dan mengambil pedangnya.  Orang munafiq itu dipenggal kepalanya hingga mati.  Keluarga orang munafiq itu melaporkan perkara itu kepada Rasulullah saw.  ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, ia telah menolak keputusanmu.  Rasulullah menjawab, “Engkau adalah al-Faruuq”  Lalu, turunlah firman Allah swt, surat al-Nisaa’:65 [Ibnu al-’Arabiy, Ahkaam al-Quraan, Juz I, ed.I, Daar al-Fikr, 1988, hal.577.  Lihat juga pada Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, juz II, hal.97; Ibnu Hajar, al-Kaaf al-Syaaf, hal.45]<br />
Thaghut di sini bermakna, semua aturan atau hukum selain hukum Allah swt. [Imam “Abdurrahman  Nashir al-Sa’diy, Taisiir al-Kariim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Manaan,  hal.90.] Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-‘Arabiy menyatakan, thaghut adalah semua hal selain Allah yang disembah manusia.  Misalnya, berhala, pendeta, ahli sihir, atau semua hal yang menyebabkan syirik.” [Ibnu al-’Arabiy, Ahkaam al-Quraan, Juz I, ed.I, Daar al-Fikr, 1988, hal. 578]<br />
Di tempat lain, al-Quran juga menyatakan hal ini dengan sangat jelas dan tegas.  Alah swt berfirman:</p>
<p>فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا<br />
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[al-Nisaa’:65]<br />
Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam al-Sa’diy, menyatakan,”Allah swt telah bersumpah atas nama dirinya, sesungguhnya mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim yang akan memutuskan perkara-perkara yang mereka perselisihkan…..Akan tetapi, mereka tidak cukup hanya bertahkim kepada Rasul saja, akan tetapi, mereka harus menghilangkan keraguan, perasaan sempit, dan kesamaran di dalam hati mereka tatkala bertahkim kepada Rasulullah saw…Barangsiapa menolak untuk berhukum kepada Rasulullah saw dan tidak mau terikat dengan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw, maka ia telah kafir. [Imam “Abdurrahman  Nashir al-Sa’diy, Taisiir al-Kariim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Manaan,  hal.93-94]</p>
<p>Belajar Fikih Adalah Sarana Untuk Mewujudkan Amal Sholeh<br />
Perbuatan seorang Muslim tidak akan diterima oleh Allah swt, dan tidak akan pernah mendapatkan keridloanNya, jika perbuatannya tidak berujud amal sholeh (&#8216;amal sholeh atau ihsan al-&#8217;amal).<br />
Imam Fudlail bin ‘Iyadl tatkala ditanya tentang ihsaan al-‘amal, beliau menyatakan, &#8220;Sebuah amal baru bisa dikatakan sebagai amal yang ihsan, tatkala amal tersebut memenuhi dua prasyarat.  Pertama, ikhlash. Kedua, benar.<br />
Pertama, ikhlash.  Ikhlash adalah, berbuat semata-mata mencari ridla Allah swt.  Banyak ayat yang memerintahkan seorang Muslim untuk berbuat hanya untuk mendapatkan ridlo Allah swt, alias ikhlash.  Diantaranya adalah firman Allah swt, sebagai berikut:<br />
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ<br />
&#8220;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus&#8221;. [al-Bayyinah:5]<br />
Rasulullah saw bersabda, artinya, “Sesunggguhnya amal itu tergantung dengan niatnya.”[muttafaq ‘alaih].<br />
Kedua,  benar.  Prasyarat berikutnya adalah benar.  Imam Fudlail bin ‘Iyyadl menyatakan bahwa benar di sini adalah berbuat sesuai dengan al-Quran dan Sunnah.   Allah swt berfirman:</p>
<p>وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا<br />
&#8220;Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.[al-Hasyr:7]<br />
Perbuatan seorang muslim tidak akan diterima oleh Allah swt, bila tidak memenuhi dua prasyarat di atas.   Kedua-duanya harus ada tatkala seseorang mengerjakan sebuah amal.   Meskipun seorang muslim ikhlash dalam beramal, akan tetapi amalnya tersebut tidak sesuai dengan hukum-hukum Islam, maka amal tersebut tertolak.  Sebaliknya, meskipun amal perbuatannya sesuai dengan al-Quran dan Sunnah, namun tidak dilandasi dengan keikhlasan kepada Allah, maka perbuatannya juga tertolak.<br />
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:</p>
<p>قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخَدِيعَةُ فِي النَّارِ وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ<br />
&#8220;Nabi saw bersabda, &#8220;Orang yang melakukan penipuan akan dimasukkan ke dalam api neraka, dan barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak diperintahkan kami, maka perbuatan itu tertolak.&#8221;[HR. Bukhari]<br />
Di dalam riwayat lain, juga dituturkan:</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَعَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَبِي عَوْنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ<br />
&#8220;Dari &#8216;Aisyah ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,&#8221; Siapa saja yang membuat-buat perkara baru dalam urusan kami, padahal urusan itu tidak diperintahkan, maka perkara itu tertolak.&#8221; [HR. Bukhari; hadits ini diriwayatkan oleh 'Abdullah bin Ja'far al-Makhramiy, 'Abdul Wahid bin Abi Aun, dari Sa'id bin Ibrahim]; dan masih banyak hadits-hadits lain yang menerangkan masalah ini.<br />
Agar perbuatan memenuhi syarat yang kedua, yakni benar, maka sudah seharusnya bagi kita untuk belajar ketentuan-ketentuan Allah swt (syariat Allah).   Tanpa belajar fikih mustahil bagi kita untuk bisa berbuat benar (sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya).    Dari sini bisa disimpulkan, bahwa belajar fikih (syariat Islam) yang berhubungan erat dengan amal perbuatan kita, adalah aktivitas yang sangat urgen.   Tanpa belajar fikih kita tidak bisa menilai apakah perbuatan yang kita lakukan telah sesuai dengan syariat atau belum.  Padahal, benar dalam beramal –sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Sunnah— merupakan salah satu syarat agar amal kita diterima oleh Allah swt.<br />
Zaid bin Zubeir berkata, &#8220;Tidaklah diterima suatu perkataan melainkan diiringi dengan perbuatan, dan tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali dengan niat; dan tidak akan diterima perkataan, amal, dan niat kecuali sesuai dengan sunnah Nabi saw.&#8221;[Fauziy Sanqarith, Taqarrub ila al-Allah, bab Ihsaan al-'Amal]<br />
Imam Malik pernah berkata, &#8220;Sunnah adalah perahu Nabi Nuh.  Barangsiapa yang menumpanginya, maka ia akan selamat, dan barangsiapa yang tidak menumpanginya akan tenggelam.&#8221;[ibid, bab Ihsaan al-'Amal]</p>
<p>Belajar Fikih;  Salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Syafa&#8217;at dan Perjumpaan dengan Allah swt.<br />
Seringkali, karena awamnya terhadap Islam, seseorang menyepelekan belajar fikih atau syariat Islam.   Alasannya, fikih hanya mengatur masalah dzahir, tidak mengatur masalah bathin.   Bahkan tidak jarang pula, ada yang meninggalkan syariat untuk menggapai kecintaan dan makrifat kepada Allah.  Padahal, perjumpaan, syafa&#8217;at dan doa dari Rasulullah saw kelak di hari akhir akan diberikan kepada siapa saja yang beriman dan beramal sholeh.  Belajar fikih adalah sarana agar amal perbuatan kita benar-benar dimasukkan ke dalam perbuatan yang sholeh (amal sholeh).  Tanpa belajar fikih, kita tidak akan memahami halal dan haram.  Kita juga tidak akan mengetahui apakah amal perbuatan kita sesuai dengan perintah Allah, atau tidak.  Oleh karena itu, tatkala kita belajar fikih Islam, sesungguhnya kita sedang membuat jalan untuk meraih syafa&#8217;at, doa, dan perjumpaan dengan Allah swt.<br />
Betapa banyak orang merasa dekat dengan Allah, dicintai Allah, bahkan merasa akan memperoleh curahan syafa&#8217;at dari Rasulullah, namun perbuatannya menyimpang jauh dari perintah Allah dan RasulNya.  Lalu, bagaimana ini akan mendapatkan syafa&#8217;at Allah, pertolongan Allah, dan doa dari Rasulullah saw kelak di hari akhir, jika dirinya selalu menyimpang dari tuntunan Allah, bahkan membuat-buat peribadatan baru?  Sesungguhnya, orang-orang semacam ini telah ditipu dengan perasaannya sendiri.  Ia merasa dicintai Allah, tetapi sesungguhnya ia adalah orang yang paling dibenci oleh Allah swt.<br />
Dalam hal ini, Allah swt telah menjelaskan kepada kita dengan sangat jelas dan gamblang.   Allah swt berfirman:</p>
<p>وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ<br />
&#8220;Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do`a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;[al-Taubah:99]</p>
<p>أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا<br />
&#8220;Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.&#8221;[al-Israa':57]</p>
<p>وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ ءَامِنُونَ<br />
&#8220;Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).&#8221; [Saba`:37]<br />
Ayat-ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan syafa&#8217;at Nabi saw kelak di hari akhir adalah dengan cara beriman dan beramal sholeh.    Tanpa iman dan amal sholeh, mustahil seseorang bisa mendapatkan jalan (wasilah) untuk mendekatkan diri kepadaNya, meraih ridloNya, dan mendapatkan doa dari Rasulullah saw.  Tanpa iman dan amal sholeh (amal yang memiliki dua syarat, ikhlash dan benar) seseorang pasti akan tersesat dan tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah dan RasulNya.<br />
Adapun mengenai perjumpaan dengan Allah; Al-Quran telah menjelaskan syarat-syarat untuk berjumpa dengan Allah swt di ayat terakhir surat al-Kahfi. Allah swt berfirman:</p>
<p>قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا<br />
&#8220;Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: &#8220;Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa&#8221;. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya&#8221;. [al-Kahfi:110]<br />
Ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa syarat untuk berjumpa dengan Allah, adalah dengan beramal shaleh dan tidak menyekutukan Allah swt dengan sesuatu apapun. Oleh karena itu, belajar fikih sebagai sarana untuk beramal sholeh merupakan perkara penting yang tidak boleh disepelekan lagi. Sebab, benar atau tidaknya perbuatan seseorang sangat tergantung dari pengetahuan dan pemahamannya terhadap syariat Allah swt.</p>
<p>Kesimpulan<br />
Allah swt hanya melihat dan menerima perbuatan yang ihsan (amal sholeh). Perbuatan baru bisa disebut perbuatan yang sholeh, jika memenuhi dua faktor, yakni ikhlash dan benar sesuai tuntunan Islam. Cara untuk mengetahui apakah perbuatan kita sudah benar, atau sesuai dengan syariat, adalah mempelajari fikih (tuntunan Islam yang bersifat praktis).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=81&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/06/26/urgensi-memahami-fikih-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika Keburukan Telah Merajalela di Muka Bumi</title>
		<link>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/06/24/jika-keburukan-telah-merajalela-di-muka-bumi/</link>
		<comments>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/06/24/jika-keburukan-telah-merajalela-di-muka-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 01:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamsuddinramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ahmad berkata, telah meriwayatkan kepada kami; Sufyan, dari Jaami&#8217; bin Abi Rasyid. Dari Mundzir,, dari Hasan bin Mohammad, dari isterinya, dari &#8216;Aisyah ra, dan beliau mendapatkan hadits itu dari Nabi saw, &#8220;Jika keburukan telah tersebar di muka bumi, Allah akan menurunkan kekuatanNya kepada penduduk bumi.&#8221;  Aisyah bertanya, &#8220;Apakah mereka adalah orang yang taat kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=79&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Imam Ahmad berkata, telah meriwayatkan kepada kami; Sufyan, dari Jaami&#8217; bin Abi Rasyid. Dari Mundzir,, dari Hasan bin Mohammad, dari isterinya, dari &#8216;Aisyah ra, dan beliau mendapatkan hadits itu dari Nabi saw, &#8220;Jika keburukan telah tersebar di muka bumi, Allah akan menurunkan kekuatanNya kepada penduduk bumi.&#8221;  Aisyah bertanya, &#8220;Apakah mereka adalah orang yang taat kepada Allah swt?  Nabi menjawab, &#8220;Benar&#8221;.  Lalu, mereka mendapatkan rahmat dari Allah swt&#8221;.[HR. Imam Ahmad di dalam Musnad Imam Ahmad]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syamsuddinramadhan.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syamsuddinramadhan.wordpress.com&blog=2016791&post=79&subd=syamsuddinramadhan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syamsuddinramadhan.wordpress.com/2008/06/24/jika-keburukan-telah-merajalela-di-muka-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2795b5286826bf882f3c58649819ea7e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syamsuddinramadhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>