riwayat yang menuturkan murtadnya shahabat yang hijrah ke Habasyah, yakni suami dari Ummu Habibah, dan juga shahabat-shahabat lain saat di Mekah; dan ternyata Rasulullah saw diriwayatkan tidak mengeksekusi mereka, harus dipahami bahwa saat itu memang belum turun ayat-ayat tentang riddah dan hukumnya; sehingga wajar saja Nabi saw tidak menghukum mereka. Namun, setelah turun wahyu mengenai riddah dan hukumannya, maka hukuman mati bagi orang-orang yang murtad telah berlaku.
Kedua, adapun mengapa Rasulullah saw belum mengeksekusi orang yang mengaku dirinya Nabi dan Rasul, diantaranya adalah Musailamah al-Habib yang berasal dari Yamamah dan al-Aswad bin Ka’ab al-’Ansiy dari Shuna’a; dikarenakan kesibukan beliau menangani urusan-urusan lain yang lebih penting, dan beliau saw tidak ingin disibukkan oleh mereka. Namun, ketentuan hukuman mati bagi Musailamah al-Kadzab dan pengikutnya sudah digariskan oleh Nabi Mohammad saw. Ini terlihat dalam sebuah riwayat yang dituturkan di dalam Sirah Ibnu Hisyam. Ibnu Hisyam menuturkan, bahwa Musailamah pernah menulis surat dan mengirim dua orang utusan kepada Rasulullah saw.[Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, hal 866] Di dalam sebuah hadits dituturkan, bahwasanya setelah Nabi saw membaca surat Musailamah, beliau bertanya kepada dua utusan Musailamah,”Bagaimana pendapat kalian berdua?” Dua utusan itu menjawab, “Pendapat kami seperti yang ia katakan.” Mendengar ini Nabi saw bersabda: “Kalaulah tidak karena utusan-utusan tidak boleh dibunuh, niscaya telah kupenggal leher kalian.”[HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud]
Riwayat ini menunjukkan bahwa ketentuan hukuman mati bagi Musailamah al-Kadzdzab dan pengikutnya sudah ditetapkan oleh Nabi, namun belum dilaksanakan oleh Nabi saw dikarenakan kesibukan beliau menangani urusan lain. Barulah di masa shahabat, Musailamah al-Kadzdzab dan Nabi-nabi palsu diperangi hingga binasa.
Ketiga, walaupun Nabi saw secara langsung, belum pernah mengeksekusi orang-orang yang murtad dari Islam, namun ceceran-ceceran riwayat menunjukkan bahwa beliau saw telah menetapkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam. Dengan kata lain, walaupun bil fi’li Rasulullah saw belum mengeksekusi orang murtad, namun tidak berarti tidak ada hukuman mati bagi orang yang murtad, atau Nabi tidak menetapkan hukuman tersebut. Pasalnya, dalam prakteknya, para shahabat telah menerapkan hukuman ini di masa Nabi saw, dan Rasulullah saw mendiamkan saja. Misalnya, kasus Umar yang membunuh orang munafik yang menolak keputusan Nabi saw, hingga turun surat An Nisaa’: 60-65. Tatkala Umar membunuh orang itu, Nabi saw mendiamkan. Begitu pula ketika ada seorang laki-laki buta yang membunuh isterinya yang suka menghina Nabi saw. Dalam kasus ini beliau juga mendiamkan. Ketika Nabi saw menerima utusan Musailamah al-Kadzdzab, beliau bersabda, “Seandainya aku tidak dilarang membunuh utusan, niscaya aku telah membunuh kedua orang itu”.[Imam Syaukani, Nailul al-Authar]. Sabda Nabi saw di dalam hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa beliau telah menetapkan hukuman mati bagi pengikut Muzailamah al-Kadzdzab. Adapun mengapa beliau tidak mengeksekusi mereka saat itu juga, disebabkan mereka adalah utusan, dan Nabi saw dilarang membunuh utusan. Sedangkan jika mereka bukan utusan, maka mereka wajib dihukum mati.
Semua ini menunjukkan bahwa Nabi saw telah memberlakukan dan menetapkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam, meskipun bukan beliau sendiri yang melakukan eksekusi. Akan tetapi, taqrir (persetujuan) beliau saw kepada para shahabat yang membunuh orang-orang murtad di masa beliau saw, merupakan dalil sharih ditetapkannya hukuman ini (hukuman mati bagi orang murtad dan pengaku Nabi saw Rasul baru).
Keempat, di dalam hadits-hadits shahih telah disebutkan dengan jelas perintah dari Nabi saw untuk menghukum mati orang-orang yang murtad dari Islam. Hadits-hadits itu adalah sebagai berikut;
Di dalam Shahih Bukhari, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Ikrimah ra bahwasanya ia berkata, “
أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَرَّقَ قَوْمًا فَبَلَغَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحَرِّقْهُمْ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits ini dari jalan lain, yakni dari Abu Nu’man Mohammad bin al-Fadlal, dari ‘Ikrimah. [Lihat Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no.6411]. Bunyi hadits itu adalah sebagai berikut;
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
[HR. Imam Bukhari]
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang menuturkan hukuman mati bagi orang yang murtad dari Islam.
(وأخبرنا) أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن محمد بن يحيى ثنا احمد بن حنبل ثنا عبد الرحمن بن مهدى عن سفيان عن الاعمش عن عبد الله بن مرة عن مسروق عن عبد الله قال قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال والذى لا اله غيره لا يحل دم رجل مسلم يشهد أن لا اله الا الله وانى رسول الله الا ثلاثة نفر التارك الاسلام المفارق للجماعة أو الجماعة والثيب الزانى والنفس بالنفس – قال الاعمش فحدثت به ابراهيم فحدثني عن الاسود عن عائشة بمثله – رواه مسلم في الصحيح عن احمد بن حنبل –
Telah mengabarkan kepada kami, Abu ‘Abdullah al-Hafidz, telah meriwayatkan kepada kami, Abu ‘Abdullah Mohammad bin Ya’quub; telah meriwayatkan kepada kami Yahya bin Mohammad bin Yahya, dan telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Hanbal; telah meriwayatkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy dari Sofyan dari al-A’masy dari ‘Abdullah bin Marrah dari Masruuq dari ‘Abdullah; bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw sedang berdiri bersama kami; lalu, beliau saw bersabda, “Demi Dzat Yang Tidak ada Sesembahan selain Dia, tidak halal darah seorang Muslim yang mengucapkan tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah uturan Allah, kecuali tiga orang; orang yang murtad dari Islam dan memecah belah jama’ah; seseorang yang telah bersuami atau beristeri yang melakukan zina, dan orang yang membunuh jiwa”.[HR. Imam Muslim dari Ahmad bin Hanbal]
Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud juga menuturkan hadits-hadits tentang hukuman mati bagi orang yang murtad.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام أَحْرَقَ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَمْ أَكُنْ لِأُحْرِقَهُمْ بِالنَّارِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَكُنْتُ قَاتِلَهُمْ بِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ وَيْحَ ابْنِ عَبَّاسٍ
“.[HR. Imam Abu Dawud]
Imam Turmudziy juga meriwayatkan hadits hadits senada;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا حَرَّقَ قَوْمًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ وَلَمْ أَكُنْ لِأُحَرِّقَهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا فَقَالَ صَدَقَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ حَسَنٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْمُرْتَدِّ وَاخْتَلَفُوا فِي الْمَرْأَةِ إِذَا ارْتَدَّتْ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ تُقْتَلُ وَهُوَ قَوْلُ الْأَوْزَاعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ تُحْبَسُ وَلَا تُقْتَلُ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ
Imam An Nasaaiy menuturkan;
أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
[HR. Imam An Nasaaiy]
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَحَرَّقَهُمْ عَلِيٌّ بِالنَّارِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحَرِّقْهُمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ أَحَدًا وَلَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتُهُمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
[HR. Imam An Nasaaiy]
أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
[HR. Imam An Nasaaiy]
أَخْبَرَنِي هِلَالُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَهَذَا أَوْلَى بِالصَّوَابِ مِنْ حَدِيثِ عَبَّادٍ
أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى عَنْ عَبْدِ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
[HR. Imam An Nasaaiy]
Imam Ibnu Majah juga meriwayatkan riwayat tentang hukuman mati bagi orang yang murtad dari Islam, sebagai berikut;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits-hadits tentang hukuman mati bagi orang yang murtad.
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا حَرَّقَ نَاسًا ارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَمْ أَكُنْ لِأُحَرِّقَهُمْ بِالنَّارِ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَكُنْتُ قَاتِلَهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ فَقَالَ وَيْحَ ابْنِ أُمِّ ابْنِ عَبَّاسٍ
Hadits-hadits di atas dengan sharih menyatakan bahwa Nabi saw telah memerintahkan umatnya untuk mengeksekusi mati orang-orang yang murtad dari Islam. Dan salah satu sebab yang menjatuhkan seorang Muslim ke dalam kemurtadan adalah mengaku Nabi dan Rasul palsu, atau menjadi pengikut mereka.
, ayat al-Quran dengan sharih menjelaskan bahwa orang-orang yang murtad dari Islam wajib dihukum mati. Allah swt berfirman;
فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا(*)وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“.[TQS An Nisaa' (4):88-89]
Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan mengenai latar belakang turunnya ayat ini –yang intinya sebagai berikut, “Ada beberapa orang Arab mendatangi Rasulullah saw di Madinah, lalu mereka masuk Islam. Setelah itu, mereka ditimpa demam Madinah, dan lalu, murtad dari Islam (kembali kepada kekafiran). Kemudian, mereka keluar dari Madinah. Di tengah jalan mereka bertemu dengan shahabat Nabi saw, dan shahabat Nabi bertanya sebab-sebab mereka keluar dari Madinah. Mereka menjawab, bahwa mereka tertimpa demam Madinah. Para shahabat berkata, “Mengapa kalian tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah? Para shahabat akhirnya berbeda pendapat, ada yang berpendapat mereka telah menjadi kafir dan wajib dibunuh, sedangkan yang lain berpendapat mereka masih Islam sehingga tidak boleh ditawan dan dibunuh. Lalu, turunlah ayat ini untuk mencela kedua kelompok shahabat tadi, dan memerintahkan kaum Muslim untuk menawan dan membunuh orang-orang Arab yang murtad itu”.[Lihat dan bandingkan dengan Tafsir Ibnu Katsir, surat An Nisaa':88-89]
Kelima, ketetapan hukuman mati bagi orang murtad –termasuk di dalamnya Nabi palsu dan pengikutnya– semakin jelas, ketika para shahabat menerapkannya pada kasus-kasus riddah (murtad). Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai tenggat waktu taubat bagi orang-orang yang murtad. Ada yang menetapkan 3 hari, 1 bulan, dan ada yang lebih.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, barulah para shahabat ra memerangi Musailamah al-Kadzdzab, nabi-nabi palsu, kaum murtad, dan para penolak zakat. [lihat al-Hafidz al-Suyuthiy, Taariikh al-Khulafaa', hal. 55-59]. Adapun panglima perang yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar untuk memerangi Musailamah al-Kadzab adalah Khalid bin Walid. Akhirnya, atas ijin Allah swt, Musailamah al-Kadzab laknatullah berhasil dibunuh.
Pada tahun 12 hijrah, Abu Bakar mengutus al-’Ilaa’ bin al-Hadlramiy untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Bahrain. Beliau juga mengutus al-Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Najiir. Beliau juga mengirim Ziyad bin Labid al-Anshariy untuk memerangi sekelompok orang-orang yang keluar dari Islam. [al-Hafidz al-Suyuthiy, Taariikh al-Khulafaa', hal. 58]
Prof. Mohammad Hamidullah, di dalam kitab al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-’Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa’ al-Raasyidiin, menuturkan bahwasanya Abu Bakar ra mengutus beberapa orang shahabat untuk memerangi orang-orang yang murtad dari Islam; diantaranya adalah orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul, para penolak zakat, dan lain sebagainya. Abu Bakar mengangkat Khalid bin Walid untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid, dan jika ia telah selesai melaksanakan tugasnya, ia disuruh memerangi Malik bin Nuwairah (penolak kewajiban zakat) di Bathaah. Beliau mengangkat ‘Ikrimah bin Abi Jahal untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah, dan setelah selesai ia ditugaskan untuk berangkat menuju Qadla’ah. Beliau juga mengangkat Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi al-’Ansiy; melindungi penduduk Yaman dari Qais bin Maksyuuh. Setelah selesai ia ditugaskan memerangi Bani Kindah di Hadlramaut. Beliau juga mengutus Khalid bin Sa’id bin al-’Ash ke Yaman dan al-Hamqatain di daerah Masyaarif al-Syam. Beliau mengirim ‘Amru bin ‘Ash untuk memerangi kaum murtad di Bani Qudlaa’ah, Wadi’ah, dan al-Harits. Beliau mengangkat Hudzaifah bin Mihshan al-Ghalfaaniy untuk memerangi kaum murtad di Daba yang terletak di ‘Amman. Beliau mengutus ‘Urfajah bin Hartsamah untuk memerangi kaum murtad di Mahrah. Beliau mengangkat Suwaid bin Muqarrin untuk memerangi kaum murtad di Tihamah, Yaman. Sedangkan Tharifah bin Hajiz, beliau utus untuk memerangi kaum murtad di Bani Sulaim. Beliau ra mengirim al-’Ila’ al-Hadlramiy untuk memerangi kaum murtad di Bahrain. [Mohammad Hamidullah, al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-'Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa' al-Raasyidiin, hal. 338-339]
Semua ini menunjukkan bahwa, orang-orang Islam yang mengaku dirinya sebagai Nabi baru beserta pengikut-pengikutnya adalah kafir, dan diperlakukan sama seperti orang-orang yang murtad dari Islam. Mereka diminta bertaubat dan kembali kepada Islam. Jika mereka menolak mereka wajib diperangi.
Tidak bisa dinyatakan, bahwa orang-orang yang mendirikan agama baru dan keyakinan baru, seraya mendakwakan dirinya Nabi baru, dibiarkan begitu saja atau malah kita wajib tolerans kepada mereka, seperti halnya sikap kita terhadap para pemeluk agama-agama Kristen, Yahudi, Budha, dan lain sebagainya. Sebab, ijma’ shahabat telah sepakat, bahwa orang-orang yang mengaku-ngaku Nabi baru dan mendirikan agama baru, harus diperangi. Oleh karena itu, siapa saja yang mengaku dirinya Nabi atau Rasul, beserta orang-orang yang mengikutinya dihukumi kafir-zindiq; dan mereka dijatuhi sanksi hukuman mati.
Sesungguhnya, Nabi, para shahabat, dan ulama kaum Muslim telah mempraktekkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad dari Islam. Adapun propaganda sebagian orang yang menyatakan bahwa Islam tidak menetapkan hukuman mati bagi pelaku riddah, sesungguhnya, semua itu adalah propaganda jahat yang ditujukan untuk memenuhi keinginan-keinginan kaum kafir memberangus syariat Islam yang agung dan mulia. Wallahu al-Haadiy al-Muwaffiq ila Aqwaam al-Thaariq.
DIarsipkan di bawah: Tidak terkategori