HUKUM ISLAM TENTANG KUIS SMS BERHADIAH

Hukum Judi
Seluruh umat Islam tidak pernah berselisih pendapat mengenai haramnya perjudian.  Pasalnya, larangan judi ditetapkan oleh nash-nash qath’y yang tidak membutuhkan interpretasi. Allah swt berfirman;

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”(TQS Al Baqarah [2] : 219)

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (TQS Al Maidah [5]:90-91]

Definisi Al-Maisir (Judi)
Menurut mayoritas ulama salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, judi (al-maisir) adalah semua perkara yang melibatkan taruhan, baik melalui permainan dadu, catur, dan lain sebagainya.  Ketentuan ini tidak berlaku pada hadiah yang dipertaruhkan dalam suatu perlombaan (al-rihaan). Imam Malik membagi  judi (al-maisir) menjadi dua, maisir al-laghw dan maisir al-qimaar .  Yang termasuk maisir al-laghw adalah catur, dan permainan dadu.  Sedangkan maisir al-qimaar adalah semua hal yang memberikan dampak buruk kepada manusia, dan semua hal yang di dalamnya melibatkan taruhan.
Imam Ibnu Taimiyyah menyatakan, al-maisir adalah al-qimaar.  Al-qimar adalah mengambil harta manusia untuk dipertaruhkan, baik ia berhasil mendapatkan taruhannya atau tidak, seperti orang yang membeli onta hilang. Ibnu Qudamah, dalam kitab al-Mughniy mendefinisikan judi (al-maisir) dengan kullu la’b fiihi qimaar (setiap permainan yang di dalamnya ada taruhan), dan semua bentuk perjudian hukumnya adalah haram.
Hanya saja, mayoritas ulama berkonsensus mengenai bolehnya suatu perlombaan yang memperebutkan hadiah atau dengan sebuah pertaruhan (al-rihaan).  Adapun bentuk taruhan yang diperbolehkan dalam suatu perlombaan adalah sebagai berikut.  Pertama,  dua orang atau lebih berlomba untuk memperebutkan hadiah yang disediakan oleh seseorang atau sekelompok orang.   Lalu, orang tersebut berkata, siapa saja yang paling cepat mencapai garis finish, ia berhak mendapatkan hadiah.   Pemenang lomba lari ini boleh mengambil hadiah yang dilombakan tersebut, dan aktivitas semacam ini tidak termasuk dalam taruhan yang dilarang.  Kedua, salah satu dari peserta lomba mengeluarkan uang atau hartanya sendiri, kemudian ia berkata kepada peserta lomba lainnya, “Siapa saja yang bisa mendahului saya sampai ke garis finish, ia berhak mendapatkan uang atau harta saya ini.”  Dalil yang membolehkan perlombaan semacam ini adalah sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Ahmad ra; bahwasanya Anas bin Malik pernah ditanya tentang taruhan di masa Rasulullah saw.

هَلْ كُنْتُمْ تُرَاهِنُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ نَعَمْ لَقَدْ رَاهَنَ عَلَى فَرَسٍ لَهُ يُقَالُ لَهُ سُبْحَةُ فَسَبَقَ النَّاسَ فَهَشَّ لِذَلِكَ وَأَعْجَبَهُ
“Apakah anda melakukan taruhan (rihaan) di masa Rasulullah saw.  Anas bin Malik menjawab, “Ya, benar.  Sesungguhnya Rasulullah saw mempertaruhkan seekor kuda yang bernama Subhah.  Lalu, beliau berlomba dengan para shahabat dan berhasil memenangkan perlombaan tersebut.  Lantas, beliau mengaguminya.”[HR. Imam Ahmad]

Fakta Judi
Hampir semua bentuk perjudian didiskripsikan dengan sejumlah fakta berikut ini.  Setiap peserta judi memasang taruhannya di atas meja judi. Lalu, mereka membuat suatu permainan yang bersifat spekulatif untuk menentukan siapa di antara mereka yang berhak mengambil taruhan yang ada di atas meja judi tersebut.  Permainan di sini bisa berbentuk kartu, dadu, mahyong, menebak pemenang suatu pertandingan, menebak angka, sabung ayam, adu binatang, dan lain sebagainya.   Kadang-kadang perjudian tersebut melibatkan seorang bandar yang berkewajiban membayar sejumlah uang kepada peserta judi, dan ia berhak mengambil uang taruhan peserta judi; kadang-kadang tidak melibatkan bandar.
Berdasarkan fakta ini, kita bisa menyimpulkan bahwa di dalam perjudian pasti ada; (1) peserta judi saja, atau peserta judi dan bandar, (2) uang taruhan yang dikumpulkan dari peserta judi, (3) undian atau spekulasi (gharar) (4) pihak yang dirugikan dan pihak yang diuntungkan.
Kuis SMS Berhadiah, Judi atau Tidak?
Untuk menentukan apakah SMS berhadiah termasuk judi atau tidak, kita harus meneliti realitas SMS berhadiah terlebih dahulu.   Umumnya, kuis SMS ini diselenggarakan oleh sebuah perusahaan maupun individu-individu tertentu bekerjasama dengan operator ponsel.  Selanjutnya, pihak penyelenggara menyodorkan pertanyaan semudah dan segampang mungkin untuk dijawab.  Ini ditujukan agar peserta tertarik untuk mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya.   Setelah itu, penyelenggara kuis SMS mengundi pemenangnya dengan menggunakan metode tertentu.   Adakalanya peserta diberi nomor pin terlebih dahulu.  Selanjutnya, nomor pin ini diacak dan diundi untuk menentukan siapa yang berkesempatan menjawab pertanyaan dari penyelenggara kuis.  Bila ia mampu menjawab pertanyaan, ia akan mendapatkan hadiah.  Jika tidak bisa menjawab, ia gagal memperoleh hadiah.  Ada pula yang langsung mengundi pemenangnya berdasarkan nomor telpon yang masuk.  Siapa saja yang beruntung mendapatkan undian, maka ia akan mendapatkan sejumlah hadiah dari penyelenggara kuis SMS.
Berdasarkan fakta di atas,  kita bisa menyimpulkan, bahwa kuis SMS melibatkan fakta-fakta berikut ini, Pertama, pengirim SMS yang berspekulasi ingin mendapatkan hadiah dari kuis SMS. Kedua, penyelanggara kuis SMS yang berkewajiban membayar hadiah kepada pemenang kuis, sekaligus berhak mengambil semua keuntungan yang diambil dari peserta kuis. Ketiga, spekulasi (undian) untuk menentukan siapa pemenangnya. Keempat, hadiah yang diambil dari peserta kuis SMS, bukan dari pengeluaran pribadi dari penyelenggara kuis SMS.  Kelima, ada pihak yang dirugikan, dan ada pihak yang diuntungkan.  Melihat fakta semacam ini, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa kuis SMS ini tak ubahnya dengan perjudian yang dilarang oleh Islam.  Sebab, kuis SMS telah memenuhi fakta perjudian yang melibatkan bandar judi.
Barangkali ada sebagian orang yang mengidentikkan kuis SMS dengan perlombaan (al-rihaan) di masa Rasulullah saw.  Alasannya, kuis SMS adalah perlombaan untuk menjawab pertanyaan.  Pengidentikan ini tidak benar.  Sebab, fakta kuis SMS dengan perlombaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw jelas-jelas berbeda.  Perlombaan yang dilakukan Rasulullah saw, hadiahnya berasal dari salah satu peserta lomba dan seluruhnya diberikan kepada pemenang lomba.  Sedangkan pada kuis SMS, hadiah yang diberikan kepada pemenang kuis berasal dari peserta kuis, hanya diberikan sekian persen saja dari jumlah total uang yang masuk, dan sisanya diambil oleh penyelenggara kuis SMS.   Fakta ini menunjukkan dengan jelas, bahwa apa yang dilakukan oleh penyelenggara kuis SMS tak ubahnya dengan bandar judi di tempat-tempat perjudian. Atas dasar itu, kita tidak boleh menganalogkan hukum al-rihan pada kuis SMS berhadiah.

Kesimpulan
Kuis SMS merupakan salah satu bentuk perjudian yang hukumnya jelas-jelas haram.  Kaum Muslim wajib menjauhi aktivitas ini sejauh-jauhnya. Wallahu A’lam bi al-Shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: