DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA

Dialog Menuju Islam, atau Menuju Liberalisme?
Sesungguhnya, ide dialog antar agama adalah ide yang bersumber dari paham kapitalisme dan sama sekali tidak memiliki dasar dalam Islam.  Gagasan ini merupakan salah satu cara untuk memerangi Islam dan kaum Muslim.  Ide tersebut ditujukan untuk memalingkan kaum Muslim dari agamanya dan mengopinikan bahwa Islam itu tidak berbeda dengan Nashrani dan Yahudi .  Dialog antar umat beragama juga ditujukan untuk melepaskan Islam dari salah satu bagiannya yang sangat penting, yakni politik dengan makna yang benar (pengaturan urusan rakyat dengan hukum-hukum Islam). Selain itu, ide-ide di atas ditujukan untuk mensegmentasi Islam hanya tinggal urusan ‘ibadah dan akhlaq.   Mereka menginginkan agar kaum Muslim menghapuskan ide menegakkan Daulah Islamiyyah –yang akan menyatukan kaum Muslim dan memberlakukan Islam  kepada mereka secara menyeluruh.   Sebab,  sistem Islam –pada batas dugaan mereka—  di dalamnya terdapat unsur-unsur tak beradab yang bisa memicu munculnya konflik dan perang agama, seperti jihad, sistem sanksi, serta pengharaman riba dan zina.  Menurut mereka, pemikiran-pemikiran semacam ini,  jihad, dan lain-lain merupakan pemikiran-pemikiran sektarian dan sudah tidak relevan dengan peradaban sekarang.  Selain itu,  ajaran jihad, sistem sanksi, pengharaman riba dan zina jelas-jelas bertentangan dengan demokrasi, dan ideologi kebebasan; juga bertentangan dengan hak asasi manusia, dan hak untuk menentukan nasib sendiri.
Anehnya, ada ‘ulama-‘ulama Muslim yang justru melibatkan diri dalam dialog antar agama.    Ironisnya, mayoritas kaum Muslim hanya berdiam diri terhadap perilaku sekelompok orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai ‘ulama pembaru tersebut.    Apakah ‘ulama-‘ulama tersebut tidak melihat bagaimana tata cara mendakwahkan Islam kepada selain Muslim?   Bukankah, sudah maklum, bahwa berdialog dengan non Muslim mesti didasarkan pada tujuan untuk mengajak mereka ke dalam Islam, serta menjelaskan kebatilan keyakinan mereka, bukan ditujukan untuk mencari titik temu, atau malah membenarkan keyakinan dan agama non Muslim?  Dan bukankah, kaum Muslim telah menempuh tata cara dakwah semacam ini sepanjang 13 abad lamanya?
Benar, dahulu kala telah berlangsung diskusi-diskusi dan debat-debat antara kaum Muslim dengan non Muslim, bukan dengan asas untuk mencari titik temu (kesamaan)  di antara mereka, akan tetapi dengan asas bahwa Islam adalah agama yang haq, sedangkan yang lain bathil.
Tidakkah mereka membaca surat-surat Rasulullah saw yang dikirim kepada raja-raja dan para penguasa di masa beliau saw!!  Dalam surat yang beliau saw kirim kepada Hericlus, penguasa Romawi, beliau menyatakan:
“Sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.  Amma ba’d:  Sesungguhnya aku mengajak engkau dengan seruan Islam.   Masuklah ke dalam agama Islam, niscaya engkau akan selamat; dan Allah akan memberi anda dua kali lipat.   Namun, jika anda berpaling, anda akan menanggung dosa kaum Asiriyyin.  “Wahai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.  Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.”[Prof. Dr. Hamidullah, al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah]
Ketika melakukan diskusi dan dialog dengan kaum Kafir, kita tidak boleh mengakui kebenaran agama mereka, atau berusaha mencari titik kesamaan antara Islam dengan kekafiran.  Akan tetapi, kita wajib menjelaskan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir.  Kita juga mesti menjelaskan, bahwa Allah swt telah memerintahkan mereka untuk meninggalkan keyakinan mereka dan menyakini Islam.  Jika mereka berpaling dan menolak dari seruan ini, maka kita wajib menyatakan dengan jelas, “Kami akan menyampaikan kepada kalian apa-apa yang telah diperintahkan Allah kepada kami, “Kalian adalah orang-orang kafir dan kami adalah orang-orang Muslim.”
Adapun, sebagian orang yang berargumen dengan firman Allah swt:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا ءَامَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.[al-'Ankabut:46]
ِMereka sering menggunakan ayat ini untuk menjustifikasi bolehnya dialog antar agama yang didasarkan pada prinsip kesamaan dan toleransi.  Akan tetapi mereka melupakan potongan ayat selanjutnya, dimana Allah swt telah berfirman,” kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka….”[al-‘Ankabut:46].   Ayat ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa ahli kitab yang dzalim tidak perlu diajak berdiskusi dengan cara yang paling baik.   Lalu, siapa yang lebih dzalim dari pada negara-negara kafir yang turut terlibat dalam dialog agama-agama itu.  Bukankah mereka telah bersatu padu untuk memusuhi Islam dan kaum Muslim!  Bukankah mereka itu adalah orang-orang yang telah mengerat-ngerat negeri kaum Muslim menjadi negara-negara yang lemah.  Dan bukankah mereka itu adalah orang-orang yang telah menanam Israel sebagai pisau mematikan di negeri kaum Muslimin yang paling suci!!  Dan bukankah mereka itu adalah orang-orang yang telah mengerahkan senjata dan harta benda untuk membunuhi kaum Muslim dan mencaplok negeri-negeri kaum Muslim! Bukankah mereka itu adalah orang-orang yang telah menyokong penguasa-penguasa di negeri-negeri kaum Muslim untuk membunuhi dan memenjarakan kaum Muslimin, dengan mengatasnamakan “perlawanan terhadap terorisme dan radikalisme! Bukankah keUskupan yang mana pada saat ini, anggota-anggotanya tengah berdiskusi dengan ‘ulama-‘ulama kaum Muslim, telah mengeluarkan sebuah fatwa pada masa Paus di akhir abad 13 M, yang di dalamnya dinyatakan, “Sesungguhnya berkhianat itu dosa, akan tetapi menepati janji dengan kaum Muslim, adalah dosa besar.”[Dr. Mohammad Husain 'Abdullah, Mafaahim al-Islam, juz 2]
Dan bukankah mereka itu adalah orang-orang terus berusaha mencegah apapun bentuk aktualisasi Islam di negeri-negeri mereka, yakni melarang pelajar-pelajar Mukminat mengenakan busana-busana syar’iy di sekolah-sekolah; dan memerintahkan pelajar-pelajar Mukminat itu untuk mencopotnya!
Lantas, dengan alasan apa, ‘ulama-ulama kaum Muslim yang terlibat dalam dialog antar agama, menyambut mereka dengan sikap manis dan tasamuh; dan malah berusaha menyamakan ‘aqidah dan pemikiran-pemikiran Islam dengan agama dan keyakinan kufur?
Sesungguhnya, ide dialog antar agama tidak akan pernah bisa berdampingan dengan mafahim Islam yang benar, dan juga tidak akan pernah bisa menguasai jiwa seluruh kaum Muslim.  Sayangnya, ‘ulama-‘ulama yang telah terbelenggu oleh peradaban barat dan telah mengabdikan diri untuk kepentingan kaum kafir terus berusaha untuk menanamkan ide dialog antar agama ini kepada kaum Muslim, dengan segala cara.
Oleh karena itu, umat mesti dipahamkan, bahwa ide dialog antar agama sangat jauh berbeda dengan dialog-dialog yang dilakukan oleh Nabi saw dan para shahabatnya.   Dimana, ide dialog antar agama sekarang ini ditujukan untuk membuat persepsi bahwa semua agama adalah sama.  Dengan kata lain, dialog ini ditujukan untuk menghapus truth claim agama, serta mencegah kembalinya syariat Islam dalam kehidupan masyarakat dan negara.    Semua agama sama-sama benarnya, tidak ada yang berhak mengklaim bahwa penganut agama tertentu saja yang bisa masuk surganya Allah swt.  Semua pemeluk agama punya kans dan peluang sama untuk masuk ke surganya Allah swt
Dialog agama semacam ini tentu saja berbeda jauh dengan dialog yang dilakukan oleh Nabi saw dan para shahabat ra.   Sebab, dialog yang mereka lakukan dengan kaum kafir didasarkan pada sebuah prinsip, “mengajak kaum kafir masuk Islam, serta menjelaskan kebatilan aqidah dan keyakinan mereka.”    Dialog yang mereka lakukan sama sekali tidak ditujukan untuk menghapuskan klaim kebenaran Islam atas agama-agama yang lain.   Justru sebaliknya, dialog yang mereka lakukan ditujukan untuk menyeru kaum kafir untuk kembali memeluk agama Islam.

Kesimpulan
1.    Dialog antar umat beragama yang digagas oleh kaum pluralis, ditujukan untuk mencari kesamaan dan kesatuan agama, menghapuskan truth claim, serta untuk menghapuskan hukum-hukum Islam yang dianggap bisa memicu perang agama, dan mengekang kebebasan umat manusia.
2.    Dialog yang dilakukan oleh seorang Muslim dengan non Muslim harus didasarkan pada prinsip; pertama, bukan ditujukan untuk mencari kesamaan dan kesatuan, atau mengakui kebenaran agama orang kafir, kedua, dialog ditujukan untuk mengajak mereka masuk Islam, dan menunjukkan kesalahan dan kebatilan agama mereka.  Ketiga, dialog dengan cara yang baik, hanya berlaku untuk orang-orang kafir yang tidak berlaku dzalim dan sewenang-wenang terhadap Islam dan kaum Muslim.
3.    Dialog antar umat beragama yang digagas oleh barat adalah ide sesat dan membahayakan bagi eksistensi Islam dan kaum Muslim.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: