FASE-FASE KEHIDUPAN MANUSIA

Pada dasarnya, al-Quran dan Sunnah telah menjelaskan fase-fase kehidupan yang dilalui oleh manusia dengan sangat rinci dan jelas.  Fase-fase ini dijelaskan dengan sangat rinci, agar manusia memahami jati dirinya (hakekat diri), visi dan misi hidupnya di dunia, serta ke mana dirinya akan kembali setelah kehidupan dunia.    Adapun fase-fase kehidupan yang dilalui manusia adalah sebagai berikut.

1. SEBELUM BERADA DI DUNIA
Pada fase ini, Al-Quran telah menjelaskan asal-usul kehidupan manusia, serta proses penciptaannya.   Di banyak tempat, Al-Quran telah menjelaskan dengan rinci asal usul serta proses penciptaan manusia.   Allah swt telah menciptakan Adam dari tanah.   Allah swt telah menjelaskan hal ini di dalam al-Quran.  Adapun mengenai asal-asal manusia, sesungguhnya manusia itu diciptakan Allah swt dari tanah liat.   Allah swt berfirman;

“Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah Menciptakan mereka dari tanah liat”.[TQS Ash Shaaffaat (37):11)

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”[TQS Ar Rahman (55):14).

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.[TQS Al Hijr (15):26]

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka bila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaanKu), maka hendaklah kamu bersungkur dengan bersujud kepadanya.”[TQS Shaad (38):71-2]

“Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah Berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia”. [TQS Ali Imran (3):59]
Adapun mengenai proses penciptaan manusia, sesungguhnya Al-Quran telah menjelaskan masalah ini di beberapa tempat. Allah swt berfirman;

“Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan; bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?[TQS Al Qiyamah (75):37-40)

“Bukankah pernah datang kepada manusia manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah Menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur [benih laki-laki dan perempuan] yang Kami hendak Mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu Kami Jadikan dia mendengar dan melihat.”[TQS Al Insaan (76):1-2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”. [TQS Al Mukminuun (23):12-14)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah); sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian, Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”.[TQS Al Hajj (22):5]
Al-Quran telah menjelaskan proses penciptaan manusia dengan tendensi agar manusia menyadari sepenuhnya asal-usul dan jati dirinya sebagai ciptaan Allah, dan agar ia tidak berlaku ingkar, congkak dan sombong terhadap Allah swt.  Sebab, bukankah dia diciptakan dari saripati tanah (mani) yang hina?   Allah swt berfirman;

“Celakalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?  Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian dia memudahkan jalannya. Kemudian dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, Kemudian bila dia menghendaki, dia membangkitkannya kembali.  Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya”.[TQS 'Abasa (80):17-23]

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina [air mani]?”[TQS Al Mursalaat (77):19-20]
Penciptaan manusia dari tanah juga merupakan bukti kebesaran dari Allah swt, agar manusia senantiasa mengagungkan, tunduk, dan patuh kepada Allah swt Yang Maha Perkasa.   Allah swt berfirman;

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah. Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”.[TQS Ar Ruum (30):20]
Allah juga menjadikan penciptaan manusia dari tanah sebagai bukti nyata akan kebenaran hari kebangkitan.  Allah swt berfirman;

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah); sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah”.[TQS Al Hajj (22):5]
Pada ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa proses kebangkitan manusia –setelah kematiannya–, tak ubahnya dengan proses penciptaan manusia dari tanah.  Tatkala manusia mati, niscaya jasadnya akan terurai  menjadi tanah; lalu, Allah swt akan membangkitkan kembali dirinya, seperti ketika Allah menciptakan manusia dari tanah.  Lantas, mengapa banyak orang meragukan hari kebangkitan?

Kesaksian Manusia Atas Ketuhanan dan Ketauhidan Allah swt.
Pada dasarnya, manusia telah bersaksi atas Ketuhanan Allah swt.  Al-Quran telah menjelaskan hal ini di dalam surat Al An’aam;

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.[TQS Al A'raaf (7):172]
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Thabariy menyatakan, “Ingatlah wahai Mohammad, ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam sulbi-sulbi bapak mereka, dan meminta mereka untuk mengakui KeesaanNya, lalu mereka saling bersaksi satu dengan yang lainnya mengenai hal itu”.[Ali Ash Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, juz 1, hal. 481].  Para ahli tafsir terbagi menjadi 2 kelompok dalam menafsirkan ayat ini.  Pertama, tatkala Allah swt menciptakan Adam, Ia mengeluarkan anak turunnya dari sulbinya, dan mereka itu laksana biji sawi.  Lalu, Allah mengambil perjanjian dengan mereka bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhan mereka, dan merekapun mengakui dan bersaksi atas hal tersebut (Ketuhanan Allah swt).  Makna semacam ini ditunjang oleh banyak hadits yang dituturkan dari Nabi saw, dan dipegang oleh mayoritas shahabat. Kedua,  hal itu hanyalah permisalan dan fiksi belaka.  Makna ayat di atas adalah, sesungguhnya Allah swt telah menyertakan kepada mereka petunjuk-petunjuk atas Ketuhanan dan Keesaan Allah swt.  Akal dan penglihatan) yang telah disertakan kepada mereka pun bersaksi atas hal itu (Ketuhanan dan Keesaaan Allah swt), dan Allah swt telah menjadikan akal dan penglihatan sebagai alat untuk membedakan kesesatan dan petunjuk.   Seakan-akan mereka bersaksi terhadap diri mereka sendiri; lantas, Allah swt bertanya kepada mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, dan mereka menjawab, “Benar”. Pendapat ini dipegang oleh Imam Zamakhsyariy, Abu Hayyan, dan Abu Sa’uud. [Lihat catatan kaki, pada Ali Ash Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, juz 1, hal. 481].

Allah swt Mengilhamkan Kecenderungan Untuk Taqwa dan Dosa
Selain mengambil kesaksian atas Ketuhanan dan KetauhidanNya, Allah swt juga mengilhamkan kepada manusia kecenderungan untuk bertaqwa dan berbuat dosa.   Allah swt berfirman;

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.[TQS Asy Syams (91):8]
Menurut Ibnu ‘Abbas, makna ayat di atas adalah; sesungguhnya Allah swt telah menjelaskan kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiyatan, apa yang harus dilakukan dan dijauhi oleh manusia.  Para ahli tafsir menyatakan; sesungguhnya Allah swt telah bersumpah dengan tujuh makhluknya (matahari, bulan, malam, siang, langit, bumi, dan jiwa manusia); ini ditujukan untuk menunjukkan Keagungan KekuasaanNya, serta keharusan untuk hanya menjadikanNya sebagai Sesembahan. [Ali Ash Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, juz 3, hal. 566]

2. KEHIDUPAN DUNIA
Setelah manusia manusia mencapai usia akil baligh, maka Allah swt memberikan taklif (beban) untuk melaksanakan syariat Allah swt.   Al-Quran telah menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia itu terlahir dengan memikul amanah.  Amanah di sini adalah menjalankan syariat Allah swt.   Allah swt berfirman;

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. [TQS Al Ahzab (33):72]
Ali Ash Shabuniy menjelaskan ayat ini sebagai berikut, “Maksud ayat ini adalah, sesungguhnya Kami telah mengemukakan kewajiban-kewajiban dan taklif-taklif syar’iyyah kepada langit, bumi, dan gunung.  Hanya saja, mereka menolak untuk memikulnya, dan khawatir atas beban yang begitu berat dan sulit. Tujuan ayat ini adalah untuk menggambarkan begitu besarnya amanah itu, dan betapa berat memikul amanah tersebut.  Abu Sa’uud berkata, “Makna ayat ini adalah, amanah itu sangatlah agung (besar). Sehingga, bila amanah itu dibebankan kepada makhluk-makhluk tersebut (gunung, langit, dan bumi) –yang masing-masing memiliki kekuatan dan keperkasaan yang sama–,  dan  mereka akan dibekali dengan perasaan dan kesadaran untuk menjaga amanah itu, niscaya mereka akan menolak amanah itu, dan khawatir akan mengkhianatinya”.  Ibnu Jaza berkata, “Amanah di sini adalah taklif-taklif (beban-beban) syariat; diantaranya adalah selalu taat, meninggalkan kemaksiyatan”.[Ali Ash Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, juz 2, hal. 540]
Walhasil, tugas utama manusia ketika berada di dunia adalah melaksanakan tugas-tugas keagamaan yang telah dibebankan Allah swt kepada mereka.  Dengan kata lain, visi dan misi utama hidup di dunia adalah menjalankan syariat Allah swt, atau beribadah hanya kepada Allah swt semata.  Allah swt berfirman;

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu”.[TQS Adz Dzariyaat (51):56]
Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Maksud ayat ini adalah, sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan mereka agar mereka beribadah kepadaKu, bukan karena Aku membutuhkan mereka”.  Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, berkata,”Kecuali agar mereka berikrar untuk beribadah kepadaKu, baik suka maupun benci.”  Penafsiran semacam ini dipilih oleh Ibnu Jarir.  Al-Rabi’ bin Anas berkata, “Agar mereka beribadah”. Sudiy berkata, “Agar mereka beribadah baik hal itu mendatangkan manfaat maupun tidak”.[Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat Adz Dzariyaat:56]
Spektrum ibadah di sini sangatlah luas, tidak hanya menyangkut aspek-aspek spiritual dan ritual belaka.  Namun, dimensi ibadah mencakup juga aspek-aspek sosial.   Artinya, seseorang disebut beribadah kepada Allah tatkala ia berfikir, berbicara, dan berbuat sesuai dengan syariat Allah dalam semua aspek kehidupannya; mulai dari bekerja, bermuamalah, berumahtangga, berinteraksi dengan sesama, mengatur urusan rakyat, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, kehidupan dunia merupakan tempat untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah swt.  Untuk itu, seorang Muslim tidak boleh mengabaikan atau meremehkan kehidupannya di dunia.  Ia harus menyadari sepenuhnya, bahwa dunia merupakan tempat untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, tempat ujian, sekaligus tempat untuk menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya di kehidupan akherat kelak.  Adapun bekal hakiki di kehidupan akherat adalah memperbanyak melakukan amal sholeh di kehidupan dunia.  Al-Quran telah melukiskan penyesalan orang-orang kafir ketika berada di akherat, akibat ketidakimanan dan kemaksiyatan mereka kepada Allah swt.  Allah swt berfirman;

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan”.[TQS Al Munaafiquun (63):9-11]
Untuk itu, Al-Quran di banyak tempat mengingatkan kepada manusia agar mereka tidak tertipu dan terpedaya dengan kehidupan dunia, hingga melupakan perintah Allah swt dan RasulNya.   Dunia adalah permainan dan tempat yang melenakan, sedangkan akherat adalah tempat yang kekal dan abadi.  Allah swt berfirman;

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Sungguh, kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?”[TQS Al An'aam (6):32]

“Adapun orang yang melampaui batas; dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)”.[TQS An Nazi'aat (79):37-39]

“…Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.[TQS Al A'la (87):16-17]
Masih banyak ayat-ayat lain yang mengingatkan kepada kita, agar kita selalu memperhatikan kehidupan akherat, dan tidak terpedaya dengan kehidupan dunia.  Dunia bukanlah tempat kekal abadi.  Akan tetapi, ia hanyalah tempat singgah sekaligus tempat ujian bagi manusia.   Oleh karena itu, ketika di dunia, manusia harus beriman kepada Allah swt, dan mengerjakan semua perintah Allah swt (syariat Allah).  Ia tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, hingga melupakan kehidupan yang lebih abadi dan sesungguhnya, yakni akherat. Kehidupan dunia harus ia penuhi dengan ibadah kepada Allah.
Jika seseorang lebih mengutamakan kehidupan dunia dan melupakan kehidupan akherat, niscaya ia akan menuai penyesalan di kehidupan akherat kelak.  Untuk tiu, seorang Muslim harus mengabdikan sepenuhnya kepada Allah swt, dengan jalan menjalankan syariat Allah secara menyeluruh dan sempurna, dan menjauhi sejauh-jauhnya tipu daya setan.   Allah swt berfirman;

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa”. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.  Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’.   Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Maka, kepada perkataan apakah sesudah Al-Quran ini mereka akan beriman?”[TQS Al Mursalaat (77):45-50]

3. SETELAH KEHIDUPAN DUNIA
Ketika ajal telah mendatangi seseorang, maka terputuslah amal kebajikannya di kehidupan dunia, kecuali perkara-perkara yang dikhususkan oleh Allah swt dan RasulNya.   Setelah itu, ia memasuki alam kubur hingga datangnya hari kiamat (kebangkitan). Pada saat itulah (hari akhir), manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan di dunia kelak di akherat.  Manusia akan menghadapi perhitungan di sisi Allah swt.  Al-Quran, di banyak surat telah menjelaskan terjadinya hari kiamat, serta peristiwa-peristiwa yang akan dialami manusia di kehidupan akherat.
Bagi hamba-hamba Allah yang beriman dan mengerjakan amal sholeh di kehidupan dunia, maka mereka akan dibalas dengan surga yang dipenuhi dengan kenikmatan.  Sedangkan, orang-orang kafir dan bermaksiyat kepada Allah swt, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Allah swt.
Adapun bagi orang-orang yang ingkar dan mendustakan perintah Allah di kehidupan dunia, Al-Quran telah menjelaskan di banyak surat, salah satunya adalah sebagai berikut;

“Sesungguhnya hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan;  Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangsakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu.  Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai; Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.  Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.  Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman; selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pambalasan yang setimpal.  Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,    Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh- sungguhnya.   Dan segala sesuatu Telah Kami catat dalam suatu kitab.  Karena itu rasakanlah dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab”. [TQS An Naba' (78):17-30]
Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menggambarkan pungkasan orang-orang yang ingkar kepada Allah swt di kehidupan dunia.
Sedangkan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, mereka akan mendapatkan balasan surga dari Allah swt, beserta kenikmatan di dalamnya.  Allah swt berfirman;

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan; (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).  Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta.    Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,  Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.   Pada hari, ketika ruh an para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.  Itulah hari yang pasti terjadi; maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.  Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah”. [TQS An Naba' (78):31-40]
Walhasil, secara pasti, setelah manusia mengalami kematian, maka kelak ia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di kehidupan di dunia di depan perhitungan Allah swt.   Jika catatan amal perbuatannya baik, niscaya ia akan mendapatkan balasan surga beserta kenikmatannya.  Namun, jika catatan amal perbuatannya buruk, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan merasakan siksaan di dalamnya.

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.   Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).  Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).   Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.”[TQS Al Insyiqaaq (84):6-15]

KESIMPULAN
1.    Sesungguhnya, manusia wajib menyadari sepenuhnya bahwa ia telah ditetapkan oleh Allah swt untuk menjalani fase-fase kehidupan.  Sebelum ia terlahir di dunia, sesungguhnya ia diciptakan dari saripati tanah yang hina.  Untuk itu, tidak ada alasan bagi dirinya untuk menyombongkan diri, atau ingkar kepada Allah swt.  Bukankah ia tercipta dari tanah?  Manusia harus menyadari sepenuhnya bahwasanya ia adalah makhluk ciptaan Allah swt, yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, kecuali atas ijin dari Allah swt.
2.    Manusia wajib menyadari sepenuhnya, tatkala ia dilahirkan di dunia, ia diperintahkan untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah swt.  Dengan kata lain, ia wajib menjalankan dan terikat sepenuhnya dengan syariat Allah swt di kehidupan dunia.  Inilah visi dan misi hidupnya di dunia.   Ia juga harus memahami dan menyadari sepenuhnya bahwa dunia bukanlah segalanya dan akhir dari perjalanan hidupnya.  Ia akan didatangi ajal; dan jika ajal telah mendatanginya, ia tidak akan mampu menunda maupun memajukannya.  Untuk itu, ia harus mempersiapkan diri di kehidupan dunia ini dengan banyak melakukan amal sholeh dan mensucikan tauhidnya kepada Allah swt.
3.    Fase terakhir yang akan ditempuh oleh manusia adalah kehidupan akherat.  Inilah kehidupan yang kekal dan abadi.  Di fase terakhir inilah, Allah akan memasukkan surga, hamba-hambaNya yang beriman dan taat kepadaNya.  Sebaliknya, Ia akan memasukkan ke dalam neraka, hamba-hambaNya yang ingkar dan maksiyat kepadaNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: