MENJAUHI PERKARA SYUBHAT & MENJAGA HATI (QALBU)

Dari ‘Amir dituturkan, bahwasanya ia berkata, “Saya pernah mendengar Nuqman bin Basyiir berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram juga sangat jelas. Diantara keduanya adalah perkara-perkara mutasyabihat yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang mampu menghindarkan dirinya dari perkara-perkara mutasyabihat, niscaya terjagalah agama dan kehormatannya. Siapa saja yang terjatuh dalam perkara mutasyabihat, sesungguhnya ia seperti seorang penggembala yang mengembalakan ternaknya di sekitar hima (kebun yang terlarang); dan hampir-hampir memasukinya. Ingatlah, sesungguhnya semua yang ada pemiliknya adalah hima (daerah yang terlarang). Ingatlah, hima Allah di muka bumi ini adalah semua perkara yang diharamkanNya. Dan perhatikanlah, di dalam jasad ini ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh juga akan menjadi baik. Sebaliknya, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ingatlah, segumpal darah itu adalah qalbu”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Di dalam Syarah al-Nawawiy ‘Ala Shahih Muslim, Imam Nawawiy menyatakan, “Para ulama sepakat mengenai keagungan dan banyaknya faedah yang bisa diambil dari hadits ini. Hadits ini termasuk salah satu hadits yang menjadi midaar al-Islaam (pilar Islam). Bahkan, mayoritas ‘ulama berpendapat, hadits ini merupakan 1/3 Islam. Menurut mereka, Islam itu berdiri di atas hadits ini dan dua hadits lain, yakni, hadits “amal tergantung dari niatnya” dan hadits “”Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat.” Sedangkan menurut Abu Dawud al-Syakhtiyani, pilar Islam itu dibangun di atas empat hadits; tiga hadits tadi, di tambah hadits “Pada hakekatnya tidak beriman diantara kalian, hingga kalian mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. Menurut para ‘ulama, faktor yang menjadikan Nabi saw memiliki kedudukan yang agung adalah; karena beliau senantiasa memperhatikan kesucian dan kehalalan makanan, minuman, dan pakaian. Beliau saw juga selalu meninggalkan perkara-perkara syubhat, sehingga, terjagalah agama dan kehormatannya. Atas dasar itu, beliau saw memperingatkan agar tidak terjatuh dalam perkara-perkara syubhat. Peringatan ini sangatlah jelas, dengan memtamsilkan perkara syubhat dengan himay (kebun larangan). Setelah itu, beliau menjelaskan perkara yang sangat penting, yakni, menjaga hati…”.[Imam Nawawiy, Syarah al-Nawawiy ‘Ala Shahih Muslim, juz 11/27]
Pada dasarnya, ada perkara-perkara yang hukumnya sangat jelas dan tidak membutuhkan lagi penjelasan. Sebab, dalil-dalil yang mengharamkan atau menghalalkan perkara tersebut sangat jelas dan tidak samar. Ada pula perkara yang hukumnya belum jelas benar, dikarenakan dalil-dalilnya mengandung banyak pengertian. Untuk itu, sebagian besar ulama membagi urusan manusia menjadi tiga. Pertama, urusan yang kehalalannya sangat jelas. Kedua, urusan yang keharamannya sangat jelas. Ketiga, urusan yang masih samar, apakah halal atau haram, sehingga, tidak banyak orang yang memahami hukumnya, kecuali sangat sedikit. [Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asaqalaaniy, Fath al-Baariy, juz 4/190, Imam Mubarakfuriy, Tuhfat al-Ahwadziy, juz 4/231; Mohammad Syams al-Haq, ‘Aun al-Ma’bud, juz 9/127]
Menurut al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, makna “al-halaal bayyin wa al-haraam bayyin” adalah, kehalalan perkara itu tidak lagi membutuhkan penjelasan, dan setiap orang pasti memiliki persepsi hukum yang sama. Sedangkan di luar perkara tersebut adalah perkara mutasyabihaat. Sebab, perkara itu masih samar, dan tidak banyak orang yang memahami apakah ia halal atau haram. [Al-Hafidz, Fath al-Baariy, juz 4/190]
Di dalam Kitab Aun al-Ma’buud dinyatakan; hukum syariat dibagi menjadi tiga. Pertama, perkara yang kehalalannya sangat jelas. Kedua, perkara yang keharamannya sangat jelas. Ketiga, perkara mutasyabihat; yaitu, suatu perkara yang belum diketahui apakah ia halal atau haram. Ini didasarkan kenyataan bahwa, kadang-kadang ada perkara yang jelas-jelas diperintahkan oleh Syaari’ dengan disertai ancaman jika ditinggalkan. Ada pula perkara yang jelas-jelas dilarang oleh Syaari’ dengan disertai ancaman jika dikerjakan. Ada pula perkara yang perintah dan larangannya tidak disebutkan dengan jelas. Pembagian seperti ini juga sesuai dengan pendapat Imam Syaukani. Di dalam Kitab Nail al-Authar, beliau berpendapat, perkara mubah dan makruh termasuk perkara mutasyabihat. [Imam Syams al-Haq, ‘Aun al-Ma’buud, juz 9/127]
Ketika memaknai hadits di atas, Imam Nawawiy berpendapat; urusan manusia itu dibagi menjadi tiga. Pertama, ada perkara yang kehalalannya sangat jelas dan tidak samar lagi; seperti roti, buah-buahan, minyak, dan makanan-makanan yang lain. Juga perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas halalnya, misalnya berbicara, melihat, berjalan, serta perbuatan-perbuatan lain yang kehalalannya sangat jelas, dan tak ada sedikitpun keraguan. Kedua, ada pula perkara yang keharamannya sangat jelas. Misalnya, khamer, daging babi, bangkai, dan kencing. Demikian pula zina, berdusta, dan ghibah. Ketiga, ada pula perkara samar yang belum jelas benar, apakah ia halal atau haram. Oleh karena itu, banyak orang yang tidak mengetahui perkara-perkara tersebut, dan mereka juga tidak memahami status hukumnya.[Imam Nawawiy, Syarah al-Nawawiy ‘Ala Shahih Muslim, juz 11/27]

Definisi Mutasyabihaat
Kata “musyabbihaat”, mengikuti wazan mufa”ilat (dengan huruf ‘ain di tasydid), bermakna “syubihat bi ghairihaa mimmaa lam yatabayyan bihi hukmuhaa ‘ala ta’yiin” (mirip dengan perkara lain yang belum jelas benar hukumnya). Redaksi “musyabbihaat” terdapat di dalam hadits riwayat Imam Muslim. Sedangkan di dalam hadits riwayat Ibnu Majah menggunakan redaksi “musytabihaat”, yang maknanya adalah, “mauhidah iktasabat al-syibh min wijhain muta’aaridlain” [bersatunya kesamaran dari dua arah pengertian yang saling bertentangan]. Sedangkan di dalam riwayat al-Daramiy, dari Abu Nu’aim, syaikhnya Imam Bukhari, menggunakan lafadz “mutasyaabihaat”.[Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, Fath al-Baariy, juz 1/127]
Dalam kamus Lisaan al-Arab, dinyatakan; syabaha – al-syibhu, al-syabahu – al-syabiih bermakna al-mitslu (mirip, atau serupa). Bentuk pluralnya adalah asybaah. Asybaha al-syai`u al-syai`a : maatsalahu (menyerupainya). Bentuk jamak dari syabaha bisa juga masyaabih. Al-Musytabihaat bermakna perkara yang sangat pelik dan sulit (al-umuur al-musykilaat). Al-mutasyaabihaat adalah al-mutamaatsilaat (saling menyerupai). [Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-‘Arab, juz 13/503-504]
Menurut Imam Nawawiy, musyabbihaat adalah perkara yang belum jelas benar apakah halal atau haram. Oleh karena itu, banyak orang yang tidak mengetahui perkara itu, dan mereka juga tidak memahami hukumnya. Hanya para ulama yang mampu mengetahui hukumnya berdasarkan nash, qiyas, dan istishhaab. [Imam Mohammad Syams al-Haq, ‘Aun al-Ma’buud, juz 9/127] Kesamaran perkara itu disebabkan karena adanya pertentangan dua dalil dan tidak ada satu dalil yang lebih rajih (kuat) dibandingkan dalil yang lain. [al-Hafidz,Fath al-Baariy, juz 1/127]
Imam Al-Shan’aniy, dalam kitab Subul al-Salaam, menyatakan, “perkara musyabbihaat” adalah perkara yang tidak diketahui halal dan haramnya. Akibatnya, perkara itu menjadi samar antara halal dan haram. Banyak orang yang tidak mengetahui perkara itu kecuali para ulama yang mengetahui nash-nash syariat. [Imam al-Shan’aniy, Subul al-Salaam, juz 4/172]

Hukum Menjauhi Perkara-Perkara Syubhat
Hadits di atas berisi perintah untuk meninggalkan perkara-perkara syubhat. Barangsiapa tidak bisa menjaga dirinya dari perkara-perkara syubhat, baik dalam pekerjaan dan penghidupannya, niscaya kehormatan dirinya tidak terpelihara. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa, hadits ini merupakan perintah untuk selalu memelihara urusan-urusan agama dan kehormatan diri. [Al-Hafidz, Fath al-Baariy, juz 1/127] Dengan kata lain, siapa saja yang bisa menjauhi perkara-perkara syubhat, sebelum jelas benar status hukum syariat dalam masalah itu, terjagalah agama dan kehormatan dirinya. [Imam Mohammad Syams al-Haqq, ‘Aun al-Ma’buud, juz 9/128]
Hanya saja, para ulama berbeda pendapat mengenai status hukum orang yang mengerjakan perkara-perkara syubhat. Menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, sebagian ulama berpendapat hukumnya haram. Ada pula yang berpendapat makruh. Ada pula yang tawaqquf (abstain), yakni disamakan dengan perbedaan pendapat pada perkara-perkara yang hukumnya belum dijelaskan oleh syariat. [al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 1/127]
Masih menurut al-Hafidz, syubhat itu terjadi pada empat hal. Pertama, adanya pertentangan dalil, di mana keduanya tidak ada yang lebih rajih. Kedua, adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama akibat perbedaan dalil. Ketiga, yang disebut syubhat adalah perkara yang berhukum makruh, karena ada arah yang berlawanan; antara mengerjakan dan meninggalkan. Keempat, perkara mubah. Dalam kondisi seperti ini, perkara-perkara tersebut tidak mungkin bisa ditarjih mana yang lebih kuat. Yang mungkin bisa dilakukan hanyalah menimbang mana yang menyelisihi keutamaan (khilaful aula), berdasarkan pertimbangan lebih baik dikerjakan atau tidak, atau karena pertimbangan-pertimbangan lain.[Ibid, juz 1/127]
Barangkali, penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Qadliy Taqiyyuddin. Di dalam Kitab al-Nidzam al-Ijtimaa’iy, Qadliy Taqiyyuddin menyatakan, syubhat itu terjadi pada tiga keadaan berikut ini.
Pertama, syubhat yang menyangkut hukum atas benda (apakah haram atau mubah) dan perbuatan (apakah berhukum wajib, haram, makruh, sunnah, ataukah mubah). Dalam keadaan seperti ini, status hukum atas benda dan perbuatan itu belum diketahui dengan jelas. Jika seorang mukallaf menghadap syubhat semacam ini, ia tidak boleh melakukan apapun, hingga status hukum atas benda dan perbuatan itu jelas. Jika dugaan kuatnya (ghalabat al-dzann) telah condong pada sebuah hukum yang dianggapnya kuat, barulah ia boleh berbuat berdasarkan dugaannya itu. Ini berlaku baik bagi seorang mujtahid maupun muqallid. Jika dengan ijtihadnya, seorang mujtahid telah condong kepada satu hukum, barulah ia boleh berbuat berdasarkan hukum yang diadopsinya. Demikian pula seorang muqallid. Jika seorang muqallid menyakini pendapat seorang mujtahid lebih kuat, atau jika ia telah mengetahui kredibilitas ilmu dan keadilan dari seorang mujtahid, maka ia boleh mengadopsi hukum yang digali oleh mujtahid tersebut, dan beramal sesuai dengan pendapat itu.
Kedua, syubhat yang dianggap sebagai perbuatan haram, meskipun sebenarnya perbuatan itu mubah, disebabkan begitu dekatnya perbuatan tersebut dengan keharaman. Misalnya, seseorang yang menyimpan hartanya di dalam bank yang melakukan aktivitas riba; seseorang yang menjual anggur kepada pedagang yang memiliki usaha pembuatan khamer; atau seseorang yang mengajar wanita secara privat, baik mingguan atau harian, dan sebagainya. Pada dasarnya, perbuatan-perbuatan itu mubah dan boleh dilakukan oleh setiap orang. Hanya saja, perbuatan-perbuatan tersebut lebih utama untuk ditinggalkan, semata-mata untuk memelihara diri dan bersikap wara‘.
Ketiga, syubhat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat terhadap perbuatan mubah, sehingga perbuatan tersebut dianggap sebagai perbuatan haram. Akibatnya, perbuatan mubah tersebut dijauhi karena khawatir terhadap anggapan orang lain yang menggolongkannya ke dalam perbuatan haram. Misalnya, ada orang yang selalu melintasi tempat-tempat maksiyat, misalnya lokalisasi pelacuran, bioskop, perjudian, dan lain-lain. Lantas, banyak orang menyangka dirinya sebagai seorang fasik. Akhirnya, karena khawatir terhadap pendapat orang banyak, ia menjauhkan diri dari perbuatan mubah tadi. Contoh lain adalah seorang suami yang menyuruh istrinya atau mahramnya yang lain untuk menutupi wajahnya dengan cadar. Padahal, ia mengetahui, wajah bukanlah aurat. Tindakan demikian dilakukan semata-mata karena adanya perasaan khawatir terhadap pandangan masyarakat yang menganggap istrinya atau saudara perempuannya telah membuka aurat. Dalam kasus semacam ini, terdapat dua tinjauan:
(1) Perkara yang dianggap oleh masyarakat sebagai perkara haram atau makruh tersebut, secara langsung memang haram atau makruh menurut syariat. Tatkala seseorang melakukan suatu perbuatan mubah yang dianggap masyarakat sebagai perbuatan terlarang, dalam keadaan seperti ini, ia harus memelihara diri dari perkara mubah tersebut karena khawatir atas persangkaan orang terhadap dirinya. Ketentuan semacam ini didasarkan sebuah riwayat dari Ali bin Husain. Beliau menuturkan bahwa, Shafiyyah binti Huyay, salah seorang istri Nabi saw, menyampaikan kabar kepadanya bahwa Shafiyyah mendatangi Rasulullah saw, sementara itu Rasulullah saw sedang i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Shafiyyah lantas bercakap-cakap dengan Nabi saw berberapa saat sejak usainya shalat Isya`. Setelah itu, Shafiyyah pulang dengan diantar oleh Rasulullah hingga sampai di pintu masjid, dekat dengan tempatnya Ummu Salamah, istri Nabi saw. Tiba-tiba, dua orang pria dari kalangan Anshar melintas di dekat mereka, seraya mengucapkan salam kepada Nabi saw. Mereka kemudian langsung pergi. Rasulullah saw. berseru kepada mereka berdua, ‘Tinggallah di tempat kalian, sesungguhnya ia adalah Shafiyyah binti Huyay’. Kedua orang pria itu pun terkejut seraya mengucapkan, ‘Mahasuci Allah! Duhai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak mengatakan seperti itu’. Nabi saw. kemudian bersabda sebagai berikut, “Sesungguhnya setan memasuki anak Adam melalui peredaran darahnya. Aku khawatir, ia memasuki tubuh kalian berdua”.
Arti kata tanqalibu adalah kembali, sehingga kata yuqallibuhâ berarti mengembalikannya. Dari hadis ini bisa dipahami bahwa Rasulullah saw berusaha menghilangkan syubhat yang ada dalam diri dua orang sahabat beliau, meskipun dalam diri Rasulullah saw tidak mungkin ada syubhat.
(2) Perkara syubhat yang ada di tengah-tengah masyarakat, dan dianggap sebagai perbuatan terlarang, padahal pada hakikatnya tidak terlarang. Karena ada kekhawatiran terhadap anggapan masyarakat, akhirnya seseorang menjauhinya karena pendapat masyarakat, bukan karena sesuatu itu terlarang. Dalam kondisi seperti ini, perkara syubhat seperti ini tidak boleh dijauhi, bahkan mestinya tetap dilaksanakan dan dianggap sebagai sesuatu yang diperintahkan oleh syariat. Ia tidak perlu memperhatikan pendapat masyarakat. Allah Swt. telah menegur Rasulullah karena perbuatan seperti itu melalui firman-Nya, “Kamu takut kepada manusia, padahal Allahlah yang berhak kamu takuti. (QS al-Ahzaab [33]: 37). Kenyataan ini menunjukkan bahwa, seorang Muslim, jika melihat atau memahami suatu perkara yang tidak dilarang oleh syariat, hendaknya ia melakukan hal itu, meskipun seluruh manusia menganggapnya terlarang. [Qadliy Taqiyyuddin, al-Nidzam al-Ijtimaa’iy, hal. 99-101]
Jika seorang Muslim menjauhi perkara-perkara syubhat yang dilarang oleh syariat, niscaya, kehormatan dan kesucian dirinya akan selalu terpelihara.

Persepsi Salah Terhadap Perkara Syubhat dan Makna Silent Syariah (Syariah Diam)
Perkara syubhat bukanlah perkara yang tidak memiliki status hukum. Sebab, al-Quran dan Sunnah datang untuk menjelaskan dan menerangkan setiap urusan manusia. Al-Quran telah menyatakan masalah ini dengan sangat jelas. Allah swt berfirman;

“dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.[TQS An Nahl (16) : 89]

“Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.[TQS Al An’aam (6) : 38]
Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, tak ada satupun masalah yang tidak dijelaskan hukumnya oleh nash-nash syara’. Dengan kata lain, tak ada satupun permasalahan yang tidak memiliki status hukum.
Hanya saja, sebagian orang ada yang beranggapan, di dalam Islam ada perkara-perkara tertentu yang didiamkan oleh syariah, alias tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat (silent syariah). Dalam ranah semacam ini, manusia diberi kebebasan untuk menetapkan status hukum atas benda maupun perbuatan. Alasannya, masih menurut mereka, syariat tidak menjelaskan status hukum atas masalah-masalah tersebut. Riwayat-riwayat itu adalah sebagai berikut;

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ
“Dari Salman dituturkan, bahwasanya Nabi saw pernah ditanya tentang samin (lemak), keju, dan keledai liar. Beliau saw menjawab, “Halal adalah apa-apa yang Allah halalkan di dalam kitabNya, dan haram adalah apa-apa yang Allah haramkan di dalam kitabNya. Adapun apa-apa yang didiamkan (tidak dijelaskan di dalam Kitab), sesungguhnya hal itu termasuk apa yang dimaafkan (‘afwun)”.[HR. Imam Turmudziy. Menurut Abu ‘Isa, hadits ini gharib]

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ وَتَلَا قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا إِلَى آخِرِ الْآيَةِ
“Dari Ibnu ‘Abbas ra dituturkan, bahwasanya ia berkata, “Masyarakat jahiliyyah dahulu ada yang memakan sesuatu, dan mendiamkan sesuatu karena merasa jijik. Lalu, Allah swt mengutus nabiNya saw, dan menurunkan kitabNya. Allah juga menghalalkan apa yang dihalalkannya, dan mengharamkan apa-apa yang diharamkannya. Apa yang dihalalkan Allah, maka ia adalah halal. Apa yang diharamkan Allah, maka ia adalah haram. Sedangkan apa yang didiamkan (tidak dijelaskan hukumnya), maka ia adalah ‘afwun. Kemudian, Rasulullah saw membaca firman Allah swt, “Qul laa ajidu fiimaa uuhiya ilayya muharraman..”[HR. Imam Abu Dawud]; dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang senada.
Riwayat-riwayat ini sering dijadikan hujjah sekelompok orang untuk menjustifikasi pendapat mereka mengenai silent syariah (syariat diam). Menurut mereka, yang dimaksud silent syariah adalah, diamnya syariah terhadap beberapa perkara. Dengan kata lain, ada beberapa perkara yang tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat, atau, tidak memiliki status hukum. Ada pula yang berpendapat, selama al-Quran tidak menjelaskan kehalalan atau keharaman suatu perkara (benda atau perbuatan), maka perkara tersebut tergolong yang didiamkan (silent syariah), dan secara otomatis berhukum mubah.
Lantas, apa yang dimaksud dengan silent syariah (sukuut syariah) yang sebenarnya? Benarkah ada beberapa perkara yang tidak memiliki status hukum?
Pada dasarnya, tidak ada satupun masalah yang tidak memiliki status hukum, atau tidak dijelaskan hukumnya oleh syariah. Oleh karena itu, pendapat mereka mengenai silent syariah adalah pendapat yang keliru. Sebab, pertama, permasalahan yang didiamkan oleh syariat (silent syariah), bukanlah permasalahan yang tidak memiliki status hukum, akan tetapi ia tetap memiliki status hukum. Menurut Qadliy Taqiyyuddin, hadits ini sama sekali tidak menunjukkan adanya perkara-perkara yang tidak dijelaskan hukumnya oleh Syariat. Hadits ini hanya menunjukkan, adanya perkara-perkara yang tidak diharamkan oleh Allah swt sebagai rahmat bagi kita, dan Allah swt berdiam diri dari pengharamannya. Topik yang dibicarakan oleh hadits ini bukanlah “diam” terhadap pensyariatan hukum atas masalah-masalah tersebut, atau tidak adanya penjelasan hukum atas perkara-perkara tersebut, akan tetapi, diam (sukut) terhadap pengharamannya. Hanya saja, sukuut ‘an tahriimihaa (diam terhadap pengharaman suatu perkara), bukan berarti perkara tersebut berhukum mubah, akan tetapi, hanya menunjukkan bahwa perkara tersebut halal. Halal di sini mencakup hukum wajib, sunnah, mubah, dan makruh. Sebab, empat hukum ini termasuk perkara yang halal. Namun, ketentuan ini hanya berlaku pada perkara-perkara yang didiamkan itu saja, dan tidak berlaku bagi semua perkara yang tidak dijelaskan oleh syariah. Selain itu, makna dari hadits ini adalah adanya “pemaafan” (‘afwun) terhadap masalah-masalah tertentu. Makna semacam ini telah ditunjukkan oleh hadits itu sendiri, dan juga ditunjukkan oleh pecahan kalimat dari hadits-hadits tersebut.; yakni adanya larangan untuk menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, lalu dengan pertanyaan itu, perkara tersebut menjadi haram. Dari Ibnu ‘Abbas ra diriwayatkan, bahwasanya beliau berkata, “Dan apa yang tidak disebutkan di dalam al-Quran, maka hal itu termasuk apa-apa yang dimaafkan Allah swt”. Hadits ini disebutkan oleh Imam Syatibiy di dalam kitab al-Muwafaqat. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan di dalam Mushannifnya, bahwa Ibrahim bin Sa’ad pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, “Apa yang mesti diambil dari harta-harta ahlu dzimmah? Ibnu ‘Abbas ra menjawab, ‘Al-‘Afwu “. Imam Thabariy juga menuturkan sebuah hadits di dalam tafsirnya dari ‘Ubaid bin ‘Umair, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menghalalkan dan mengharamkan. Apa yang dihalalkan Allah, maka halalkanlah. Sedangkan apa yang diharamkanNya, maka jauhilah. Selain itu, ada perkara yang tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah swt. Yang demikian itu adalah ‘afw (pemaafan) dari Allah swt”. Atas dasar itu, Nabi saw tidak suka orang yang terlalu banyak bertanya pada hal-hal yang tidak dijelaskan hukumnya secara jelas. Di dalam sebuah riwayat dari Nabi saw, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan disia-siakan, dan telah menggariskan beberapa ketetapan, jangan dilampaui; dan Allah mengharamkan beberapa larangan, maka janganlah dilanggar, serta mendiamkan beberapa perkara bukan karena lupa untuk menjadi rahmat bagimu, maka janganlah dibahas-bahas lagi.”[Lihat Sayyid Saabiq, Fiqih Sunnah, hal, 8] Di dalam riwayat lain juga disebutkan, bahwa Nabi saw bersabda, “Orang yang paling besar dosanya adalah, orang yang menanyakan suatu perkara yang asalnya tidak haram, kemudian menjadi haram dengan sebab pertanyaannya.”[HR. Imam Muslim] [Lihat Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, juz 3/23-25]
Dari sini dapat disimpulkan, bahwasanya makna frase “sakata ‘an asyya`in” (mendiamkan sesuatu) adalah; Allah swt tidak mengharamkan sesuatu itu, alias menghalalkannya. Hadits-hadits di atas tidak boleh dipahami, ada beberapa perkara yang tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat. Hadits itu harus dipahami, Allah swt tidak mengharamkan perkara tersebut sebagai rahmat bagi kita semua.
Kedua, jika al-Quran tidak menjelaskan kehalalan atau keharaman suatu perkara, bukan berarti secara otomatis perkara tersebut terkategori silent syariah. Sebab, selain al-Quran, Allah swt juga menetapkan sunnah sebagai sumber hukum yang wajib dipatuhi oleh kaum Mukmin. Jika sunnah menjelaskan kehalalan dan keharaman sesuatu, maka perkara tersebut tidak lagi termasuk perkara yang didiamkan oleh syariah. Ini didasarkan kenyataan, bahwa al-Quran kadang-kadang tidak menerangkan suatu masalah dengan rinci. Kadang-kadang ia hanya menjelaskan secara umum atau global saja, sedangkan sunnah menjelaskan secara lebih khusus dan rinci. Oleh karena itu, masalah-masalah yang tidak diterangkan kehalalan dan keharamannya oleh al-Quran secara tegas, bukan berarti perkara tersebut terkategori silent syariah. Selain itu, tidak boleh juga dipahami, jika al-Quran tidak menjelaskan suatu perkara dengan jelas, maka perkara tersebut pasti berhukum mubah. Sebab, Rasulullah saw memerintahkan kaum Mukmin untuk melakukan ijtihad (proses menggali hukum) untuk menetapkan status hukum masalah-masalah yang tidak dijelaskan secara rinci di dalam al-Quran dan Sunnah. Di dalam hadits shahih telah dituturkan percakapan Rasulullah saw dengan Muadz bin Jabal, tatkala beliau saw mengutusnya untuk menjadi gubernur Yaman. Beliau saw bertanya kepada Muadz tentang cara menghukumi suatu masalah. Muadz pun menjawab, jika masalah tersebut tidak dijelaskan oleh al-Quran dan Sunnah secara rinci, maka harus dilakukan ijtihad berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi saw. Dari proses ijtihad inilah akan diketahui status hukum atas perkara tersebut. Walhasil, masalah-masalah yang tidak dijelaskan secara rinci oleh al-Quran dan Sunnah, tidak secara otomatis berhukum mubah.
Keempat, jika makna hadits itu dikaitkan dengan konteks hukum syariat; sesungguhnya, selama seseorang disebut sebagai mukallaf hukum, maka ia wajib terikat dengan hukum syariat pada kondisi apapun. Dalam keadaan semacam ini, maka setiap perbuatan mukallaf harus memiliki status hukum. Sebab, seandainya ada perkara-perkara tertentu yang tidak dijelaskan hukumnya oleh syariah, maka tidak ada lagi taklif hukum pada perkara-perkara tersebut. Padahal, hal ini adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi. Pasalnya, khithab taklif itu datang dalam bentuk umum, mencakup setiap persoalan, dan berlaku dalam kondisi apapun. Seorang mukallaf tidak diperbolehkan keluar dari khithab taklif ini. Sebab, ia adalah seorang mukallaf yang wajib terikat dengan taklif (hukum syariat) dalam kondisi apapun. Seandainya, syariat tidak menjelaskan hukum atas suatu perkara, sama artinya syariat membolehkan seseorang untuk keluar dari khithab taklif. Padahal, hal ini jelas-jelas bathilnya. Dengan demikian, hadits-hadits di atas tidak mungkin dipahami bahwa, ada perkara-perkara tertentu yang tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat. Akan tetapi, hadits-hadits di atas harus dipahami bahwa, Allah swt berdiam diri dari pengharaman perkara tersebut. Walhasil, perkara tersebut adalah halal.
Kelima, hadits-hadits di atas adalah riwayat ahad yang tidak bisa menentang nash-nash al-Quran yang qath’iy. Seandainya dari sisi riwayat hadits-hadits di atas shahih, dan maknanya memang menunjukkan makna semacam itu –yakni, ada permasalahan yang tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat–, maka hadits-hadits tersebut harus ditolak secara dirayah. Sebab, maknanya bertolak belakang dengan nash-nash yang qath’iy tsubut dan dilalah. Nash-nash qath’iy telah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa, syariah diturunkan untuk menjelaskan seluruh permasalahan manusia, dan tidak ada satupun permasalahan yang tidak memiliki hukum, atau tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat.
Untuk itu, tidak ada satupun perkara yang tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat. Tidak ada satupun perkara yang tidak memiliki status hukum. Oleh karena itu, tidak ada silent syariah di dalam Islam. Tidak ada satupun perkara yang luput dari hukum syariat.

Memahami Makna Qalbu
Al-qalb adalah lafadz musytarak (memiliki banyak makna). Secara literal, al-qalbu bisa bermakna hati, isi, lubuk hati, jantung, inti (lubb), akal (‘aql), kekuatan, semangat, keberanian, bagian dalam (bâthin), pusat, tengah, bagian tengah (wasath), dan yang murni (khâlish, mahdh). Al-Quran sendiri menggunakan kata qalb dengan makna yang beragam, namun tidak pernah keluar dari makna-makna di atas.
Jika diperhatikan dengan seksama, makna qalbu di dalam al-Quran berkisar pada pengertian-pengertian berikut ini.
Pertama, makna al-qalbu berhubungan dengan upaya memahami, mengerti, tadabbur, dan berfikir. Kata qalbu dengan makna semacam ini ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut ini. Allah Swt. berfirman :

لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا
“Mereka mempunyai qalbu (quluub) tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (yafqahuuna) ayat-ayat Allah. (QS al-A’raf [7]: 179).
Qalbu pada ayat ini, bermakna akal. Sebab, Allah swt mengaitkannya dengan al-fiqh (pemahaman).
Qalbu juga bermakna ilmu. Ini ditunjukkan oleh firman Allah swt;

رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَفْقَهُونَ
“Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, sementara qalbu-qalbu mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak mengetahui (ya’lamûn) (kebahagiaan beriman dan berjihad). (QS at-Taubah [9]: 87).
Al-Quran menggunakan kata qalbu dengan makna tadabbur (berfikir mendalam). Allah swt berfirman;

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Mengapa mereka tidak mentadabburi al-Quran ataukah di dalam qalbu-qalbu mereka ada penutupnya?” (QS Muhammad [47]: 24).
Bahkan, secara nyata Allah swt memberi makna qalbu dengan akal-pikiran:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا
“Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (qulub) yang dengan itu mereka dapat berpikir (memahami)”. (QS al-Hajj [22]: 47).
Qalbu dengan makna akal pikiran juga termaktub di dalam surat Muhammad (47) ayat 16 dan surah al-A’raaf (7) ayat 100.
Kedua, qalbu bermakna perasaan (wijdân/fu’âd), baik yang benar maupun yang salah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menegaskan hal ini. Misalnya: kekhusyukan (QS al-Hadid [57]: 16), kelembutan dan kasih sayang (QS al-Hadid [57]: 27), perasaan terguncang (QS al-Anfal [8]: 3), takut dan khawatir (QS Ali Imran [3]: 151), sombong (QS al-Mukmin [40]: 35), marah (QS at-Taubah [9]: 15), ketenangan dan ketentraman (QS ar-Ra’du [13]: 28), keraguan dan syak (QS at-Taubah [9]: 110), keras dan bandel (QS al-Baqarah [2]: 74).
Qalbu dengan makna semacam ini merupakan madhaahir (penampakan) dari naluri-naluri manusia. Oleh karena itu, qalbu dalam konteks seperti ini tidak dapat menetapkan mana yang harus ada dan mana yang tidak. Bahkan, qalbu dengan pengertian semacam ini, menjadi tempat bercampurnya perasaan baik dan buruk.
Salah satu arti penting qalbu adalah qalbu sebagai tempat bersemayamnya iman dan takwa. Iman adalah pembenaran pasti tanpa sedikit pun keraguan. Lalu, pembenaran ini diendapkan di dalam qalbu dengan tetap menyertakan pemikiran ke dalamnya. Selanjutnya perasaan dan pemikiran tersebut disatukan secara sempurna, penuh keyakinan, ketenangan, dan selalu disesuaikan dengan akal pikirannya. Agar keyakinan tersebut menjadi keyakinan yang pasti tanpa ada sedikitpun keraguan, maka, keyakinan tersebut harus sejalan dengan akal. Apabila di dalam qalbu telah terwujud dua hal, yakni keyakinan pasti dan kesesuaian keyakinan itu dengan akal, maka terbentuklah iman yang benar. Berhubungan dengan masalah ini, Allah swt berfirman:

إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ
“…kecuali orang yang dipaksa, sementara qalbunya tenang dalam keimanan”. (QS an-Nahl [16]: 106).

أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ
“Mereka itulah yang dituliskan di dalam qalbu mereka iman”. (QS al-Mujadalah [58]: 22).

وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“Akan tetapi, katakanlah, “Kami telah tunduk,” karena iman itu belum masuk ke dalam qalbu kalian. (QS al-Hujurat [49]: 14).
Selain sebagai tempat iman, qalbu juga tempat bersemayamnya keraguan, syak, bahkan penolakan terhadap kebenaran. Allah Swt. menegaskan hal ini:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Wahai Tuhan kami, janganlah engkau memalingkan qalbu-qalbu kami setelah Engkau menunjuki kami. (QS Ali Imran [3]: 8).
Dari sinilah dapat dimengerti, betapa pentingnya peran akal dalam membimbing dan mengarahkan qalbu; agar qalbu selalu mengimani hal-hal yang wajib untuk diimani, dan menolak hal-hal yang tidak boleh diimani. Jika qalbu tidak mendapatkan bimbingan dari akal, niscaya qalbu bisa terjatuh kepada kekeliruan. Bisa jadi, qalbu akan mengimani dan merasa tentram terhadap sesuatu yang harusnya tidak boleh diimani, atau malah mengingkari sesuatu yang harusnya ia imani. Untuk itu, qalbu harus selalu dibimbing oleh pemahaman Islam, agar ia tidak terjatuh pada keyakinan dan perasaan yang salah.
Selain iman dan keraguan, takwa juga terdapat di dalam qalbu. Takwa adalah perasaan takut kepada Allah swt yang dibarengi dengan menjalankan syariatNya dan menjauhi laranganNya. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah (ibadah), sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu”. (QS al-Hajj [22]: 32).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, makna qalbu mencakup akal pikiran dan perasaan. Oleh karena itu, kebersihan dan kesucian hati tergantung kepada kebersihan akal dan perasaan. Sedangkan kebersihan akal dan perasaan ditentukan oleh kesesuaiannya dengan ‘aqidah dan syariat Islam, dan kesuciannya dari pemikiran dan aturan thaghut. Dengan kata lain, agar seseorang qalbunya bersih, perasaan dan pikirannya harus tunduk, dibentuk, dan dibimbing oleh ‘aqidah dan syariat Islam. Meskipun seorang Muslim memiliki perasaan untuk mendekatkan diri kepada Allah sangat kuat, akan tetapi jika pemikirannya dibentuk oleh aqidah dan system kufur, tentunya kita tidak bisa menyatakan qalbunya bersih. Seorang Muslim yang asyik masyuk dengan ibadah ritual dan akhlaq semata, namun dalam bermuamalah masih melibatkan diri dengan muamalah ribawiy serta praktek-praktek bisnis yang bertentangan dengan syariat Islam, maka rusaklah qalbunya.
Sayangnya, persepsi masyarakat tentang kebersihan qalbu, masih sebatas kebersihan pada aspek-aspek kejiwaan (nafsiyyah) belaka, seperti tumbuhnya sifat sabar, tawadlu’, rendah hati, qana’ah, dan sifat-sifat lain di dalam dirinya. Sementara itu, mereka tidak pernah memperhatikan metode dan landasan dasar (tolok ukur) yang digunakan untuk membentuk sifat-sifat tersebut. Akhirnya, pembentukan sifat-sifat tersebut terlepas dari ‘aqidah dan syariat Islam. Mereka menumbuhkan sifat-sifat tersebut di dalam qalbunya berdasarkan prinsip-prinsip universal dan ajaran-ajaran selain Islam; misalnya Taoisme, Budhisme, dan sebagainya. Benar, metode dan cara itu bisa menumbuhkan sifat-sifat yang baik, namun, sifat-sifat itu terpisah dari ‘aqidah dan hukum Islam. Sebab, metode dan landasan yang digunakan untuk membentuk sifat-sifat itu tidak lahir dari aqidah dan syariat Islam. Padahal, akhlaq (karakter) seorang Muslim mesti terbentuk dari al-Quran dan Sunnah. Akhlaq seorang Muslim tidak boleh lahir dari prinsip-prinsip universal atau ajaran selain Islam, akan tetapi harus lahir dari ‘aqidah Islam. Untuk itu, walaupun seorang Muslim memiliki sifat-sifat yang baik, namun, jika sifat-sifat itu lahir dari ajaran-ajaran non Islam, qalbunya telah rusak.
Benar, Islam telah mewajibkan pemeluknya untuk memiliki sifat-sifat mulia, seperti sabar, qana’ah, rendah hati, murah hati, tawadlu’, dan sebagainya. Akan tetapi, sifat-sifat ini tidak boleh terpisah dari aqidah dan syariat Islam atau lahir bukan dari ‘aqidah Islam.
Selain ditentukan oleh kebersihan nafsiyyah, kebersihan qalbu juga ditentukan oleh kebersihan pemikiran. Kebersihan aqliyyah (system berfikir) di sini adalah kesesuaian pemikiran dengan ‘aqidah dan syariat Islam. Meskipun seseorang memiliki sifat-sifat “yang baik”, namun jika sistem berfikirnya tidak sesuai dengan aqidah dan syariah Islam, niscaya qalbunya juga rusak. Bahkan, jika pemikiran seseorang rusak, niscaya kejiwaannya juga akan rusak. Sebab, pemikiranlah yang memberikan corak pada perasaan. Oleh karena itu, baik pemikiran maupun kejiwaan, semuanya harus dibentuk berdasarkan aqidah dan syariah Islam.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, kebersihan dan kesucian qalbu ditentukan oleh dua hal. Pertama, kebersihan pemikiran, dan kedua, kebersihan nafsiyyah. Untuk itu, agar qalbu menjadi bersih perlu dilakukan beberapa hal berikut ini:
1. Seorang Muslim wajib menjadikan ‘aqidah dan syariat Islam sebagai tolok ukur untuk membentuk, membangun, dan mengembangkan pemikiran dan perasaannya. Perasaan harus selalu dikaitkan dengan pemikiran, begitu juga sebaliknya. Keduanya tidak boleh terpisah dari ‘aqidah dan syariat Islam. Oleh karena itu, seorang Muslim wajib menuntut ilmu yang berhubungan dengan ‘aqidah dan syariah Islam, agar ia selalu berfikir Islamiy, dan selalu mengisi qalbunya dengan sifat-sifat yang sejalan dengan Islam.
2. Seorang Muslim mesti mengisi qalbunya dengan sifat-sifat mulia yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Ia juga harus memenuhi qalbunya dengan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah swt dan RasulNya. Untuk itu, seorang Muslim mesti memperbanyak dzikir kepada Allah, bersedekah, sholat Tahajjud, dan lain sebagainya. Ia juga mesti sering berdoa memohon kepada Allah, agar ditetapkan iman dan keislamannya, dan agar ia tetap istiqamah di jalan Allah swt. Dengan memperbanyak ingat (dzikir) kepada Allah, niscaya qalbu menjadi tentram. (QS ar-Ra’du [13]: 28).
3. Seorang Muslim harus melatih kecenderungan dirinya untuk mencintai apa yang dicintai Allah dan RasulNya, dan membenci apa yang dibenci oleh Allah swt dan RasulNya. Kecenderungan ini harus dilatih secara terus-menerus, sehingga ia hanya condong kepada Islam saja, dan tidak pernah condong kepada selain Islam. Semua ini bisa terbentuk, jika ia telah menjadikan Islam sebagai satu-satunya tolok ukur bagi kecenderungan dan pemahamannya. Jika pemahaman dan kecenderungannya sejalan dengan Islam, niscaya di dalam dirinya akan muncul kecenderungan untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya pandangan dan jalan hidup. Jika kecenderungan ini telah tumbuh, niscaya qalbunya akan selalu condong kepada ketaatan dan ketaqwaan. Jika seseorang telah memiliki qalbu semacam ini, niscaya ia hanya akan memberikan loyalitas tunggal kepada Islam, dan sedikitpun tidak akan pernah terbersit untuk condong kepada selain Islam. Tidak terhenti di sini saja, ia akan menjadi penerang bagi orang lain, perintis ketaqwaan, penebar keselamatan, dan pembidas segala kemusyrikan, kemaksiyatan, dan kedzaliman. Ia juga akan menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakatnya yang rusak, sekaligus menjadi pengemban dakwah yang berusaha mengubah kondisi masyarakatnya yang tidak Islamiy, menuju masyarakat yang Islamiy. Walhasil, segala kebaikan yang ada pada dirinya, tidak hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, atau untuk kelompoknya semata, akan tetapi, kebaikan itu akan dia sebarkan ke tengah-tengah masyarakat, hingga masyarakat sekitarnya menerapkan aturan Allah secara total, dan mencampakkan aturan-aturan thaghut.
4. Seorang Muslim mesti menyadari dan waspada terhadap penyakit hati yang sewaktu-waktu bisa menjangkiti qalbunya. Penyakit hati adalah setiap perasaan, keyakinan, atau bisikan hati yang bertentangan dengan hukum Allah swt. Qalbu harus bersih dari penyakit-penyakit ini. Diantara penyakit hati yang berbahaya adalah iri dengki, riya’, sombong, nifaq, kufur, dan dusta.
5. Seorang Muslim wajib memahami bahwa, sumber kebersihan dan kesucian hati adalah aqidah Islam. Untuk itu, qalbu harus diisi dengan aqidah Islam yang bersih dan lurus, bukan aqidah selain Islam. Namun, seorang Muslim tidak boleh mencukupkan diri pada hal ini saja. Ia juga harus mengisi qalbunya dengan hukum-hukum Allah swt, agar ketaqwaan kepada Allah swt muncul di dalam qalbunya. Pasalnya, banyak orang melanggar larangan Allah swt dikarenakan awam terhadap hukum-hukum Allah swt; walaupun ia telah beraqidah Islam. Bahkan, karena awamnya terhadap hukum Allah, banyak kaum Muslim yang justru membenci aturan-aturan Allah swt, dan menjadi penghalang bagi penerapan syariat Islam. Tidak hanya itu saja, mereka juga terlibat dan melibatkan diri pada muamalat-muamalat yang tidak Islamiy dan praktek-praktek haram. Ironisnya, mereka adalah orang-orang yang gemar berdzikir, berdoa, bermunajat, dan melaksanakan ibadah nawafil. Oleh karena itu, mengisi qalbu dengan aqidah dan syariah Islam merupakan perkara urgent agar qalbu kita benar-benar suci dan bersih.
Dengan demikian, upaya membersihkan hati tidak bisa dilakukan hanya dengan melakukan treatment-treatment hati yang terpisah dari aqidah dan syariah Islam. Mensucikan qalbu juga tidak cukup hanya dengan melakukan dzikir dan melaksanakan ibadah-ibadah nawafil. Akan tetapi, membersihkan hati harus dimulai dengan penanaman aqidah yang lurus, serta dibarengi dengan pemahaman dan penerapan aturan Allah secara komprehensif; baik aturan yang berhubungan dengan ibadah, moral, akhlaq, ekonomi, politik, kenegaraan dan lain sebagainya. Hanya dengan cara ini sajalah, kebersihan dan kesucian qalbu bisa diwujudkan. Wa al-Allah a’lam bi al-shawab

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: